
Dokter Sam melalukan pemeriksaan berkala. Kini bisa dipastikan Shasa sudah pulih kembali. Meskipun begitu makanan dan waktu istirahat Shasa masih dijaga ketat.
"Dokter Sam, bolehkah aku bertanya?" Shasa membuka suara saat dokter Sam selesai memeriksanya.
"Tentu saja, Nyonya. Silahkan."
"Apa penyebab utama keguguranku kemarin?"
"Kalau berdasarkan pemeriksaan, anda terlalu lelah saat itu. Kondisi kehamilan yang masih begitu muda apalagi itu adalah kehamilan pertama anda, sangat rentan dan beresiko. Di beberapa orang, mungkin akan baik-baik saja, meskipun tetap bekerja atau berkegiatan seperti biasa. Tetapi, untuk beberapa orang lainnya, termasuk anda, bekerja atau berkegiatan justru bisa berpengaruh pada janinnya. Bahkan, ada juga beberapa orang yang harus istirahat di tempat tidur sepanjang orang itu hamil."
Shasa menghela napasnya. "Apa itu artinya aku tidak boleh bekerja atau berkegiatan lagi kalau hamil nanti?"
"Tepatnya bukan seperti itu, Nyonya. Butuh penyesuaian dan kehati-hatian saat anda mengandung. Tidak perlu jauh-jauh, mungkin anda harus menyesuaikan pola makanan anda dan makanan apa saja yang masuk ke tubuh anda. Sama halnya ketika seorang pekerja kemudian dia hamil. Butuh penyesuaian antara tubuhnya dengan kegiatannya. Aku rasa, karena anda tidak menyadari kalau anda sedang hamil, anda jadi melewati masa penyesuaian itu sehingga anda menjadi kurang hati-hati dengan kehamilan anda. Eh, tapi, bukan berarti aku menyalahkan anda. Seperti yang aku katakan tadi, ada juga orang yang hamil dan tidak menyadarinya, kemudian dia tetap sibuk seperti biasa, namun kondisi janinnya baik-baik saja. Setiap orang punya ketahanan tubuh dan kondisi janin yang berbeda-beda."
Shasa terlihat sedih dan kecewa. "Seandainya aku menyadari lebih dulu kalau aku hamil, mungkin kejadian ini tidak akan pernah ada."
'Mati aku! Kalau Leo sampai melihat istrinya sedih lagi gara-gara aku, bisa-bisa aku dipecat!' batin dokter Sam.
"Jangan khawatir, Nyonya. Sekarang ini, kami akan memegang jadwal bulanan anda. Kami mulai memantau kalender datang bulan anda. Jadi kalau nanti anda telat menstruasi, kami akan langsung melakukan pemeriksaan pada anda."
"Rasanya aku terlihat seperti perempuan yang tidak peka, ya?"
"Nyonya, kalau boleh saya saran, ada perbedaan antara wanita yang belum menikah dan sudah menikah. Kalau keduanya telat menstruasi, indikasinya itu berbeda. Wanita yang belum menikah, kemungkinannya kecil untuk hamil, kecuali dia melakukan hubungan di luar nikah ya, itu beda lagi. Kalau wanita yang sudah menikah kemudian dia telat menstruasi, bisa jadi dia hamil. Oleh karena itu, anda harus lebih memerhatikan jadwal bulanan anda setelah menikah."
"Ah...begitu ya. Baiklah, aku mengerti. Oh iya, dokter, apa Leo mengatakan sesuatu saat kejadian waktu itu?" Tanya Shasa penasaran.
"Em... Dia tidak mengatakan apa-apa, kecuali dia memintaku untuk membuat anda pulih lagi, kalau tidak aku akan kehilangan pekerjaanku." Jawab dokter Sam polos.
'Astaga! Kenapa dia mengancam orang gara-gara aku sih!' batin Shasa, jadi tidak enak pada dokter Sam.
*****
Acara kunjungan ke panti asuhan pun tiba. Akhirnya, Leo mengijinkan Shasa untuk pergi ke sana, tentu saja dengan ceramah panjang lebar sebelum dia berangkat. Lita, perawat khusus, serta beberapa pengawal juga diikutkan bersama Shasa. Terserah, pikir Shasa. Yang penting dia bisa ke luar rumah dan berkunjung ke panti asuhan.
__ADS_1
Nyonya Sofia tidak bisa menemani Shasa karena harus bertemu kolega bisnisnya. Jadi, Shasa hanya bertemu dengan para pengurus inti yayasan di panti asuhan nanti.
Mobil Shasa membawanya pergi diikuti dua mobil lainnya mengiringi Shasa. Setelah sampai di panti asuhan, Shasa turun dari mobil dan disambut oleh pengurus inti yayasan di depan pintu masuk panti.
Satu per satu mereka menyalami Shasa. Tapi, tidak ada yang berani mengucapkan bela sungkawa atas keguguran yang dialaminya. Tentu saja, Niko sudah mengurus semuanya sehingga tidak ada satu pun yang berani membahasnya. Sebelum Shasa dan pengurus yayasan melangkah masuk ke dalam panti, tiba-tiba sebuah mobil mendarat di pintu masuk. Shasa dan pengurus yayasan sampai menoleh ke belakang melihat siapa yang datang.
"Leo!" Shasa terperangah melihat Leo sudah turun dari mobilnya bersama asisten Haris.
Leo berjalan mendekati Shasa. Para pengurus yayasan memberi hormat pada Leo, yang hanya dibalas dengan satu kali anggukan olehnya.
