
Selepas Leo berangkat kerja, Shasa asik main ayunan di taman belakang. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Komisaris Gusta akan membuatkannya taman bermain di sini. Padahal, Shasa hanya ingin bermain ayunan saja. Tentu saja saat sarapan tadi, Shasa sudah mengucapkan terima kasihnya pada Komisaris Gusta.
Tak lama ponsel Shasa berdering.
"Halo, Ti?" Shasa menyapa Tira yang tiba-tiba saja menghubunginya.
"Shaaaa... Apa kabar? Kangeeeeen." Tira langsung mengeluarkan teriakan-teriakan rindunya.
"Aku baik, Ti. Kamu gimana? Kantor aman kan?"
"Aku tentu saja baik. Kalau kantor, seperti biasa. Manajer Lim masih saja berisik menyuruh ini-itu."
"Hahahaha... Dari dulu memang sudah begitu kan."
"Sha, ini ada kiriman undangan untuk kamu."
"Undangan? Siapa?"
"Orang humas sih tadi yang menitipkannya padaku. Tapi setelah menerimanya, aku jadi bingung bagaimana cara meneruskannya ke kamu."
"Siapa namanya?"
"Gia dan Dion. Kayaknya sih aku pernah lihat orang ini beberapa kali mengobrol sama kamu, Sha."
'Apa??? Gia dan Dion? Secepat itu mereka menikah?' batin Shasa.
"Sha? Kok tidak ada suara? Kamu kenal kan sama orang ini?"
"Oh iya, Ti. Gia itu teman kuliahku. Kamu bisa titipkan undangan itu pada Lita. Nanti aku akan mengatakan padanya kalau kau ingin menitipkan sesuatu untukku."
"Baiklah, Sha. Oh iya, Sha, apa kau habis berlibur dari luar negeri?" Tanya Tira penasaran.
"Hah? Kamu tahu dari mana, Ti?" Shasa cukup kaget karena Tira bisa tahu kalau Shasa habis berlibur.
"Dari berita online. Ada beberapa fotomu dan Presdir sedang berlibur."
'Gawat!!!' Shasa panik. "Ti, boleh nanti aku telepon kamu lagi?"
"Oh iya, Sha. Kalau begitu sampai jumpa lagi ya, Sha."
Shasa langsung menutup teleponnya. Dia berpikir siapa dulu yang harus dia hubungi. Leo? Lita? Asisten Haris? Ah, asisten Haris!
Shasa mencari nama asisten Haris di dalam buku telepon ponselnya.
"Halo, asisten Haris."
"Iya, Nyonya. Apa anda membutuhkan sesuatu?"
__ADS_1
"Apa kau tahu kalau ada berita online tentang aku dan Leo?"
Asisten Haris terdiam. Sebenarnya dia sedang berpikir apakah asisten Haris harus cerita jujur kalau tidak sedikit pemberitaan tentangnya dan juga Leo sejak mereka menikah.
"Asisten Haris, kenapa kau diam?" Shasa menaikkan nada bicaranya.
"Nyonya, anda tidak perlu khawatir. Tidak akan ada sesuatu yang buruk karena pemberitaan itu."
"Apa Leo juga mengetahuinya?"
"Bisa iya, bisa tidak."
"Hei, kau ini! Apakah itu jawaban?"
"Nyonya, intinya anda tidak perlu khawatir. Itu bukan sebuah berita besar."
Sejujurnya Shasa masih mengingat betapa paniknya Komisaris Gusta saat dia mengetahui kalau mereka sempat naik bus umum saat berlibur. Shasa juga tidak tahu kalau hal sepele seperti itu, bisa jadi sebuah berita bagi publik.
"Nyonya, yang perlu anda lakukan hanya menikmati waktu anda di rumah dan perbanyak beristirahat."
Shasa menyeringai. "Baiklah, kali ini aku akan mengikuti saranmu." Shasa menutup teleponnya dan mendesah pelan.
Leo meminta asisten Haris untuk tidak memberitahukan hal-hal yang berhubungan dengan berita atau pembicaraan publik apapun mengenai dirinya dan Shasa. Leo tidak mau Shasa terbebani apapun yang dibicarakan publik tentangnya.
Shasa sendiri tidak terbiasa membaca berita. Terlebih lagi, Niko sangat menjaga ketat privasi Keluarga Gusta sehingga tidak ada satu pun yang bocor. Entah bagaimana berita ini bisa muncul, sepertinya Niko sedang bekerja ekstra untuk menghentikannya. Meskipun berita yang dibahas hanya topik ringan, Komisaris Gusta pasti tidak menginginkan hal itu terjadi.
Leo sedang memandangi mug pemberian Shasa. Dia bisa dengan mudah melihat senyum Shasa lewat foto yang tercetak di mug itu. Leo selalu menggunakan mug itu setiap hari. Bahkan, Leo menunjuk petugas khusus yang mencuci dan memastikan bahwa gelas itu aman setiap harinya.
