
Shasa tertawa terbahak-bahak di kamarnya. Dia meminta perawat dan pelayan menceritakan sebuah cerita komedi dari sebuah buku padanya. Shasa sangat bosan berada di kamarnya sehingga dia mengadakan acara sendiri di kamar bersama perawat dan pelayannya.
"Hahaha... Bagaimana bisa dia bodoh seperti itu? Lanjutkan ceritanya." Shasa masih belum puas tertawa.
"Nyonya, isi satu buku ini sudah saya bacakan semuanya." Ucap pelayan yang sejak awal membacakan buku untuk Shasa.
"Kenapa cepat sekali habisnya?" Shasa cemberut. "Nanti aku akan meminta Leo membeli beberapa buku lagi yang seperti itu."
"Nyonya, apakah anda tidak ingin istirahat?" Tanya perawat khusus itu.
"Kau tidak bosan menyuruhku istirahat? Aku hampir tidak bisa membedakan antara orang sakit dan orang hamil kalau kalian memperlakukanku seperti ini. Sekarang, aku tanya padamu. Kau perawat kan? Apakah orang hamil tidak boleh berjalan ke luar kamarnya? Apa aku tidak boleh juga melihat situasi di luar kamarku?"
"Nyonya, Tuan Leo meminta untuk tidak melakukan kegiatan yang membuat anda capek."
"Apa kau pikir seharian di kamar ini tidak capek?" Shasa mendengus.
Tiba-tiba, Lita masuk ke dalam kamar Shasa. Lita meminta perawat dan pelayan itu untuk meninggalkan kamarnya berdua dengan Shasa. Lita duduk di salah satu kursi yang tadi diduduki perawat Shasa.
"Nyonya, apa anda merasa cocok dengan perawat dan pelayan anda?"
Shasa mengerjapkan matanya beberapa kali dan mencerna maksud kata-kata Lita.
"Jika anda tidak merasa cocok dengan mereka, aku akan mengganti dengan perawat dan pelayan lainnya." Tambah Lita menjelaskan.
"Ah, tidak tidak. Mereka sangat asyik, kok. Sejauh ini aku nyaman dengan mereka."
"Jika anda butuh sesuatu, anda bisa mengatakannya padaku."
"Lita... Menurutmu pakaian apa yang cocok dipakai untuk pergi ke sebuah pesta pernikahan?" Tanya Shasa tiba-tiba.
"Gaun pesta. Apa anda menginginkan gaun pesta?"
Shasa menggelengkan kepalanya. "Aku ingin membelikanmu gaun pesta. Jadi, kalau nanti kau akan pergi ke sebuah pesta, kau bisa memakainya. Aku sudah melihat fotomu dan Niko di pesta temanku kemarin. Kau terlihat seperti ingin pergi bekerja jika berpakaian se-formal itu."
Lita menaikkan kedua alisnya. Dia menyadari kalau Shasa sedang menyindirnya.
"Apa yang kalian bicarakan selama pesta kemarin?" Shasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Lita dan Niko.
__ADS_1
"Tidak ada pembicaraan apa-apa, Nyonya. Kami hanya mengantar hadiah, berfoto, dan setelah itu pulang."
"Astaga! Kompak sekali kakunya." Shasa mendecak. "Susah rupanya membuat kalian sedikit harmonis."
'Nah kan, benar dugaanku. Nyonya benar-benar mengerjaiku kemarin.' batin Lita.
*****
"Haris, apa lagi agendaku hari ini?" Leo baru saja duduk kembali di kursinya setelah meeting sejak pagi tadi.
Asisten Haris menyodorkan agenda Leo di tabletnya. "Ini, Tuan."
Leo membaca agendanya. Dia memijit-mijit kepalanya sambil memandangi tablet di mejanya. "Kepalaku sakit. Aku rasa Sam perlu memeriksaku."
"Apa anda baik-baik saja, Tuan?"
"Haris, batalkan jadwalku setelah makan siang nanti. Aku akan pulang ke rumah. Minta Sam untuk datang kepadaku."
"Baik, Tuan." Asisten Haris sedikit terlihat khawatir dengan kesehatan Leo. Beberapa hari terakhir, Leo memang begitu sibuk mengurus pekerjaannya di kantor anak perusahaan.
Setelah makan siang, asisten Haris langsung membawa Leo pulang ke rumah. Leo langsung bergegas masuk ke rumahnya setibanya dia di depan teras rumah. Dia menuju kamarnya untuk menemui Shasa.
