
Leo yang sedang marah, keluar dari ruangannya. Dia meminta asisten Haris menyiapkan mobil sekarang juga.
Leo melesat pergi ke rumah ayahnya. Dia masih menahan kesal dan bertanya-tanya apa yang dilakukan ayahnya kemarin. Apakah ini penyebab sikap aneh Shasa kemarin?
Sesampainya di rumah Komisaris Gusta, seorang kepala pelayan menyambutnya.
"Tunjukkan dimana papaku sekarang." Tanpa basa-basi Leo mengatakannya. Sudah pasti kepala pelayan tahu siapa yang sedang datang ini. Kepala pelayan itu mengantar Leo ke ruangan Komisaris Gusta.
"Silahkan Tuan muda, Tuan besar ada di dalam." Kepala pelayan itu mempersilahkan Leo untuk masuk. Leo pun masuk tanpa sapaan pembuka atau apapun semacamnya.
Komisaris Gusta kaget melihat Leo sudah ada di ruangannya. Tetapi wajahnya berubah menjadi bahagia karena ini pertama kalinya Leo menginjakkan kaki di rumahnya.
"Leo... Kau datang. Kenapa tidak memberitahu papa kalau ingin datang." Komisaris Gusta menyambut. Tetapi yang disambutnya justru hanya diam dan menatap lekat Komisaris Gusta.
"Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan untuk kita." Kata Komisaris Gusta dengan senang.
"Pa, apa yang papa lakukan?" Leo masih menatap ayahnya dingin. "Apa yang papa inginkan dengan menemuinya kemarin?"
Wajah Komisaris Gusta berubah menjadi serius. "Memang siapa yang papa temui?" Komisaris Gusta balik bertanya.
"Mungkin aku terlambat mengenalkannya. Dia istriku." Jawab Leo datar.
"Hah? Hahahaha... Istrimu? Bagaimana kalian menikah? Kau bahkan tidak memberitahu orang tuamu kalau kau menikah. Apakah aku ini sudah bukan lagi orang tuamu?"
"Aku memang ingin memberitahu papa setelah mama datang nanti. Aku akan memperkenalkan kalian dengan istriku."
"Apakah itu benar memutuskan sendiri seperti itu? Apakah benar memperlakukan orang tuamu seperti itu?"
"Aku rasa aku yang berhak menentukan dengan siapa aku menikah. Kalau aku memberitahumu sebelum menikah, kau pasti akan mempersulit keadaannya."
"Begitukah? Kamu yang memilih menikah dengannya? Kenapa jawaban kalian berbeda?"
Leo mengernyitkan dahinya. "Apa maksud papa?"
"Dia bilang dia yang memintamu menikahinya. Kalian ini benar-benar menikah atau cuma sandiwara?" Tanya Komisaris Gusta heran.
"Aku tidak pernah bermain-main dengan hidupku. Begitu juga dengan pernikahanku."
"Lalu kenapa merahasiakannya?"
Leo terdiam. Dia merahasiakannya karena Shasa yang meminta. Shasa tentu belum siap menghadapi statusnya sebagai istri Leo. Apalagi waktu itu pernikahan dilaksanakan dengan begitu dadakan.
"Pa, kau boleh mencampuri urusan karirku. Tapi jangan pernah mencampuri kehidupan pribadiku. Jangan lagi mengirim orang untuk memata-mataiku atau istriku." Leo berbalik badan.
__ADS_1
"Apa kau pikir papa tidak akan merestuimu menikah dengannya?"
Leo diam dan menghentikan langkahnya.
"Papa tidak akan mencampuri kehidupan pribadimu. Karena itu adalah janji papa untukmu. Papa hanya ingin tahu siapa istri di sampingmu itu. Apakah dia layak berada mendampingimu. Papa hanya ingin memastikan, namamu, nama besarmu tidak pernah ada cacatnya setitik pun." Komisaris Gusta berjalan mendekati Leo.
"Aku tidak pernah berniat mengaturmu menikah dengan siapa. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia benar-benar siap mendampingimu." Komisaris Gusta diam sejenak.
