Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Merasa Bersalah


__ADS_3

Shasa bergerak dalam tidurnya. Dia mengelus-elus bantal di sampingnya. Menyadari Leo tidak ada di sisinya, Shasa membuka mata. "Sayang? Sayang?" Dia memanggil-manggil Leo.


Leo membuka pintu kamar dan melangkah masuk. "Sayang..." Leo melihat Shasa sudah bangun.


"Kau habis dari mana?"


"Aku berbicara dengan Haris sebentar." Leo menatap Shasa yang sedang mengucek-ucek matanya. "Sayang... Setelah makan siang nanti, kita langsung bersiap pulang ya."


Shasa kaget dan terdiam. "Bukannya kita baru akan pulang besok?"


"Ada pekerjaan yang sangat darurat. Aku harus segera kembali untuk menyelesaikannya. Tidak apa-apa kan?"


Shasa mengangguk. "Baiklah... Aku akan bersiap." Shasa pun berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai mandi, Shasa bersiap di kamarnya dibantu oleh Lita. Mereka mengepak pakaian ke dalam koper milik Leo dan Shasa.


"Lita, Leo ke mana?"


"Presdir ada di depan bersama Haris. Apa Nyonya butuh sesuatu?"


"Ah, tidak..." Shasa lanjut merapikan rambutnya. Setelah selesai, dia keluar dari kamar dan melihat Leo yang sedang serius berbicara dengan asisten Haris. Karena tak mau mengganggu, Shasa langsung ke meja makan dan melihat para koki menyiapkan makan siangnya. Shasa terlihat membantu menata meja makan juga bersama pelayan di dapur.


"Sayang." Leo sudah muncul di belakang Shasa.


"Sudah selesai? Ayo kita makan dulu." Ajak Shasa.


Leo pun duduk di hadapan Shasa dan mulai menyantap makan siang mereka. Setelah itu, mereka bersiap meninggalkan rumah dan melaju ke bandara. Asisten Haris begitu cepat mengurus semuanya. Leo dan Shasa pun sudah mulai lepas landas kembali pulang.


Jet pribadi Leo mendarat dengan mulus. Karena perjalanan yang cukup jauh, mereka baru tiba ketika hari sudah gelap. Mobil Leo sudah siap menjemput di bandara. Mereka langsung menuju ke rumah.


Shasa tertidur di bahu Leo sepanjang perjalanan menuju rumah, sedangkan Leo sibuk dengan tabletnya memeriksa pekerjaan yang sudah menanti.


"Haris, batalkan semua jadwalku untuk besok pagi. Aku akan pergi ke kantor anak perusahaan."

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya juga sudah mengatur pertemuan dengan para dewan direksi."


Leo mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. Sesekali Leo mengelus lengan Shasa yang berada di atas pahanya.


Setelah sampai di depan rumah, Shasa masih tertidur. Entah kenapa, Leo tidak berani membangunkannya. Koper-koper Leo dan Shasa sudah diturunkan oleh pelayan-pelayan di rumah, tetapi pemiliknya masih berada di dalam mobil.


"Haris, bukakan pintu. Aku akan menggendong Shasa." Perintah Leo melalui jendela mobilnya yang dibuka sedikit.


Asisten Haris membukakan pintu untuk Leo. Dengan sigap, digendongnya Shasa dan dibawa langsung ke kamar mereka. Leo meletakkan Shasa di kasur dengan hati-hati.


Lita memasukkan semua koper milik Leo dan Shasa ke dalam kamar. Dia melihat Leo yang baru saja meletakkan Shasa di kasur.


"Tuan, apa anda ingin saya bantu untuk mengganti pakaian Nyonya Shasa?" Lita menawarkan bantuan pada Leo.


"Tidak perlu. Aku yang akan menggantikan pakaiannya." Jawab Leo.


Lita pun pamit untuk pulang. Dia menutup pintu kamar dan membiarkan Leo dan Shasa beristirahat.


*****


Shasa membuka matanya perlahan. 'Hah? Di kamar?' pikir Shasa dalam hati. Di dalam ingatannya, terakhir dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah di mobil bersama Leo. Namun, kini dia sudah ada di kamarnya dan... 'Bajuku sudah berganti?!' Shasa kaget melihat dirinya yang mengenakan pakaian tidur.


