
"Sayang! Sayang! Bangun, sayang!" Suara Leo menggelegar di seisi kamar.
Shasa tak berdaya dan hanya meringis kesakitan. Leo begitu panik hingga membangunkan semua orang di rumahnya.
Secepat kilat, Leo membawa Shasa ke rumah sakit. Shasa ditangani secara khusus. Dokter Sam juga langsung tiba di lokasi. Beberapa dokter dan perawat menangani Shasa dengan teliti. Leo berada di dekat Shasa dan tidak ingin meninggalkannya sedetik pun.
"Leo, ayo kita tunggu di luar saja." Ajak dokter Sam.
"Tidak, Sam. Aku akan tetap di sini." Leo menolak.
"Kau akan mengganggu pemeriksaannya kalau tetap di sini. Ayo!"
"Kau saja yang ke luar, aku tetap di sini!"
"Leo, ayolah!"
"Sam! Kau tidak tahu betapa aku mengkhawatirkannya? Aku sampai sulit bernapas melihat dia terbaring seperti itu!" Leo menaikkan nada bicaranya.
"Iya, aku tahu! Tapi bantulah para petugas medis ini untuk melakukan yang terbaik untuk Shasa. Kita tunggu di luar!" Dokter Sam membalas Leo dengan nada tinggi juga.
Akhirnya Leo menyerah dan melangkah ke luar bersama dokter Sam.
"Sam, kau akan kehilangan pekerjaan kalau sampai Shasa kenapa-kenapa." Ancam Leo tanpa menatap dokter Sam sama sekali.
"Ish... Mengerikan sekali melihatmu seperti ini!" Balas dokter Sam tak peduli.
Sekitar satu jam Shasa diperiksa. Dokter Sam sudah masuk kembali ke dalam ruangan dan berbicara dengan dokter spesialis yang menangani Shasa. Setelah pemeriksaan selesai, Shasa dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Penjagaan ketat dilakukan di sana. Komisaris Gusta juga terlihat gelisah, tapi dia belum berani mendekati Leo yang masih sangat gusar memandangi Shasa.
Dokter Sam mendekati Leo. Komisaris Gusta pun ikut mendekat, ingin mengetahui hasil pemeriksaan dokter.
"Leo, berdasarkan pemeriksaan, Nyonya Shasa mengalami pendarahan. Pendarahan ini bukan hal biasa seperti saat wanita sedang menstruasi. Nyonya Shasa baru saja kehilangan janinnya."
"Apa? Jadi, Shasa hamil?" Leo sangat terkejut, sama halnya dengan Komisaris Gusta yang ada di sampingnya.
Dokter Sam mengangguk pelan. "Usia janinnya baru sekitar 3 atau 4 minggu. Masih sangat rentan. Karena ini kehamilan pertamanya dan kondisi tubuh Nyonya Shasa yang sangat lelah mungkin karena kesibukannya atau beban pikiran yang mengganggunya, memungkinkan jadi pemicu keguguran."
Leo memejamkan matanya dan mendesah. "Apa dia tahu kalau dia sedang mengandung?"
"Aku rasa tidak. Dia bahkan tidak mengingat kalau dia telat menstruasi. Tadi dokter kandungan sempat menanyainya."
"Lalu, bagaimana kondisinya sekarang?"
"Aku sudah memberinya obat-obatan, salah satunya untuk menghilangkan nyeri di perutnya. Juga ada beberapa vitamin yang akan diberikan untuk Nyonya Shasa dalam beberapa jangka waktu ke depan. Tenang saja, Leo. Dia masih sangat memungkinkan untuk mengandung lagi. Dia hanya butuh pemulihan beberapa hari ke depan. Setelah itu, kau bisa mengatur program kehamilan bersamanya."
"Sam, kau pastikan saja dia kembali sehat seperti sebelumnya. Berikan semua yang terbaik untuk kesehatannya. Pantau perkembangannya setiap detik. Laporkan padaku juga semua hal tentang kesehatannya mulai sekarang." Komisaris Gusta memberikan perintah yang cukup panjang pada dokter Sam.
"Baik, Om Gusta." Dokter Sam menatap Leo kembali yang tidak melepaskan pandangannya pada Shasa di ranjang rumah sakit. "Leo, aku sarankan kau untuk tidak membahas perihal kegugurannya. Jangan sampai dia stres karena itu bisa memperlambat pemulihannya." Dokter Sam menepuk bahu Leo dan meninggalkannya bersama Komisaris Gusta di ruang perawatan.
