Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Separuh Hidup Lagi


__ADS_3

Ruang perawatan yang besar dan mewah ini terasa sunyi. Namun, tersimpan kebahagiaan yang sempurna dibalik kesunyian ruangan yang dijaga ketat oleh belasan penjaga di luarnya. Tidak sembarangan orang bisa memasuki ruangan itu. Tentu saja, Komisaris Gusta menjaga dengan sempurna pewaris berikutnya untuk kekayaan dan nama besar Keluarga Gusta nanti.


Shasa masih terbaring di ranjang rumah sakit. Matanya masih menutup dan terlelap setelah perjuangan hidup dan matinya dalam ruang operasi. Tak jauh dari ranjangnya, ada sebuah kotak yang menjadi sumber kebahagiaan Keluarga Gusta hari ini. Bayi mungil yang tertidur nyaman dibalut selimut hangat itu, tampak nyenyak dan mulai beradaptasi dengan suhu ruangan yang fasilitasnya setara dengan sebuah hotel mewah berbintang lima.


Di sisi Shasa, Leo tidak tertidur sedikit pun sejak semalam. Meski hatinya lega melihat putranya sehat dan sempurna, tetapi kekhawatirannya belum berakhir terhadap Shasa. Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta telah kembali ke rumah lebih dulu untuk beristirahat.


“Sayang…” Leo memanggil Shasa yang mulai berusaha membuka kelopak matanya.


“Sa…yang… anak...ku…” Shasa perlahan berbicara.


“Sayang, apa kau baik-baik saja? Apa kau merasa sakit di suatu tempat? Aku akan panggil dokter untukmu.” Leo menatap Shasa khawatir.


Shasa tidak menjawab. Dia hanya membalas genggaman tangan Leo yang tidak dilepaskannya sejak Shasa memasuki ruangan ini. Shasa tersenyum lemah. “Sayang… aku sangat baik-baik saja. Aku ingin melihat anakku.”


Leo langsung bergerak memanggil perawat. Dengan segera, perawat khusus memasuki ruangan Shasa. Hati-hati perawat itu menggendong cucu Keluarga Gusta. Leo tak melepaskan pandangannya dari putra pertamanya itu.


“Sayang, apa kau bisa tegakkan ranjangku?” pinta Shasa.


Leo bergerak untuk menegakkan ranjang Shasa, tapi tiba-tiba perawat menghentikannya.


“Tuan, tunggu. Maaf, Nyonya. Sepertinya anda belum boleh bangun dulu. Kita harus menunggu dokter untuk mengajari anda duduk. Anda tidak bisa mengubah posisi anda karena luka operasi anda mungkin saja butuh waktu pemulihan.” Jelas perawat itu.


“Baiklah, suster. Letakkan saja bayinya di sampingku.” Ucap Shasa menanggapi.


Perawat itu pun meletakkan bayi Shasa tepat di sampingnya. Shasa memandangi bayi itu dengan senyum bahagia. Saat di ruang operasi, dia hanya melihatnya dengan keadaan tidak berdaya. Namun kini, Shasa bisa memandangi bayinya sepuas hati.


“Suster, panggilkan dokter Sam ke sini.” Leo memberikan perintah pada perawat tanpa membuat Shasa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari sang bayi. Perawat itu mengangguk dan memberikan hormat serta berjalan ke luar ruangan untuk melakukan apa yang diperintahkan Leo.


“Sayang, anak ini sangat mirip denganmu.” Ucap Shasa mengagumi bayinya. Matanya masih belum beranjak dari wajah polos bayi itu.


“Tentu saja. Aku papanya.” Sahut Leo bangga.


“Lalu apa yang mirip denganku?” Shasa sedikit cemberut.


“Keberaniannya.” Jawab Leo.

__ADS_1


“Huh, dari mana kau tahu?”


“Tidak ada seorang pun yang berani membangunkanku tengah malam. Hanya bayi ini saja yang berani.”


Shasa tertawa mendengar jawaban Leo. Sang bayi bergerak karena terkejut mendengar tawa Shasa yang sebenarnya tidak terlalu kencang itu. Shasa segera mengelus sang bayi dan menenangkannya. Leo otomatis duduk di kursi samping Shasa dan membantu mengelus bayinya.


“Leo, saat aku menikahimu, aku sudah memberikan separuh hidupku padamu. Hari ini, aku akan berikan separuhnya lagi.” Ucap Shasa. “Kau memberikanku banyak hal. Aku ingin menghadiahimu anak ini sebagai gantinya. Dia separuh hidupku.” Shasa menatap Leo. “Aku telah memberikan seluruh hidupku padamu. Aku mempercayakan hidupku padamu. Setelah ini, janganlah pernah tinggalkan aku. Mungkin aku tidak lagi memiliki banyak waktu untukmu karena sibuk merawat bayi ini. Mungkin, aku tidak semenarik dulu karena aku memiliki bekas luka di tubuhku. Tetaplah menjadi suami yang menyayangiku. Jangan pernah merubah dirimu apapun itu. Hidupku ada di tanganmu.”