"Sudah bangun, sayang?" Terdengar suara Leo. Dia sedang duduk di sofa kamar dengan laptop di hadapannya.


"Kau sudah rapi? Kenapa tidak membangunkanku dari tadi?" Shasa kaget melihat Leo yang sudah rapi dengan baju kerjanya. Selama ini, Shasa selalu memilihkan baju kerja yang akan dipakai Leo. Shasa merasa sedikit menyesal karena melewatkan kebiasaannya pagi ini.


Leo menutup laptopnya dan beranjak dari sofa. Dia menghampiri Shasa. "Kau tertidur hampir 12 jam, sayang. Apa kau sehat-sehat saja?" Leo memeriksa panas tubuh Shasa menggunakan telapak tangannya.


"Aku baik-baik saja, sayang. Entah kenapa aku lelah dan cepat mengantuk sekali." Shasa tersenyum. "Aku mandi dulu ya."


Belum Shasa berdiri dari tempat tidur, Leo menahan tangan Shasa. "Sayang, aku akan langsung berangkat sekarang. Ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan. Apa tidak apa-apa?"


"Kau sudah sarapan?" Shasa malah bertanya hal lain.

__ADS_1


"Nanti aku akan sarapan di jalan." Jawab Leo tersenyum.


Wajah Shasa seketika sedih. "Maaf ya, sayang. Aku tidak bangun lebih cepat, sampai-sampai kau harus sarapan di jalan. Harusnya aku bangun lebih pagi dan menemanimu sarapan sebelum berangkat."


"Tidak, sayang. Karena waktunya mepet, bukan karena kau bangun terlambat. Aku akan usahakan pulang tepat waktu." Leo menatap wajah Shasa lekat. Dia pun mencium kening Shasa.


Shasa tersenyum pada Leo. Setelah puas menatap Shasa, Leo pun berangkat kerja dan meninggalkan Shasa sendirian di kamar. Rasa bersalah dalam hati Shasa masih bergemuruh. Dia menyesal karena belum bisa menjadi pendamping yang baik bagi Leo.


*****


Shasa menyantap sarapannya bersama Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta. Shasa bercerita-cerita tentang liburannya bersama Leo. Shasa juga meminta maaf karena belum sempat membeli oleh-oleh untuk kedua mertuanya ini.


"Kalian naik bus umum?" Tanya Komisaris Gusta tak percaya.


"Iya, Pa." Jawab Shasa antusias. "Aku belum pernah naik bus tingkat. Aku merengek pada Leo untuk berjalan-jalan menggunakan bus tingkat."


"Lalu, dia menyetujuinya?" Komisaris Gusta memastikan.


"Iya." Shasa mengangguk-angguk.


Nyonya Sofia sudah tertawa keras, membuat Shasa tidak mengerti dengan situasi di meja ini. Nyonya Sofia terlihat senang sekali mendengar cerita Shasa, tetapi Komisaris Gusta terlihat menggeleng-geleng tak percaya.


"Shafira... Kalau aku tahu kalian akan naik kendaraan umum, aku akan mengirim banyak pengawal untuk menjaga kalian. Keselamatanmu dan Leo lebih penting dari apapun. Belum lagi kalau ada reporter amatir yang melihat kalian naik bus umum. Besoknya pasti akan muncul di berita dan surat kabar." Jelas Komisaris Gusta.


Shasa baru menyadari alasan kenapa Komisaris Gusta sangat protektif terhadap keluarganya. Shasa jadi merasa bersalah. "Maaf, Pa."


"Hahahaha... Gusta, kelihatannya kau mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Kau lihat kan, Shasa menceritakannya dengan begitu senang. Aku yakin, Leo pun begitu."


Shasa merasa masih banyak hal yang perlu dia pelajari tentang Leo. Dia menatap Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia bergantian. Tawa Nyonya Sofia masih belum berhenti, apalagi wajah Komisaris Gusta yang masih belum mempercayai cerita Shasa.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2