
Waktu semakin bergulir. Perut Shasa semakin lama semakin membesar. Shasa juga sudah bisa merasakan gerakan-gerakan di perutnya. Usia kandungannya kini sudah memasuki bulan ketujuh.
Beberapa kali Shasa melakukan USG, sang bayi masih mengumpatkan jenis kelaminnya. Membuat Leo dan Shasa penasaran apakah bayinya laki-laki atau perempuan.
"Sayang." Panggil Shasa. "Kau ingin bayi laki-laki atau perempuan?"
"Em... Aku tidak masalah dia laki-laki atau perempuan. Yang penting, dia lahir sehat dan tanpa kekurangan apapun." Jawab Leo sambil mengelus perut Shasa.
"Aku berkali-kali mendengar papa ingin anak laki-laki. Aku malah khawatir kalau nanti ternyata anak kita bukan laki-laki. Apa papa akan kecewa?"
"Papa harusnya mengerti. Tuhan memberikan kita anak tanpa bertanya kau ingin laki-laki atau perempuan. Tetapi, Tuhan memberikannya sesuai apa yang kita mampu, apakah kita lebih mampu mengurus anak laki-laki atau mengurus anak perempuan."
"Begitu ya?"
"Banyak orang yang bertanya, kenapa aku belum memiliki anak? Aku sudah sangat ingin memiliki anak, tetapi kenapa Tuhan belum memberikannya padaku? Di dalam buku yang pernah aku baca, Tuhan akan melihat kesiapan sepasang suami-istri sebelum Tuhan memberikan anugerah seorang anak pada mereka. Jadi, bukan hanya kesehatan fisik saja, tapi kesiapan mental sebagai orang tua juga perlu dimiliki oleh para calon orang tua. Ketika kau siap, Tuhan akan percaya. Itulah kenapa anak sering disebut sebagai kepercayaan Tuhan pada manusianya."
"Sejak kapan kau baca buku tentang anak seperti itu?" Tanya Shasa tersenyum karena baru mengetahui Leo membaca buku semacam itu.
"Sejak usia kandunganmu 4 bulan dan aku mulai merasakan gerakan-gerakan yang membuat hatiku berdebar, aku menyadari bahwa anakku akan segera tiba. Aku bertanya-tanya, apa yang harus aku siapkan sebagai orang tua. Sejak itu, aku mencari beberapa buku tentang anak, orang tua, tentang persalinan, tumbuh kembang anak, dan entah berapa buku yang sudah aku baca, termasuk buku nama-nama bayi."
"Hahahaha... Kau tidak pernah membacanya di depanku. Aku mungkin juga harus baca kan?"
"Aku membacanya setelah kau terlelap."
"Curang." Shasa cemberut.
"Hahahaha... Buku-bukunya ada di lemari. Kau bisa membacanya nanti."
"Lalu... Kau sudah mendapatkan nama untuk anak kita?" Tanya Shasa.
"Belum. Aku akan mendiskusikannya padamu nanti. Kita siapkan satu nama laki-laki dan satu nama perempuan."
Shasa mengangguk dan tersenyum menatap Leo. Keduanya sedang bersantai di kamarnya setelah makan malam.
__ADS_1
"Sayang." Shasa memanggil Leo lagi.
"Hem..."
"Minggu depan, akan ada acara penyerahan beasiswa dari yayasan. Aku ingin datang ke acara itu. Acaranya hanya sebentar. Setelah itu, aku langsung pulang."
Sebulan lalu, Leo sudah mengijinkan Shasa, yang setiap hari merengek meminta padanya, untuk berkegiatan di yayasan lagi. Meskipun begitu, Shasa hanya boleh pergi ke yayasan saja karena tempat itu lebih mudah dipantau dan terjamin keamanannya untuk Shasa. Acara-acara yang dilakukan di luar yayasan, Shasa tidak boleh menghadirinya demi alasan keamanan.
"Acaranya di mana?"
"Di hotel. Acaranya hanya dua jam saja. Aku ingin melihat anak-anak berprestasi yang akan dikirim untuk sekolah ke luar negeri."
"Memang kau harus datang ke acara itu?"
"Hei, aku ini ketua yayasan. Harusnya aku datang ke setiap acara di mana pun. Tetapi kau kan tidak mengijinkanku. Nah, jadi aku mohon kali ini saja, ijinkan aku menghadiri acara itu."
Leo mendesah. "Baiklah. Kau boleh pergi. Setelah itu langsung pulang."
"Oke, bos." Shasa langsung memeluk Leo kegirangan.
*****
Acara hari itu berlangsung cukup meriah. Ada sekitar 100 siswa, generasi muda yang cerdas dan pintar, yang akan dikirim oleh yayasan untuk bersekolah ke luar negeri. Mereka yang kurang mampu, diprioritaskan untuk mendapatkan beasiswa ini. Shasa terlihat begitu bangga melihat daya juang dan prestasi mereka.
Shasa mungkin tidak seberuntung anak-anak itu di usianya dahulu. Tetapi, dia sangat bahagia bisa mengambil bagian sebagai penyelamat mereka. Shasa tidak kecewa dengan apa yang dia dapatkan dulu, karena bisa merasakan bangku kuliah saja, sudah sangat luar biasa sekali. Yang penting bagi Shasa adalah tidak menyia-nyiakan mereka yang berpotensi sehingga mereka memiliki nasib yang lebih baik daripada nasib yang dimilikinya.
