Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Persiapan


__ADS_3

Dokter Sam memeriksa kaki Shasa dengan teliti. Dia mencoba menggerakkan kaki Shasa secara perlahan ke beberapa arah. Akhirnya dokter Sam memperbolehkan utnuk membuka perban di kaki Shasa. Dengan sigap perawat wanita yang mengikuti dokter Sam, membuka lilitan perban di kaki Shasa. Perawat itu juga membantu Shasa untuk berdiri dan mencoba berjalan beberapa langkah.


"Nah, lihat kan! Kakiku sudah sembuh." Shasa terlihat begitu senang.


"Nona, meskipun begitu, aku tidak menyarankanmu untuk beraktivitas berat seperti olahraga, lari, lompat-lompat, dan sejenisnya. Aku akan memberikan obat oles untuk beberapa hari ke depan. Setelah itu, aku akan melakukan pemeriksaan akhir." Jelas dokter Sam.


'Ahhh... Kenapa prosedur dia ribet sekali?! Tapi ya, sudahlah, yang penting kakiku tidak perlu di perban lagi, jadi besok aku bisa pergi ke kantor.' batin Shasa.


"Jangan kau harap bisa masuk kantor besok." Duarrr... Larangan dari Leo ini seperti meluluh lantakkan semua harapan Shasa tadi.


"Kenapa? Aku sudah bisa berjalan kok." Shasa protes.


"Kau tidak dengar tadi? Sam bilang kau tidak boleh beraktivitas berat dulu."


"Tapi kan aku tidak melakukan olahraga di kantor. Aku hanya duduk."


"Tuan dan Nona, bolehkah aku undur diri? Aku sudah tidak tahan melihat kalian berdua seperti ini." Dokter Sam melerai Leo dan Shasa dengan kata-katanya. Dia pun pamit pulang bersama perawat khusus itu.


Di kamar, hanya tersisa Shasa yang duduk di pinggir kasur dan Leo yang masih mematung di dekat pintu menghadap ke Shasa. Leo berjalan mendekati Shasa. Dia mengangkat tubuh Shasa yang sedang duduk dan meletakkannya di kasur, bersandar di posisinya. Leo kemudian naik ke kasur juga dan mengambil posisi di sebelah Shasa, ikut bersandar.


"Besok, aku akan membawamu bertemu papa dan mamaku. Kau tidak perlu berangkat ke kantor. Haris akan mengatakan pada tim-mu kalau kau butuh istirahat agar kakimu pulih." Leo menoleh ke arah Shasa dan menatapnya. "Sebetulnya, aku juga ingin menunggu sampai kakimu pulih total, tetapi mamaku sudah tiba hari ini dan meminta bertemu besok."


Shasa tiba-tiba jadi gugup. Dia belum siap bertemu kedua orang tua Leo. Dia memang pernah bertemu dengan Komisaris Gusta. Tetapi pertemuan ini berbeda tujuannya sehingga Shasa merasa perlu mempersiapkan diri dulu untuk bertemu mereka.


Leo melihat kecemasan di mata Shasa. "Kau tidak perlu takut. Ada aku di sampingmu." Leo mencoba menenangkan.


"Ah... Iya, aku tidak takut." Batin Shasa meronta-ronta ingin bilang kalau dia bukan takut, tetapi dia tidak siap. "Tapi aku rasa, aku bahkan belum menyiapkan baju, hadiah, atau apapun untuk bertemu orang tuamu." Shasa mencari alasan.

__ADS_1


"Aku sudah meminta Lita menyiapkan semuanya untukmu. Kau tidak perlu repot-repot mengaturnya."


'Apa? Tuh kan, lagi-lagi dia memutuskan sesuatu tanpa berdiskusi denganku.' batin Shasa sedikit kesal.


"Em... Baiklah." Shasa hanya bisa pasrah. "Leo, bisakah kedepannya jika kau ingin memutuskan sesuatu yang berhubungan denganku, ajak aku dulu untuk mendiskusikannya. Pasangan tidak mengambil keputusan sendiri untuk pasangannya. Mereka berdiskusi. Seperti itulah pasangan yang baik." Shasa berusaha se-sopan mungkin mengingatkan Leo.