Leo tersenyum tipis dan berjalan mendekati Shasa. Dia duduk di sofa samping Shasa. "Aku memutuskan untuk pulang lebih cepat."
"Aku tidak keluar kamar, lho. Aku di kamar saja sejak tadi." Shasa seperti mau bersumpah kalau dia tidak melanggar perintah Leo.
"Iya, aku tahu. Aku pulang karena alasan lain. Kepalaku sakit. Sepertinya dokter perlu memeriksaku." Leo berkata dengan sedikit meringis.
"Kau baik-baik saja, sayang? Apa kau melewati makan siangmu? Kau masih baik-baik saja tadi pagi." Shasa terlihat khawatir.
Suara bel di kamarnya terdengar. Asisten Haris masuk ke dalam kamar bersama dokter Sam.
"Tuan, dokter Sam telah datang." Asisten Haris memberitahu Leo.
"Siapa pasienku hari ini? Kau?" Tanya dokter Sam heran.
"Kepalaku sakit. Aku ingin kau memeriksanya. Kau tunggu sebentar, aku akan ganti pakaian dulu." Jawab Leo sambil berjalan ke arah dokter Sam. Leo pun masuk ke dalam ruang ganti pakaian.
__ADS_1
"Hai, Nyonya. Bagaimana kabarmu?" Tanya dokter Sam sambil tersenyum.
"Tentu saja aku sehat, dokter Sam." Jawab Shasa ramah. "Tapi sepertinya sebentar lagi aku akan memiliki sedikit gangguan." Kata Shasa sedikit berbisik.
"Gangguan apa, Nyonya?" Tanya dokter Sam penasaran.
"Gangguan kebosanan yang mendarah daging." Jawab Shasa sambil tertawa cekikikan. "Kau tahu, aku tidak keluar kamar sejak kemarin. Seperti disandera saja." Protes Shasa.
"Hahahaha... Tidak ada manusia sempurna, Nyonya. Suami anda tampak sempurna jika dipandang mata, tapi ternyata ada juga sifat anehnya. Semangat ya, Nyonya." Ledek dokter Sam.
"Ayo, cepat periksa aku!" Keluar dari ruang ganti, Leo langsung mendorong bahu dokter Sam dan menggiringnya untuk segera melakukan pemeriksaan.
Shasa bangun dari sofa dan mendekat ke arah kasur. Asisten Haris pun menyaksikan bagaimana dokter Sam memeriksa Leo.
Dokter Sam memeriksa dengan teliti. Dia sempat beberapa kali terlihat berpikir keras. Dokter Sam menatap wajah Leo dengan heran. Namun, Leo hanya melihat dokter Sam dengan wajah datar. Tak berapa lama, dokter Sam mendengus pelan, seperti berhasil membaca wajah Leo.
"Bagaimana dokter Sam?" Tanya Shasa yang menunggu hasil pemeriksaan dokter Sam.
Dokter Sam bangkit dan melihat ke arah Shasa. "Dia hanya butuh istirahat saja, Nyonya. Sepertinya dia terlalu banyak berpikir." Ucap dokter Sam sambil sedikit melirik ke arah Leo.
"Ah... Baiklah, dokter. Aku akan memastikan dia beristirahat yang cukup." Shasa cukup lega mendengarnya. Sebelumnya, dia khawatir karena Leo memang sibuk belakangan ini.
Asisten Haris mengantar dokter Sam keluar dari kamar Leo.
"Bagaimana dengan kesehatan Tuan Leo, dokter? Apakah perlu ada penanganan khusus untuk menjaga kesehatannya?" Tanya asisten Haris yang penasaran sejak tadi. Dia merasa menjaga kesehatan Leo adalah bagian dari tanggung jawabnya.
"Hahahaha. Leo hanya terlalu banyak berpikir bagaimana caranya dia bisa bersama istrinya seharian."
Asisten Haris tampak bingung dengan dokter Sam yang justru tertawa saat dia menanyakan pertanyaan yang serius.
"Tuanmu itu hanya mencari-cari alasan saja untuk bisa pulang. Sepanjang aku mengawasi kesehatannya, aku bisa pastikan dia sehat, segar, bugar. Aku sempat kaget ketika kau mengatakan kalau dia sakit. Harusnya kau bisa membaca tatapannya itu, Haris."
"Jadi, Tuan hanya pura-pura menjadi pasien?"
Tawa dokter Sam tak henti-henti menertawakan Leo, istrinya, dan asistennya yang tampak bodoh hari ini.
*****
__ADS_1
bersambung...