
Nyonya Sofia memanggil seorang ahli rangkai bunga ke rumah untuk mengajari Shasa cara merangkai bunga. Niatan awalnya adalah agar Shasa bisa mengisi waktu luangnya dengan hal yang menyenangkan. Lita menemani Shasa belajar merangkai bunga. Begitu banyak jenis bunga yang ada di hadapannya. Shasa diajari cara menata bunga, memilih kombinasi warna, sekaligus mengenal berbagai macam bunga. Bunga yang paling disukai Shasa adalah bunga tulip. Warnanya yang bermacam-macam dan indah bisa menghidupkan seisi ruangan kata Shasa.
Selama Shasa berada di rumah, Leo selalu mengirimkan pesan pada Shasa yang berisi apa-apa saja yang dikerjakannya. Begitupun dengan Shasa. Dia bahkan mengirim gambar sebuah vas bunga yang dia tata sendiri bunga-bunganya.
"Nyonya, kenapa kau sibuk sekali dengan ponselmu dari tadi?" Tanya Lita yang penasaran sambil tersenyum tipis.
"Aku mengirimkan gambar rangkaian bunga pertamaku pada Leo." Shasa menunjukkan gambar di ponselnya. "Aku akan membuatkan satu lagi untuknya. Lita, bisakah kau membantuku mengantar bunga ini? Ah, tidak. Apa aku boleh pergi ke kantornya?" Tanya Shasa antusias.
Lita menyeringai. 'Dua orang ini seperti remaja yang jatuh cinta, tapi terikat dalam sebuah pernikahan.' batin Lita sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa Presdir tidak sedang di kantor beberapa hari ini. Jika Nyonya ingin mengirimkan bunga padanya, saya akan menitipkannya lewat Haris."
"Memangnya dia ke mana?" Shasa malah tambah bertanya.
"Presdir mengurus pekerjaan di kantor anak perusahaan."
"Ah... Begitu. Baiklah, kalau begitu nanti saja aku buatkan untuknya, karena aku ingin mengirimkan langsung padanya."
Sulitnya tugas Lita adalah mengendalikan Shasa yang terlalu bebas dan mandiri. Shasa merasa bisa melakukan semuanya sendiri dengan caranya sendiri. Satu langkah kaki Shasa ke luar rumah, sudah seperti memancing bahaya, begitu prinsip Niko. Komisaris Gusta sangat menjaga keluarganya. Meskipun Keluarga Gusta termasuk keluarga yang disegani orang, tetapi tidak menutup kemungkinan akan ada pihak-pihak yang tidak menyukainya. Ditambah lagi, Komisaris Gusta tidak ingin keluarganya menjadi bahan berita publik. Dia selalu berusaha menjaga privasi keluarganya. Komisaris Gusta yang protektif, itulah yang membuat orang di belakangnya, Niko, menjadi sangat gila dalam menjaga semua hal agar tetap sesuai yang diinginkan Komisaris Gusta.
*****
Jam makan malam telah usai. Meskipun Shasa menyantap makan malamnya bersama Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia, dia sudah mulai merindukan makan malam bersama Leo.
'Tidak. Aku tidak boleh begini. Aku harus memahami kalau posisi Leo sangatlah penting. Dia tidak boleh meninggal pekerjaannya hanya gara-gara aku.' Shasa bergumam dalam hati.
"Shasa." Nyonya Sofia memecah lamunan Shasa yang sedang duduk sofa ruang tengah. Televisi menyala, tetapi orang yang menontonnya justru melamun entah kemana.
"Iya, Ma." Shasa tersenyum.
"Kau memikirkan apa?" Tanya Nyonya Sofia sambil mendekat ke arah Shasa.
__ADS_1
"Tidak memikirkan apa-apa, Ma."
"Ish... Jangan berbohong pada Mama."
"Aku sedikit merindukan Leo. Mungkin karena aku di rumah saja tanpa kegiatan, aku jadi cepat merindukannya." Malu-malu Shasa mengatakannya.
"Tapi kalian tetap komunikasi kan?"
Shasa mengangguk-angguk.
"Sha, dulu mama juga merasakan apa yang kamu rasakan dulu. Yang biasanya sibuk bekerja, bertemu orang, bertemu teman-teman, mama hanya bisa di rumah saja. Tapi kemudian, mama mencari kesibukan lain. Salah satunya merangkai bunga. Kau ingat kartu yang diberikan Gusta kan? Kau bisa memakainya sepuasmu. Main golf, berkuda, belanja, yang penting kau punya kegiatan."
