Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Pewaris


__ADS_3

Ketiga orang pelayan yang terlibat dalam insiden teh, dipanggil ke ruangan Niko. Mereka begitu gugup karena akan menemui seseorang yang ditakuti para pelayan di rumah ini. Kesalahan sedikit saja, Niko tidak akan mentolerirnya.


Niko menatap pelayan yang bertugas membeli teh itu, pelayan yang menyeduh tehnya, dan pelayan yang menyediakan teh itu ke Shasa, dengan tatapan membunuh. Niko belum mau mengambil keputusan apa-apa dan menunggu hasil pemeriksaan dokter Sam.


Di dalam kamar, Shasa berbaring di kasur. Dia diperiksa begitu teliti oleh tiga orang dokter yang mengawasi kesehatan semenjak setelah Shasa keguguran, ditambah seorang perawat khusus yang mengikuti dokter Sam, sebagai ketua dokter Keluarga Gusta, ke mana-mana. Leo tak lepas memperhatikan Shasa. Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta juga ada di kamar itu menyaksikan bagaimana Shasa diperiksa secara menyeluruh oleh para dokter.


"Sam, apa kau menemukan tanda-tanda racun di tubuhnya?" Tanya Leo dengan rasa khawatir.


"Kau tenang dulu. Biarkan pemeriksaannya selesai. Aku rasa kau tidak perlu berasumsi aneh-aneh dulu."


Para dokter itu terlihat memeriksa dokumen riwayat pemeriksaan Shasa dan daftar makanan yang dikonsumsi Shasa serta catatan kesehatan Shasa selama beberapa bulan terakhir. Salah satu dokter berbicara pada dokter Sam. Leo mencoba mencuri dengar apa yang dibicarakan keduanya. Lalu, dokter Sam mendekati Leo.


"Leo, aku rasa kita butuh memeriksa istrimu dengan alat medis. Bagaimana kalau kita bawa Nyonya Shasa ke rumah sakit?"


"Ada masalah apa? Lakukan saja di sini. Bawa alatnya ke sini. Aku tidak mengijinkan Shasa keluar dari rumah." Jawab Leo dengan tegas.


"Akan sedikit merepotkan, Leo. Memang, ada alat yang bisa dengan mudah kita bawa-bawa, tapi aku rasa akan lebih baik jika kita menggunakan alat dengan kualitas yang lebih bagus dan itu agak repot membawa dan mengaturnya."


"Kau butuh apa untuk membawanya ke sini? Aku akan meminta Haris menyiapkannya."


'Huh, dasar keras kepala!' gerutu dokter Sam. "Baiklah, aku akan memberitahu Haris. Tapi, akan membutuhkan waktu untuk membawanya."


"Kau butuh apa? Helikopter? Apalagi?" Tanya Leo mencecar seolah tidak menggubris kata-kata dokter Sam.


"Hah... Iya iya, baiklah. Kau memang punya segalanya. Tidak sekalian saja membangun rumah rumah sakit di dalam rumah." Gerutu dokter Sam pelan sambil berjalan meninggalkan Leo dan meminta perawat khusus menyiapkan alat yang dimaksud dokter.


Sebenarnya, dokter Sam sudah punya kesimpulan dini. Tetapi, dia tahu sekali gaya-gaya anggota Keluarga Gusta kalau sudah menyangkut hal-hal medis seperti ini. Mereka pasti meminta dipastikan seyakin-yakinnya. Bahkan kalau perlu, ada bukti.


Asisten Haris langsung mendapatkan tugas dadakan. Dia berkoordinasi sana-sini untuk membawa alat itu ke rumah. Satu setengah jam setelahnya, sebuah alat telah terpasang di kamar Shasa. Nyonya Sofia sedikit memicingkan matanya mengenali alat itu. Petugas rumah sakit tampak mengatur alat tersebut agar siap dipakai.


"Leo, berdasarkan pemeriksaan sementara, Nyonya Shasa saat ini sedang mengandung."


Wajah-wajah kaget dan bahagia itu terpancar dari keempat orang yang sudah menantikan kehadiran bayi di rumah ini. Shasa, Leo, Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta berbinar-binar mendengar penjelasan dari dokter Sam.


Leo menatap Shasa dengan wajah bahagia. Dia menghampiri Shasa dan memeluknya. Shasa terdengar menangis di dalam pelukan Leo.


"Sam, kenapa tidak bilang dari tadi?" Nyonya Sofia terdengar mengomeli dokter Sam dengan senyum yang tak henti-henti terpancar dari wajahnya. "Shasa..." Nyonya Sofia langsung memeluk Shasa.


