
Lita bersiap di kamar inapnya. Jarum infus telah dilepas dan dokter sudah memperbolehkan Lita untuk pulang dari rumah sakit. Niko masuk ke dalam ruangan dan berjalan mendekati Lita.
"Mana tas dan ponselku?" Lita langsung bertanya pada Niko.
"Sudah ada di dalam mobil." Jawab Niko sambil menunjuk ke arah luar.
"Antar aku langsung ke apartemen."
"Bukankah sudah ku bilang, kau tidak pulang ke apartemen, kau akan pulang bersamaku."
"Tunggu tunggu. Sepertinya ada yang keliru dengan kalimatmu tadi. Pulang bersama?"
"Kalau kau ingin ponselmu, tak usah banyak bicara dan cepat ikut aku." Ucap Niko sambil melangkah keluar meninggalkan Lita.
"Ishhh." Lita mendengus kesal. Tetapi, dia mau tidak mau ikut dengan Niko karena Shasa yang sudah memintanya. Lagipula, dia harus mengambil tas dan ponselnya juga dari Niko.
Niko membawa Lita meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Keluarga Gusta, mereka saling diam. Niko hanya fokus menyetir, sedangkan Lita hanya menatap jalanan di depannya dengan tangan yang disilangkan ke depan.
"Tas dan ponselmu ada di belakang." Niko menunjuk ke kursi belakang mobil.
Lita menengok sebentar untuk memastikan kalau itu benar tasnya. Dia segera menarik tas itu ke pangkuannya dan mencari-cari ponsel di dalamnya. Setelah ketemu, dia langsung mengecek ponselnya yang justru kini mati karena kehabisan baterai.
"Ponselku mati? Apa kau tidak bisa mengisi daya baterai ponselku sejak kemarin?" Tanya Lita sedikit kesal. Lita langsung menarik kabel pengisi baterai yang terhubung di mobil Niko dan memasangnya ke ponsel.
"Aku tidak tahu kalau ponselmu mati. Kau kan tidak pernah mengijinkanku menyentuh ponselmu."
Lita mendengus. Niko masih mengingat masa-masa dulu mereka menikah. Mereka sepakat untuk tidak mencampuri privasi masing-masing dengan tidak membuka ataupun mengecek ponsel pasangannya.
"Lita, apa kau ingin makan sesuatu dulu sebelum pulang?" Tanya Niko tanpa melirik sedikit pun pada Lita.
"Aku tidak perlu menjawabnya, kau pasti sudah tahu."
Mengejutkannya, Niko berhenti di sebuah tempat makan. Lita langsung menoleh keheranan pada Niko. Yang dimaksud Lita tadi, Niko pasti sudah tahu kalau Lita pasti menolaknya. Tapi, Niko justru melakukan yang sebaliknya.
"Aku tidak ingin makan. Ayo cepat pulang saja." Lita menolak.
"Setidaknya, ijinkan aku sekali saja memperlakukan orang sakit dengan benar. Aku tahu, aku sudah membuat kesalahan di masa lalu. Jangan buat aku mengulanginya." Niko melirik Lita di sampingnya. Mata mereka bertemu. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
'Seberapa banyak Niko tahu?' batin Lita bertanya-tanya.
__ADS_1
*****
Leo bekerja dari rumah. Dia membiarkan Shasa beristirahat dengan tenang di kamar dan bekerja di ruangan kerjanya. Dengan begitu, setidaknya Leo masih dapat memantau Shasa dari dekat.
Asisten Haris cukup kerepotan sejak pagi mengurus kebutuhan kerja Leo dan harus bolak-balik kantor dan rumah. Setelah situasi dirasa cukup aman, asisten Haris beristirahat sejenak di meja kecil dekat dapur. Pelayan juga menyediakannya segelas minuman segar sehingga dia bisa dengan nyaman bersantai sambil menikmati pemandangan dari jendela dapur.
“Asisten Haris.” Shasa memanggilnya.
Asisten Haris terkejut melihat Shasa sudah ada di dekat tempat dia duduk. Entah sejak kapan Shasa ada di sana. “Nyonya!” Asisten Haris otomatis berdiri.
“Hei, kau ini. Kenapa kau kaget begitu melihatku?” Shasa menyeringai. “Asisten Haris, apakah Leo sedang sibuk?”
“Sibuk seperti biasa, Nyonya. Yang berbeda hanya lokasinya saja. Biasanya di kantor, tapi hari ini di rumah.”