Pembawa acara memanggil nama Shasa sebagai ketua yayasan untuk memberikan pesan semangat kepada para penerima beasiswa. Shasa pun berjalan dan menaiki anak tangga ke panggung. Lita mengikutinya dari belakang untuk memastikan Shasa aman. Sepanjang acara itu Lita memastikan jaraknya kurang dari satu meter dari Shasa.
"Selamat siang semuanya. Aku ucapkan selamat untuk kalian yang telah beruntung menerima beasiswa untuk bersekolah ke luar negeri kali ini. Kalian harus ingat bahwa Tuhan memberikan nasib baik ini pada kalian karena Tuhan percaya kalian mampu menjalaninya. Jangan sia-siakan kesempatan baik di hadapan kalian. Berprestasilah, bukan untuk siapa-siapa apalagi yayasan ini, tetapi berprestasilah untuk kalian sendiri. Tetap rendah hati pada orang lain, jangan lupakan orang-orang yang mendukung kalian, dan berbahagialah dalam menjalaninya nanti. Apa yang akan kalian tanam hari ini, kalian sendiri yang menuainya dan mencicipi hasilnya di masa mendatang." Shasa berbicara dengan sangat tenang dan sopan.
"Aku berdoa semoga anakku kelak akan cerdas dan pintar seperti kalian. Dia akan membanggakan orang tuanya, sama seperti kalian membanggakan orang tua kalian. Dia akan tumbuh menjadi anak pemberani yang juga punya kerja keras dan perjuangan seperti kalian." Mata Shasa sudah berkaca-kaca. Setiap hari Shasa tak henti berbicara pada anak di dalam kandungannya, mengajari banyak hal tentang hidup. Shasa mulai bisa merasakan getaran hati seorang ibu melihat anaknya yang begitu membanggakan seperti anak-anak dihadapannya ini.
Semua orang di dalam ruangan itu bertepuk tangan untuk Shasa. Shasa pun tersenyum dari depan podium kepada orang-orang di depannya dan mengakhiri kata-katanya.
__ADS_1
Dari kejauhan, Niko mengawasi Shasa. Tanpa Shasa sadari, begitu banyak pengawal berkeliling mengitari seisi ruangan ini. 'Ternyata anda mulai punya aura sebagai seorang ibu, Nyonya. Aku tidak keberatan lagi jikau kau meminta yang aneh-aneh dariku, karena permintaan seorang ibu tidak pernah terbantahkan.' batin Niko dengan senyum tipis di bibirnya.
Acara penyerahan beasiswa telah usai. Orang-orang sudah mulai meninggalkan ruangan itu. Para pengurus inti membicarakan agenda mereka selanjutnya.
"Nyonya Shasa, mari kita makan siang bersama." Kata salah seorang pengurus inti.
"Maaf, Nyonya. Aku akan membawa Nyonya Shasa kembali. Anda silahkan menikmati makan siang anda bersama yang lain." Sahut Lita.
"Ah, anda tidak bisa bergabung ya? Padahal hari ini kita ada acara perpisahan kecil dengan Nyonya Nala."
"Tante Nala memang mau ke mana?"
"Dia akan menemani putranya yang akan mulai kuliah di luar negeri. Selama satu tahun pertama, kemungkinan Nyonya Nala akan tinggal bersama putranya di sana."
"Ah... Seperti itu. Lita, aku akan makan siang di sini saja. Aku cukup mengenalnya, tidak enak kalau aku tidak bergabung."
"Nyonya, tapi anda harus segera kembali." Bisik Lita di telinga Shasa.
"Sebentar saja, Lita. Aku hanya akan makan siang, setelah itu kita pulang." Balas Shasa.
Lita tidak punya pilihan selain menuruti keinginan Shasa. Dia pun mengikuti Shasa dan para pengurus inti menuju sebuah ruangan khusus di hotel itu. Ruangan privat ini sangat tertutup sehingga suara tawa mereka pun tidak akan terdengar sampai keluar.
Mereka menikmati makan siang bersama sambil bercanda-canda. Mereka pun berbincang-bincang dengan Nyonya Nala yang sebentar lagi akan berpisah sementara dengan mereka. Tiba-tiba alarm kebakaran di ruangan itu menyala. Dari atap ruangan muncul asap yang mengepul. Semua orang di ruangan itu panik.
Lita langsung berdiri dari duduknya dan mendekati Shasa. Dia berusaha mencari-cari sesuatu di tasnya. Dia mengeluarkan sebuah sapu tangan dan dia pakaikan untuk menutupi hidung Shasa agar tidak menghirup asap di dalam.
Entah apa yang terjadi, pintu besar di ruangan itu tidak bisa terbuka. Petugas pun tidak ada yang bisa mendengar teriakan panik mereka dari dalam. Tak lama alarm kebakaran lainnya di luar ruangan berbunyi karena suhu panasnya sudah menjalar ke luar. Niko terlonjak kaget mendengar alarm itu dan langsung berlari menuju ruangan privat tempat Shasa makan siang bersama pengurus inti. Niko sudah menendang pintu yang terkunci itu, tapi sulit sekali terbuka. Pengawal lainnya di belakang Niko sudah berusaha merusak pintu itu, tapi tidak berhasil juga.
Niko mengambil ponselnya dan menghubungi Lita. Dia justru berlari menjauh dari ruangan itu dan meminta beberapa pengawal mengikutinya.
"Lita, tetap tenang! Aku menuju kesana. Pastikan Nyonya tidak terluka, begitu juga dengan kau!" Perintah Niko yang juga cukup panik saat itu. 'Sial! Seharusnya ku bunuh saja kau dari kemarin!' batin Niko marah.
*****
__ADS_1
bersambung...