
"Aku punya dua syarat untuk pernikahan ini." Shasa tidak menatap Leo sama sekali. Mereka berdua duduk di ruang tunggu rumah sakit.
"Katakanlah." Leo menanggapi.
"Tidak perlu ada yang tahu pernikahan ini, kecuali keluarga atau orang-orang yang terlanjur ada disini. Aku tidak akan lari dari posisiku sebagai istri anda karena pernikahan ini bukan main-main." Shasa menoleh ke arah Leo.
"Jika anda memang sungguh-sungguh dengan ucapan anda, nikahi aku hari ini juga di hadapan ayahku. Aku tidak punya waktu banyak." Tatapan tajam Shasa seolah meminta jawaban Leo.
"Baiklah... Aku terima kedua syaratmu. Haris akan mengurus semua yang diperlukan." Leo berdiri dari duduknya.
"Keluarga anda? Apa anda tidak memberi tahu keluarga anda tentang ini?" Shasa bertanya lagi, menghentikan Leo melanjutkan gerakannya.
"Syarat utama pernikahan adalah restu dari pihak wanita. Haris dan Sam, mereka berdua yang akan jadi keluargaku hari ini. Mereka hanya perlu menyaksikan dan tidak perlu memberi restu kan?" Leo menoleh ke Shasa. "Kau tidak perlu khawatir. Setelah menikah nanti, kau adalah istri sah-ku. Tentu saja kau akan menjadi bagian dari Keluarga Gusta. Tidak ada satu pun yang akan berani menyangkalnya."
Leo meninggalkan Shasa sendiri di kursinya. Dia benar-benar tak bisa membayangkan apa yang akan dihadapinya setelah menikah nanti. Shasa tentu saja mengenal Komisaris Gusta sebagai konglomerat kelas atas yang sangat disegani dan dihormati. Tetapi ibunya? Namanya pun Shasa tidak tahu.
*****
"Tuan, anda yakin dengan keputusan anda?" asisten Haris bertanya tak percaya.
"Sejak kapan kau berani meragukan keputusanku?" Leo memaki asisten Haris.
"Setidaknya beritahulah Komisaris Gusta dan Nyonya, Tuan. Beliau adalah orang tua anda."
__ADS_1
"Tidak ada yang berhak ikut campur dalam kehidupan pribadiku. Setelah dia sah sebagai istriku, tidak ada satupun yang berhak menolaknya." Leo menatap asisten Haris dengan tajam.
"Aku sudah melakukan banyak hal untuk mewujudkan mimpi mereka. Bukankah sekarang giliran mereka?" Asisten Haris tidak bisa berkata sepatah katapun untuk membantahnya.
Begitupun dengan dokter Sam. Dia tidak tahu kalau kedatangannya ini berubah tujuan dari memeriksa ayah Shasa menjadi saksi pernikahan Leo.
*****
Asisten Haris mempersiapkan segala sesuatunya dengan cepat. Pernikahan ini diadakan secara tidak biasa. Lokasi pernikahannya saja diadakan di kamar inap rumah sakit dengan dekorasi yang begitu sederhana. Gaun pengantin pun disiapkan secepat kilat tanpa bisa memilih model gaun yang diidamkan pengantin wanitanya. Yang hadir menyaksikan pernikahan ini hanya keluarga Shasa, asisten Haris, dokter Sam, dan seorang pemuka agama.
Tadi pagi Shasa terbangun dari tidurnya masih berstatus lajang. Entah ada kilat apa yang menyambar, malam harinya Shasa telah berstatus menjadi seorang istri. Prosesi pernikahan telah berlangsung dengan lancar. Ayah akhirnya mampu mengantarkan anak perempuannya sampai ke pernikahan. Ayah terlihat begitu lega. Ibu juga tersenyum hangat. Shabila yang tidak tahu apa-apa, hanya menikmati acara itu. Shasa tak mempedulikan apapun kecuali ayahnya saat ini. Dan Leo masih dengan dirinya yang tak banyak bicara.
Setelah Shasa dan Leo sah menjadi sepasang suami istri, kamar inap itu sekejap disulap kembali menjadi kamar inap rumah sakit pada umumnya. Ibu menyuruh Shasa dan Leo untuk pulang dan beristirahat di rumah. Ibu akan menemani ayah di rumah sakit bersama Shabila yang sudah tertidur di sofa.
"Sha, pulang ke rumah ya. Istirahat. Nak Leo, ajak Shasa pulang ya."
"Bu, tidak apa-apa kalau aku pulang? Ibu pasti capek juga kan?"
"Enggak, Sha. Gak apa-apa." Ibu meyakinkan Shasa.
"Kabari aku ya Bu kalau ada apa-apa." Ibu pun mengangguk.
Akhirnya Shasa dan Leo meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan di mobil, entah kenapa Leo menjadi canggung , sedangkan Shasa hanya menatap ke luar jendela. Asisten Haris yang juga ada di mobil itu menjadi heran dengan sikap Leo karena tidak pernah dia secanggung itu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Shasa langsung naik ke kamarnya. Tapi, sebelum masuk ke kamar, dia berbalik badan dengan tangannya masih memegang kenop pintu.
"Tuan, selamat beristirahat." Shasa tersenyum.
Leo membalas senyuman Shasa. Dirinya tidak mungkin memaksa Shasa tidur sekamar dengannya kan? Di saat-saat seperti ini, pasti Shasa ingin sendirian. Leo bisa memaklumi kondisi pernikahan mereka.
Leo masuk ke kamar dan beranjak mandi. Setelah itu, dia membuka laptopnya dan bekerja. Sudah menjadi kebiasaan Leo tetap bekerja sesaat sebelum dia tidur. Sudah lebih satu jam Leo berkutat dengan laptopnya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Shasa dari kamar sebelah. Leo yang kaget, spontan bergegas keluar kamar.
Dilihatnya Shasa juga keluar dari kamarnya sambil menangis. Leo tidak tahu apa yang terjadi. Dia pun mengejar Shasa dengan cepat. Ditariknya lengan Shasa dan dipeluk ke dekapannya.
"Ayah! Ayah!" Shasa menangis begitu keras. "Kenapa ayah meninggalkanku?" Shasa memukul-mukul dada Leo dengan bercucuran air mata. Leo pun mengerti apa yang terjadi. Duka menyelimuti Shasa dan keluarga sepeninggal ayah tercintanya.
*****
Tiga hari setelah hari kematian ayah, Shasa dan Leo memutuskan untuk kembali karena sudah cukup lama meninggalkan pekerjaannya. Ibu dan Shabila begitu sedih harus ditinggal Shasa, tetapi ada Ibu Putri yang akan menemani ibu dalam beberapa hari kedepan. Shasa menitipkan ibu dan adiknya pada Ibu Putri.
"Sha, ingat, kamu sudah menikah. Rawat suamimu dengan baik. Jangan sembunyikan apapun dari suamimu. Mulailah buka hatimu untuknya." Ibu menasehati Shasa sebelum pergi. Shasa hanya mengangguk dan memeluk ibunya.
"Ibu, kami pamit. Saya akan berusaha mengatur waktu untuk lebih sering lagi menjenguk ibu." Leo pamit pada ibu.
"Nak Leo, ibu titip Shasa. Jaga dia baik-baik." Pesan ibu pada Leo dengan senyum tulusnya.
Hari itu, Leo dan Shasa akan menjajaki lembaran hidup baru. Entah kejutan apa lagi yang akan menghampiri hidup Shasa sebagai istri Leo, dia pun tak tahu.
__ADS_1
*****
bersambung...