
Leo menarik selimut sampai ke leher Shasa, menutupi tubuh polosnya yang tidak mengenakan apa-apa. Kini Shasa tertidur lelap setelah percintaannya dengan Leo.
Leo menyandarkan punggungnya di kepala kasur. Dia mengambil tablet dari laci meja di sampingnya. Leo mengecek pesan dari asisten Haris yang berisi data lengkap pengurus inti yayasan serta informasi dimana suami-suami mereka ditugaskan. Leo membaca pesan itu dengan serius sambil sesekali memicingkan matanya.
Setelah selesai membaca, Leo mengetikkan sebuah pesan kepada asisten Haris. Leo melihat gerakan kecil Shasa dari balik selimut. Buru-buru Leo meletakkan tabletnya kembali dan memeluk Shasa. Dia menepuk-nepuk punggungnya agar Shasa tidak terbangun.
'Sayang, kau harus tahu betapa kesalnya aku hari ini. Mengabaikanmu sama saja dengan mengabaikanku. Aku ingin tahu apakah mereka masih berani mengabaikanmu setelah aku melakukan ini.' gumam Leo dalam hatinya. Kemudian, dia pun terlelap bersama Shasa dalam tidurnya yang nyenyak.
*****
Shasa sudah ada di meja kerjanya. Dia sudah fokus menatap layar komputernya. Banyak pekerjaan yang perlu dia selesaikan dengan cepat mengingat proses pengembangan yang tak henti berjalan. Satu per satu pekerjaan timnya diperiksa dengan teliti.
Tira mendekati kursinya ke meja Shasa. Belakangan ini Shasa terlihat dua kali lebih sibuk dari sebelumnya. Tira melihat wajah Shasa yang lebih capek dari biasanya.
"Sha, sekarang kamu sibuk apa sih?"
Shasa mengalihkan pandangannya sejenak dari layar komputer. "Aku mulai punya kegiatan di yayasan perusahaan. Apa kau pernah dengar tentang itu?"
"Ah, iya, aku pernah mendengarnya. Yayasan yang diurus oleh para istri pejabat tinggi perusahaan ini kan? Meskipun aku belum pernah melihat secara langsung seperti apa yayasan itu, tapi setiap ulang tahun perusahaan, beberapa dari pengurus yayasan itu juga turut hadir."
Shasa mengangguk-anggukan kepalanya. "Aku sedang berusaha beradaptasi dengan mereka. Aku merasa gaya hidupku sangat jauh dari mereka, jadi agak susah mendekatinya. Biar bagaimanapun, bekerja dalam tim akan lebih baik jika kau cukup dekat dengan orang-orangnya kan?"
"Memang mereka seperti apa? Sampai susah sekali kau mendekatinya." Tanya Tira penasaran.
"Kau bisa bayangkan gaya hidup sosialita? Nah, seperti itulah mereka kurang lebih."
"Hei, kau bahkan sudah masuk dalam keluarga sosialita. Kenapa harus susah-susah berpikir untuk bisa dekat dengan mereka."
"Aku tidak pernah berpikir untuk menyamakan diriku dengan mereka dari segi apapun, baik yang terlihat ataupun yang tidak. Tapi, kebiasaan mereka sebagai sosialita, sikap dan perilaku, itu yang terkadang sulit bagiku untuk menerimanya. Aku tahu, tidak semua orang di kalangan sosialita seperti itu. Tapi khusus untuk tante-tante yayasan itu, mereka punya tingkah laku yang sulit ku mengerti."
"Aku penasaran seperti apa orang-orang itu. Untuk orang yang mudah bergaul sepertimu sampai kesulitan begini, aku tidak mengerti lagi seberapa unik mereka."
"Kalau begitu, sekali-kali kau bergabunglah. Biar kau merasakannya. Hahahaha... Lihat aku tidak bisa se-leluasa ini mengobrol dengan mereka."
"Apakah suamimu tahu?"
"Rasanya dia tahu."
"Lalu, dia tidak melakukan apa-apa untukmu?"
__ADS_1
"Aku tidak berharap dia melakukan sesuatu untukku. Jika aku memang dipercaya untuk mengelola yayasan, aku ingin itu karena kemampuanku. Sehebat apapun suamiku, aku tidak ingin menjadi bayangannya."
"Ish... Kau ini. Masih saja idealis padahal sudah memiliki suami sempurna yang bisa memberimu segalanya." Tira sedikit menyindir Shasa. Kemudian, dia menarik lagi kursinya kembali ke meja kerjanya.
Shasa hanya tertawa kecil mendengar sindiran Tira. Sudah biasa seperti itu. Lebih baik jujur daripada menyakiti di belakang.
*****
Sore hari, Shasa pergi menuju yayasan. Dia akan melanjutkan persiapan untuk festival budaya. Seperti biasa, Lita menemaninya ke yayasan. Lita langsung bergegas ke lantai VIP.
Sesampainya di sana, Shasa terkejut karena mendapati beberapa lelaki juga ada di ruangan itu. Shasa sempat diam dan berpikir sejenak apa yang terjadi di tempat ini. Lita berdehem untuk memberitahu orang-orang di ruangan itu bahwa Shasa telah datang. Semua orang menoleh ke sumber suara. Mereka terkejut melihat Shasa sedang menatap ke arah mereka. Orang-orang itu langsung memberi hormat dan menyambut Shasa.
"Nyonya Shafira. Maaf membuat anda terkejut. Tapi kami juga akan membantu anda untuk acara festival budaya perdana di yayasan ini." Kata salah satu lelaki di ruangan itu.