"Aku memaafkanmu karena tidak memberitahuku tentang pernikahanmu. Tapi tunjukkanlah padaku kalau wanita itu adalah orang yang tepat untuk jadi istrimu. Kau tahu, ketika seseorang menikah, dia tidak hanya menikahi satu orang. Tetapi dia juga menikahi lingkaran sosial pasangannya. Mungkin kau sudah tahu lingkaran sosialnya. Tapi, apakah dia tahu lingkaran sosialmu?"
Leo terdiam tak bisa menjawab. Biar bagaimana perkataan ayahnya benar. Kalau Shasa adalah istri sah-nya, maka Shasa harus tahu dunia Leo dan bagaimana dunia itu berkeliling di sekitarnya. Leo tidak bisa selamanya menyembunyikan Shasa sebagai istrinya, dan memang dari awal dia tidak berniat menyembunyikannya.
Namun, fakta lain menyadarkan Leo bahwa sekarang ini Shasa juga merupakan seorang istri konglomerat besar. Posisinya, gerak-geriknya, sangat berpengaruh pada Leo dan nama besar keluarga serta perusahaannya.
"Kau adalah satu-satunya pewarisku. Aku akan membantumu dalam segala hal. Jangan pernah sembunyikan apapun dariku." Komisaris Gusta menatap Leo lekat.
"Bawa istrimu saat mamamu kembali nanti. Pernikahanmu harus segera diumumkan."
Kecurigaan Leo terhadap ayahnya, yang mungkin saja berbuat aneh-aneh pada Shasa, kini memudar. Tetapi muncul masalah baru yang rasanya jauh lebih memusingkan.
*****
Shasa masih menatap layar komputer tapi entah pikirannya melayang kemana. Tiba-tiba ruangan menjadi begitu berisik karena ada seseorang yang datang. Manajer Lim terlihat sudah menyambutnya masuk ke ruangan. Dan... Ta-da! Leo ada disini. Pantas saja orang-orang di ruangan itu berbisik satu sama lain, karena orang langka yang tidak pernah menginjakkan kaki ke lantai ini, tiba-tiba datang dan bahkan berbincang dengan Manajer Lim.
Manajer Lim mengerjapkan mata. "Tentu saja boleh, Tuan. Anda butuh yang seperti apa?"
Leo mengelilingi ruangan itu dengan matanya. Dia tidak tahu persis dimana meja Shasa.
"Dia!" Leo menunjuk ke arah Shasa yang kini juga melirik ke arah mereka.
"Shasa... Kesini!" Manajer Lim memanggilnya.
Dengan langkah berat, Shasa menghampiri Manajer Lim dan Leo yang berdiri di depan pintu ruangan. Shasa memberikan hormat pada Leo dengan agak malas, kemudian dia menatap Leo dengan wajah seperti ingin memaki.
"Aku perlu membicarakan sesuatu dengannya." Leo meminta ijin pada Manajer Lim. Sebenarnya Leo tidak perlu melakukan itu dan hanya tinggal menarik Shasa keluar ruangan. Yakin, tidak ada satupun yang akan protes. Tapi, Leo masih mempertimbangkan perasaan Shasa dan apa yang akan dipikirkan teman-temannya nanti. Dia pasti akan dibombardir teman-temannya jika Leo melakukan itu.
"Silahkan, Tuan." Jawab Manajer Lim dengan sangat ramah.
Leo menatap Shasa seperti mengajaknya. Shasa hanya membalas tatapan itu dengan dingin.
"Manajer Lim, aku ijin sebentar ya." Manajer Lim pun memberi anggukkan dengan cepat.
Shasa berjalan keluar ruangan, diikuti Leo di sampingnya. Di luar, asiaten Haris telah berdiri menunggu keduanya. Dia member hormat pada Leo dan Shasa yang berjalan mendekat. Seolah sudah tahu, Shasa berjalan menuju ke lift VIP.
__ADS_1
Sementara di balik kaca ruangan, teman-teman Shasa mengintip Presdir yang sedang berjalan dengan Shasa. Mereka menerka-nerka kemana Shasa akan dibawa.
