Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Perjalanan


__ADS_3

Malam itu juga, Leo membawa Shasa berangkat bulan madu. Sepanjang jalan menuju bandara, Shasa tidak berhenti menggerutu kepada Leo karena merencanakan bulan madu tanpa memberitahunya. Leo tidak banyak membalas ocehan Shasa dan hanya menyandarkan kepalanya di bahu Shasa. Dia berdalih kalau dia lelah karena pesta pernikahan mereka yang berlangsung dari pagi sampai malam.


Di bandara, jet pribadi Leo sudah siap membawa kedua pengantin bulan madu. Jet itu akan mengangkut empat orang, Leo, Shasa, asisten Haris dan Lita. Leo tetap meminta kedua asisten itu untuk ikut mereka bulan madu untuk berjaga-jaga apabila ada yang dibutuhkan selama disana.


Perjalanan bulan madu mereka dimulai. Jet pribadi Leo telah lepas landas dengan mulus. Leo dan Shasa duduk di kursi VIP, sedangkan asisten Haris dan Lita, duduk jauh di belakang mereka dipisahkan dengan pembatas gorden. Karena kedua pengantin ini tidak sempat untuk makan malam di pesta tadi, pelayan di dalam jet pribadinya telah menyiapkan hidangan makan malam untuk keduanya.


"Maaf ya, aku membuatmu telat makan malam. Aku lebih suka kita makan berdua seperti ini daripada makan di tempat pesta yang banyak orang."


Shasa tersenyum tipis mendengar kata-kata Leo tadi. "Kenapa kau suka sekali membuat kejutan seperti ini?" Tanya Shasa.


"Aku tidak membuat kejutan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya seorang suami lakukan pada istrinya."


"Sudah cukup. Aku bisa pingsan kalau aku mendengar kau berkata seperti itu terus." Ledek Shasa pada Leo.


"Kau sakit? Kau tidak apa-apa? Apa aku perlu memanggil dokter?" Leo malah menganggap serius.


"Ish... Aku cuma bercanda."


Leo terlihat menghela napasnya lega. "Ayo kita makan saja."


Mereka berdua menikmati makan malamnya selama perjalanan di malam itu, di sebuah meja yang tertata rapi dengan vas bunga yang segar serta hidangan berkelas yang sudah jadi standar makanan Leo. Selesai makan malam, mereka duduk kembali ke kursi mereka.


"Sayang, sini." Leo memanggil Shasa yang baru saja ingin menyandarkan tubuhnya di kursi.


Kursi di dalam jet ini memang lebih lebar daripada kursi pesawat biasanya. Selain itu kursinya juga bisa diatur posisinya. Bisa menjadi kursi, bisa juga diubah menjadi tempat tidur.


Shasa bergerak ke kursi Leo. Dia duduk membelakangi Leo di sela-sela kedua kaki Leo yang dibuka lebar. Leo memeluk Shasa dari belakang. Pelukan Leo ini terasa begitu nyaman.


"Sayang, kamu mau ngapain sih nuyuruh aku duduk disini?"


"Aku mau peluk kamu."


Shasa tertawa kecil. "Sayang..." Shasa memanggil Leo yang sudah menyandarkan dagunya di bahu Shasa.


"Hem..."


"Kita mau pergi kemana sih? Kamu belum kasih tahu aku, lho."

__ADS_1


"Kamu nikmatii saja perjalan ini bersamaku."


"Ish... Aku mau tahu kita akan pergi kemana. Ke pantai? Ke gunung? Ke luar negeri?"


"Kamu maunya kemana?"


"Em... Aku mau keliling dunia!" Jawab Shasa riang.


Leo mengangguk-angguk pelan. "Boleh... Setelah ini kita keliling dunia bersama."


Shasa senyum-senyum kesenangan.


"Tapi... tunggu. Kita akan berapa lama berbulan madu?" tanya Shasa.


"Tujuh hari." jawab Leo cepat.


"Lama sekali. Cutiku pasti langsung habis kalau begini." gerutu Shasa mengingat dia sudah mengambil cuti panjang sebelumnya ditambah lagi dengan cuti bulan madunya kali ini.


"Aku bahkan berencana ingin sebulan pergi bersamamu." sahut Leo ringan.


"Aku bisa memberikan berpuluh-puluh kali lipat dari gajimu. Kau tidak perlu khawatir."