"Aku baru tahu kalau ada pengurus yayasan laki-laki." Ucap Shasa polos.
"Ah, Nyonya, ini suami-suami kami." Jelas salah seorang pengurus inti. "Mereka akan membantu kita dalam acara penggalangan dana kali ini. Bukan menyumbang secara finansial, tetapi mereka akan terlibat langsung dalam acaranya."
Shasa bingung dengan perubahan ini. Sehari saja membuat wajah dingin para pengurus inti berubah menjadi hangat padanya. Dan ini, apalagi? Suami-suami mereka bahkan ada di sini juga untuk berkerja bersama. Shasa masih mengerutkan dahinya dan berpikir apa yang terjadi. Mereka ini adalah direktur-direktur perusahaan di bawah naungan XY Group, jelas mereka bukan sembarang orang, tetapi malah terlibat dalam acara semacam ini di yayasan.
Shasa berbisik. "Lita, apa kau tahu ini semua?"
"Tidak, Nyonya." Jawab Lita singkat.
"Tante Nala, kira-kira apa yang perlu dipersiapkan lagi?" Tanya Shasa pada Nyonya Nala. Dia menyerahkan beberapa list yang masih perlu ditindak lanjuti. "Tante Nala, bisa bantu aku untuk mengoordinir ini?"
Nyonya Nala tersenyum. "Baiklah." Satu-satunya suami pengurus inti yang tidak ada di sana hanyalah suami Nyonya Nala. Dia ditugaskan ke tempat lain tepat di hari ini.
"Tante-tante dan om-om direktur semua, sejujurnya, aku tidak mengetahui kalau akan ada tambahan panitia acara di sini. Tapi sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mau bergabung." Shasa tersenyum pada orang-orang di hadapannya.
"Tidak perlu sungkan, Nyonya. Ini juga pengalaman pertama kami yang pasti akan sangat berharga bisa terlibat dalam acara yayasan." Balas seorang lelaki di sana.
Shasa tersenyum dan meninggalkan orang-orang di ruangan itu yang melanjutkan kesibukan untuk mempersiapkan festival budaya. Shasa masuk ke dalam ruangan pribadinya dan mengambil ponsel dari dalam tas. Dia menelpon seseorang menggunakan ponselnya.
"Halo, sayang." Suara Leo terdengar menyapa Shasa.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Balas Shasa dengan datar.
"Aku? Memang apa yang aku lakukan?"
__ADS_1
"Kau berpura-pura tidak tahu?" Shasa mendengus. "Direktur-direkturmu yang berharga ada di yayasan. Kau yang mengirim mereka kan?"
"Tidak. Aku rasa mereka sedang melakukan pekerjaan mereka."
"Pekerjaan? Yayasan ini bahkan bukan kantor mereka."
"Perkembangan perusahaan, strategi bisnis, tidak melulu harus di kerjaan dalam lingkup lingkungan kantor. Terkadang, butuh terobosan untuk melakukan analisa pasar, mempelajari tingkah laku konsumen, mempelajari sebuah rencana anggaran dari sudut yang berbeda, mungkin itu yang sedang mereka lakukan."
"Sayang, jangan lakukan lagi."
"Aku tidak memaksa mereka. Aku hanya memberi mereka kesempatan belajar lebih banyak dalam perspektif yang berbeda. Mereka yang menginginkannya sendiri."
"Ish... Kau terus saja mencari alasan."
"Sayang, nikmati waktumu. Kapan lagi direktur-direktur itu bisa terjun dalam acara yayasan? Kau bisa lihat kekompakan mereka dengan istri-istrinya kan? Biarkan saja. Mereka terlatih bekerja profesional. Kau fokus saja pada acaranya." Leo berusaha menenangkan Shasa. "Atau... Kau mau aku juga terlibat di sana?"
"Tentu saja, tidak. Baiklah, aku akan ijinkan direktur-direkturmu di sini, asalkan kau tidak datang lagi dan membuat kekacauan. Aku kasihan melihat wajah pias mereka."
"Hahahaha... Kau memang luar biasa, sayang." Leo tertawa senang. 'Kau luar biasa karena menggerakkan duniaku sehebat ini.' pikir Leo dalam hati.
*****
Nyonya Sofia dan Leo tertawa terbahak-bahak. Keduanya tak berhenti menertawakan para direktur yang dikirim Leo ke yayasan. Apalagi saat Leo menceritakan bagaimana Shasa memanggil mereka dengan sebutan om-om.
"Kau ini benar-benar, Leo. Lebih merepotkan dari pada papamu, ternyata."
"Ma, Shasa itu sangat pandai menyimpan perasaannya, meskipun sedikit-sedikit aku sudah mulai bisa membacanya. Aku tidak bisa melihat istriku tidak dihargai seperti itu."
"Shasa itu karakternya kuat. Dia bisa sedemikian rupa mempedulikan mereka yang bisa diajak bekerja sama dan meninggalkan mereka yang mengabaikannya. Keberaniannya hampir melampaui papamu."
"Ma, omong-omong, kapan mama kembali? Mama akan menghadiri acara festival budaya kan?"
"Mama tidak bisa janji, sayang. Kalau nanti mama tidak hadir, mama yang akan menelpon Shasa langsung untuk memberinya semangat."
"Ma, cepatlah pulang. Rasanya, Shasa akan lebih nyaman bercerita pada mama. Dia sudah mengancamku untuk tidak melakukan apa-apa lagi untuk membelanya."
"Hahahaha... Bahkan kau takut padanya, Leo."
"Shasa memegang titik lemahku, Ma."
__ADS_1
*****
bersambung...