Leo menghela napasnya. Dia memeluk Shasa ke dalam dekapannya. "Aku ingin memberitahumu. Tetapi sepertinya aku sibuk mencemaskanmu sampai-sampai aku lupa menceritakannya. Besok-besok, akan kupastikan untuk memberitahumu lebih dulu ."


*****


Pagi-pagi, Lita sudah sampai di apartemen Leo. Dia membawa beberapa gantung baju dan perlengkapan lainnya dalam sebuah koper.


"Selamat pagi, Tuan dan Nona." Lita memberi hormat pada keduanya.


"Hai, Lita. Kau sudah sarapan?" Tanya Shasa yang baru saja selesai sarapan dan masih duduk di meja makan.


"Sudah, Nona." Lita menjawab sopan.


"Tidak, Tuan. Saya harus mampir mengambil sesuatu, jadi saya membawa mobil sendiri."


"Ah, begitu. Nanti kau ikut di mobilku." Leo memberi perintah sambil bangun dari kursinya. Dia mengecup kening Shasa. "Kamu bersiaplah bersama Lita." Kemudian Leo meninggalkan Shasa sendirian di meja makan dan Lita yang masih berdiri tak jauh dari situ.


Shasa pun beranjak masuk ke kamarnya bersama Lita. Saat Shasa mandi, Lita merapikan baju, sepatu, tas, hingga aksesoris yang nanti akan dipakai Shasa.


Setelah Shasa keluar dari kamar mandi, Lita segera membantu Shasa memakai riasan dan menata rambutnya.


"Lita, apa kau pernah bertemu Keluarga Gusta?" Tanya Shasa penasaran.

__ADS_1


"Pernah Nona."


"Mereka orang yang seperti apa?"


"Anda akan mengetahuinya setelah nanti bertemu, Nona."


"Hei, kau ini tidak asyik sekali!" Protes Shasa. Dia menoleh ke baju yang telah dipersiapkan Lita. "Kalau ingin bertemu mereka, apakah harus selalu mengenakan pakaian formal?" Sebuah gaun formal berwarna biru langit yang terlihat begitu klasik dan elegan, menggantung dengan indah di kamar Shasa. Gaun itu tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang, tentu saja terlihat sopan.


"Keluarga Gusta memiliki standar penampilan tersendiri Nona. Bisa jadi, nanti anda akan memiliki penata busana sendiri yang akan mengatur tema pakaian anda."


"Sebegitunya kah?"


Lita tersenyum. "Keluarga Gusta termasuk salah satu sorotan publik di negara ini. Sudah sewajarnya penampilan visual anggota Keluarga Gusta menjadi perhatian banyak orang. Bahkan Nyonya besar sendiri sering menjadi penentu tren busana di negeri ini, terlebih beliau adalah seorang model dan juga desainer."


"Nyonya besar itu berarti mamanya Leo kan? Wah... Aku pasti kalah cantik darinya." Shasa menebak-nebak dalam pikirannya. "Tapi kenapa aku tidak menemukan banyak foto Nyonya besar ya? Kalau foto Komisaris Gusta, aku sering melihatnya."


"Itu karena Nyonya memutuskan pergi ke luar negeri. Sejak saat itu, tidak banyak foto Nyonya besar beredar."


Tidak terasa, Lita sudah selesai dengan pekerjaannya. Shasa mulai memakai gaun biru langit itu. Terlihat begitu menyatu dengan warna kulitnya yang putih. Rambutnya digerai rapi dengan sebuah jepitan cantik menghiasi kepalanya. Kemudian, Lita mengambil sepatu untuk dipakai Shasa.


"Lita, apakah tidak sebaiknya aku pakai sepatu hak? Sepatu datar ini membuat aku jadi terlihat pendek." Shasa berulang kali memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri sambil bercermin.


"Tidak apa-apa Nona. Kaki anda pasti masih sakit. Akan berbahaya jika menggunakan sepatu hak."


"Kakiku sudah tidak apa-apa. Pasti lebiih cantik kalau menggunakan sepatu hak."


"Tidak apa-apa Nona. Saya sudah mendiskusikan apa yang anda hari ini dengan Presdir. Beliau sendiri yang memilihkan sepatu ini untuk anda. Presdir lebih mementingkan kesehatan anda daripada sekedar terlihat cantik, Nona." Lita memberikan senyum untuk meyakinkan Shasa.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2