Tak banyak kata yang dikatakan keempat orang yang sedang bahagia itu. Shasa menitikkan air matanya. Leo tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Shasa. Nyonya Sofia bahagia tak terkira. Komisaris Gusta begitu puas mendengarnya karena sebentar lagi dia akan memiliki pewaris baru.


"Sam, lalu apalagi yang ingin kau lakukan dengan alat itu? Sudah jelas kau tahu bahwa Shasa hamil, apalagi yang ingin kau periksa?" Leo bertanya mencecar.

__ADS_1


'Hah? Diluar dugaan! Biasanya mereka ini tidak percaya dengan diagnosis dini dan meminta dilakukan pemeriksaan yang selengkap-lengkapnya. Saking bahagianya, mereka sampai lupa dengan diri mereka sendiri?' batin dokter Sam sambil tersenyum menyeringai.


"Leo, kita perlu memastikan kondisi janin Nyonya Shasa."


"Ah, lakukanlah." Sahut Leo singkat.


Para dokter menyiapkan pemeriksaan USG untuk Shasa. Leo tak melepaskan genggaman tangannya pada Shasa, sedangkan Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia menyaksikan dengan antusias.


"Leo, kau minggir dulu." Dokter Sam meminta Leo untuk pindah dari sisi Shasa.


Leo beranjak dari sisi Shasa, lalu naik ke atas kasur, mengambil posisi di samping Shasa. Leo menggenggam tangan Shasa lagi. Dokter Sam hanya menggeleng-geleng kepala melihat Leo yang semakin posesif.


Dokter mulai melakukan pemeriksaan USG. Shasa dan Leo mengamati sebuah layar yang menampilkan kondisi rahim Shasa.


"Nyonya dan Tuan, ini gambar janinnya, calon bayi anda. Kalau dilihat dari beberapa indikator termasuk kalender menstruasi Nyonya, usia janinnya sudah 5 minggu. Anda ingin mendengar detak jantungnya?" Kata seorang dokter wanita. Dia pun seperti menekan sebuah tombol di mesin itu.


Berdebar hati Shasa mendengar detak jantung calon anak di kandungannya untuk pertama kali. Shasa tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menunjukkan rasa bahagianya. Dia merasa menjadi wanita yang begitu diberkati karena dapat merasakan anugerah sebuah kehamilan.


"Selamat ya, Nyonya dan Tuan. Sebentar lagi anda akan menjadi pasangan orang tua untuk anak pertama anda."


"Dokter, lalu kenapa tadi istriku terlihat seperti orang sakit? Apakah itu karena ada sesuatu yang terjadi pada janinnya?" Tanya Leo penasaran.


"Pada saat seseorang hamil, kemungkinan ada beberapa panca indera yang lebih peka. Aku rasa Nyonya Shasa memiliki indera penciuman yang lebih peka daripada sebelumnya. Saat Nyonya menghirup harum teh yang tadi diminum, mungkin saja menimbulkan rasa mual, ditambah lagi dengan aroma teh yang cukup mencolok." Jelas dokter lagi.


"Belakangan ini, aku merasa tidak terlalu nafsu makan. Aku makan lebih sedikit daripada biasanya." Jawab Shasa.


"Itu hal yang normal. Perubahan hormon saat kehamilan dapat membuat sang ibu merasa mual ataupun tidak nafsu makan. Tapi, saya sarankan anda untuk makan yang cukup dan tentu saja harus bergizi."


"Apakah ada makanan yang dipantang, dokter?" Tanya Leo.


"Tidak ada pantangan tertentu untuk orang hamil. Tetapi, nanti kami akan memantau asupan gizi Nyonya setiap harinya. Selain itu, saya sarankan juga pada Nyonya untuk istirahat yang cukup. Pola tidur dan istirahat anda harus tetap dijaga dan teratur."


"Nyonya, aku sarankan padamu, jika merasa sakit sedikit pun atau kau merasa ada yang tidak enak entah di bagian manapun dari tubuhmu, kau harus mengatakannya pada dokter. Kehamilan anda perlu dipantau ekstra, mengingat anda pernah mengalami keguguran di waktu lalu. Kau tidak boleh capek ataupun memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga menjadi beban karena itu bisa saja berpengaruh pada kandunganmu." Tambah dokter Sam.


"Baik, dokter. Aku akan mengikuti saranmu." Balas Shasa lembut.


"Ada lagi yang ingin ditanyakan?" Tanya dokter Sam. Dia juga melirik Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta.