Wajah Leo begitu pias menahan kesedihannya. Melihat Shasa begitu kesakitan saja sudah membuat Leo tak berdaya. Apalagi, dia dihadapi kenyataan bahwa calon anaknya baru saja tiada. Hati Leo benar-benar sakit dibuatnya.
Leo mendekati Shasa dan duduk di samping ranjang. Shasa terbaring lemas. Leo menggenggam tangan Shasa erat dan memperhatikan setiap titik wajahnya. Shasa terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
Komisaris Gusta mendekati Leo.
__ADS_1
"Leo, tidak apa-apa. Selama istrimu baik-baik saja, buatku tidak apa-apa." Komisaris Gusta sebenarnya sudah mengharapkan kehadiran anggota baru di rumahnya. Tetapi, kejadian malam ini, membuatnya harus menunda dulu apa yang dia harapkan sejak lama.
"Aku merelakan anakku, Pa. Meskipun hatiku sakit, tapi aku akan mencoba menerimanya. Walaupun begitu, aku tidak akan rela kalau Shasa kenapa-kenapa. Aku pasti menyalahkan diriku karena tidak bisa menjaganya."
"Mamamu akan segera kembali besok. Aku sudah mengatakan untuk tidak membahas hal-hal yang membuatnya sedih."
Wajah Leo sudah sangat merah menahan tangisnya. Pertama kali bagi Komisaris Gusta melihat Leo terpuruk seperti ini. Dia ingin marah, tapi entah kepada siapa. Komisaris Gusta memilih untuk menginstruksikan penjagaan kesehatan untuk Shasa lebih ketat daripada sebelumnya.
*****
Tangan Shasa sedikit bergerak. Leo yang tertunduk di sampingnya menyadari gerakan kecil Shasa. Dia langsung menatap wajah Shasa dengan rasa khawatir.
"Sayang..." Ucap Shasa setelah membuka matanya perlahan.
"Iya, sayang. Aku di sini. Apa kau merasakan sakit lagi?"
Air mata Shasa tiba-tiba menetes.
"Sayang, kenapa kau menangis?" Leo mengusap air mata Shasa yang jatuh ke pipinya.
"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bisa menjaga anak kita." Ucap Shasa lirih.
Deg! Jantung Leo berdegup kencang. Dari mana Shasa tahu kalau dia baru saja keguguran?
"Sayang, kau ini bicara apa?" Leo mencoba untuk tidak membahas tentang keguguran yang baru saja dialami Shasa.
"Aku mendengarnya sewaktu dokter memeriksaku. Janinku..." Shasa berderai air mata.
"Apa kau marah padaku?"
Leo menggeleng cepat. "Buat apa aku marah padamu? Aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu. Cepatlah pulih, sayang. Aku tidak bisa lama-lama melihatmu seperti ini."
Shasa meregangkan tangannya ingin memeluk Leo. Leo pun menyambut pelukannya itu dengan erat dan hangat. Mereka menumpahkan semua kesedihannya bersama. Leo bisa merasakan tubuh Shasa bergetar. Hati Leo semakin sakit merasakannya.
Shasa melepaskan pelukannya. Dia menangkupkan kedua tangannya di pipi Leo.
"Aku sangat bodoh karena tidak mengetahui kalau aku hamil. Maafkan aku. Aku begitu lamban menyadari perubahan di tubuhku."
"Tidak ada yang perlu disesali, sayang. Setelah ini, kita masih bisa memiliki anak sebanyak yang kita mau. Jangan bersedih, karena itu menyakiti hatiku."
"Aku memupuskan harapan banyak orang. Kau, mama, dan papa."
Leo menggelengkan kepalanya lagi. "Kesehatanmu di atas segalanya. Aku, mama, dan papa masih bersama-sama denganmu. Percaya padaku."
Mereka menghabiskan malam itu dengan duka di hati masing-masing. Tidak hanya Leo dan Shasa, Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia juga merasakan duka yang sama.
*****
Keesokan harinya, Leo menyuapi Shasa makan. Banyak buket bunga berdatangan dari kerabat dekat Leo. Komisaris Gusta tidak mengijinkan siapa pun memasuki ruang rawat Shasa. Hanya anggota Keluarga Gusta serta asisten-asisten pribadinya dan tenaga medis yang bertugas yang bebas keluar masuk .
Shasa sudah mulai bisa mengobrol santai pada Leo. Mereka menghindari untuk membahas hal-hal yang membuat mereka bersedih lagi.
