
Pelayan restoran mewah yang telah dipesan asisten Haris untuk melayani Niko dan Lita, sibuk menyajikan berbagai makanan ke sebuah meja makan khusus. Asisten Haris ternyata memesankan sebuah ruangan privat dan seorang pemain biola untuk mengiringi makan malam Niko dan Lita.
‘Sial, Haris benar-benar membuat seolah-olah aku sedang berkencan dengan Niko.’ Batin Lita kesal melihat ruangan yang diatur sedemikian rupa seperti seorang lelaki yang menyiapkan makan malam untuk melamar wanitanya.
Tak mau ambil pusing, keduanya menikmati makan malam dengan tenang. Alunan biola begitu membuat suasana menjadi nyaman.
‘Aku tidak yakin kalau Nyonya mengirim pengawal untuk mengawasiku dan Lita di sini. Atau jangan-jangan ada cctv di ruangan ini.’ Pikir Niko dalam hati. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
“Apa yang kau cari, Niko?” Lita langsung bertanya karena melihat gelagat aneh Niko.
“Tidak ada. Aku hanya memeriksa ruangan ini.”
Lita jadi berpikir juga dan ikut mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan.
“Lita, apa kau tidak nyaman makan bersamaku?" tiba-tiba Niko bertanya.
“Aku tidak masalah jika hanya sekedar makan. Tetapi, kalau suasananya seperti ini, aku jadi bertanya-tanya tujuan Nyonya menyuruh kita makan bersama.”
“Setelah ini, kau tidak perlu lagi melakukan hal-hal yang menurutmu tidak nyaman.” Ucap Niko datar.
Lita menatap Niko. “Apa kau sendiri nyaman makan bersamaku seperti ini?”
Niko tersenyum tipis. “Aku memilih-milih dengan siapa aku nyaman. Kau pasti tahu kalau kau salah satunya.” Niko menunduk dan diam sejenak. “Aku sempat ragu. Kau menutupi banyak hal dariku. Aku pikir kau hidup nyaman denganku, tetapi sepertinya aku salah. Entah kenapa, kau selalu membuatku merasa berada di pihak yang salah.”
Lita terdiam mendengar kata-kata Niko.
“Mungkin aku terlambat karena baru menyadarinya setelah kita pisah. Tetapi, aku sangat ingin memperbaiki semuanya. Melihat kau menutup segala akses untukku, aku berpikir kau sudah membuangku jauh-jauh. Dan untuk kesekian kalinya, aku merasa bersalah lagi. Kenapa aku tidak berusaha untuk kembali padamu lagi sesaat setelah aku mengetahui semuanya. Kenapa aku begitu bodoh membiarkanmu mengabaikanku seperti itu.” Jelas Niko lagi.
“Ada hal yang harus menetap di hidup kita. Ada juga hal yang harus pergi. Semuanya terjadi silih berganti. Yang menetap belum tentu dicintai dan yang pergi belum tentu dibenci. Kadang, seseorang harus menghilang karena sebuah rasa ajaib yang bernama cinta.” Lita memandang Niko di hadapannya. “Jika aku menetap di sisimu, belum tentu kau akan mencintaiku, sedangkan aku tahu kalau aku tidak mampu membahagiakanmu.”
“Dari mana kau mengukur mampu dan tidak mampunya kau membahagiakanku?” Niko menyela pernyataan Lita. “Apa kau pernah mendengar aku mengatakan kalau aku tidak bahagia? Lita, kenapa kau selalu menilai semuanya sendiri. Apakah kau pernah membagi pertanyaan-pertanyaan di otakmu itu padaku?”
Lita menunduk mendengar kata-kata Niko. “Kau tahu? Banyak hal yang aku takutkan darimu. Kau begitu sempurna di mataku sampai-sampai aku memiliki banyak kekhawatiran dalam mendampingimu. Aku takut kau tidak menyukai beberapa hal dari diriku. Aku juga takut jika kau mengetahuinya, kau akan meninggalkanku. Dan banyak ketakutan-ketakutan lainnya yang berputar-putar di otakku.”
__ADS_1
“Tapi kau tidak takut melukaiku, ya?” Niko bertanya dengan memicingkan matanya. “Aku tahu sekarang. Kelemahan hubungan kita adalah komunikasi dan keterbukaan. Kalau saja kau membicarakannya padaku sejak dulu, mungkin hubungan kita masih bertahan sampai sekarang. Kalau saja aku memahami lebih cepat, mungkin aku masih menggenggam tanganmu sekarang.”
Lita menatap Niko dengan lekat. Dia tenggelam dalam perasaannya yang campur aduk. Dia melihat sisi lain Niko yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dulu, Niko hampir tidak pernah membahas hal-hal terkait perasaan dan kebahagiaan seperti ini. Keduanya menjalani kehidupan pernikahannya hanya dengan menggunakan logika berpikir mereka, tidak menggunakan hati mereka, entah karena gengsi atau idealisme masing-masing.
*****
Niko dan Lita kembali ke rumah setelah makan malamnya. Mereka mengobrol cukup panjang hingga baru sampai di rumah ketika orang-orang telah berada di kamarnya masing-masing.
Keduanya berjalan menuju kamar mereka. Niko mengantar Lita hingga ke depan kamarnya. Lita membuka pintu kamar dan melangkah masuk, dia berbalik menatap Niko yang masih menunggunya di depan pintu.