Leo menatap Shasa begitu dalam. Dia melihat setitik air di ujung mata Shasa. Leo mengusap pipi Shasa lembut. Dia menyapu air mata Shasa dengan jarinya.


“Bagaimana mungkin aku meninggalkan wanita yang memberikan hidupnya untuk melahirkan anakku? Bagaimana mungkin aku mengubah kasih sayangku untuk wanita yang menghabiskan waktunya untuk mendidik dan membesarkan anakku? Bagaimana bisa aku tidak tertarik lagi pada kecantikanmu hanya karena segores luka untuk menghadiahiku seorang anak laki-laki?” Leo menghujani Shasa dengan pertanyaan. “Aku ingin menjadi ayah yang dihormati anakku. Untuk itu, aku harus menunjukkan padanya bagaimana aku menghormati ibunya.”


Shasa tersenyum lebar. ‘Aku merasa sempurna bersama dua lelaki di hadapanku ini. Kau dan anakku.’ Batin Shasa.


*****


Dokter Sam beranjak ke ruang perawatan Shasa. Dia menebak-nebak mengapa Leo memanggilnya.


‘Hem… palingan Leo mau membanggakan anaknya padaku. Dia hanya ingin pamer kalau dia menjadi seorang ayah sekarang.’ Tebak dokter Sam dalam hatinya. Tawa kecil pun tak sadar keluar darinya saat membayangkan sikap pamer Leo nanti.


“Leo, kau memanggilku?” tanya dokter Sam. “Bagaimana dengan Nyonya Shasa? Apa dia baik-baik saja?”


“Aku tidak memanggilmu untuk menanyaiku, Sam.” Balas Leo datar. Tidak ada satu pun pertanyaan dokter Sam yang dijawabnya. Dokter Sam pun menaikkan satu alisnya mendengar kata-kata Leo tadi.


“Lalu?” Tanya dokter Sam lagi.


“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau Shasa tidak bisa duduk setelah operasi? Kau membuatnya hanya terbaring lemah seperti itu? Harusnya kau katakan konsekuensi apa saja yang bisa ditimbulkan pasca operasi. Jangan bilang kau juga membuatnya tidak bisa berjalan?” Leo membombardir dokter Sam dengan pertanyaannya.


Dokter Sam menyeringai. ‘Astaga, ini yang ingin dia katakan padaku?’ batin Dokter Sam.


“Leo, itu hal yang wajar. Lukanya masih baru. Pasti Nyonya Shasa masih sulit untuk bergerak fleksibel. Tapi itu hanya sementara saja. Beberapa jam ke depan, dokter akan mulai mengajarinya duduk dan berjalan. Bukan berarti Nyonya Shasa tidak bisa duduk dan berjalan selamanya.” Jawab dokter Sam agak jengkel.


“Kau tidak menipuku kan?” Leo menyipitkan matanya.


“Astaga, mana mungkin aku menipumu. Percayalah, sebentar lagi Nyonya Shasa bahkan sudah bisa berlari lagi seperti biasanya.”

__ADS_1


Leo menghela napas lega. Kekhawatirannya mulai memudar.


‘Kalau anakmu mendengar ini, dia pasti malu memiliki ayah sepertimu.’ Gerutu dokter Sam dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


*


Epilog:


Nyonya Sofia membereskan pakaiannya ke sebuah koper besar. Dia baru saja memerintahkan pelayan rumahnya untuk menghias kamar bayi di paviliun Leo dan Shasa. Nyonya Sofia belum tidur sama sekali sejak menemani Shasa melahirkan.


Komisaris Gusta yang baru saja bangun dari tidurnya, terkejut melihat apa yang dilakukan Nyonya Sofia.


“Sofia, kau ingin kabur dari rumah ini? Kenpaa kau mengepak pakaian banyak sekali?” tanya Komisaris Gusta heran.


“Aku ingin menginap di rumah sakit. Aku akan menemani cucuku seharian.” Jawab Nyonya Sofia percaya diri.


“Kalau begitu aku juga akan menginap.”


Nyonya Sofia menoleh pada Komisaris Gusta.


“Kau pikir rumah sakit punya berapa tempat tidur?” balas Nyonya Sofia sambil bertolak pinggang.


“Kau pikir sulit bagiku menambahkan tempat tidur di ruangan Shasa?” balas Komisaris Gusta.


Nyonya Sofia melanjutkan kegiatannya. “Tidak sekalian saja kau bangun vila di sana, Gusta?” Sindir Nyonya Sofia.


“Akan aku lakukan jika menurutmu seperti itu.” Sahut Komisaris Gusta santai.


“Hei, aku kasihan pada cucuku karena memiliki kakek sepertimu. Tidak bijak dalam menggunakan uangnya.”


“Sofia, jangankan hotel, kalau cucuku ingin resor pun, aku akan membuatkannya.”


Nyonya Sofia hanya mendengus mendengar ocehan Komisaris Gusta.


*****

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2