Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Wanita


__ADS_3

Rasa takut Shasa begitu besar. Entah karena dia takut tidak bisa menjadi pendamping yang baik untuk Leo atau karena dia takut Leo meninggalkannya. Keluarganya, kehidupan sosialnya, Leo tidak banyak menceritakannya pada Shasa. Meskipun semakin hari Shasa merasa semakin dekat dengan Leo, tetapi Shasa tidak pernah mendengar cerita kehidupan Leo.


Lelaki di hadapan Shasa saat ini, dia bisa merasakan ketulusannya. Dia memang tidak pandai mengekspresikan perasaannya, tapi kenapa hari ini sepertinya lelaki ini menumpahkan semua perasaannya. Shasa jadi takut, apakah dia mampu membalas perasaan lelaki ini.


Di sisi lain, Leo yang tidak pernah memiliki hasrat untuk memiliki sesuatu di hidupnya, kini dia begitu memperjuangkan untuk memiliki wanita ini. Selama ini, dia mendapatkan hal-hal besar tanpa perjuangan apapun. Jentikan jari atau tatapan matanya saja, sudah bisa menghadirkan segala sesuatu yang diinginkannya hingga membuat orang lain iri.


Hari ini, Leo mulai belajar arti dari perjuangan. Bukan berjuang untuk uang atau posisi tinggi di perusahaan, tetapi untuk wanita di hadapannya ini. Leo tidak pernah menyesalinya. Bahkan, hidup hampa tanpa tujuan yang dia jalani kemarin, sudah berlalu. Hari ini dia sudah menemukan tujuannya.


"Kau tidak perlu menjadi orang lain. Karena aku tidak membutuhkan orang lain. Jadilah dirimu sendiri. Aku hanya membutuhkanmu." Leo tersenyum bahagia.


Shasa meneteskan air mata haru, tapi bibirnya menyunggingkan senyum berharga untuk Leo.


*****


Leo sudah bersandar di kasur dengan memangku laptopnya. Shasa yang baru saja selesai mandi, sudah siap dengan piyamanya. Dia berjalan dan naik ke kasur mengambil posisinya di samping Leo.


"Sudah malam begini, kau masih bekerja?"


"Kau tidak suka?" Leo menoleh ke arah Shasa.


"Ah... Tidak." Shasa sedikit tertawa dan mulai menyibakkan selimut menutupi kakinya. "Lanjutkan saja."


"Kau tahu, aku sedang membaca buku tentang wanita. Katanya, kalau wanita itu sering mengatakan hal yang berkebalikan dari isi hatinya. Jadi, kalau wanita mengatakan tidak apa-apa, itu artinya ada apa-apa. Kenapa wanita tidak berbicara langsung saja dalam arti yang sebenarnya?"


"Kau ini. Kerjaanmu sudah banyak, masih saja sempat baca buku seperti itu. Hahahaha." Shasa tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Leo.


Leo menutup laptopnya dan meletakkan di meja samping kasur. Dia menarik selimut dan membaringkan tubuhnya sejajar dengan Shasa.


"Leo." Shasa melirik Leo di sampingnya. "Aku boleh memanggilmu seperti itu kan?" Shasa bertanya. Leo hanya menjawab dengan anggukannya. "Apa kau tidak ingin menceritakan padaku tentang papa dan mamamu?"


Leo sedikit berpikir. "Kau lebih pandai mengenal orang saat bertemu langsung dengannya. Aku tidak perlu bercerita panjang lebar."


"Aku ingin mendengarnya darimu." Shasa mulai manja.


Leo malah melingkarkan lengannya ke pinggang Shasa. Leo membisikkan sesuatu ke telinga Shasa.


"Bisakah hari ini kita tidak membicarakan orang lain? Aku hanya ingin membahas tentang kita."

__ADS_1


Shasa tersenyum simpul. Sepanjang malam itu, Leo tidur dengan memeluk Shasa. Malam ini menjadi malam yamg hangat untuk keduanya.


*****


Shasa sudah sampai di meja kantornya. Dia bergegas menyalakan komputer dan mengambil beberapa dokumen dari lacinya. Beberapa pekerjaan yang tertinggal kemarin karena Leo menculiknya, harus segera dibereskan.


"Sha, nanti outing kita 1 bis ya." Tira memberitahu Shasa perihal outing tim pengembangan minggu ini.


"Oh iya, lupa. Minggu ini kita outing ya?"


