Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Pesta


__ADS_3

Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu sejagat raya telah tiba. Sebuah hotel mewah milik XY Group dijadikan tempat acara besar ini. Banyak para wartawan media yang sejak pagi sudah memenuhi lobby hotel. Begitupun panitia acara yang berlalu lalang kesana-kemari.


Banyak mobil mewah milik para undangan terparkir dengan rapi di depan hotel. Mereka berdandan begitu mewah dan glamor, berusaha menyesuaikan dengan level pemilik acara besar ini.


Sejak malam, Leo dan Shasa serta kedua keluarganya telah menginap di hotel. Mereka sedang bersiap-siap dibantu pelayan-pelayan rumahnya yang ikut ke hotel. Shasa telah selesai dirias. Dia terlihat cantik dan anggun. Dia mengenakan gaun berwarna putih gading yang dirancang sendiri oleh Nyonya Sofia. Gaunnya menjuntai dengan cantik dan begitu pas di tubuh Shasa. Rambutnya digelung rapi dengan sebuah mahkota kecil yang berkelap-kelip di atas kepalanya.


Ibu Shasa memandanginya dengan terharu. Dia sampai menitikkan air mata melihat Shasa yang terlihat sangat cantik.


"Ibu, kenapa menangis?" Tanya Shasa ikut merasakan haru.


"Kalau ayah kamu ada disini, dia juga pasti akan menitikkan air mata seperti ibu. Kau sudah begitu dewasa dan cantik. Sudah menjadi seorang istri."


Shasa memeluk Ibu. Berkat Ibu, Shasa bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang tidak dia miliki sejak kecil.


"Sampai kapanpun, Ibu tetaplah ibuku. Aku sangat bangga memiliki ayah dan ibu yang hebat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus."


Ibu melepaskan pelukannya. "Kamu memang tidak terlahir dari rahim ibu, tetapi ibu sangat beruntung bisa memilikimu, Sha. Anak yang baik dan pintar, yang berani dalam segala hal. Kau selalu menjadi kekuatan di keluarga kita. Maaf kalau Ibu sering memarahimu."


"Ibu... Harusnya Shasa yang minta maaf. Shasa tidak banyak membahagiakan ibu. Banyak yang Shasa belum lakukan ke ibu dan ayah. Harusnya Shasa yang malu. Ibu dan ayah melakukan banyak hal untuk Shasa, bahkan Shasa belum membalas semuanya. Di saat-saat seperti ini, Shasa jadi kangen ayah. Harusnya ayah ada disini sehingga Shasa bisa membanggakan ayah di depan orang-orang. Tapi Shasa bersyukur masih memiliki ibu, sehingga Shasa tidak sendirian disini."


Ibu menghapus air mata Shasa.


"Kau tidak boleh menangis. Pengantin wanita yang sudah cantik, tidak boleh menangis. Kau tidak akan pernah sendirian seumur hidupmu. Orang yang memberikan kebahagian untuk hidup orang lain, tidak akan pernah kesepian hidupnya." Ibu menggenggam tangan Shasa.


"Mulai hari ini, jalanilah hari-harimu sebagai istri yang berbakti. Layani suamimu dengan tulus. Jaga kehormatannya karena saat ini kau adalah simbol lain di hidupnya selain dirinya sendiri."


"Iya, bu. Shasa akan ingat nasihat ibu."


Hari itu, ketika orang lain berusaha untuk tampil paling cantik, paling tampan, dan paling mewah, Shasa dan Ibu justru berusaha untuk menutupi air mata harunya. Mereka bahagia karena pernikahan ini, tetapi mereka juga sedih harus melepaskan diri satu sama lain. Orang tua melepas anak perempuannya dan anak perempuan terlepas dari tanggung jawab orang tuanya, berpindah pada suaminya.

__ADS_1


*****


Leo dan Shasa memasuki tempat upacara pernikahan. Mereka mengulang lagi upacara pernikahannya di hadapan orang tua dan keluarga. Semua orang menyaksikan dengan begitu bahagia. Terlebih lagi, kedua pengantin yang akhirnya bisa mengumumkan pernikahannya, tidak disembunyikan lagi.


Leo memakaikan cincin nikah yang telah disiapkan Nyonya Sofia ke jari manis Shasa. Begitupun dengan Shasa yang juga menyematkan cincin di jari Leo. Resmi sudah Shasa menyandang status sebagai Nyonya Gusta.


Keluarga dan kerabat yang menghadiri upacara pernikahan, memberikan selamat kepada kedua pengantin. Aura bahagia terpancar dari keduanya.