"Sam, pastikan saja kau memantau kesehatan Shafira. Jangan lewatkan apapun."


"Baik, Om Gusta. Kalau tidak ada lagi, kami akan sudahi pemeriksaannya. Nanti akan ada beberapa vitamin yang akan kami berikan pada Nyonya Shasa."

__ADS_1


Karena pemeriksaan sudah selesai, satu per satu dokter meninggalkan rumah Keluarga Gusta. Petugas rumah sakit pun sudah membereskan alat USG yang dibawanya. Dokter Sam keluar dari kamar Leo bersama Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia.


"Om dan Tante, aku ucapkan selamat sekali lagi. Kalian akan menjadi kakek dan nenek."


"Kirimkan salah satu perawatmu ke sini, Sam. Aku ingin ada tim medis yang mengawasi Shasa setiap hari."


"Kenapa kau meminta hal yang sama seperti anakmu, Om Gusta? Hahaha... Leo mengatakannya juga padaku tadi. Tante Sofia, apakah laki-laki di rumah ini sama posesifnya?" Goda dokter Sam.


"Tapi, aku memang juga akan mengatakan hal yang padamu, Sam." jawab Nyonya Sofia sambil tersenyum.


"Astaga! Aku harap Nyonya Shasa tidak pusing menghadapi kalian yang posesif."


Sementara itu, Leo dan Shasa masih saling memandang satu sama lain di kamar.


"Sayang." Panggil Shasa.


"Hem..."


"Aku selalu berpikir apa yang bisa aku berikan padamu. Kau selalu memberiku hadiah yang tidak pernah aku duga-duga. Tapi, aku tidak pernah memberikan apapun padamu. Aku lega sekarang. Aku sudah tahu apa yang bisa aku berikan padamu. Anak ini, anak di dalam kandunganku ini, adalah hadiah untukmu."


Leo tersenyum dan memeluk Shasa dengan hangat. "Sayang, kau sudah memberikan aku kehidupan. Kau tidak perlu berpikir ingin memberikanku apa-apa lagi. Terima kasih, sudah mau mengandung anakku. Terima kasih, sudah mau menjadi ibu dari anak-anakku."


Shasa menangis kembali dalam pelukan Leo. Dia tidak bisa menahan rasa bahagianya lagi. Kerinduannya pada Leo, kini berbuah manis. Tak lama lagi, akan hadir pengikat yang makin mengeratkan Leo dan Shasa.


"Jangan menangis, sayang. Menangis akan membuatmu lelah. Kau juga tidak perlu banyak bicara. Itu akan membuatmu lelah. Istirahat saja. Aku akan menemanimu sepanjang hari."


*****


Niko masuk kembali ke dalam ruangannya, dimana ketiga pelayan yang sejak tadi di sidang menunggu hasil pemeriksaan Shasa. Wajah Niko terlihat tanpa ekspresi, membuat mereka sulit sekali menebak apa yang terjadi di luar.


"Kalian kembalilah bekerja. Mulai sekarang, layani Nyonya Shasa dengan baik dan benar. Kesalahan sedikit saja, tidak akan dimaafkan."


"Baik, Tuan. Terima kasih."


Ketiga pelayan itu pun ke luar dan ruangan Niko dan kembali bekerja. Mereka belum tahu apa yang terjadi, tetapi setidaknya mereka lega karena pasti Shasa baik-baik saja. Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Shasa, mungkin mereka bertiga hanya akan menyisakan nama saja.


Niko memiliki satu tugas besar yang baru. Kehadiran satu anggota keluarga lagi di rumah ini, menambahkan tanggung jawab Niko dalam menjaga Keluarga Gusta. Niko mengingat apa yang diperintahkan Komisaris Gusta barusan.


"Niko, aku akan memiliki cucu, pewaris, penerus keluargaku." Ucap Komisaris Gusta dengan bangga. "Jaga dia dengan baik. Tambah pengawal dan pelayan untuknya. Jangan biarkan satu hal pun membuat dia lelah. Periksa semua bagian rumah aman untuknya. Kau tahu kan, dia membawa nyawa pewarisku. Bahkan nyawamu saja, tidak bisa menggantikannya."


Sederet perintah yang membuat Niko paham betapa pentingnya anak dalam kandungan Shasa. Bahkan sebelum lahir saja, anak itu sudah membawa kebanggaan tersendiri untuk Komisaris Gusta. Apalagi setelah anak itu lahir nanti. Niko sudah membayangkan selintir masa depan keluarga ini.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2