“Ah, begitu ya? Kalau begitu, kenapa dia tidak pergi ke kantor saja hari ini?”
“Mungkin, Tuan masih cemas meninggalkan anda. Apakah anda butuh sesuatu, Nyonya?” Tanya asisten Haris penasaran.
“Tidak tidak. Aku hanya ingin bertanya apakah dia jadi membuatkan akurium di sini. Aku akan menanyakannya nanti saja.”
“Hem… sepertinya beberapa waktu lalu, Tuan memintaku untuk mencari toko akuarium dan membawakannya katalog akuarium yang mereka punya.”
“Tuan pasti tidak akan mengijinkannya, Nyonya.”
“Kalau begitu… kau saja yang yang membawakannya. Tidak perlu yang besar. Akuarium yang kecil saja, tetapi isinya harus ikan laut ya!” Ucap Shasa girang.
Wajah asisten Haris langsung lemas kembali. ‘Pasangan ini benar-benar tak suka melihatku bersantai-santai.’ Gerutu asisten Haris dalam hati.
"Ah... Asisten Haris, pelayan-pelayan itu sedang apa? Mereka terlihat sibuk sekali." tanya Shasa penasaran menunjuk ke sebuah ruangan di seberang paviliunnya.
"Oh, itu mereka sedang menyiapkan kamar untuk Lita."
"Wah... Lita akan tinggal di sini ya?"
Asisten Haris bingung dengan Shasa yang bertepuk tangan kesenangan.
"Terima kasih ya, sudah menyiapkan ruangan untuk Lita."
"Bukan aku yang menyiapkannya, Nyonya. Tapi, akan ku sampaikan ucapan terima kasih anda padanya." jawab asisten Haris santai.
__ADS_1
"Lalu, siapa yang menyiapkannya?" Shasa mengerjapkan matanya.
"Niko yang menyiapkan ruangan itu dan meminta pelayan untuk segera membereskannya."
Sebuah senyum penuh arti muncul dari wajah Shasa. 'Menarik! Semakin menarik!' batin Shasa girang.
*****
Niko dan Lita makan di sebuah restoran mewah. Pelayan di sana tampaknya cukup mengenal Niko karena ketika keduanya memasuki restoran, para pelayan seperti sudah hapal Niko akan makan di sebuah ruang khusus dengan menu makanan yang disukai Niko.
"Apa yang terjadi di hotel setelah kebakaran kemarin?" Lita membuka mulut di tengah waktu makan mereka.
"Satu orang harus menanggung semua akibat dari ulahnya." Jawab Niko sambil menyantap makanan di piringnya.
"Maksudmu, ada orang yang merencanakan kebakaran itu?"
"Coba kau putar lagi beberapa kejadian masa lalu. Kau akan menemukan pelakunya."
Lita mengernyitkan matanya, lalu menatap Niko yang ada di hadapannya. "Apa dia masih hidup?"
Niko langsung melirik Lita. "Masih. Ada saat yang tepat baginya untuk lenyap dari dunia ini. Membahayakan seorang Nyonya Gusta yang sedang mengandung pewaris keluarga adalah perbuatan diluar batas yang tidak bisa dimaafkan begitu saja."
"Kalau itu kau, pasti laki-laki itu sudah tidak ada di muka bumi ini lagi sekarang." Ledek Lita.
Niko tersenyum tipis dengan mata dinginnya. 'Aku sudah ingin menghabisinya karena membuatmu terluka, tapi satu detik sebelum aku melakukannya, Tuan Leo datang dan memintaku membiarkannya mati perlahan.' ucap Niko dalam hati.
"Lita, kenapa kau suka sekali sakit sendirian? Kenapa kamu suka sekali menyembunyikan hal-hal yang seharusnya bisa kau bagi dengan orang lain?" Tanya Niko serius.
"Kalau itu luka, aku tidak ingin membaginya."
"Apa kau melakukan itu juga padaku dulu? Kau tidak sadar? Kau membuat orang lain merasa bersalah seumur hidupnya karena kesombonganmu itu. Kau terlalu percaya diri bisa menghadapinya sendirian."
"Seseorang yang perfeksionis dan idealis seperti kau, tidak akan memahami rasanya memiliki kekurangan seperti yang aku punya. Sebelum kau kecewa, lebih baik aku mengakhirinya kan?"
"Jadi itu alasanmu sebenarnya bercerai dariku?"
*****
bersambung...
__ADS_1