
Keesokan harinya, Nyonya Sofia mengajak Shasa mencoba olahraga golf dan berkuda. Ini adalah pengalaman pertama untuk Shasa. Karena itu, Shasa sangat antusias dan menikmati pengalaman barunya ini. Nyonya Sofia juga bisa melihat kepuasan di mata Shasa. Kelihatannya Shasa memang lebih tertarik dengan kegiatan di luar ruangan daripada kegiatan di dalam rumah.
"Sha, nanti kamu juga akan sering bermain ini. Para pengurus yayasan sering membuat rapat ataupun sekedar bertemu disini."
"Rapat?" Shasa bertanya heran.
"Iya, rapat. Kadang juga pertemuannya di cafe atau klub. Kau jangan membayangkan sebuah rapat perusahaan. Tentu saja jauh berbeda, hahahaha"
"Ma, memangnya yayasan perusahaan itu bekerjanya seperti apa? Aku beberapa kali mendengarnya, tapi aku tidak pernah tahu banyak tentang yayasan itu."
"Yayasan itu sebetulnya bentuk pengabdian sosial dari XY Group kepada masyarakat. Sejak dulu, yayasan pasti akan diurus oleh istri-istri pejabat tinggi XY Group. Kita melakukan kegiatan amal, kegiatan budaya, ataupun memberikan beasiswa pendidikan."
Shasa mengangguk-anggukan kepalanya. "Apakah kegiatan itu dilakukan setiap hari oleh yayasan? Lalu, apakah pengurus yayasan akan melakukan semua kegiatan itu secara langsung turun ke masyarakat?"
"Tidak setiap hari. Tapi sudah terjadwal dengan rapi. Asisten ketua pengurus yayasan, biasa mengkoordinasi jadwal itu."
"Asisten ketua pengurus yayasan, apakah itu maksudnya asisten mama?"
"Iya. Suatu hari nanti, itu mungkin asistenmu." Nyonya Sofia tersenyum. "Ah, kalau kau bertanya tentang kontribusi, tidak semua pengurus yayasan mau terlibat langsung dalam setiap acara yang diadakan yayasan. Hanya beberapa acara yang dianggap formal yang akan didatangi. Tapi mereka banyak berkontribusi untuk kebutuhan dana."
"Hemm..." Shasa mulai membayangkan tingkah laku para pengurus yayasan. Para istri pejabat tinggi yang mungkin saja terlihat seperti grup sosialita.
"Setelah pengumuman pertunanganmu, mama akan membawamu bertemu dengan pengurus inti yayasan."
Shasa tersenyum pada Nyonya Sofia mengiyakan kalimat terakhirnya.
*****
Matahari masih cukup tinggi. Shasa merasa ini adalah kegiatan pertama yang tidak membosankan, tetapi cepat sekali berlalu. Dia pikir, Nyonya Sofia akan membajak waktunya lagi seharian. Tapi sekarang mereka sudah berada di mobil dan menuju kembali ke rumah.
"Shasa, boleh mama bertanya?" Nyonya Sofia agak ragu-ragu, tapi dia beranikan diri bertanya.
"Iya, Ma. Tentu saja boleh." Shasa tersenyum.
__ADS_1
"Apa kau dan Leo sudah merencanakan untuk punya anak?"
Deg. Shasa bingung harus menjawab apa. Selama ini dia dan Leo memang tidur satu kamar, tapi selain Leo yang memeluknya sepanjang malam, belum pernah terjadi apa-apa selain itu. Dan sekarang anak? Aaaaa... Shasa tidak pernah membahas ini dengan Leo. Nyonya Sofia melihat kebingungan di mata Shasa. Dia mulai merasa perkataan dokter Sam sebelumnya memang benar.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu, Ma?" Shasa berusaha tetap tersenyum.
"Ah, tidak apa-apa. Barangkali ada yang bisa mama bantu untuk program kehamilanmu. Hahahaha... Kau tidak perlu terbebani. Mama hanya bertanya saja." Nyonya Sofia mencoba memecah kebingungan Shasa.
"Em... Aku rasa, aku perlu membicarakannya dengan Leo dulu, Ma."
"Ah, iya tentu saja. Itu adalah keputusan kalian." Tutup Nyonya Sofia dengan senyum lembut pada Shasa.
