Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Pesta Piyama Part 1


__ADS_3

Malam yang ditunggu-tunggu tiba juga. Para pelayan di rumah Keluarga Gusta sudah kompak mengenakan piyama. Mereka berdiri tersebar di sekeliling ruang tengah paviliun Leo dan Shasa. Shasa tersenyum puas melihat betapa hebatnya hari ini. Dia dan Leo kini menunggu tamu pesta datang satu per satu. Bahkan, Shasa menyiapkan sebuah karpet merah agar menambah kesan mewah untuk acara ini.


Tamu pertama yang hadir adalah Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta. Pelayan yang ditugaskan Shasa untuk menjadi fotografer, tidak melewatkan momen berharga ketika Tuan dan Nyonya besar rumah ini berjalan di karpet merah mengenakan piyama dengan warna senada.


Dari kejauhan Nyonya Sofia sudah menahan tawanya melihat Leo yang tampak seperti anak-anak dengan piyama motif kelinci itu.


"Ma, berhenti tertawa seperti itu." Ucap Leo dengan wajah sebal.


"Hahahaha." Akhirnya Nyonya Sofia melepas tawanya. "Mama tertawa karena kalian berdua terlihat kompak dan manis sekali. Waktu mama dan papa awal-awal nikah saja, tidak semanis kalian."


"Silahkan duduk, Ma, Pa." Shasa mempersilahkan keduanya untuk duduk di sofa.


Saat Komisaris Gusta berjalan melewati Leo, dia mengatakan sesuatu pada Leo.


"Leo, untung saja kau hanya mengenakan piyama ini di rumah. Kalau sampai dia memintamu memakai piyama ke kantor atau keluar rumah, fotomu pasti akan terpampang dan tersebar di majalah-majalah seluruh dunia, hahahaha." Komisaris Gusta masih saja sempat meledek Leo di saat seperti itu. Leo semakin malu mengenakan piyamanya.


"Sayang, senyumlah, jangan cemberut seperti itu, nanti wajah manismu hilang." Shasa menambah garam di atas luka. Leo makin merasa tidak percaya diri.


Tamu selanjutnya adalah asisten Haris. Dia mengenakan piyama hitam. Saat memasuki ruang tempat pesta, dia terperangah dengan dekorasi yang super niat itu. Asisten Haris mendecak beberapa kali betapa Shasa benar-benar serius mengadakan pesta piyama ini.


"Asisten Haris, selamat datang!" Shasa menyambut asisten Haris dengan ramah. "Kau datang sendiri? Tidak membawa pasangan?"


"Anda sedang menyindirku, Nyonya?" Asisten Haris menyeringai.


"Hahahaha... Tentu saja tidak. Berdoalah kau akan menemukan jodohmu malam ini."


'Hahaha... Anda pikir mencari jodoh itu seperti mencari kacang?' batin asisten Haris.


"Astaga!" Asisten Haris terlonjak kaget melihat penampilan Leo.


"Kau mau ku pecat?!" Leo mengancamnya.


"Tidak, Tuan. Aku hanya merasa beruntung bisa melihat sisi lain anda malam ini." Asisten Haris langsung melarikan diri dengan mengambil sebuah kursi yang disediakan.


*****


"Aaahhh... Kenapa dia membelikanku banyak piyama seperti ini sih? Aku jadi bingung mau pakai yang mana. Apa dia sengaja mengerjaiku?" Lita berpikir curiga terhadap Niko.


Niko membelikannya lima buah pasang piyama berbagai warna dan model. Pilihan ini membuat Lita sulit sekali menentukan akan memakai piyama yang mana. Entah kenapa, Lita menjadi sedikit ingin tampil cantik malam ini. Padahal, biasanya Lita cenderung mudah dalam menentukan tampilannya karena dia hanya ingin tampak sederhana dan apa adanya.


Seseorang mengetuk pintu kamar Lita. Dengan cepat, Lita mengenakan salah satu piyama yang menurutnya memiliki warna yang lebih tenang daripada warna lainnya. Dia kemudian berjalan ke pintu dan membukanya.

