Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Anak


__ADS_3

"Halo, Ma."


"Hai, sayang. Duh, mama gangguin kamu gak nih?" Tanya Nyonya Sofia menggoda Leo.


"Hahahaha... Kenapa ma?" Tanya Leo, tetapi matanya tidak bisa terlepas dari Shasa yang sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias.


"Gak apa-apa. Mama cuma mau tanya bulan madu kalian, lancar-lancar saja kan?"


"Tentu saja, Ma."


Mama tersenyum girang mendengar jawaban mantap dari Leo.


"Sayang, berarti habis ini mama akan dapat cucu dong?" Nyonya Sofia bertanya sambil menahan kesal karena sejak tadi Komisaris Gusta yang di sampingnya tak henti mencubit Nyonya Sofia.


"Mama ingin berapa?" Leo bertanya menantang.


"Yang banyak ya. Jangan satu. Terlalu sepi." Jawab Nyonya Sofia menahan ketawa.


"Baiklah. Mama tunggu saja. Aku akan mengurusnya dengan Shasa." Leo pun menutup teleponnya. Dia beranjak dari sofa, mendekati Shasa di meja rias.


"Mama kenapa, sayang? Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Shasa.


"Biasa. Minta oleh-oleh." Jawab Leo dengan kedua tangannya di bahu Shasa, menatapnya dari cermin.


"Oh iya. Mama mau oleh-oleh apa? Kayaknya kita juga harus atur waktu pergi ke toko oleh-oleh. Aku juga ingin membelikan oleh-oleh untuk teman-temanku."


Leo menggelengkan kepala. "Oleh-oleh yang mama inginkan tidak sesederhana itu." Leo memutar badan Shasa, mengambil mesin pengering rambut dari tangan Shasa, mematikannya dan meletakkan mesin itu di meja rias.


Shasa menatap Leo yang kini bersimpuh di hadapannya.

__ADS_1


"Sayang, kamu ingin punya anak berapa?" Tanya Leo.


Shasa tersenyum mendengar pertanyaan Leo. Akhirnya Shasa bisa mendengar suaminya membahas perihal anak. Shasa tidak berani memulai membahas duluan karena dia pasti akan terlihat serakah. Sudah memiliki suami sempurna seperti Leo dan sekarang mengharapkan dapat anak darinya.


"Sayang, jadilah ibu dari anak-anakku." Pinta Leo seraya memandangi wajah Shasa.


"Kau ingin memiliki berapa anak?" Tanya Shasa dengan senyum yang tak henti tersungging di wajahnya.


"Lebih dari satu. Empat? Enam? Pokoknya jangan satu. Kalau hanya punya satu, dia akan sama repotnya denganku." Jawab Leo.


"Hahahaha... Kita harus berusaha keras kalau begitu." Sahut Shasa.


Hati Shasa kini yakin bahwa Leo memang menginginkan anak darinya. Entah kenapa setelah keluar kata-kata itu darinya, Shasa merasa sangat lega. Padahal harusnya Shasa sudah menyadari betapa Leo mencintainya dari awal pernikahan mereka.


Memiliki anak pasti merupakan impian semua pasangan di dunia ini. Tapi Shasa ingin dirinya yakin dulu kalau anak itu memang benar-benar diinginkan sehingga anak itu bisa mendapat kasih sayang dan cinta yang utuh dari orang tuanya.


*****


Setelah Shasa dua kali mendengar perihal keturunan dari Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta, bahasan tentang buah cintanya dengan Leo terus berputar-putar dalam otaknya.


Shasa teringat kisah masa kecilnya. Saat itu, Shasa kecil menangis tersedu-sedu karena merindukan orang tua kandungnya. Ibu Putri yang waktu itu mengurus Shasa di panti asuhan, memeluk Shasa kecil dengan erat.


"Ibu Putri, kenapa orang tuaku meninggalkanku sendirian? Aku tidak bisa mengingat wajah mereka. Ibu Putri, apakah orang tuaku tidak menyayangiku?" Shasa tak bisa berhenti menangis.


Ibu Putri hanya membelainya halus, menenangkan Shasa yang terisak dalam tangisnya.


"Jangan menangis, Shasa. Ada Ibu Putri disini yang menyayangimu."


Semakin waktu berlalu, semakin Shasa memahami. Shasa ditinggalkan orang tuanya entah karena alasan apa. Shasa merasa terlahir dari orang tua yang tidak menyayanginya sehingga sejak lahir Shasa ditinggalkan. Jika alasannya karena kesulitan ekonomi, harusnya orang tua Shasa tidak menyerah pada keadaan. Biar bagaimanapun, Shasa ini adalah anak mereka. Oleh karena itu Shasa selalu menyimpulkan bahwa orang tua kandungnya tidak pernah mencintai Shasa sejak dia lahir.

__ADS_1


Ketika saat-saat Shasa selalu dihadapkan dengan permintaan mertuanya untuk segera memiliki anak, Shasa hanya ingin anaknya nanti adalah anak yang diinginkan olehnya dan juga suaminya. Dia tidak ingin anaknya menderita seperti waktu dia kecil yang tidak pernah dicintai kedua orang tuanya. Shasa memikirkan itu dengan hati-hati. Dia memang mendapatkan cinta Leo, tapi Shasa tidak pernah tahu apakah Leo memang menginginkan anak darinya.


*****


"Gusta, Kenapa kau mencubitku terus?" Nyonya Sofia kesal karena Komisaris Gusta beberapa kali mencubitnya saat menelepon Leo.


"Kan sudah ku katakan untuk tidak membahas perihal anak. Kau bilang hanya ingin menanyakan kabar mereka." Protes Komisaris Gusta.


"Buat apa aku menutupi apa yang ingin aku katakan? Leo pasti mengerti maksudku. Apa kau tidak ingin punya cucu?" Balas Nyonya Sofia.


"Tentu saja aku ingin, Sofia. Tapi kalau terus-terusan mendesak mereka soal anak, yang ada mereka tidak akan fokus membuatnya."


"Baiklah baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Aku akan langsung meminta Sam menjalankan program kehamilan untuk Shasa."


Komisaris Gusta mendengus. "Kalau Leo tahu, dia pasti marah padamu. Kau melakukan sesuatu tanpa persetujuannya."


"Kalau untuk kebaikan dia, pasti tidak akan marah."


Komisaris Gusta mengacuhkan pandangannya dari Nyonya Sofia. Tidak peduli apa yang ingin dilakukan istrinya itu.


"Aku ingin segera menyiapkan kamar bayi di rumah ini. Aku akan membuat beberapa pakaian juga nanti. Aku jadi tidak sabar." Nyonya Sofia sudah dengan antusias membayangkan cucunya nanti.


"Hahaha... Hanya itu yang kau siapkan untuk cucumu? Aku bahkan sudah mempersiapkan perusahaan untuk mereka. Aku akan minta Niko merenovasi rumah baru untuk cucu-cucuku."


Nyonya Sofia mendecak sambil menggelengkan kepalanya. "Hadiahmu itu tidak ada seninya sama sekali. Pikirkanlah sesuatu yang kau buat dengan tanganmu sendiri. Cucumu pasti tidak akan melupakan itu sepanjang hidupnya."


Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia masih saja berdebat soal cucunya. Masing-masing saling berlomba menjadi kakek dan nenek yang terbaik. Andai saja Shasa tahu bahwa mertuanya ini sudah sangat menunggu-nunggu kehadiran tangisan bayi di rumahnya.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2