
Shasa membuka matanya yang baru saja tersadar dari tidurnya. Dia menengok ke Leo yang terlelap di sampingnya. Shasa juga melihat tangan Leo yang terletak tepat di atas perutnya. Dia teringat kalau semalaman Leo mengelus perutnya sambil bergumam-gumam tidak jelas, entah berbicara apa.
Langit masih gelap, meskipun sebentar lagi pagi datang. Shasa menggeser tangan Leo dari perutnya dengan hati-hati dan beranjak dari tempat tidur. Shasa sudah memakai sandalnya dan berjalan beberapa langkah menuju ke kamar mandi.
"Sayang! Kau mau kemana?" Suara Leo mengagetkan Shasa. Dia sambil berbalik melihat Leo.
"Astaga, sayang! Kau mengagetkanku. Aku ingin ke kamar mandi sebentar."
Leo turun dari kasurnya dan berjalan ke arah Shasa. "Ayo, aku antar."
"Hah?" Spontan Shasa heran. "Sayang, aku hanya ingin buang air kecil sebentar. Kau tidak perlu mengantarku."
"Kalau kau terjatuh, bagaimana? Kalau kau terpeleset, bagaimana?"
"Hahahaha... Berlebihan sekali. Pokoknya, aku tidak mau diantar." Shasa mulai merengek.
"Baiklah... Aku akan menunggu di depan kamar mandi."
Shasa mendengus pelan dan meninggalkan Leo menuju kamar mandi. Leo mengikuti Shasa dan berhenti tepat di depan kamar mandi. Tak berapa lama, Leo mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang, kenapa lama sekali?"
"Aku baru saja masuk. Lama dari mana?!" Teriak Shasa dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai buang air kecil, Sh6aa membuka pintu kamar mandi. Dia langsung melihat Leo yang berdiri menunggunya. Shasa menatap Leo dan melangkah kesal menuju tempat tidur lagi.
"Sayang, jangan berjalan seperti itu. Kau bisa terjatuh nanti." Tegur Leo sambil naik lagi ke kasur.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan sih?" Tanya Shasa kesal.
"Sudah, sudah. Jangan kesal begitu. Kau akan membuat bayinya takut nanti." Leo membaringkan Shasa di kasur. Tanpa merasa berdosa, Leo pun kembali berbaring lagi di samping Shasa dan mengelus-elus perutnya lembut.
*****
__ADS_1
Niko mengumpulkan semua pelayan dan pengawal rumah Keluarga Gusta pagi ini. Niko mengerahkan lebih banyak pelayan dan pengawal di paviliun Leo dan Shasa.
"Petugas dapur, kalian akan mendapatkan menu makanan Nyonya Shasa setiap harinya dari tim dokter. Setiap detil bahan makanan yang digunakan juga akan diberitahukan pada kalian. Pastikan makanan yang kalian buat, sesuai dengan apa yang direkomendasikan dokter. Akan ada seorang perawat juga yang mengawasi makanannya. Perawat itu akan mencicipi makanan Nyonya Shasa sebelum dihidangkan padanya."
"Petugas yang mengurus kamar Nyonya, bersihkan kamarnya minimal tiga kali dalam sehari. Akan ada petugas khusus yang mengatur suhu dan kelembaban kamarnya. Tanyalah pada mereka apa yang harus kalian lakukan untuk menjaga kamarnya tetap bersih dan sehat."
"Petugas kebersihan paviliun, kalian bersihkan seluruh lantai dan pastikan tidak licin. Jangan sampai Nyonya terpeleset saat berjalan ke mana pun dia mau. Jika kau merasa lantainya masih terlalu licin, bilang padaku. Aku akan mengganti marmer lantai di paviliunnya."
"Petugas kebun, pastikan kalian memotong rumput setiap hari. Periksa seisi taman agar tidak ada satu pun yang membahayakan Nyonya saat dia ke sana. Kau tahu kan, Nyonya suka sekali dengan taman belakang."
"Tuan, apa kami juga harus memeriksa area bermain di taman belakang?"
"Tidak perlu. Akan ada petugas khusus yang memeriksa kelayakan alat permainan di sana."