Komisaris Gusta memasuki ruang rawat Shasa. Dia mendekati Shasa dan tersenyum padanya.
__ADS_1
"Kau makanlah yang banyak. Ada lagi makanan yang kau inginkan?"
Shasa tertawa kecil. "Ini juga sudah banyak, Pa. Lagipula koki rumah sakit akan kerepotan kalau aku ingin makanan yang susah-susah."
"Tak perlu khawatir. Yang memasak makananmu itu juga bukan koki rumah sakit. Koki pribadi keluarga yang memasaknya. Mereka akan memantau semua makananmu sesuai rekomendasi dokter."
Shasa sedikit bengong, lalu dia tertawa. "Hahahaha... Kalau aku ingin makan gulali, apa mereka juga akan membuatkannya?"
"Niko, katakan pada koki kalau Shasa ingin makan gulali." Perintah Komisaris Gusta.
"Hah? Tidak, tidak. Aku bercanda, Pa."
Leo tertawa kecil melihat kelakuan Shasa dan papanya.
"Pa, kapan mama tiba?" Tanya Leo memecah situasi antara papanya dan Shasa.
"Nanti siang harusnya sudah tiba." Jawab Komisaris Gusta.
"Mama akan pulang hari ini? Wah..." Shasa bertepuk tangan antusias mendengar kalau Nyonya Sofia akan pulang.
Setelah selesai makan, dokter Sam bersama beberapa perawat datang ke ruang rawat. Dia melakukan pemeriksaan pada Shasa. Shasa sempat mencuri-curi bertanya pada dokter Sam.
"Dokter..." Bisik Shasa pada dokter Sam.
"Ya." Jawab dokter Sam yang masih serius memeriksa Shasa.
"Apa aku bisa hamil lagi?" Pertanyaan itu yang sejak tadi membuat Shasa penasaran. Dia takut kondisi rahimnya terganggu karena keguguran ini.
"Tentu saja anda bisa hamil, Nyonya. Tidak perlu khawatir. Dua lelaki yang sedang menatapmu di belakangku pasti akan menjaga kesehatanmu dengan ketat dan memastikan program kehamilanmu berjalan lancar."
Shasa mengintip ke belakang dokter Sam. Terlihat Leo dan Komisaris Gusta yang sangat serius memerhatikan pemeriksaan dokter padanya.
'Program kehamilan? Aku tidak menyangka kalau dua laki-laki yang terkadang sama kakunya, bisa memikirkan soal program kehamilan.' batin Shasa.
Dokter Sam telah selesai melakukan pemeriksaan. Dia terlihat membicarakan hasilnya pada Leo dan Komisaris Gusta.
"Nyonya Shasa sudah berangsur membaik. Pemulihannya tergolong cepat. Kita perlu menjaga pola makannya tetap teratur dan vitamin-vitaminnya dikonsumsi dengan semestinya." Dokter Sam menjelaskan.
"Pastikan dia benar-benar pulih, Sam." Pinta Leo pada dokter Sam.
*****
Nyonya Sofia telah tiba. Dia langsung melesat menuju ke rumah sakit tempat Shasa dirawat. Dia juga langsung menghampiri Shasa setibanya di sana.
"Sayang..." Nyonya Sofia memeluk Shasa dengan erat. Pelukan seorang ibu benar-benar berbeda. Wajah Shasa jadi berubah sedih lagi. Nyonya Sofia melepaskan pelukannya. Dia memandangi wajah Shasa dengan seksama. "Tidak apa-apa, sayang. Yang penting kau cepat pulih." Nyonya Sofia menepuk-nepuk punggung tangan Shasa yang ada di genggamannya.
Shasa mengangguk pelan. "Terima kasih, Ma." Shasa merasa tenang setelah mendapatkan pelukan seorang ibu. Kata-kata Nyonya Sofia membuat Shasa lega. Biar bagaimanapun, saat wanita mengalami masa-masa seperti ini, dibutuhkan dukungan seorang ibu di belakangnya.
'Kau harus tetap sehat. Kau adalah nyawa putraku. Hatiku sakit saat mendengarnya menangis tersedu-sedu. Dia memang kehilangan calon anaknya dan itu menjadi duka tersendiri bagi Leo. Tapi, jika dia kehilanganmu, aku takut dia tidak ingin hidup lagi.' batin Nyonya Sofia yang menahan kesedihan di hatinya.
*****
bersambung...
__ADS_1