
“Ma, apa-apaan ini?!” Leo bertanya dengan penuh keheranan. Begitu juga dengan Shasa yang ada di sampingnya.
Nyonya Sofia tersenyum dengan penuh bangga. Dia menunjukkan kamar bayi yang telah dia persiapkan selama beberapa hari belakangan ini. Semenjak mengetahui jenis kelamin calon bayi Shasa, Nyonya Sofia sibuk tak karuan menyiapkan kamar bernuansa biru ini. Ada sebuah tempat tidur bayi yang cukup lega, sebuah sofa besar, lemari pakaian yang terlihat beberapa baju menggantung di dalamnya, sebuah karpet tebal yang menambah kesan nyaman kamar itu, serta segala sesuatu pernak-pernik yang terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu.
Sore ini, Nyonya Sofia menunjukkan hasil karyanya di depan Leo dan Shasa. Kedua calon orang tua sang bayi begitu takjub sekaligus heran dengan apa yang ada di depan matanya saat ini.
“Ma, sejak kapan mama menyiapkan semua ini?” tanya Shasa yang masih bingung.
“Mama membaca salinan pemeriksaanmu. Setelah mengetahui jenis kelamin bayinya, mama tidak mau menunggu lagi untuk menyiapkan kamar ini.” Jawab Nyonya Sofia santai. “Ini saja mama rasa masih bayak yang belum ada.” Tambah Nyonya Sofia sambil berpikir.
“Ma, harusnya mama berdiskusi denganku dan Shasa kalau ingin membuat kamar ini. Aku kan juga ingin menyiapkan kamar untuk anakku, Ma.” Leo terdengar kecewa karena melewatkan momen yang menurutnya adalah langkah awal yang bisa dia lakukan sebagai seorang ayah.
“Sayang, tidak apa-apa.” Shasa menyentuh lengan Leo dan menenangkannya. “Ma, aku suka sekali kamar ini. Terima kasih ya, Ma, sudah menyiapkan kamar istimewa ini untuk bayi kami nanti.” Shasa tersenyum dengan riang.
“Kau tidak perlu khawatir. Semua perlengkapanmu dan bayinya nanti, akan mama siapkan.” Ucap Nyonya Sofia dengan antusias.
Shasa tersenyum senang sambil menatap Nyonya Sofia. 'Tidak apa-apa jika hanya menyiapkan kamar. Meskipun berlebihan, aku senang sekali mertuaku luar biasa seperti ini, hahahaha.’ Batin Shasa.
*****
Hari ini, Niko dan Lita akan pergi makan malam. Sesuai perintah Leo, asisten Haris telah memesan tempat untuk keduanya. Bahkan, asisten Haris sempat menggoda Lita dengan menyemangatinya untuk kencan malam ini.
Niko sudah menunggu di depan teras rumah dengan mobilnya yang sudah siap membawanya dan Lita makan malam. Niko menunggu Lita yang tak kunjung keluar. Tak lama, sebuah pesan masuk ke ponsel Niko.
Lita: Niko, kau berangkatlah duluan. Aku akan pergi dengan mobilku.
Niko langsung membalas pesan itu secepat kilat.
Niko: Cepat keluar! Atau aku akan menyuruh pengawal membawamu ke sini.
Niko memilih tidak mengikuti keinginan Lita. Dia kecewa karena Lita masih berusaha sekuat tenaga menghindarinya. Lalu, Lita pun keluar. Dia melihat Niko yang sudah berdiri menunggunya.
“Mau cari alasan apalagi?” Niko langsung menyindir Lita.
'Ish… kenapa aku harus makan malam dengan orang menyebalkan ini sih?: gerutu Lita membatin sambil mendekati Niko dengan hati kesal.
__ADS_1
“Ayo cepat selesaikan malam ini.” Balas Lita tegas. Dia pun langsung membuka pintu mobil dengan tangannya sendiri, membuat Niko otomatis memberi ruang untuknya masuk ke dalam mobil.
Niko mendengus. Dia pun langsung mengitari mobil dan masuk ke balik kemudi. Secepatnya Niko menancap gas menuju sebuah restoran mewah di pusat kota.
Sepanjang jalan tidak ada obrolan di antara keduanya. Sunyi sepi karena keduanya fokus dalam pikirannya masing-masing. Tiba-tiba ponsel Lita berdering.
“Hai Lita. Apa kau sudah di jalan menuju restoran?”
“Sudah, Nyonya. Apakah ada sesuatu?”
“Ah, tidak. Lita, apa kau bisa mengeraskan suaraku di ponsel ini? Aku ingin Niko juga mendengar suaraku.”
Sontak, Lita menoleh ke arah Niko. Dia berpikir apalagi yang diinginkan Shasa kali ini.
Lita mengeraskan suara ponselnya.
“Hai, Niko. Malam ini, bersenang-senanglah dengan Lita. Ah… tidak, tidak. Aku rasa kata-kataku salah. Malam ini, nikmatilah waktu kalian berdua. Aku telah mengirim beberapa pengawal untuk mengawasi kalian. Kalau mereka sampai melihat kalian diam-diaman, aku akan membuat acara makan malam lagi untuk kalian di lain waktu.”