Selama di dalam lift, Shasa hanya diam dan menatap lurus ke depan. Leo yang tepat berada di sampingnya sesekali melirik ke arah Shasa.
"Kau tidak bertanya kenapa aku pulang lebih cepat?" Leo memecah keheningan di lift. Shasa tak bergeming. Dia belum memutuskan harus bagaimana menghadapi Leo. Harus biasa saja atau bagaimana.
Leo mendekat ke Shasa dan berbisik di telinganya. "Karena aku merindukanmu. Jadi aku mempercepat semua pekerjaanku." Shasa masih belum merespon apa-apa. Leo sedikit menggeser badannya. Shasa menoleh ke arah Leo dengan wajah datar, sedangkan Leo sudah memunculkan senyumnya.
"Siapa yang kau temui kemarin? Kenapa tidak memberitahuku?" Leo mulai serius.
Ting! Lift telah membawa mereka ke lobby. Leo menggenggam tangan Shasa membawanya keluar lift dan menariknya masuk ke mobil. Shasa berusaha melepaskan tangannya, tapi tidak berhasil. Untung saja saat itu tidak banyak orang di lobby. Mereka melesat cepat meninggalkan kantor dengan mobil yang dikendarai asisten Haris.
*****
Leo dan Shasa sudah duduk berhadapan di sebuah restoran mewah. Mereka berada di ruangan privat. Seorang pelayan menuangkan minuman ke cangkir mereka.
"Kau bertemu papaku? Kenapa kau tidak cerita padaku?"
"Aku tidak tahu harus berbuat apa padamu sekarang. Aku tidak ingin membuatmu menjadi anak yang tidak berbakti pada orang tuanya."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak menyadari kalau pernikahan kita yang disembunyikan ini bisa saja merusak nama baikmu. Kita mengawali semua ini dengan salah."
Leo masih diam mencerna kata-kata Shasa.
"Dan juga... Aku merasa tidak pantas untukmu. Papamu benar. Pendampingmu haruslah seseorang yang layak. Aku benar-benar bodoh hingga tak menyadari standarmu itu." Shasa diam sejenak. "Tetapi aku juga punya harga diri. Itu satu-satunya yang ku punya. Kalau aku memang tidak layak untukmu, aku akan pergi. Aku tidak akan menerima uang atau pun itu untuk meninggalkanmu. Sepertinya papamu salah menilaiku." Shasa tertunduk menahan kesedihan di hatinya.
"Sudah selesai bicaranya?" Leo menatap Shasa lekat. "Kau bilang kita memulainya dengan salah. Kalau begitu, ayo kita perbaiki." Shasa mendongak menatap Leo.
"Ayo umumkan pernikahan kita. Aku akan membawamu ke keluargaku. Pesta. Kita belum membuat pesta pernikahan kita." Tegas Leo. "Lalu, kau bilang kau tidak layak untukku? Bahkan aku sudah berjuang untuk mendapat restu menikah denganmu. Sekarang, berjuanglah untukku. Bantu aku membuktikan kalau kau satu-satunya yang layak menjadi istriku."
Leo berdiri dari kursinya. Dia berjalan dan bersimpuh di depan Shasa. Shasa kaget melihat apa yang dilakukan Leo ini.
"Aku tahu ini tidak akan mudah. Tapi kau harus ingat, aku milikmu. Kau bisa berjuang bersamaku. Aku tidak akan pernah lepaskan tanganmu. Semenjak hari kita menikah di depan ayahmu hingga hari ini dan seterusnya, kau adalah istriku." Shasa yang telah digenggam tangannya sejak tadi, matanya mulai berkaca-kaca.
Leo mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak cincin.
"Di hari pernikahan kita, aku tidak memberikanmu cincin pernikahan." Leo mengeluarkan sebuah cincin berlian dari kotak itu dan menyematkannya pada jari manis Shasa. "Cincin ini hanya setitik hadiah yang menempel di jarimu. Tetapi, aku, aku adalah hadiah terbesar yang akan selalu menempel di hidupmu." Leo tersenyum. Shasa begitu terharu mendengarnya sampai ingin menangis.
*****
bersambung...
__ADS_1