"Pengawal, aku telah memasang beberapa cctv tambahan di paviliun. Awasi 24 jam semua cctv itu. Jika ada hal-hal yang dapat mengganggu Nyonya, laporkan padaku. Nyonya Shasa harus tetap diawasi kemana pun dia pergi. Pengawal yang dipekerjakan Tuan Leo juga akan mengatur segala sesuatunya saat Nyonya akan pergi ke luar."
"Kalian semua akan ku awasi dengan ketat. Jika berbuat kesalahan atau kalian melakukan sesuatu yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan Nyonya Shasa, jangan harap kalian bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup."
Perintah Niko begitu panjang lebar. Dia mencatat semua yang diinstruksikan Komisaris Gusta. Meskipun begitu, masih banyak lagi hal yang perlu dilakukan Niko. Dia merasa butuh berbagi tugas dengan asisten Haris dan Lita.
*****
"Sayang, aku tidak usah bekerja saja ya hari ini?" Ucap Leo dengan memelas.
"Sejak kapan kau jadi malas begitu?" Shasa menanggapi Leo dengan heran.
Keduanya sedang menyantap sarapan di kamar. Leo meminta pelayan untuk menyiapkan meja makan di dalam kamarnya.
"Aku masih ingin menemanimu. Aku lelah bekerja keras beberapa hari kemarin. Aku masih ingin santai-santai denganmu dan anak kita." Jawab Leo tersenyum.
"Adik bayi, lihat, papamu kok malas ya?" Shasa seolah berbicara pada anak di dalam perutnya. "Kata adik bayinya, dia malu punya papa yang malas." Ucap Shasa pada Leo.
Leo cemberut. "Baiklah... Aku akan bekerja. Padahal biasanya, kau paling suka kalau aku temani." Leo pasrah. Dia meneruskan makannya sambil malas-malasan.
__ADS_1
Shasa ingin mengantar Leo ke depan rumah, tetapi Leo tidak memperbolehkannya.
"Akan ada perawat dan pelayan yang menemanimu. Kau jangan keluar kamar dulu sampai aku merasa yakin kalau kau boleh berjalan-jalan keluar."
"Kau sedang memenjarakan aku? Palingan, aku hanya berjalan-jalan mengitari rumah ini saja."
"Mengelilingi rumah ini juga akan membuatmu lelah. Kalau kau ingin sesuatu, bilang saja pada perawat atau pelayanmu. Ah, nanti Lita juga akan menemanimu. Aku sudah mengatakan padanya, kalau kau keluar satu jengkal pun dari kamar ini, aku akan berlari pulang."
"Ish..." Shasa menyeringai dan menatap Leo dengan sinis.
Shasa pun hanya bisa memandangi Leo yang berangkat kerja dari depan pintu kamarnya. Shasa tentu saja masih merindukan Leo. Tetapi, dia tidak ingin menjadi alasan Leo untuk bermalas-malasan. Kemudian, Shasa melihat Niko yang sedang melintas di area paviliunnya.
"Niko!" Panggil Shasa.
Niko pun melihat ke arah Shasa yang memanggilnya dan berjalan ke arahnya. Niko berdiri di hadapan Shasa.
"Kau belum mengirimkan fotonya padaku?"
Niko hanya diam dan menatap Shasa. Niko berharap Shasa melupakan foto di pesta pernikahan Gia dan Dion kemarin, tetapi ternyata dia masih mengingatnya.
"Hei, kau pikir aku lupa ya? Mana fotonya? Aku ingin memastikan kalau kau benar-benar datang." Shasa menengadahkan tangannya.
"Aku akan mengirimnya ke ponsel anda."
"Ah... Baiklah. Apa Lita terlihat cantik kemarin?"
"Sebenarnya, apa yang Nyonya inginkan?"
Shasa menggeleng-geleng. "Aku hanya bertanya saja. Ada yang salah dengan pertanyaanku? Mungkin anakku ingin melihat om dan tantenya sebelum dia lahir." Jawab Shasa polos.
'Huh... Wanita yang sedang mengidam memang mengerikan. Lebih mengerikan lagi karena yang mengidam ini akan dibela habis-habisan jika dia ingin sesuatu."
*****
__ADS_1
bersambung...