"Nanti kayaknya bakal seru nih, soalnya tema outingnya itu Jungle. Jadi, nanti kita banyak main di hutan gitu. Berkemah, nyanyi-nyanyi, api unggun, pasti bakalan seru!" Tira sudah membayangkan aktivitas pada saat outing nanti.


"Kok kayak outing anak pramuka ya? Hahahahaha" Shasa menggoda Tira. Seketika tangan Tira melayang di bahunya.


"Pokoknya nanti kamu bawa makanan yang banyak ya, Sha."


"Hahaha... Siappp!"


Shasa berpikir sejenak. Dia belum ijin ke Leo untuk pergi outing akhir pekan ini. Dia berencana memberitahu Leo tentang outingnya saat pulang nanti.


Leo kini sedang di ruangannya. Dia bekerja begitu serius memeriksa dokumen-dokumen penting. Tak lama, asisten Haris mengetuk pintu dan masuk ke ruangan.


"Coba selidiki aktivitas apa saja yang dilakukan yayasan perusahaan. Ah, aku juga ingin tahu siapa saja yang menjadi pengurus inti yayasan itu."


"Baik Tuan."


"Ah, Haris, aku juga ingin tahu siapa ketua yayasan saat ini dan posisi suaminya di perusahaan. Berikan aku informasi yang lengkap."


"Baik Tuan." Asisten Haris mengeluarkan sebuah poster yang masih terlipat rapi dan meletakkannya di meja Leo. "Tuan, ada undangan outing kantor yang akan dilaksanakan minggu ini. Apa anda berencana datang?"


Tanpa melihat poster itu dan hanya serius membaca dokumen, Leo menjawab "Aku tidak pernah ikut acara seperti itu."


"Baik Tuan. Akan saya sampaikan ke panitia outingnya." Asisten Haris pun undur diri dan keluar dari ruangan Leo.


Tak lama, ponsel Leo berdering. Nyonya Sofia yang merupakan ibunya Leo, meneleponnya.


"Halo, Ma" sapa Leo.

__ADS_1


"Leo, kau ini! Bagaimana bisa, sayang?"


"Apanya Ma yang bagaimana?"


"Huh! Kau masih tidak mengerti? Pernikahanmu!" Mamanya terdengar kesal sekaligus sedih.


"Ma... Maafkan aku. Kondisinya saat itu tidak memungkinkan untuk mengabari mama yang ada di luar negeri."


"Huh! Mama sudah menyiapkan desain gaun untuk istrimu, tahu! Sudah mama siapkan sejak kamu umur 10 tahun."


"Apa? Mama ingin aku menikah dari kecil? Hahaha yang benar saja, ma."


"Desain pertama yang mama buat adalah jas yang kamu pakai waktu kelulusan sekolah dasar. Dan desain yang kedua adalah gaun untuk calon istrimu."


"Ma, aku bahkan belum membuat pesta pernikahan. Mama masih bisa menjahit gaun itu untuknya."


"Mama frustasi melihat kelakuanmu yang menjauhi wanita-wanita di sekelilingmu. Tapi hari ini mama lega, akhirnya ada wanita yang kamu sukai."


"Mama pasti juga akan menyukainya."


"Leo, kamu tahu, menjadi istri dalam Keluarga Gusta tidaklah mudah. Ada lapisan-lapisan sosial tertentu yang terpaksa harus diikuti. Karena setiap istri dalam Keluarga Gusta membawa nama yang besar, sudah pasti istrimu akan turut andil dalam menjaga posisi dan reputasimu."


"Apa mama mengalaminya?"


"Tentu saja. Mama cukup frustasi karena mama harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Terlebih lagi almarhum nenekmu dulu, dia sangat keras mendidikku."


"Mendidik?"


"Iya. Pelajaran etika, table manner, gaya berpakian, bahasa asing, dan banyak lainnya, mau tidak mau harus dipelajari. Orang-orang dalam Keluarga Gusta, punya makna dalam setiap aktivitasnya. Kita tidak sarapan hanya untuk menikmati makanannya, tetapi sarapan itu adalah momen membahas bisnis baru. Kau pasti sudah mengalaminya di awal kau bekerja kan?"


Leo mengangguk-angguk sambil masih berpikir.


"Kamu tenang saja, mama akan memberitahu menantu mama nanti. Omong-omong apa dia cantik?"


"Tentu saja Ma. Tidak hanya wajahnya yang cantik, tetapi hatinya juga." Leo mengatakannya sambil tersenyum. "Ah, tunggu. Dari mana mama tahu kalau aku menikah?" Leo memicingkan matanya. "Apa yang mama dan papa bicarakan di belakangku?


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2