Niko mendesah pelan mendengar kata-kata Shasa. Lita pun terlihat tidak antusias. Namun, demi acara yang hanya satu malam ini, Lita berencana rela berpura-pura asyik mengobrol dengan Niko agar tidak ada lagi acara-acara seperti ini di kemudian hari.
“Baik, Nyonya. Apa kau ingin dibawakan oleh-oleh?” Niko bertanya dengan datar.
Lita langsung menatap Niko seperti ingin membunuh. 'Kenapa dia iseng sekali sih bertanya pada Nyonya ingin oleh-oleh apa?! Itu sama saja kau menggali lubang baru bagi Nyonya untuk menjebak kita.’ Batin lita dengan penuh kekesalan.
Niko sebenarnya juga tidak menyangka kalau Shasa akan meminta hal aneh seperti itu. Namun, kata-kata telah dilontarkan, seperti sebuah perintah yang tak mungkin dibatalkan.
Setelah ponsel dimatikan, Lita langsung menyerbu Niko. “Kau ini! Masih saja kau menjebak dirimu sendiri dalam permainan Nyonya.” Protes Lita.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Niko harus memberikan oleh-olehnya pada Shasa. Tambah lagi kekesalan Lita malam ini.
*****
“Sayang… sudah ketawanya.” Leo menggeleng-geleng kepala melihat Shasa yang senang sekali mengerjai Niko dan Lita.
“Mereka berdua lebih dewasa dari kita, kenapa sangat bodoh sih dalam hal beginian?” Shasa masih tak bisa berhenti tertawa.
__ADS_1
“Kau yang terlalu pintar, sayang.” Leo meletakkan laptopnya di atas meja, kemudian beringsut masuk ke pelukan Shasa.
“Aku rasa, Niko lebih bodoh dari Lita. Bisa-bisanya dia bertanya aku ingin oleh-oleh apa. Hahahaha… pasti Lita sedang memarahinya sekarang.”
“Sayang… letakkan ponselmu. Jangan ganggu mereka lagi.”
“Ini hiburan, sayang.” Shasa masih tampak begitu bahagia mengerjai Niko dan Lita.
“Apa kau sudah memikirkan rencana persalinanmu?” Leo mengubah arah pembicaraan ke arah yang serius.
Shasa meletakkan ponselnya. Dia mulai berpikir dan menghadap ke Leo. “Aku ingin anak kita yang memutuskan dia akan lahir dengan cara apa. Kita tunggu saja.”
“Belum apa-apa, kau sudah memberikan tugas yang berat pada bayi kita.” Balas Leo datar.
“Bukan begitu maksudku, sayang. Kita tunggu saja sampai waktunya tiba. Jika bayi kita ingin dilahirkan secara normal, dia akan memudahkan ibunya untuk melahirkannya secara normal. Aku rasa, kau tidak perlu memikirkan rencana apapun. Kita tunggu saja dan nikmati momen-momen akhir perut besarku ini.” Shasa mengelus-elus perutnya lembut.
“Aku ingin mencari cara yang paling tidak menyakitkan untukmu.”
“Ketika anak ini tumbuh di dalam rahimku, aku sudah ikhlas bahwa suatu hari nanti aku akan merasakan sakitnya melahirkan. Aku yakin, saat aku melihat bayiku nanti, semua rasa sakitku akan hilang.”
“Mana ada seperti itu.” Gerutu Leo.
“Aku sudah mencintai anakku bahkan sebelum dia dilahirkan. Perasaan cinta itu yang akan menghilangkan semua luka, sesakit apapun itu.”
Leo menghela napasnya. Di otaknya dipenuhi pikiran-pikiran yang membuatnya galau. Ada dua manusia yang dicintai Leo di sini. Pertama adalah Shasa. Kedua adalah anaknya. Leo masih takut menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari proses melahirkan nanti.
“Kenapa kau tidak menyemangatiku saja? Kalau kau terlihat takut begini, kau bisa membuatku merasa seperti itu juga. Padahal, aku ingin memberitahu anakku kalau ibunya ini adalah seseorang yang pemberani.” Ucap Shasa.
“Aku akan menemanimu saat kau bersalin nanti. Aku tidak akan melepaskan sedetik pun genggaman tanganku padamu.” Leo mengeratkan pelukannya pada Shasa. Dia mencoba menghilangkan semua rasa khawatirnya dan berusaha percaya pada Shasa.
“Semua akan baik-baik saja, sayang. Anakmu akan baik-baik saja.”
“Aku tidak butuh salah satu dari kalian. Aku membutuhkan keduanya. Kau dan anak kita.”
Shasa bisa merasakan betapa bergemuruhnya hati Leo. Ini adalah pengalaman pertama baginya. Tentu saja, Leo memikirkan banyak hal dan segala kemungkinan saat Shasa bersalin nanti.
__ADS_1
*****
bersambung…