__ADS_1


"Kenapa kau lama sekali?" Niko menggantung di depan pintu kamar Lita.


"Kenapa menungguku? Kau pergi saja duluan." Jawab Lita.


"Aku tidak yakin apakah piyama ini cocok untukku." Niko ragu.


"Kau menghina seleraku? Jelas-jelas, tadi kau membiarkanku yang memilihnya." Lita mendengus.


"Cepatlah. Ayo masuk bersama." Ucap Niko dingin dan sedikit mendesak.


"Ish... Sebentar." Lita kembali masuk ke kamarnya dan memeriksa


penampilannya sekali lagi. Kemudian, dia pun keluar kamar dan menghampiri Niko.


Keduanya berjalan bersama memasuki paviliun Leo dan Shasa. Meskipun kedua berjalan bersama, tidak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Masing-masing fokus dalam pikirannya yang entah kemana.


Shasa terlihat senang melihat Niko dan Lita yang datang bersamaan. Dia merasa sedikit demi sedikit, rencananya mulai berhasil.


"Hai, Niko! Hai, Lita! Kalian kompak sekali." Sambut Shasa pada keduanya. "Wah... Niko tampak lebih seperti manusia normal jika santai begini." Shasa menggoda Niko. Lita hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"Lita, bajumu cantik sekali." Shasa memuji piyama Lita.


Shasa menyadari ada sebuah senyum puas di wajah Niko, membuat Shasa bertanya-tanya ada apa dengan piyama Lita. Tapi, terlalu banyak ingin tahu, justru akan merusak suasana pendekatan mereka. Biarkan saja. Biarkan mereka mengulangi kembali kebersamaan mereka yang pernah terjalin dulu.


*****


Rangkaian acara pesta piyama telah dimulai. Pembawa acara spesial didatangkan oleh Shasa malam ini. Semua orang terkejut melihat dokter Sam datang sebagai pembawa acara. Tentu saja, dia juga mengenakan piyama. Semua orang bersorak memberi tepuk tangan pada dokter Sam.


"Sayang, bagaimana bisa kau membuat dokter bodoh itu sebagai pembawa acara sih? Dia tidak memiliki bakat sebagai pembawa acara, kau tahu." Leo berbisik pada Shasa di sampingnya.


"Hei... Kalau begitu apa kau mau menjadi pembawa acaranya? Aku rasa kau lebih tidak berbakat darinya." Balas Shasa. Leo pun hanya menyeringai mendengar ucapan Shasa.


"Selamat malam, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya. Malam ini, saya berbangga hati bisa hadir di sini, bukan karena Nyonya muda rumah ini menunjukku sebagai pembawa acara, tetapi karena aku bisa melihat pemandangan luar biasa kali ini. Terutama, karena Tuan-Tuan berkerah putih, yang punya posisi luar biasa di perusahaan, nampak semakin elegan dengan piyama manis kalian." Terdengar sekali dokter Sam sedang menyindir para lelaki yang ada di sana.


Otomatis, para lelaki itu terlihat malas menanggapi dokter Sam. Berbeda dengan Shasa yang terlihat bahagia sekali, merasa terhibur.


"Sebagai acara pembuka, akan ada penampilan spektakuler dari pemilik acara hari ini. Nyonya Shasa, silahkan."


Dengan percaya diri Shasa maju ke atas pentas. Beberapa pelayan juga memasuki pentas itu. Kemudian, suara musik mulai terdengar. Baru saja, mereka ingin melakukan sesuatu dengan musik itu, tiba-tiba seseorang menghentikannya.


"Tunggu tunggu." Leo berdiri dari duduknya. Musik pun dihentikan. "Sayang, apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Leo heran.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Sayang, lihat saja dulu." Shasa kesal.


"Kau tidak lihat perut besarmu itu?" Leo khawatir Shasa akan melakukan aktivitas yang membahayakan kandungannya.


"Tuan Leo, mohon nikmati saja acara hari ini. Silahkan duduk dengan manis ya." Dokter Sam melerai keduanya. Dia bertindak sebagai pembawa acara malam ini, artinya seluruh jalannya pesta piyama akan ada di tangannya.


