Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Waktu Kecil


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Shasa keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Dia berjalan perlahan dan tangannya mengelus perut besarnya dengan pelan.


“Nyonya, anda mau pergi ke mana?” tanya Lita yang heran melihat penampilan Shasa seperti orang yang ingin pergi padahal dia tahu sangat sulit untuk Shasa bisa pergi ke luar.


“Aku ingin menjemput suamiku di bandara.” Jawab Shasa santai.


Lita mengerutkan alisnya. “Aku rasa aku baru mendengarnya, Nyonya. Apa anda sudah mendapat ijin Komisaris Gusta?”


Shasa memutar bola matanya. “Aku hanya ingin menjemput suamiku yang akan pulang hari ini. Sesulit itukah sampai harus ijin?” Shasa mulai merengek.


“Lita.” Suara Komisaris Gusta memecah obrolan Shasa dan Lita. Komisaris Gusta berjalan mendekati keduanya. “Antarlah Shasa ke bandara. Aku mengijinkannya. Niko akan ikut dengan kalian.”


Senyum kemenangan mengembang dari wajah Shasa.


“Baik, Tuan. Saya akan siapkan mobil.” Lita membungkuk hormat dan meninggalkan Komisaris Gusta dan Shasa di ruang tengah paviliun.


“Terima kasih, Pa.” Shasa tersenyum senang pada Komisaris Gusta. “Semua kata-katamu tidak pernah dibantah oleh seorang pun di rumah ini.”


Komisaris Gusta tersenyum. “Seorang wanita yang tak lama lagi akan melahirkan, harus bahagia hatinya. Sebentar lagi akan ada orang baru yang kata-katanya juga tidak terbantahkan oleh seorang pun di rumah ini.” Ucap Komisaris Gusta dengan bangga.


“Siapa, Pa?” tanya Shasa polos.


“Cucuku… hahahaha.” Komisaris Gusta sudah bisa membayangkan hal-hal bahagia dan menarik saat cucunya memasuki rumah ini nanti.


“Pa, akan aku besarkan anakku untuk menjadi anak yang menghormati dan menghargai orang lain, terutama kakek-nenek dan orang tuanya. Aku harap dia kelak menjadi anak yang patuh dan bisa membahagiakan orang-orang sekelilingnya.” Balas Shasa


“Aku jadi tidak sabar menyambut cucuku. Dia akan mewarisi semua yang aku punya di kemudian hari.” Komisaris Gusta memandangi seisi rumah mewahnya.


“Aku tidak ingin dia hanya menjadi penikmat hasil kerja keras kakek dan papanya. Dia akan aku ajari untuk mengerti arti perjuangan. Tentu saja, dia harus bisa menghargai apa yang dia miliki. Sama seperti papa dan mama mendidik Leo. Aku akan mendidiknya seperti kalian.” Jelas Shasa.


Komisaris Gusta menggelengkan kepalanya. “Aku menyesal tidak memberinya banyak waktu. Sedikit sekali kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan Leo. Kau harus memberi anakmu banyak waktu karena kau tidak dapat membelinya dengan apapun. Uang bisa dicari lagi, sedangkan waktu tidak akan pernah kembali.” Komisaris Gusta mengelus kepala Shasa.


*****


Jet pribadi Leo baru saja mendarat. Leo membereskan tas dan barang-barangnya. Setelah jet pribadinya terparkir aman, Leo menyalakan ponselnya yang dimatikan selama perjalanan. Sebuah pesan muncul dari Komisaris Gusta. Leo sedikit membelalakkan matanya melihat isi pesan itu.


“Haris! Shasa menjemputku?” tanya Leo terkejut.

__ADS_1


“Benar, Tuan. Aku baru saja mendapat pesan dari Lita.” Jawab asisten Haris yang masih memegang ponselnya.


“Sudah aku bilang kan, Shasa tidak boleh keluar rumah!” Bukannya senang, Leo malah sedikit marah.


“Sepertinya Komisaris Gusta yang mengijinkan. Tuan, aku rasa wajar Nyonya Shasa ingin menjemput anda. Mungkin, Nyonya sudah tidak sabar ingin bertemu anda lagi.“ asisten Haris mencoba mendinginkan hati Leo.


Leo mendesah cukup keras. Dia segera berjalan cepat keluar dari jet pribadinya. Leo berjalan ke ruang tunggu kedatangan di bandara. Dia berjalan dengan putus asa. Dari jauh terlihat Shasa yang sudah berdiri menunggunya. Semakin dekat Leo berjalan ke arah Shasa, semakin senyum manisnya jelas terlihat di mata Leo.


‘Huh! Aku sudah ingin marah sejak tadi. Tapi, melihatmu tersenyum seperti itu, membuatku lupa kekesalanku tadi.’ Batin Leo.


“Sayang!” ucap Shasa riang. Kini, lelaki yang ditunggu sejak belasan hari lalu, tepat berdiri di hadapannya. Matanya, hidungnya, bibirnya, telinganya, semuanya utuh dan terlihat baik-baik saja. Begitulah mata Shasa menjelajahi wajah Leo.


“Bagaimana bisa kau menjemputku di sini?” tanya Leo heran.


“Ish… apa itu ucapan pertama setelah sekian lama tidak bertemu denganku?” Shasa jengkel.


