Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Malam Pentas


__ADS_3

Malam pentas sudah mulai dipersiapkan. Rombongan outing yang sedari tadi sudah menikmati kemahnya, mulai berdatangan kumpul di aula bawah yang berada di kawasan vila.


Shasa sudah duduk di salah satu kursi aula. Tira yang baru saja masuk ke aula, antusias melihat Shasa.


"Sha!" Tira sudah hampir memeluk Shasa, tetapi kemudian dia kaget melihat Leo yang sudah duduk di samping Shasa sambil menyilangkan tangan di depan. Tira mengurungkan niatnya memeluk Shasa dan memberi hormat kepada Leo.


Leo sedikit mengangguk pada Tira. Setelah itu, Tira melanjutkan obrolannya dengan Shasa.


"Sha, kaki kamu gimana?"


"Udah baik kok, Ti. Udah gak apa-apa." Shasa tersenyum melihat Tira.


'Apanya yang tidak apa-apa? Bahkan aku harus menggendongmu untuk sampai disini.' gerutu Leo dalam hati sambil melirik Shasa.


Tira pun duduk di samping Shasa. Aula sudah mulai penuh dan berisik. Masing-masing menyiapkan penampilan untuk pentas malam ini. Untuk sebuah acara outing kantor, pentas malam ini sudah seperti ajang adu bakat. Jarang-jarang bagi seorang pegawai yang sehari-harinya sibuk bekerja untuk menumpahkan bakat terpendamnya.


Acara pun dimulai. Kedatangan Leo yang tiba-tiba ini, membuat para manajer jadi kelimpungan menyambutnya. Tetapi Leo sudah menenangkan situasi dan beralasan hanya ingin melihat seperti apa acara outing itu. Dia meminta para manajer melanjutkan kegiatannya dan tidak perlu menghiraukan keberadaan Leo.


Satu per satu tim tampil di atas panggung. Ada yang nyanyi, drama, puisi, menari, sampai melawak pun dilakoni. Ini sudah seperti hiburan gratis bagi Shasa. Dia menikmati sekali penampilan teman-temannya.


Benar kata Shasa. Leo melihat banyak sisi lain dari para pegawainya. Ternyata tidak sedikit yang punya bakat terpendam. Tapi yang lebih penting, Leo bisa melihat kebahagiaan di wajah Shasa. Dia tidak mengerti bagaimana wanita di sampingnya ini bisa bahagia dengan hal sederhana seperti itu. Leo tak sadar tersenyum, pertama kalinya melihat Shasa yang tertawa begitu lepas.


Saat yang ditunggu-tunggu tiba juga. Tim Shasa telah dipanggil ke atas panggung. Tiga lelaki di timnya sudah bersiap-siap. Seperti rencana awal, ketiga lelaki itu akan tampil sebagai grup musik, sedangkan Shasa dan Tira akan menjadi tim hore.

__ADS_1


"Selamat malam semua." Dimas sebagai vokalis membuka penampilannya. "Malam ini, grup 3D, Dika, Dito, Dimas akan membawakan sebuah lagu." Terdengar tepukan yang meriah dari penonton. "Sabar, sabar... Belum nyanyi aja udah ditepukin ya." Kata Dimas bangga. Sontak semua penonton jadi tertawa. Begitu pun dengan Shasa dan Tira.


"Lagu ini dipersembahkan khuss untuk dua wanita tercinta kita." Dimas menengadahkan tangannya ke arah Shasa dan Tira, yang seketika itu juga membuat Leo memicingkan matanya. "Yang meskipun sampai hari ini masih jomblo sejati, tetapi keduanya tetap di hati." Penonton jadi tertawa lagi.


Leo melirik tajam pada Shasa yang malah tertawa geli melihat teman-temannya di atas panggung. 'Apa-apaan dia mengatai istriku jomblo!' Leo mendengus dalam hati.


Setelah penampilan 3D selesai, tepukan meriah terdengar dari penonton. Shasa dan Tira juga terlihat bangga dengan ketiga lelaki yang ada di atas panggung itu. Shasa sekali melirik ke arah Leo yang menatap lurus ke depan. 'Kenapa dia terlihat kesal ya?' pikir Shasa dalam hati.


Malam pentas telah sukses dilewati dan membekaskan kebahagiaan di wajah pesertanya. Satu per satu berhamburan kembali ke kemah masing-masing.


"Sha, kamu gak apa-apa sendirian? Mau aku temenin gak?"


"Ah, gak apa-apa Ti. Aku ditemenin sama Lita kok. Eh, maksudku Ibu Lita.' jawab Shasa.


Aula pun sudah sepi. Hanya tertinggal Shasa, Leo, asisten Haris, dan Lita.


"Kau bahagia sekali melihat ketiga lelaki itu ya?" Tanya Leo menyindir.


"Ya? Hahahaha... Leo, mereka memang suka bercanda. Itu pasti cuma bercanda aja kok." Shasa menerka-nerka apakah ini yang membuat Leo kesal dari tadi.


"Mereka bahkan menyebutmu jomblo sejati di hadapan orang banyak. Kau tidak malu?"


"Aku tidak malu karena itu pasti hanya bercanda. Tidak perlu menganggapnya serius."

__ADS_1


"Aku tidak akan lagi membiarkan istriku dihina di hadapan orang begitu." Leo sedikit cemberut.


"Hahaha... Sayang, tenang saja, aku tidak merasa terhina kok. Lagipula, yang dibilang mereka kan salah. Aku bukan jomblo lagi. Tapi aku sudah jadi seorang istri. Iya kan?" Shasa mencoba menenangkan Leo. Shasa berusaha menggeser badannya, tetapi kakinya yang diperban malah menyenggol kaki kursi. "Aaaawww" Shasa mengaduh.


Leo otomatis menoleh ke Shasa dan menatapnya khawatir. "Kau tidak apa-apa? Kakimu sakit lagi? Jangan banyak bergerak." Leo melirik kaki Shasa yang sakit.


"Tidak apa-apa. Hanya kesenggol sedikit. Ayo kita kembali saja. Sudah malam." Shasa ingin menyudahi kekesalan Leo. Dia mengajaknya kembali ke kamar.


Leo menggendong Shasa dari aula hingga ke kamar. Leo meletakkan Shasa di ranjang pelan-pelan. Asisten Haris dan Lita memberi hormat pada Leo dan Shasa, kemudian undur diri untuk beristirahat juga.


"Besok pagi kita sarapan disini saja. Habis itu, Haris akan menyiapkan mobil untuk kita pulang."


"Secepat itu kita kembali?"


"Kau ingin orang-orang melihat kita pulang bersama?"


Shasa terdiam. Tentu saja dia tidak mau orang-orang melihat dia pulang bersama Leo.


"Kau harus cepat pulih. Lusa mamaku akan tiba disini. Aku akan mempertemukanmu dengan orang tuaku secepatnya."


Shasa menatap Leo. Dia berpikir sejenak. 'Apa? Aku akan bertemu orang tuanya? Huaaa aku belum siap!' Shasa jadi merinding membayangkan pertemuannya dengan kedua orang tua Leo.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2