
Puas menikmati jus segar sesuai keinginannya, Shasa pun melanjutkan perjalanan ke butik Nyonya Sofia. Lita dan pak supir hanya bisa manggut untuk ikutan minum jus yang diberikan Shasa. Lita tidak mengerti dengan selera lidah Shasa. Menurut Lita, jus buatan koki Keluarga Gusta pasti akan lebih enak daripada jus di kedai tadi.
Shasa sudah sampai di butik Nyonya Sofia. Dia disambut dengan begitu ramah oleh pegawai-pegawai Nyonya Sofia. Para pegawai itu sangat antusias karena mereka bisa melihat seorang Shasa secara langsung, tidak hanya sebuah gambar yang tersebar di beberapa media.
Butik Nyonya Shasa terlihat begitu elegan. Tidak terlalu banyak barang di sana, sehingga tampak luas dan nyaman. Butik yang baru saja didirikan setelah Nyonya Sofia datang kembali ini, merupakan butik kedua setelah butiknya di luar negeri. Nuansa lampunya berwarna kuning, menambah kesan mewah interior butik yang terdiri dari tiga lantai itu. Lantai paling bawah digunakan untuk ruang pameran baju-baju yang diproduksi. Lantai dua digunakan para pegawai butik untuk menjahit dan mengelola stok baju-baju. Lantai tiga digunakan untuk kantor Nyonya Sofia.
Shasa menggunakan lift menuju lantai tiga diantar oleh seorang pegawai butik dan juga Lita. Nyonya Sofia menyambut Shasa di depan pintu ruangannya.
"Sayang... Mama sudah tunggu-tunggu dari tadi. Yuk, masuk." Nyonya Sofia menggiring Shasa masuk ke dalam ruangannya. Lita memberi hormat pada Nyonya Sofia dan menunggu di depan ruangan, memberikan keduanya waktu untuk mengobrol dengan santai.
"Ma, aku suka sekali butik mama. Tempatnya nyaman, serasa di rumah sendiri."
"Mama memang membuat konsep butik ini seperti itu. Jadi, para pelanggan mama bisa dengan nyaman melihat-lihat baju di sini layaknya membuka lemari pakaian di rumah."
"Oh iya, apa mama punya rekomendasi hadiah untuk pasangan yang baru menikah?" Shasa teringat acara pernikahan Gia dan Dion sebentar lagi. Walaupun tidak hadir, setidaknya Shasa ingin memberikan hadiah untuk keduanya.
"Maksudnya, untuk kamu dan Leo?" Tanya Nyonya Sofia memastikan.
"Hahaha... Bukan, Ma. Lagian aku dan Leo kan bukan pengantin baru lagi."
"Hahaha... Tapi kalau dilihat-lihat masih seperti pengantin baru kok." Goda Nyonya Sofia. "Lalu untuk siapa?"
"Untuk temanku. Akhir pekan ini dia akan menikah."
"Ah... Begitu rupanya. Em... Kalau jubah tidur, mau?" Nyonya Sofia mencari-cari sesuatu diantara tumpukan buku di mejanya. Kemudian, Nyonya Sofia menyodorkan sebuah katalog pada Shasa. "Seperti ini. Kau bisa memilih warnanya. Kita punya stok beberapa warna." Nyonya Sofia menunjukkan beberapa gambar jubah tidur pada Shasa.
"Aku suka ini Ma, yang warna biru muda. Em... Apakah bisa ditambahkan bordiran nama di sisi kanan atau kirinya, Ma?" Tanya Shasa lagi.
"Bisa. Nanti pegawai mama akan mengurusnya. Kau tulis saja namanya di kertas ini."
Dalam benak Shasa, terserah Gia ingin mengukir kenangan apa di hati Shasa. Tetapi, Shasa hanya ingin mengukir kenangan baik di hati teman-temannya. Seberapa kesal Shasa pada Gia dan Dion, Shasa hanya ingin memberi ketulusan hatinya bahwa dia telah merestui hubungan keduanya. Shasa merasa Tuhan punya caranya sendiri untuk menunjukkan jalan terbaik bagi manusianya. Apa yang terjadi pada Shasa ataupun Gia, dia hanya akan berpikir bahwa itu adalah garis Tuhan untuk mereka.
*****
Shasa diajak berkeliling butik ditemani Nyonya Sofia. Para pegawainya masih saja terperangah dengan kecantikan Shasa. Mereka melihat kedua Nyonya Gusta ini memiliki penampilan yang cantik karena hatinya pun begitu cantik.
Tak berapa lama, ponsel Shasa berdering. Shasa mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Seketika senyumnya mengembang lebar. Shasa menjauh sebentar dari Nyonya Sofia.
"Hai, suami..." Sapa Shasa dengan wajah berbinar-binar.
__ADS_1
"Lagi di mana, sayang?"
"Aku lagi di butik mama. Sayang, apa pekerjaanmu lancar?"
