
Kapal akhirnya berlabuh di sebuah pulau. Ini lah tujuan mereka. Shasa memandangi pulau ini. Terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang berpakaian seperti pelayan, menyambut mereka. Leo menggiring Shasa masuk ke sebuah rumah besar di pulau itu.
Rumah ini memiliki halaman belakang yang berhadapan langsung dengan pantai. Dari balkon kamar, Shasa juga bisa melihat ombak pantai berkejaran. Sungguh cantik. Sudah lama sekali Shasa tidak pergi ke pantai.
Setelah berbicara beberapa saat pada pelayan rumah itu, Leo menyusul Shasa yang sedang asyik di balkon kamar. Leo tersenyum melihat Shasa yang sedang menggerakkan badannya sendiri kegirangan.
"Kau suka?" Tanya Leo.
Shasa mengangguk cepat. "Sayang, aku lihat di pulau ini tidak ada siapa-siapa selain kita? Apa ini pulau tak berpenghuni?" Tanya Shasa polos.
"Hahahaha." Leo mendekati Shasa dan memeluknya. Dia menatap Shasa lekat. "Menurutmu?"
Shasa menggeleng tidak tahu.
"Kau tahu nama pulau ini?" Tanya Leo lagi.
Shasa berpikir sejenak dan kemudian menggeleng lagi.
"Ini namanya pulau Shafira."
"Hah? Namaku dong?"
"Iya, karena aku beli pulau ini untuk kamu, sayang."
Shasa membelalakkan matanya tak percaya Leo membelikannya sebuah pulau yang cukup besar begini.
"Kenapa kau boros sekali. Ish..." Shasa memaki Leo.
"Aku hanya butuh 3 detik untuk memiliki pulau ini. Tapi aku menghabiskan berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk memilikimu. Lebih boros mana?"
Shasa memeluk Leo yang ada di hadapannya. Dia begitu senang dengan semua yang Leo lakukan padanya. Dia benar-benar merasa beruntung menjadi istri Leo.
*****
Shasa telah selesai mandi dan sedang menyisir rambutnya di depan meja rias. Dia masih mengenakan jubah mandi. Meskipun langit sudah mulai terang, tetapi ini masih terlalu pagi untuk beranjak keluar kamar.
Leo keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Dia juga mengenakan jubah mandi sama seperti Shasa.
__ADS_1
"Sayang, keringkan rambutku ya." Leo langsung mengambil posisi duduk bersila di bawah, membiarkan Shasa tetap duduk.
"Kenapa kau suka sekali aku yang mengeringkan rambutmu?" Tanya Shasa.
"Pertanyaanmu salah. Harusnya kau tanya, kenapa kau suka sekali aku menyentuhmu." Goda Leo.
Satu pukulan mendarat di bahu Leo, spontan dia berbalik badan dan menatap Shasa kesal. Shasa tertawa kecil melihat Leo yang tidak terima dipukul. Leo menjahili Shasa dengan menggelitiknya. Shasa melarikan diri, tetapi Leo terus mengejarnya. Tiba-tiba Shasa terjatuh di kasur bersama Leo yang kini sudah mencengkeram tangan Shasa. Keduanya saling menatap dengan jarak yang hanya sekian centi saja. Napas mereka terengah-engah karena saling berlarian.
"Aku akan menunjukkan padamu seberapa besar aku mencintaimu. Aku sudah ingin melakukannya sejak lama, tetapi ku urungkan. Aku tidak ingin memaksamu untuk mencintaiku. Dan karena kau sudah pernah mengatakan kalau kau mencintaiku, berarti aku boleh kan melakukan ini?"
Sebelum Shasa sempat menjawab, Leo sudah ******* bibir Shasa dengan lembut. Dia menciumi semua bagian wajah Shasa tanpa tertinggal dan turun ke lehernya. Jantung Shasa semakin berdebar merasakan gejolak yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya. Tangan Leo sudah menggerayangi tubuh Shasa dimana-mana. Shasa menikmati setiap sentuhan Leo, sama seperti tubuhnya yang tidak menolak sama sekali.