Pertanyaan Nyonya Sofia itu mengganggu pikiran Shasa sepanjang perjalanan. Apakah Leo memang menginginkan anak darinya? Bahkan Leo belum pernah sekalipun mengatakan bahwa dia mencintai Shasa dan sekarang sudah ditanya-tanya perihal buah cinta mereka.
*****
Mobil Nyonya Sofia telah sampai di pintu rumah utama. Kepala pelayan bersama beberapa pelayan lainnya, menyambut mereka di depan pintu. Nyonya Sofia dan Shasa melangkah masuk ke dalam rumah. Dari kejauhan, terlihat beberapa orang sedang duduk di ruang tengah.
"Ibu?" Shasa kaget melihat ibunya ada di rumah ini bersama Shabila dan Ibu Putri juga.
"Ibuuuu." Shasa sedikit berlari menghampiri ibunya meninggalkan Nyonya Sofia di belakang. Shasa memeluk ibunya dengan penuh rindu. "Bil..." Shasa memeluk adik tersayangnya. "Ibu Putri" begitupun Shasa memeluk Ibu Putri dengan hangat.
Nyonya Sofia tersenyum melihat adegan pertemuan Shasa dengan ketiga orang tersayangnya itu.
"Selamat datang, Ibu." Sambut Nyonya Sofia.
"Terima kasih, Nyonya. Terima kasih telah mengundang kami kesini."
"Mama yang mengundangnya?" Shasa bertanya pada Nyonya Sofia, terkejut.
"Iya." Jawab singkat Nyonya Sofia dengan penuh senyum. "Leo kan meminta untuk bertemu dulu dengan keluargamu, jadi mama mencari kontak ibu kamu. Tadinya, kami yang berencana pergi ke rumahmu. Tapi, setelah bicara, ibumu usul untuk datang kesini saja. Tentu dengan senang hati mama menyetujuinya."
"Terima kasih Ma, sudah mengijinkan ibuku kesini." Shasa terlihat begitu senang.
__ADS_1
"Sudah pada makan?" Nyonya Sofia bertanya.
"Sudah, Nyonya." Jawab Ibu Shasa.
"Silahkan beristirahat dulu. Sudah disiapkan kamar tamu untuk kalian. Kepala pelayan akan mengantar kesana."
Shasa bersama Ibu, Shabila, dan Ibu Putri beranjak ke kamar tamu yang ditunjukkan oleh kepala pelayan. Shasa, Ibu, dan Ibu Putri beristirahat sambil mengobrol. Sedangkan, Shabila malah asyik menikmati seisi kamar tamu yang mewah ini.
"Setelah menikah kamu langsung tinggal disini, Sha?" Tanya Ibu Putri.
"Tidak, Ibu Putri. Sebelumnya kami tinggal di apartemen Leo yang tidak jauh dari apartemenku. Setelah mamanya datang dari luar negeri dan meminta kami untuk tinggal disini, Leo setuju untuk pindah. Belum lama kok. Baru beberapa hari ini saja."
Tiba-tiba suara ponsel Ibu Putri berbunyi. Dia pun menjauh sebentar dan meninggalkan Shasa dan Ibu di kursi.
"Sha, Leo memperlakukanmu dengan baik kan?" Tanya Ibu.
"Leo baik kok, Bu. Dia juga sangat perhatian." Jawab Shasa sambil tersenyum.
"Ah, Ibu lega. Ibu tidak bisa memperhatikanmu setiap hari karena jarak yang begitu jauh. Tapi, sekarang sudah ada seseorang yang bisa Ibu percaya untuk menjagamu."
"Nanti malam Ibu menginap disini kan?"
"Em... Maaf Sha, sepertinya Ibu tidak bisa menginap. Shabila kan masih sekolah dan ini juga belum musim libur. Nanti kalau pas liburan, ibu sempatkan untuk kesini lagi."
"Padahal aku masih kangen sama ibu." Shasa terdengar sedih.
"Iya Sha, ibu juga masih kangen. Tapi yang penting kan ibu hadir di acara malam nanti."
"Acara apa bu?" Tanya Shasa bingung.
"Lho, memang kamu gak tahu?"
*****
__ADS_1
bersambung...