Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Bayi Pertama


__ADS_3

Secepat kilat, rumah sakit membuka jalur VIP untuk Shasa. Kini dia masih meringis kesakitan, merasakan hebatnya kontraksi di atas ranjang rumah sakit yang sedang di dorong beberapa perawat itu. Wajah panik Leo tak memudar sedikit pun. Shasa dibawa ke sebuah ruang pemeriksaan khusus. Dokter Sam sudah tiba di rumah sakit dan bergabung dengan ahli kandungan Shasa yang masih memeriksa kondisi Shasa dengan teliti. Ahli kandungan itu terlihat berbicara pada dokter Sam dengan serius. Begitu pun dokter Sam yang menanggapinya dengan wajah serius.


“Leo, bisa bicara sebentar?” dokter Sam menghampiri Leo yang tidak melepaskan posisinya di samping Shasa. Lalu, dokter Sam membawa Leo ke luar ruangan. Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia kompak bangun dari duduknya dan bergabung dengan Leo dan dokter Sam.


“Leo, cairan amnion atau air ketuban Nyonya Shasa terus merembes. Tapi, ada sedikit gangguan pada jalan lahir sang bayi. Secepatnya, kita harus mengambil tindakan operasi.” Dokter Sam menjelaskan dengan tenang.


“Kau gila, Sam?! Shasa sudah kesakitan seperti itu dan kau ingin menambah penderitaannya?!” Leo sudah gusar.


“Leo, justru tindakan operasi akan mempercepat kita untuk menghilangkan kontraksi hebatnya. Ini adalah solusi terakhir. Kita tidak bisa menunggu lagi dan memaksakan Nyonya Shasa untuk melahirkan secara normal.” Dokter Sam menjelaskan lagi.


Leo tidak mengerti perihal persalinan. Otak pintarnya tertutup karena gusar mengkhawatirkan Shasa.


“Leo, kita harus cepat. Kalau tidak, ini bisa membahayakan bayinya.”


“Leo, melahirkan dengan jalan operasi bukanlah hal yang aneh. Kau tidak perlu khawatir.” Nyonya Sofia ikut menenangkan.


Leo menatap dokter Sam dengan serius. Napasnya terengah-engah. “Sam, aku percayakan nyawa istriku padamu. Pastikan dia tetap hidup untukku.” Pinta Leo pada dokter Sam. Dokter Sam mengangguk dengan yakin.


Ketika dokter Sam akan kembali ke dalam ruang pemeriksaan, Komisaris Gusta menghentikan langkahnya.


"Sam, kau pasti tahu, Shasa membawa pewarisku di dalam tubuhnya. Pastikan setiap tindakan yang kau ambil, tidak membahayakannya setitik pun." pinta Komisaris Gusta. Dokter Sam bisa merasakan betapa berharganya Shasa di mata Komisaris Gusta. Dokter Sam mengganggukkan kepalanya untuk menyatakan kalau dia mengerti.


Secepatnya para dokter menyiapkan ruang operasi untuk Shasa. Ahli anestesi baru saja membius Shasa hingga dia berbaring setengah sadar. Rasa sakitnya sudah berkurang setelah obat bius mengalir di darahnya. Leo menghampiri Shasa sebelum masuk ke dalam ruang operasi.


“Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu sedetik pun. Kembalilah padaku seperti sedia kala.” Leo menggenggam tangan Shasa erat.


Shasa yang hampir tidak berdaya, masih bisa tersenyum dan mengangguk pada Leo. Tak lama, perawat membawa Shasa masuk ke dalam ruang operasi. Leo, Komisaris Gusta, dan Nyonya Sofia menyaksikan operasi Shasa melalui sebuah ruangan yang dibatasi kaca. Ketiganya bisa melihat tindakan yang dilalukan dokter pada Shasa.


Jantung Leo berdegup kencang. Hatinya masih begitu panik terbayang wajah kesakitan Shasa.

__ADS_1


Komisaris Gusta menepuk punda Leo. “Leo, tenanglah. Menantuku adalah wanita yang kuat. Dia akan melewatinya tanpa masalah sedikit pun.”


Leo sontak menoleh ke arah Komisaris Gusta. Wajahnya perlahan tenang. Malam itu, menjadi malam yang tak biasa, bukan hanya untuk Leo dan Shasa, tetapi untuk semua orang di Keluarga Gusta. Begitu pun dengan suasana rumah sakit yang sudah dikelilingi banyak pengawal. Niko mempersiapkan semuanya dengan mulus untuk menyambut anggota baru Keluarga Gusta.


*****


“Lita, kau bercanda menyuruhku membawa seorang ibu di tengah malam begini?” asisten Haris masih berada di mobil menuju rumah sakit. Dia begitu terkejut ketika Lita memintanya untuk menjemput Ibu Shasa.