"Sayang, aku akan menemanimu selama di sini." Jelas-jelas ini bukan pertanyaan dari Leo, tapi pernyataan.
"Kau tidak ke kantor?" Tanya Shasa yang masih terkejut bukan main.
Leo menggeleng.
"Tuan, tentu saja dengan senang hati, anda bisa bergabung." Kata salah seorang pengurus inti yang terlihat sedang menarik perhatian Leo.
"Abaikan saja aku. Lakukan kunjungan kalian seperti yang sudah direncanakan." Perintah Leo. Kehadiran dia di sini memang hanya untuk mengawasi Shasa.
Shasa jadi mengingat masa-masa dulu dia tinggal di panti. Hatinya belum bisa melupakan betapa sedihnya tinggal di panti. Mata Shasa sudah berkaca-kaca. Kemudian, Leo menggenggam tangannya erat sambil berjalan. Shasa menoleh ke arah Leo yang menatap lurus ke depan. Sentuhan Leo benar-benar memberi Shasa kekuatan.
Di dalam panti, mereka melihat anak-anak dari berbagai usia. Ada yang masih bayi, ada juga yang sudah beranjak remaja. Mereka melakukan kegiatan dari dalam panti, termasuk belajar dan bermain.
Ketika melewati salah satu kamar panti, terdengar suara tangisan bayi begitu keras. Shasa mencari-cari sumber suara. Kemudian, dia melangkah ke sebuah ruangan dan melihat seorang bayi sedang menangis di dalam gendongan salah satu pengasuh di panti. Shasa mendekati bayi itu dan tersenyum pada pengasuh yang berusaha menenangkan bayi itu.
"Boleh aku menggendongnya?" Tanya Shasa lembut.
"Tapi bayi ini sedang menangis, Nyonya. Anda mungkin bisa kerepotan." Jawab pengasuh itu ragu-ragu.
"Tidak apa-apa." Shasa sudah mengulurkan tangannya berharap pengasuh panti akan memberikan bayi itu kepadanya. Pengasuh itu pun menyerahkan bayi yang menangis ke dekapan Shasa. Dia memeluk bayi itu dan menenangkannya. Shasa menutupi wajah sedihnya dengan memalingkan badan dari orang-orang yang menatapnya. Mungkin Shasa sudah hidup di panti sejak seumur bayi ini. Dia bisa mendengar tangisan rindu dari bayi di dalam dekapannya.
Leo mendekati Shasa. Dia bisa menebak apa yang dirasakan Shasa. Leo melingkarkan lengannya di pinggang Shasa dan mengelus punggungnya. Shasa menoleh ke arah Leo dan menatapnya. Leo terlihat menggelengkan kepalanya, meminta Shasa untuk tidak bersedih.
__ADS_1
Shasa menenangkan bayi itu dengan mengelus-elus badannya yang mungil. Perlahan, bayi itu meredam tangisannya. Shasa mengusap-usap pipinya yang lembut, menghapus air mata sang bayi yang berderai sejak tadi.
Sang bayi mulai tenang. Shasa berusaha membuatnya tertidur. Sejak tadi, Lita sudah menyuruh pengurus yayasan lainnya untuk lanjut berkeliling panti. Mereka pun meninggalkan Leo dan Shasa yang berada di ruangan tadi.
Saat Shasa ingin sedikit menggerakkan tangannya, seketika dia mengaduh pelan.
"Kenapa, sayang?" Leo panik.
Shasa justru tertawa. Dia berusaha menunjuk rambutnya yang digenggam oleh bayi yang digendongnya.
"Hai bayi mungil, kenapa kau menarik rambut istriku?" Leo menggoda sang bayi sambil melepaskan genggaman tangannya yang mengepal rambut Shasa. "Aku saja tidak pernah menarik rambut istriku."
Shasa tertawa tanpa suara. Dia takut sang bayi bangun lagi. Setelah aman, Shasa menyerahkan bayi itu lagi ke pengasuh. Dia menatap bayi yang sudah tertidur itu sebelum meninggalkannya. Leo bisa melihat wajah Shasa yang menyimpan banyak rasa. Leo tidak melepaskan lengannya dari pinggang Shasa.
Setelah keluar dari ruangan, Leo dan Shasa terkejut karena ada sebuah bola mendarat di kaki mereka. Leo menunduk mengambil bola itu. Lalu, seorang anak berlari ke arahnya.
"Maaf, om." Kata anak itu agak ketakutan.
Leo bersimpuh menyamai tinggi anak itu dan menyerahkan bola kepadanya. Dia mengelus kepala anak itu dengan lembut. Shasa tersenyum melihat pemandangan yang menyejukkan hatinya.
'Leo pasti sudah ingin menjadi seorang ayah. Aku bisa melihat keinginan itu dari matanya.' batin Shasa menahan sedih mengingat kejadian kegugurannya beberapa waktu lalu.
*****
Epilog:
Mobil Leo telah sampai di depan lobby kantor XY Group. Leo tidak bergerak turun sedikit pun. Wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Haris, antar aku ke panti asuhan yang didatangi Shasa."
Satu perintah yang menghancurkan jadwal Leo beberapa jam ke depan. Sungguh merepotkan, pikir asisten Haris.
"Aku tidak hanya takut dia kelelahan. Yang paling aku takutkan, dia teringat masa lalunya di sana."
__ADS_1
*****
bersambung...