Perlahan, Leo membuka tali yang mengikat jubah mandi Shasa dan melepaskannya. Leo mencium Shasa lagi dengan begitu dalam dan saling menautkan jari-jemari mereka satu sama lain. Ritual yang selama ini belum pernah mereka lakukan sebagai suami-istri, terjadi juga di pagi itu. Shasa adalah milik Leo seutuhnya.
*****
Pelayan membawakan sarapan untuk Leo dan Shasa ke dalam kamarnya. Mungkin lebih tepatnya sarapan di waktu makan siang. Setelah pelepasan cinta mereka tadi pagi, sarapan yang sudah disiapkan pelayan harus diundur untuk di hidangkan. Sarapan yang harusnya dilakukan di meja makan khusus yang sudah disiapkan, jadi berpindah ke dalam kamar Leo dan Shasa. Leo memutuskan untuk tidak keluar kamar seharian ini, sehingga semua kegiatannya akan dilakukan dari dalam kamar.
"Sayang, habis ini kita ke pantai yuk." Ajak Shasa sambil menikmati makanannya bersama Leo.
Leo menggelengkan kepalanya. Kemudian, dia meneguk jus di gelasnya.
"Seharian ini kita di kamar saja."
"Kenapa?" Tanya Shasa lagi.
"Kau terlanjur membuatku lebih suka di dalam kamar."
Baru saja Shasa ingin membuka mulit, Leo sudah menyambar "Jangan tanya lagi kenapa."
"Memangnya kenapa?"
Leo mendengus. Sudah tiga kali Shasa bertanya kenapa.
"Habiskan makananmu." Perintah Leo.
Shasa bangkit dari kursinya. Di berjalan ke arah Leo dan tiba-tiba saja duduk di pangkuannya. shasa melingkarkan tangannya ke leher Leo.
__ADS_1
"Sayang, aku ingin main di pantai." Shasa merengek manja. "Sudah lama sekali aku tidak ke pantai. Aku ingin merasakan pasirnya, menghirup angin pantai, bermain-main dengan ombak. Kita ke pantai ya."
Leo menghela napasnya. Bukannya menjawab rengekan Shasa, Leo malah menciumi Shasa disana-sini. Shasa tidak bisa lagi bergerak menghindar karena tangan Leo sudah memeluk tubuhnya erat.
"Jangan merengek seperti itu pada orang lain." Leo meneruskan lagi aktivitasnya mencumbu Shasa. Dia menggendong Shasa masuk ke dalam kamar. Memulai lagi hal yang diinginkannya sejak tadi.
*****
Shasa sudah asyik bermain-main dengan pasir pantai. Dia merasai ombak dengan kedua kakinya. Dia terlihat sangat bahagia menatap langit sore yang cukup teduh.
Leo memandangi Shasa dari kursi pantai dengan sebuah payung besar memayunginya. Sesekali Leo tersenyum melihat tingkah laku Shasa yang seperti anak kecil. Leo akhirnya menyerah setelah Shasa merengek minta ke luar kamar. Setelah bersenang-senang di ranjang dan akhirnya terlelap bersama, mereka pun berjalan ke pantai mendekati waktu matahari terbenam.
"Sayang, jangan jauh-jauh."
"Sayang, hati-hati ombaknya besar."
"Sayang, istirahat dulu."
Berkali-kali Leo mengingatkan Shasa, sudah seperti seorang ayah mengomeli anaknya.
Shasa berjalan mendekati Leo. "Sayang, kenapa kau duduk saja? Ayo main bersamaku." Shasa protes karena tidak ada yang menemaninya bermain.
"Kau ini tidak lelah ya?" Leo menggelengkan kepalanya. "Istirahat lah dulu."
Pasrah, Shasa pun duduk di kursi pantai di sebelah Leo. Dia meminum jus yang tersedia di meja antara dua kursi itu.
"Sayang, kamu serius beli pulau ini untuk aku?" Tanya Shasa masih penasaran.
"Memangnya kau pernah lihat aku bercanda?"
"Hahahaha... Iya iya. Terima kasih ya, sayang." Shasa tersenyum dengan riang.
Leo membalas senyuman Shasa. "Ayo kita sering-sering kesini. Aku juga ingin mengajak anak-anakku berlibur disini nanti."
Shasa terperangah mendengar kata-kata Leo. Anak?
*****
__ADS_1
bersambung...