“Presdir Leo yang menyuruhku. Kalau kau tidak mau dipindahkan ke antartika, lakukan saja.” Jawab Lita.


“Astaga, Lita. Baiklah, akan aku usahakan. Bagaimana kondisi Nyonya Shasa?” tanya asisten Haris.


“Nyonya sudah dibawa ke ruang operasi.”


“Bernarkah? Apa akhirnya Tuan Leo membiarkannya? Berkali-kali Tuan Leo mengatakan padaku tidak akan membiarkan lelaki mana pun melihat dan menyentuh tubuh istrinya. Apa semua dokter yang menanganinya perempuan?” tanya asisten Haris penasaran.


“Sepertinya Presdir Leo melupakan semuanya karena terlalu mengkhawatirkan Nyonya. Ada beberapa dokter laki-laki, tetapi semua perawatnya perempuan.”


Lita menghampiri Niko yang berjaga di luar ruangan operasi. “Wajahmu kenapa?” Lita bertanya pada Niko karena melihat wajahnya seidkit gugup.


“Apa selalu menegangkan seperti ini menunggu persalinan seseorang?” Tanya Niko.


“Persalinan itu adalah perjuangan antara hidup dan mati. Wajar jika kita tegang dalam menghadapinya.” Sahut Lita sambil memandangi pintu ruangan operasi.


“Lita, kau masih belum menjawab pertanyaanku di taman tadi. Aku akan menunggunya.” Niko ikut memandangi pintu ruangan operasi bersama Lita.


*****


Suara tangisan bayi pecah di ruang operasi. Shasa yang semula sudah sangat mengantuk karena pengaruh obat bius, berusaha membuka mata untuk melihat bayinya. Seorang dokter anak dan beberapa perawat membersihkan bayi Shasa. Tangis bayi itu belum mereda.

__ADS_1


Seorang perawat mengantarkan bayi laki-laki Shasa yang dibalut dengan kain bayi. Perawat itu membawa dengan hati-hati.


“Nyonya, selamat, ini putra anda.” Perawat itu meletakkan sang bayi di atas pelukan Shasa.


“Anakku.” Seketika air mata Shasa mengalir. Kulitnya merasakan kulit halus sang bayi yang selama ini hanya bisa dia sapa melalui perut besarnya. Di detik itu juga, Shasa berusaha mendekap sang bayi dengan tangan lemasnya.


“Nyonya, selamat. Putramu sehat dan sempurna.” Ucap dokter Sam. “Akhirnya, aku memiliki keponakan yang tampan.”


Dari ruang tunggu oerasi, ketiga orang yang menyaksikan proses operasi Shasa, berbinar-binar matanya ketika melihat seorang bayi mungil di dekapan Shasa.


“Ma, itu anakku.” Dengan bangga, Leo mengatakannya pada Nyonya Sofia. Leo bahagia melihat pemandangan baru di matanya.


Tak lama, dokter Sam memanggil Leo. Di belakangnya, seorang perawat mendorong sebuah ranjang bayi.


“Leo, selamat, kau sudah menjadi ayah sekarang.” Ucap dokter Sam sambil memperlihatkan anak pertama Leo.


Leo memandangi wajah anaknya yang masih begitu merah dan mungil. Kepuasan yang tidak bisa diungkapkan, terpancar dari wajah Leo. Begitu pula dengan Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia yang turut mengelilingi ranjang bayi itu.


“Leo, anakmu sangat tampan. Mata dan hidungnya sama sepertimu. Bibirnya sama seperti Shasa. Perpaduan yang sempurrna.” Nyonya Sofia belum puas memandangi wajah cucu pertamanya.


“Dia akan hebat sepertimu, Leo.” Komisaris Gusta bahagia tak terkira. Akhirnya, suara tangis bayi akan meramaikan rumah Keluarga Gusta.


“Sam, bagaimana dengan Shasa?” tanya Leo.


“Kondisinya baik. Sebentar lagi, Shasa akan dibawa ke ruang intermediasi sebelum dipindahkan le kamar rawat. Kemungkinan Shasa akan tertidur selama beberapa jam karena pengaruh anestesinya.” Jawab dokter Sam.


“Pastikan yang terbaik untuk Shasa. Jangan lewatkan satu hal pun dalam merawatnya.” Perintah Leo dengan lugas.


“Ya, ya. Tanpa kau suruh, aku juga sudah mengerti. Aku pikir setelah jadi ayah, kau akan sedikit santai, ternyata masih saja ya.” Gerutu dokter Sam. Namun, Leo tidak menggubris sedikit pun. Dia hanya memuaskan dirinya menatap putra pertamanya ini.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2