Leo pun duduk kembali. Namun, wajahnya masih terlihat cemas.


Musik pun dilanjutkan. Shasa menampilkan sebuah musikal singkat bersama pelayan-pelayannya. Dia menari dan menyanyi dengan riang, seolah sedang tidak hamil. Beberapa kali, Leo terlihat menggeleng-geleng menyaksikan Shasa bergerak ke sana-sini dengan bebas. Dia takut isi perut besarnya itu tiba-tiba jatuh. Penampilan Shasa di akhiri dengan semua latar pentas bertuliskan: Selamat Ulang Tahun, Leo!. Membuat semua orang di ruangan itu bertepuk tangan meriah. Sebuah kue yang cukup tinggi pun di bawa oleh para koki ke tengah-tengah pentas. Diiringi dengan lagu ulang tahun, Leo meniup lilin kembali dan memotong kuenya. Kali ini, benar-benar menjadi ulang tahun paling berkesan bagi Leo.


Saat ingin menuruni pentas, Leo memegang tangan Shasa dan menuntunnya dengan hati-hati. Dokter Sam tersenyum geli melihat teman sekaligus bosnya ini, melindungi Shasa layaknya sebuah guci yang mudah pecah.


"Kalau Shasa sampai kenapa-kenapa, mati saja kau!" Ancam Leo saat berpapasan dengan dokter Sam yang tidak henti tertawa geli sejak tadi. Shasa heran mengapa kedua orang sahabat ini seperti tak pernah akur.


Selanjutnya, Nyonya Sofia melakukan sebuah pagelaran busana, dimana pelayan-pelayannya dijadikan model berbagai jenis pakaian tidur. Semua orang terkesima dengan baju tidur rancangan Nyonya Sofia yang sederhana namun tampak berkelas. Shasa tak henti bertepuk tangan mengagumi karya Nyonya Sofia sekaligus memberi semangat pada pelayan-pelayan yang menjadi model amatir malam ini.


Mengejutkan, Komisaris Gusta ternyata menyiapkan sebuah buket bunga cantik, yang dipersembahkan untuk Nyonya Sofia sebagai desainer dari pagelaran busana ini. Nyonya Sofia tersipu malu menerima bunga dari suaminya.


'Sudah lama sekali Tuan Gusta tidak terang-terangan begini menunjukkan perhatiannya pada Nyonya.' batin Niko sambil tersenyum tipis. Sudah sejak lama, Komisaris Gusta cenderung melakukan sesuatu yang tidak kasat mata untuk menunjukkan kasih sayangnya pada istri ataupun anaknya. Tapi hari ini, Niko melihat ungkapan berbeda dari Komisaris Gusta.


"Selamat malam semuanya." Komisaris Gusta menyapa semua orang di ruangan itu. "Aku akan memberitahu sesuatu. Hari ini, aku telah membeli sejumlah saham yang akan aku hadiahkan untuk menantuku satu-satunya."


Semua orang terperangah dan sedikit berbisik-bisik dengan orang di samping mereka.


"Shafira, aku sudah mengurus kepemilikan sahammu atas sebuah perusahaan yang baru saja masuk dalam naungan XY Group. Semoga kau suka." Ucap Komisaris Gusta dengan senyum di akhir kalimatnya.


Shasa tersenyum senang. "Terima kasih, Pa. Meskipun aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan hadiah darimu, tapi nanti aku akan belajar."


"Oke, Tuan Gusta, apa yang akan anda tampilkan untuk pentasnya?" Tanya dokter Sam.


"Baru saja aku menampilkan bakatku." Jawab Komisaris Gusta dengan tenang.


Dokter Sam terlihat bingung. "Maksud anda yang mana?"


"Bakatku adalah berinvestasi saham. Aku sudah membuat keputusan besar hari ini, aku sudah menampilkan bakatku di hadapan kalian semua."


Wajah dokter Sam langsung terlihat datar. Dia tersenyum menyeringai mendengar jawaban Komisaris Gusta.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2