"Aku tidak biasa melakukan itu, Ma. Sepertinya aku hanya akan merepotkan banyak orang kalau berpergian ke mana-mana. Terakhir aku ke rumah baca saja, banyak sekali pengawal yang mengikutiku."
"Kalau kau pergi ke tempat umum seperti itu, sudah pasti akan banyak pengawal yang menjagamu. Tapi, kalau kau pergi ke tempat-tempat eksklusif, yang tidak terlalu banyak orang, yang punya ruangan-ruangan privat, tidak akan banyak yang mengikutimu. Atau, kau bisa juga membuat kegiatan-kegiatan di yayasan bersama para pengurus-pengurusnya. Kadang mereka juga suka membuat acara kumpul-kumpul hanya untuk sekedar mengobrol atau sejenisnya."
"Kalau mengobrol dengan para pengurus yayasan, aku merasa sedang mengobrol lintas generasi, kadang suka tidak nyambung, Ma." Shasa tertawa kecil.
"Iya juga. Kalau begitu kamu ikut mama saja ke butik sekali-kali. Kau bisa melihat pegawai-pegawai mama bekerja. Bagaimana?"
"Sha, lakukan yang kamu suka, jangan jadikan beban. Leo pasti juga merindukanmu. Pasangan yang baru menikah memang seperti itu. Nanti lama-lama juga terbiasa." Nyonya Sofia tertawa menggoda Shasa yang masih tergolong pengantin baru itu.
*****
Leo telah sampai di rumah. Dia langsung masuk ke dalam dan menuju ke kamarnya. Ketika Leo masuk ke dalam kamar, dia kaget melihat Shasa yang sedang tertawa terbahak-bahak menonton sebuah acara televisi.
"Sayang?" Sapa Leo pada Shasa. Seketika tawa Shasa berhenti. Dia berlari ke arah Leo dan langsung memeluknya.
Shasa tersenyum senang melihat Leo sudah pulang.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Leo, belum melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Jam tidurku masih beberapa menit lagi."
"Aku punya hadiah untukmu."
Sontak Shasa melepaskan pelukannya dari Leo dan menatapnya. "Hadiah?" Shasa bertanya kesenangan.
"Sini ikut aku." Leo menggandeng tangan Shasa dan membawanya ke luar kamar. Mereka berjalan menuju taman belakang.
"Sayang, taman belakang sedang direnovasi." Shasa mencoba memberitahu Leo.
"Renovasinya sudah selesai." Leo membantah informasi Shasa.
'Hah? Dari mana dia tahu?' Shasa berpikir dalam hati.
Mereka sudah sampai di taman belakang. Betapa terkejutnya Shasa melihat renovasi apa yang dilakukan di taman belakang. Sebuah area bermain untuk anak-anak seperti yang Shasa lihat sewaktu berlibur ke luar negeri. Di antaranya ada perosotan, jungkat-jungkit, dan tentu saja ada sebuah ayunan di sana.
"Wah..." Shasa bertepuk tangan kesenangan.
"Kau bisa bermain sepuasnya di sini."
"Sayang, kau bilang hanya akan membuatkan ayunan, tetapi ini lengkap sekali, seperti berada di taman bermain. Ah, tunggu. Ini kan tempat kesukaan papa. Apa dia tidak marah kau ubah begini tamannya?"
"Justru papa yang mengaturnya untukmu."
"Wah..." Shasa memeluk Leo kesenangan. "Terima kasih, sayang! Aku akan mengatakannya juga pada papa besok."
"Karena sudah malam, ayo kita masuk ke kamar lagi. Besok saja bermainnya. Lebih baik kau bermain denganku di kamar." Leo menggoda Shasa dengan kata-katanya.
Shasa tersenyum lebar. Karena dia merindukan Leo, maka dia tidak keberatan bermain-main dengannya malam ini. "Ayo kita bermain sampai puas!"
Leo langsung menggendong Shasa ke kamar. Sudah bisa ditebak kan, apa yang akan dilakukan Leo dan Shasa selanjutnya? Hahahaha... Malam panjang yang keduanya pun tak ingin pagi segera datang.
__ADS_1
*****
bersambung...