
Shasa makan siang bersama teman-temannya. Dia berusaha menjelaskan pada Tira dan yang lainnya perihal hubungannya dengan Leo. Meskipun tidak menceritakan secara rinci, Shasa membuat teman-temannya bisa mengerti asal mula hubungannya dengan Leo terjalin.
"Jadi karena kalian beberapa kali kerja bersama ya? Em... Pantas saja kalian bisa dekat." Kata salah satu teman Shasa.
"Iya begitu kurang lebih."
"Kalian tidak berpacaran sebelum ini?" Tanya Tira.
"Tidak. Dia tidak suka membuang-buang waktu." Jawab Shasa.
Usaha Shasa cukup berhasil meyakinkan teman-temannya. Tidak ada yang tahu bahwa Shasa sebenarnya sudah menikah dengan Leo.
"Apakah nanti kita diundang ke pesta pernikahanmu?" Tanya teman Shasa yang lain.
"Tentu saja. Kalian kan teman-temanku. Aku pasti mengundang kalian ke pesta pernikahanku." Jawab Shasa sambil tersenyum riang.
Selesai makan siang bersama, Shasa dan teman-temannya kembali ke kantor. Entah ada acara apa, lobby kantor siang itu begitu ramai. Salah seorang di keramaian itu melihat Shasa.
"Itu dia Nona Shasa!" Tiba-tiba kerumunan itu mendekat ke Shasa. Dia sangat kebingungan dengan apa yang terjadi. Teman-temannya berusaha melindungi Shasa dari orang-orang itu. Seketika, Lita langsung melerai keramaian. Dia berusaha membuat jarak antara Shasa dan para wartawan yang sudah berkumpul sejak siang tadi menunggu Shasa. Lita berusaha membuat para wartawan berhenti bertanya-tanya, tetapi dia begitu kewalahan.
Kemudian, sebuah suara memecah keributan. Beberapa orang pengawal membuat barikade untuk melindungi Shasa. Teman-teman Shasa terkejut dengan situasi ini.
"Hentikan atau aku akan catat satu per satu nama kalian. Tidak sulit bagiku membawa nama kalian terhapus dari jajaran reporter media. Jika kalian punya pertanyaan untuk Nona, sampaikan secara resmi. Keluarga Gusta tidak pernah menerima bentuk wawancara seperti ini." Niko begitu tegas memperingatkan para wartawan di hadapannya.
Entah dia datang dari mana dan sejak kapan, Shasa pun tidak tahu. Kemudian, Niko mengisyaratkan Lita untuk membawa Shasa pergi. Seketika itu juga, Lita menggiring Shasa menuju lift VIP.
Di dalam lift VIP, Shasa merapikan rambutnya yang agak berantakan.
"Nona, anda baik-baik saja?" Lita bertanya khawatir.
"Aku baik-baik saja, Lita. Tidak perlu khawatir." Shasa berusaha tersenyum mesti jantungnya masih berdebar mengingat kejadian tadi. Dia tidak menyangka akan diserbu seperti itu oleh para wartawan, terlebih lagi kejadiannya di kantor.
Lita membawa Shasa ke ruangan Leo. Pemilik ruangan itu sendiri sedang ada rapat di luar kantor. Lita membawakan secangkir teh pada Shasa.
"Nona, silahkan diminum tehnya. Mungkin ini bisa menenangkan anda. Dan... Aku minta maaf karena terlambat datang. Aku tidak menyangka wartawan akan datang secepat itu."
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa. Terima kasih Lita." Shasa tersenyum. Dia mulai meminum teh di cangkirnya.
Leo berlari masuk menuju ruangannya. Dia mendapat kabar dari Lita tentang kejadian di kantor. Segera Leo menyelesaikan rapatnya dan bergegas menuju kantor. Di depan pintu ruangannya, Leo melihat Niko yang sedang berdiri. Lalu, Niko memberi hormat pada Leo. Leo hanya menatap Niko dan segera masuk ke ruangannya.
"Sayang!" Leo berteriak.
Shasa langsung menoleh ke arah Leo yang sedang berlari ke arahnya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Shasa tersenyum lega melihat Leo di hadapannya. Dia begitu ingin memeluknya dan menumpahkan semua ketakutannya tadi, tapi dia mengurungkan niatnya karena ada Lita di dalam ruangan.
"Kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang terluka?" Tanya Leo kahwatir.
"Aku baik-baik saja. Lita sangat menjagaku tadi. Dan Niko sepertinya juga sudah menenangkan para wartawan di lobby."
Leo menoleh ke arah Lita. Leo mengisyaratkan Lita untuk keluar dari ruangan. Lita pun memberi hormat pada Leo dan Shasa, kemudian melangkah keluar ruangan.