"Tentu saja. Kalau aku sudah turun tangan, semua pasti lancar."
"Ish... Sombongnya kau ini. Sayang, apa kau akan membawa oleh-oleh untukku?"
"Em... Memangnya kau ingin oleh-oleh apa?"
"Aku tidak mau oleh-oleh, tetapi aku ingin kau melakukan sesuatu untukku saat kau pulang nanti."
Leo bingung. Untuk apa Shasa membicarakan tentang oleh-oleh kalau dia sendiri tidak mau oleh-oleh.
"Saat perjalanan tadi, aku melihat toko akuarium. Aku jadi ingin punya akuarium di rumah." jelas Shasa lagi.
"Kenapa tidak bilang pada Lita saja tadi?"
"Aku maunya kamu yang pilihkan akuariumnya untukku."
"Ya sudah. Setelah pulang nanti aku akan buatkan untumu."
Sementara itu, Leo mulai memikirkan akuarium yang diinginkan Shasa.
"Haris." Leo meletakkan ponselnya setelah menghubungi Shasa.
"Iya, Tuan."
"Carikan aku toko akuarium. Minta mereka mengirimkan gambar semua jenis akuarium yang mereka punya secepatnya."
Asisten Haris terdiam mendengar perintah Leo. 'Nyonya, apalagi yang kau inginkan sih?' gerutu asisten Haris dalam hati.
"Aku juga akan mempercepat kepulanganku. Akhir pekan ini kita kembali. Jangan kabari Shasa, aku ingin memberinya kejutan."
*****
Sehari sebelum akhir pekan, kado pernikahan untuk Gia dan Dion telah siap. Shasa juga menuliskan kartu ucapan untuk mereka. Shasa akan menitipkan hadiah itu pada Lita dan memintanya untuk mengirimkan hadiah tepat di hari pernikahan mereka.
Niko melihat Shasa sedang duduk di ruang tengah, sibuk dengan hadiah yang disiapkannya. Niko berjalan menghampiri Shasa. Dia berdiri di depan Shasa dan memberi hormat padanya.
__ADS_1
Shasa melihat Niko yang tiba-tiba menghampirinya. Dia menebak-nebak apa yang ingin dilakukan Niko.
"Ada yang ingin kau katakan, Niko?" Shasa bertanya duluan.
"Nyonya, bisakah saya meminta bantuan anda?" Tanya Niko dengan wajah datar.
Shasa mengangguk, meskipun otaknya sedang berputar menebak apa yang akan dikatakan Niko selanjutnya.
"Nyonya, saya ingin anda tidak menanggapi pembicaraan dari siapapun yang tidak anda kenal. Anda tidak perlu menjelaskan apapun atau menjawab pertanyaan apapun. Semakin sedikit anda berinteraksi dengan orang lain, semakin baik untuk anda."
Shasa bisa menebak arah pembicaraan Niko. "Baiklah, Niko." Shasa menjawab singkat, malas berdebat dengan Niko.
"Apa ada sesuatu yang disampaikan pria itu?"
Shasa berpikir sejenak. "Tidak ada hal penting yang dia bicarakan. Aku memilih melupakannya."
Niko tersenyum tipis. "Baiklah, Nyonya." Niko sudah ingin melangkah mundur, tetapi Shasa memanggilnya kembali.
"Niko, karena aku sudah membantumu, apakah kau bisa membantuku sekarang?"
"Silahkan."
"Aku ingin menitipkan ini untuk Lita. Ini hadiah untuk pernikahan temanku." Shasa menyodorkan sebuah kotak hadiah yang dia siapkan sejak tadi. Niko pun menerima kotak itu. "Aku juga ingin meminta bantuanmu untuk menemani Lita mengirimkan ini. Aku tidak ingin Lita sendirian datang ke pesta itu."
"Kenapa anda tidak datang langsung saja ke pesta itu?" Tanya Niko sudah menahan kesal karena permintaan aneh Shasa.
"Aku ingin pergi sebenarnya, tapi Leo tidak mengijinkanku. Apa menurutmu aku bisa pergi? Kalau kau yang mengatakannya, mungkin Leo akan menyetujuinya."
"Maaf, Nyonya. Jika Tuan Leo sudah melarang anda, itu artinya anda tetap tidak bisa pergi. Dan juga, Lita pasti bisa pergi ke pesta tanpaku."
"Aaahhh... Sekali ini saja, Niko. Apa aku harus mengatakan pada Leo atau Komisaris Gusta agar kau mau pergi menemaninya?"
Leo mendesah pelan. 'Pandai sekali dia sekarang.' batin Niko. "Baiklah, Nyonya. Aku akan menemani Lita mengantar hadiah ini."
Kemenangan ada di tangan Shasa. Bagi Niko, akan sama saja entah itu Leo atau Komisaris Gusta, ujung-ujungnya keinginan Shasa pasti terkabul.
*****
bersambung...
__ADS_1