"Aku tidak ingin dicap sebagai istri yang menghabiskan uang suaminya."


"Hahaha... Aku malah senang kau menghabiskan uangku."


"Dasar sombong!" ledek Shasa pada Leo.


"Sayang..." Sekarang Leo memanggil Shasa. "Ayo kita tidur. Kamu tidur disini saja. Aku ingin memelukmu sepanjang malam ini."


Shasa menolehkan pandangannya yang sejak tadi melihat ke luar jendela, menatap Leo di sisinya. "Kau akan kesempitan kalau aku tidur disini." Shasa menarik hidung Leo gemas.


"Jarak antara kursimu dan kursiku terlalu jauh."


'Apaan? Jaraknya cuma sejengkal gitu juga!' batin Shasa protes.


Tiba-tiba saja, Leo sudah menyandarkan kursinya, mengubahnya menjadi tempat tidur, dan menarik Shasa ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Apa kau mencintaiku?" Pertanyaan Leo membuat Shasa diam terpaku. "Aku belum pernah mendengar kata-kata itu darimu. Apa hanya aku saja yang jatuh cinta disini?"


"Kau tidak jatuh cinta sendirian, sayang. Aku juga mencintaimu." Jawab Shasa dengan tenang, membuat Leo bernapas lega dan semakin mengeratkan pelukannya.


Malam itu, jet pribadi Leo melesat cepat membawa dua sejoli yang bahagia ini ke tempat bulan madu mereka.


Setelah perjalanan kurang lebih empat jam menggunakan jet pribadi, Leo dan Shasa meneruskan perjalanannya menggunakan kapal cepat. Langit masih gelap dan bintang-bintang masih bertaburan. Shasa sempat takut dan terus bertanya-tanya akan dibawa kemana. Tapi Leo tidak satu kalimat pun menjawab pertanyaan Shasa dan hanya menggenggam tangannya erat. Mereka duduk bersantai di sofa pada bagian depan kapal cepat itu dan menatap luas lautan di depannya. Shasa menyandarkan tubuhnya di samping Leo.


"Kalau kau masih ngantuk, tidur saja lagi. Aku akan membangunkanmu ketika sampai nanti." Bisik Leo di telinga Shasa sambil mengelus lembut kepalanya.


"Bahumu akan pegal nanti." Shasa tersenyum tipis. "Kepalaku kan berat." tawa kecil Shasa terdengar di telinga Leo.


"Aku lebih memilih kau bersandar padaku daripada bersandar di tempat lainnya. Membuatku terlihat tidak berguna."


Mereka tertawa bersama. Meskipun Shasa tidak berhenti bertanya tempat tujuan yang akan didatanginya, tetapi karena masih lelah sehabis pesta tadi, Shasa pun terlelap lagi di pelukan Leo.


Tak berapa lama, Leo membangunkan Shasa.


"Sayang, bangun. Sayang..." Leo menepuk pipi Shasa beberapa kali. Shasa pun terbangun.


"Kita sudah sampai ya?" Tanya Shasa sambil menguap.


"Belum, sebentar lagi. Tapi aku ingin kau melihat itu." Leo menunjuk ke arah timur dari kapal cepat yang mereka naiki.


"Wah..." Shasa terbangun cepat, terperangah melihat kemerahan di langit yang begitu cantik. "Apa itu matahari terbit?" Shasa melangkah maju ke sisi kapal bersandar pada pagar kapal.


Leo mendekati Shasa dan memeluknya dari belakang. "Kau pernah melihat matahari terbit?" Bisik Leo di telinga Shasa.


"Pernah, tapi tidak pernah se-cantik ini." Shasa masih mengagumi matahari terbit di depannya. Sangat cantik sekali. Leo memandangi Shasa yang tak henti-henti tersenyum melihat pemandangan di depannya.


"Mulai sekarang, lihatlah matahari terbit hanya bersamaku." Leo membalikkan badan Shasa menghadap ke arahnya. "Kau terlihat sangat cantik saat terkena pantulan sinar matahari itu. Aku tidak rela membaginya dengan orang lain."


Keduanya tertawa bersama, menikmati langit pagi yang menyambutnya. Deburan ombak membawa kapal mereka jauh ke sebuah pulau yang tak kalah indahnya.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2