Leo menatap Shasa kembali. Matanya masih terlihat khawatir. Shasa langsung memeluk Leo. Leo bisa merasakan bagaimana Shasa sedikit takut dengan kejadian tadi.
"Aku jadi tidak ingin meninggalkanmu sedetik pun." Leo membisikkan kata-katanya pada Shasa.
"Sepertinya aku harus menunjuk pengawal untukmu." Pikir Leo.
"Buat apa? Tidak perlu. Akan semakin aneh kalau pegawai sepertiku punya pengawal."
"Kau bukan hanya pegawai. Tapi kau calon istriku. Tidak. Bahkan kau sudah jadi istriku. Istri pemilik perusahaan ini."
Shasa sudah mendengar kalimat seperti ini dua kali. Tadi pagi, dia mendengar dari teman-temannya. Sekarang, dia mendengar dari Leo. Dan ini bukan yang diharapkan Shasa. Dia baru kali ini merasa serba salah dengan posisinya.
"Berita pertunangan kita sudah jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Akan semakin banyak wartawan yang ingin menemuimu. Aku akan coba berdiskusi dengan manajer tim-mu apakah kau bisa melakukan pekerjaan dari rumah beberapa hari ke depan. Kita harus menunggu sampai situasi bisa dikendalikan, baru aku tenang membiarkanmu datang ke kantor."
"Aku baru saja cuti panjang, sayang. Aku pasti akan merepotkan banyak orang jika begini."
"Kau kan tidak membolos dari pekerjaan. Aku hanya memintamu bekerja dari rumah. Aku akan meminta Lita menyiapkan semua keperluanmu untuk bekerja di rumah."
__ADS_1
Shasa mencari cara merayu Leo. Dia menangkupkan kedua tangannya di pipi Leo.
"Sayang... Apa yang kau khawatirkan? Aku baik-baik saja. Banyak orang-orang baik di sekelilingku."
"Kau tanya apa yang aku khawatirkan? Kau tidak bisa lagi dengan mudah pergi ke tempat-tempat umum yang terlalu banyak orang. Itu akan sangat berbahaya untukmu. Bagaimana kalau kau tiba-tiba diserbu lagi seperti tadi?"
"Sayang... Tapi kan"
"Kalau kau sedang berusaha merayuku, kau gagal." Belum selesai Shasa berbicara, Leo sudah menyelanya. Dia bangkit dari hadapan Shasa dan menelpon seseorang dengan sangat serius.
'Hah... Kehidupan baruku sepertinya baru dimulai...' batin Shasa pasrah.
*****
Niko duduk di hadapan Lita dan asisten Haris. Ketiganya saling menatap. Belum ada yang mengeluarkan satu kata pun. Saat Leo kembali dan masuk ke dalam ruangannya untuk menemui Shasa, Niko mengumpulkan Lita dan asisten Haris untuk membicarakan sesuatu.
"Aku sudah membereskan kejadian tadi. Selama beberapa hari ke depan, kejadian seperti ini sangat memungkinkan terulang lagi. Sampai pesta pernikahan nanti, berita tentang Nona pasti masih banyak dicari. Aku bahkan sudah memantau semua aku sosial media yang Nona miliki dan mempekerjakan seorang ahli untuk menjaga keamanan akun agar tidak ada pencurian data ataupun foto-foto Nona, sekaligus memastikan tidak ada informasi pribadi terkait Nona yang tersebar di publik." Niko menatap serius ke Lita.
"Lita, apa kau masih sanggup menjaga Nona?" Tanya Niko.
Lita mendengus. "Kau meragukanku?"
Niko menatapnya tak bergeming. "Aku hanya menanyakan kesanggupanmu."
"Kau pikir sama antara menjaga Komisaris Gusta dengan menjaga Nona? Nona punya kehidupan yang bebas sebelumnya. Tak mudah membuat dia patuh terhadap prosedur yang harus dia jalani sebagai anggota Keluarga Gusta." Lita menjawab dengan tenang.
"Apa kau butuh bantuan untuk mengawasi pergerakan Nona?" Tanya Niko lagi.
"Bahkan kau sudah melakukannya dan kau masih bertanya padaku."
Niko menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Wah, sepertinya aku berada di sebuah perdebatan yang mesra." Niko dan Lita sontak menatap asisten Haris. "Kadang, aku kasihan dengan Nona. Hidupnya dipantau oleh orang-orang yang mengesankan seperti kita. Hahahaha. Kalau Nona tahu, dia pasti sudah memukul bahu kita satu per satu."
Asisten Haris teringat beberapa kali Shasa memukul bahunya karena membuat keputusan sendiri untuk Shasa. Padahal dia hanya mematuhi perintah Leo.
__ADS_1
*****
bersambung...