"Tuan, semua pemberitaan tentang anda dan Nyonya sudah dihentikan." Asisten Haris memilih untuk tidak memberitahu Leo kalau Shasa sempat menanyakannya.
Leo mengangguk pelan.
"Ini dokumen yang anda minta, Tuan. Saya sudah menginformasikan kalau anda akan ke sana besok."
"Haris, bisakah kau bawa mug ini juga besok?" Tanya Leo sambil menyodorkan mug di tangannya.
Asisten Haris menatap Leo dan mug bergantian. Asisten Haris tidak mempunyai pilihan kecuali menerima mug itu .
"Pastikan mug itu aman. Kalau sampai kenapa-kenapa, kau akan aku pecat." Leo sudah mengalihkan pandangannya pada dokumen di atas meja dan mulai membacanya satu per satu.
'Hah? Mug yang tidak seberapa harganya ini disamakan dengan harga sebuah pekerjaan asisten presdir di perusahaan ini? Dasar bucin!' gerutu asisten Haris dalam hati. Kemudian, dia pun memberi hormat pada Leo sebelum meninggalkannya di ruangan itu.
*****
Leo pulang tepat waktu hari ini. Dia bergegas masuk ke kamar dan ingin memberi Shasa kejutan, berhubung belakangan ini Leo selalu pulang malam. Leo mencari Shasa di kamar, tetapi dia tak ada. Leo memanggil-manggil Shasa di seisi paviliunnya, tetapi tidak ada sahutan. Saat Leo melihat ke arah taman belakang dari jendela, Shasa terlihat sedang duduk di ayunan sambil membaca sebuah buku. Sesekali dia terlihat tertawa sendiri. Leo mendapatkan hiburan dari pemandangan yang dia lihat di depannya.
"Sayang..." Leo berjalan mendekat ke Shasa.
__ADS_1
"Sayang!" Wajah Shasa langsung berbinar-binar dan hendak bangun dari kursi ayunan.
"Tunggu! Duduk saja. Aku akan membantumu berayun." Leo berdiri di belakang Shasa dan mulai mendorong ayunan Shasa. "Sudah berapa lama kau di sini?"
"Setelah beristirahat siang tadi, aku ingin mencari udara segar, jadi aku main di sini saja."
"Lita ke mana?"
"Ah... Aku memintanya ke kantor untuk mengambil sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Undangan. Temanku menitipkan undangan padanya."
"Oh..." Sahut Leo singkat.
"Kau tidak ingin tahu siapa yang mengundangku ke pesta pernikahannya?"
"Memangnya siapa?"
"Dion. Dia akan menikah dengan Gia. Menurutmu aku perlu datang tidak?"
Leo mengingat nama Dion, tentu saja. Leo bahkan mendengus mendengar namanya disebut lagi. "Tidak perlu. Buat apa repot-repot datang."
"Tapi, yang mengundangku Gia, bukan Dion. Dia dulu juga sahabatku."
"Kau tidak pandai mencari sahabat." Ledek Leo. "Mana ada sahabat mengkhianati sahabatnya sendiri."
Shasa cemberut. "Aku benar-benar tidak boleh datang?"
"Kapan acaranya?"
"Akhir pekan ini."
"Karena aku tidak ada, kau tidak boleh datang."
"Memang kau akan ke mana?"
Leo berjalan memutar dan bersimpuh di hadapan Shasa. Leo sedikit mendongak karena posisi duduk Shasa di ayunan lebih tinggi darinya.
"Sayang... Besok aku harus pergi ke luar kota. Ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Aku baru kembali setelah akhir pekan. Aku ingin mengajakmu, tetapi akan sulit untuk menemani dan memperhatikanmu karena banyak yang harus ku kerjakan."
Shasa terdiam menatap Leo. Lalu, Shasa tersenyum. "Pergilah. Jika aku ikut denganmu, kau tidak bisa fokus bekerja. Selesaikan pekerjaanmu dengan cepat. Aku akan menunggu di rumah."
"Katakan pada Lita jika kau butuh sesuatu. Ah, tidak. Katakan langsung padaku. Kau tidak perlu pergi ke undangan itu. Jika kau ingin memberinya hadiah, kirim saja, berikan pada Lita. Jangan melewatkan jam makan dan istirahatmu. Jangan pergi ke tempat-tempat asing tanpa sepengetahuanku."
Shasa menangkupkan kedua tangannya di pipi Leo. "Sudah selesai ceramahnya? Kau juga jangan melewatkan jam makanmu. Istirahatlah yang cukup. Telepon istrimu jika sedang senggang." Shasa mengedipkan sebelah matanya pada Leo, membuat Leo tertawa kecil di hadapannya.
__ADS_1
*****
bersambung...