“Mulai besok, jalani saja apa yang ada di depanmu. Terima saja apa yang akan ku lakukan untukmu. Jangan menolak ataupun menghindar. Bicaralah padaku jika kau menginginkannya.” ucap Niko.
Lita belum ingin berkata apa-apa. Dia mendesah pelan.
“Aku tidak akan memaksamu. Tapi setidaknya, belajarlah sedikit menerima.”
“Niko, aku senang sekali makan malam denganmu hari ini. Sudah lama sekali aku tidak melakukannya denganmu.” Entah sadar atau tidak Lita mengatakannya.
Niko tak melepaskan tatapannya dari Lita. Dia memikirkan apa yang akan dilakukanya beberapa detik ke depan. Niko mendekat ke arah Lita, bahkan dia sudah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Lita. Niko menutup pintu kamar dan menguncinya. Dia menghadap Lita lagi. Tanpa berpikir panjang, Niko mulai mendekati wajah Lita tanpa jarak. Bibir keduanya bertemu lagi setelah sekian lama. Ciuman kerinduan terpancar dari keduanya. Tubuh Lita tidak menolak sama sekali, sedangkan Niko sedang melepas semua rasanya pada Lita. Keduanya menikmati setiap kecupan masing-masing.
Malam itu, suasana tegang mencair jadi suasana romantis. Hubungan ini mungkin terlarang, tapi keduanya tidak bisa menahan rupanya. Niko sudah menindih tubuh Lita yang terlihat polos seutuhnya. Niko melancarkan serangan-serangan yang membuat Lita menggeliat dan mengerang nikmat.
‘Aku merindukanmu, Niko.’ Batin Lita.
*****
Udara pagi sudah masuk ke kamar. Shasa meregangkan tubuhnya di kasur. Shasa tersenyum melihat Leo yang tidak melepaskan sentuhannya di perut Shasa.
‘Huh, posesif sekali. Apa kau takut anakmu menghilang.’ Gerutu Shasa dalam hati sambil tersenyum menyeringai.
“Aku penasaran dengan makan malam Niko dan Lita semalam. Apa mereka bersenang-senang? Hahahaha… harapanku terlalu tinggi.” Shasa bergumam-gumam sendirian.
“Sayang, kau menertawakan siapa?”
__ADS_1
Shasa kaget karena Leo yang matanya masih terpejam, tiba-tiba melontarkan pertanyaan padanya.
“Kau sudah bangun? Ayo, buka matamu. Aku pikir kau masih pulas.” Sahut Shasa. “Sayang, ayo bangun. Kau harus bekerja kan.” Shasa memindahkan tangan Leo dari atas perutnya dan menggerak-gerakkan badan Leo agar segera bangun.
“Sayang, aku masih mau tidur sebentar lagi ya. Tidak ada yang akan memarahiku kalau datang terlambat ke kantor hari ini.”
'Ya iyalah, tidak akan ada yang memarahimu. Kau kan bosnya! Siapa juga yang berani memarahimu.’ Omel Shasa tanpa suara sambil memukul pelan tangan Leo yang sudah mendarat lagi di atas perutnya.
Setelah sedikit malas-malasan pagi ini, Leo telah bersiap-siap untuk pergi bekerja. Shasa membantunya mengenakan kemeja, dasi dan jasnya. Kemudian, mereka melangkah ke ruang makan untuk menyantap sarapannya.
Sesaat setelah sarapan mereka selesai, asisten Haris tiba di hadapan Leo dan Shasa. Dia memberi hormat pada keduanya.
“Ah, asisten Haris, kebetulan sekali. Aku ingin bertanya padamu.” Shasa antusias. “Apa makan malamnya berjalan lancar?” Shasa berbisik.
Asisten Haris tersenyum mendengar pertanyaan Shasa. Tentu saja, Shasa berbohong saat mengatakan kalau dia mengirim pengawal untuk mengawasi Niko dan Lita. Shasa begitu penasaran apakah rencananya berjalan lancar atau tidak.
“Aku bertanya pada manajer restoran. Mereka berdua terlihat mengobrol serius. Bahkan, keduanya baru kembali beberapa menit sebelum restoran tutup.” Jawab asisten Haris.
“Wah… luar biasa. Meskipun aku tidak tahu topik pembicaraanya, tapi aku senang mendengar mereka bisa mengobrol lagi.”
‘Hahahaha… Nyonya, kau ini iseng sekali. Bisa jadi mereka bukan mengobrol, tetapi perang menggunakan kata-kata mereka, kan? Hahahaha.’ Asisten haris tertawa dalam hati.
*****
Epilog:
Setelah percintaannya semalam, Niko terbangun di ranjang Lita. Dia langsung melihat jam di kamar Lita.
‘Huh, ternyata masih jam segini.’ Batin Niko. Dia melirik Lita di sampingnya yang dibalut selimut, menghangatkan tubuh polosnya. Lita bergerak kecil. Buru-buru Niko mengelus-elus punggung Lita agar tidak terbangun.
Niko pun melanjutkan tidurnya. Dia baru kembali ke kamarnya beberapa saat sebelum pelayan rumah mulai beraktivitas. Rasanya, tidak satu pun di rumah ini yang tahu kalau Niko menghabiskan malamnya di kamar Lita.
*****
__ADS_1
Bersambung…