Pada malam harinya, pesta pernikahan pun digelar. Para tamu sudah berdatangan, termasuk teman-teman Shasa yang juga ikut diundang. Ada Tira dan Gaby juga disana.


Pesta pernikahan yang disiapkan cukup singkat oleh Nyonya Sofia terasa begitu megah. Dekorasi yang penuh dengan bunga-bunga sampai keharumannya mengisi ruangan itu, lampu-lampu kristal yang mewah, hidangan yang tak ada habisnya, serta alunan musik klasik indah yang membungkus acara itu dengan sangat romantis.


Di pelaminan, tak jarang Shasa bertanya pada Leo ini siapa dan itu siapa. Banyak orang yang tidak dia kenal. Tetapi ada juga beberapa kalangan artis dan seniman serta pejabat-pejabat pemerintahan yang wajahnya tidak asing hilir mudik di layar televisi.


"Kalau yang itu, dia siapa? Yang di sebelahnya itu, apa itu istrinya?" Shasa bertanya dengan rasa penasaran pada Leo.


"Kenapa kau bertanya terus? Tidak penting bagimu mengingat mereka. Justru mereka lah yang harus mengingatmu." Jawab Leo berbisik di telinga Shasa.


Setelah dua jam acara pesta pernikahan digelar, pemandu acara menutup acara megah itu. Semua orang berhamburan meninggalkan tempat acara, hanya ada beberapa orang yang terlihat masih mengobrol dengan Komisaris Gusta dan juga Nyonya Sofia.


Leo menggandeng tangan Shasa turun dari pelaminan. Hati-hati Leo perhatikan setiap langkah Shasa menuruni tangga pelaminan karena gaun yang dikenakan Shasa seperti menutupi pandangan mata Shasa untuk melihat kakinya. Setelah itu, mereka menemui Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia untuk pamit kembali ke kamar. Mereka juga sempat pamit dengan Ibu.


"Leo, kenapa kau terburu-buru sekali pamit? Bahkan masih ada beberapa oramg disini." Protes Shasa dengan tangannya masih digandeng Leo meninggalkan tempat acara.


"Aku sudah berbaik hati membiarkan orang lain melihat senyumanmu itu selama dua jam. Sudah cukup. Memangnya kau tidak capek senyum-senyum begitu sejak tadi?" Leo masih fokus membawa Shasa kembali ke kamar.


Setelah sampai di depan kamar, asisten Haris dan Lita mempersilahkan keduanya masuk. Mereka memberi hormat sebelum Leo dan Shasa masuk ke kamar. Shasa sempat berbalik lagi memunculkan kepalanya dari balik pintu.


"Kalian istirahatlah juga." Kata Shasa sambil tersenyum sebelum Leo benar-benar menariknya dan menutup pintu dengan cepat.

__ADS_1


"Ish kau ini! Kenapa tidak sabaran dari tadi?" Gerutu Shasa.


Leo menghela napas menatap wajah Shasa. Dia tidak menggubris ocehan Shasa sama sekali.


Shasa menjadi heran kenapa Leo menatapnya lekat sekali.


"Hai, istriku sayang. Ayo kita bersenang-senang." Ucap Leo yang membuat Shasa bingung mengartikannya.


Leo mendekatkan tubuhnya pada Shasa. Karena masih bingung dan takut, Shasa hanya mundur beberapa langkah sampai dia terpojok di tembok.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Shasa agak sedikit takut.


"Memangnya kau ingin aku lakukan apa, sayang? Sekarang gantilah bajumu. Akan sangat merepotkan jika menggunakan gaun ini." Leo menyentuh gaun Shasa


'Hah? Dia mau ngapain sih?' batin Shasa. Pikiran Shasa mulai kemana-mana.


"Sayang, sebaiknya kita mandi dulu." Shasa berbicara dengan gugup.


"Oh... Jadi kau ingin aku membantumu mandi. Baiklah."


"Hahahaha... Bukan begitu, sayang." Shasa masih saja gugup dan tak sengaja dia melihat beberapa koper dan pakaian santai yang digantung di belakang Leo. "Sayang, koper-koper itu untuk apa?" Shasa menunjuk ke arah koper-koper dekat tempat tidur.


Leo menoleh ke arah yang ditunjuk Shasa dan membalikkan pandangannya lagi ke Shasa. "Itu, untuk membawamu pergi."


"Hah? Pergi kemana?" Tanya Shasa penasaran.


"Kita akan pergi bulan madu, sayang." Jawab Leo dengan senyum riang di wajahnya.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2