Leo mendesah pelan. Dia memandangi wajah yang sudah dirindukannya sejak menit pertama dia meninggalkan rumah. Leo langsung membawa Shasa ke pelukannya. “Tentu saja, aku merindukanmu, sayang.” Bisik Leo di telinga Shasa.


“Ayo, segera pulang.” Ucap Shasa.


“Hahahaha… sebegitu rindunya kau padaku, ya? Ingin segera mengajakku ke kamar.” Goda Leo.


“Hahahaha… sama saja.” Tawa Leo.


Keduanya tertawa bersama sambil berjalan menuju mobil. Leo merangkul tubuh Shasa dan berjalan dengan sangat hati-hati. Asisten Haris yang mengikutinya dari belakang hanya bisa menggeleng-geleng sambil tertawa kecil melihat kelakuan Tuan dan Nyonyanya. Kemudian asisten Haris teringat ada sepasang manusia lagi di belakangnya. Dia mencuri pandang ke belakang. Ya, Lita dan Niko berjalan dengan wajah datar tanpa ekspresi.


‘Hahaha… sudah ditinggal selama belasan hari, sepasang manusia ini masih saja dingin seperti itu.’ Batin asisten Haris menertawai Lita dan Niko dalam hatinya.


*****


Leo dan Shasa sudah beristirahat di kamar. Keduanya bersandar pada kepala ranjang. Leo tak henti mengelus perut Shasa sejak tadi.


“Sayang, aku ingin tahu sesuatu.” Kata Shasa.


“Hem… apa?” tanya Leo tapi tetap melanjutkan aktivitas elus-elusnya di perut Shasa.


Shasa mengambil sesuatu dari laci lemari di sisi ranjang. “Bagaimana bisa kau menyimpan foto ini?” Shasa menunjukkan sebuah foto yang dia temukan di apartemen.


“Kau pergi ke apartemen?” Leo terkejut.

__ADS_1


Shasa mengangguk. “Aku merindukan apartemen dulu. Jadi, aku pergi ke sana. Jawab pertanyaanku, sayang.” Rengek Shasa.


“Aku mendapat foto ini dari Ibu Putri. Aku pernah mengantar beberapa hadiah untuk anak-anak di sana. Lalu, Ibu Putri memberikan foto ini padaku. Katanya, ini fotomu waktu kecil.” Jawab Leo.


“Kenapa tidak pernah memberitahuku?”


“Aku ingin menyimpannya sendiri.” Jawab Leo tersenyum tipis. “Aku punya sesuatu yang berharga dari foto ini.”


“Apa?” Shasa menebak-nebak juga pada dirinya sendiri.


Leo membuka laci meja di sisi ranjang. Dia mengambil dompetnya yang berwarna hitam dan berbahan kulit itu. “Ini, sayang.” Leo menunjukkan sebuah foto dari dalam dompetnya.


Shasa terkejut bukan main. Matanya berkaca-kaca dan hatinya tak karuan. Leo menunjukkan sebuah foto seorang anak kecil perempuan yang memegang boneka dan seorang anak laki-laki di sampingnya yang memandangi wajah anak perempuan itu.


“Ini kau dan ini aku.” Leo menjelaskan kedua objek di foto itu. “Waktu aku kecil, mama aktif di yayasan perusahaan. Mama pernah mengajakku ke sebuah panti asuhan. Itu adalah pertama kalinya aku datang ke panti asuhan. Lalu, aku melihat seorang anak perempuan yang sedang menangis. Mama menyuruhku memberikan sebuah boneka untuknya. Mengejutkan, anak itu berhenti menangis saat aku memberikannya boneka. Mama mengambil fotoku saat itu. Aku baru menyadari kalau anak perempuan ini adalah kau, setelah melihat foto yang Ibu Putri berikan padaku. Ternyata, sejak kecil aku sudah suka memandangi wajahmu.” Kenang Leo.


“Sayang…” ucap Shasa lirih. Mata Shasa memandangi wajah Leo di sampingnya. Shasa langsung memeluk Leo dengan erat.


“Aku sudah menyukaimu jauh sebelum aku mengenalmu. Aku tidak mencarimu, tapi Tuhan yang mempertemukanku denganmu kembali.”


*****


Epilog:


“Gadis itu adalah anda, Nyonya.” Suara Niko mengejutkan seisi kamar itu. Terlebih, Shasa yang tiba-tiba jantungnya berdegup kencang mendengar pernyataan Niko barusan.


“Dari mana kau tahu?” tanya Shasa.


“Komisarias Gusta memintaku untuk mengawasi Leo. Aku tidak pernah melewatkan satu hal pun darinya sejak saat itu.” Jawab Niko.


“Apa Leo sudah mengenalku sejak dulu? Apa dia mengintaiku?” Shasa bertanya-tanya.


“Kalau itu, hanya Tuan Leo yang tahu. Sebagai lelaki, aku hanya mengetahui kalau dia mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Dia mengubah 180 derajat kehidupannya untukmu. Aku tahu itu.” Terang Niko.


Hati Shasa sudah seperti ingin meledak mendengarnya. ‘Aku benar-benar ingin melihatnya sekarang.’ Batin Shasa.


*****


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2