Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Pesta Piyama Part 2


__ADS_3

Kini giliran asisten Haris yang menampilkan bakatnya. Dia sebetulnya sempat bingung ingin membuat apa. Tetapi, dia mencoba menggali lagi hobinya yang sudah sejak lama dia tinggalkan.


"Selamat malam Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya. Aku menyiapkan sebuah video untuk Presdir Leo dan istri tercintanya, Nyonya Shasa. Sebenarnya aku agak ragu waktu membuat video ini. Tapi, aku rasa video ini akan sangat berkesan karena mungkin aku satu-satunya saksi hidup perjalanan kisah Presdir Leo dan Nyonya Shasa. Tolong jangan hujat aku ya, karena aku sudah lama sekali tidak mengedit video sendiri, padahal dulu, mengedit video adalah salah satu hobiku." Asisten Haris tersenyum lebar mengatakan kalimat pembukanya. Kemudian, sebuah video ditayangkan.


Leo dan Shasa begitu terkejut. Video buatan asisten Haris berisi foto-foto, yang entah kapan diambil karena mereka sendiri pun tidak tahu, menggambarkan momen-momen yang terjadi antara Leo dan Shasa, waktu mereka makan malam bersama saat tugas di luar kota, waktu main ke taman hiburan, bahkan ada foto-foto mereka saat naik kendaraan umum. Ternyata, diam-diam asisten Haris memotret setiap kali Leo sedang bersama Shasa.


Shasa tampak terharu dengan persembahan dari asisten Haris. "Wah... Kau benar-benar manis sekali asisten Haris." Ucap Shasa sambil mengagumi cuplikan video di depannya.


Leo otomatis menoleh ke Shasa. Dia menatap Shasa tidak suka. "Bisa-bisanya kau mengagumi lelaki lain di depanku." Leo kesal.


Shasa melirik Leo dengan heran. "Apa kau bilang tadi?" Tanya Shasa.


"Ah, tidak. Ternyata Haris kurang kerjaan belakangan ini. Aku pikir, sudah cukup banyak pekerjaan yang aku berikan padanya." Balas Leo mengalihkan. Lebih tepatnya, dia menghindari berdebat dengan Shasa di depan banyak orang, meskipun dia sudah ingin mencecar Shasa dengan pertanyaan-pertanyaan cemburunya.


"Aku suka sekali videonya. Kita bisa menceritakan pada anak-anak kita nanti." Shasa tersenyum bahagia.


Entah kenapa mendengar Shasa mengucapkan kata 'anak-anak kita', seketika membuat kekesalan Leo mencair. Dia memahami kalau yang dikagumi Shasa bukanlah asisten Haris, melainkan rangkaian cerita kisah mereka berdua yang tanpa disangka-sangka sudah sejauh ini.


Setelah video yang membuka asal-usul hubungan Leo dan Shasa diputar, semua orang di ruangan itu memberi tepukan tangan meriah sebagai apresisi betapa bagusnya video yang dibuat asisten Haris.


Selanjutnya, Lita naik ke atas pentas. Beberapa pelayan membantunya menyiapkan sebuah meja panjang dan beberapa peralatan.


"Malam, semuanya." Sapa Lita dengan senyum ramah. "Kesempatan kali ini, aku akan membuatkan segelas jus segar dan sehat khusus untuk Presdir Leo dan juga Nyonya Shasa serta untuk semua yang ada di sini. Karena setiap hari aku selalu membuat jus untuk diriku sendiri, hari ini aku akan membuatkannya untuk orang lain. Tentu saja karena keduanya adalah orang spesial untukku."


Semua orang teriak antusias pada Lita, minta dibuatkan jus juga. Niko yang mendengarnya hanya bergumam-gumam sendiri. 'Kalau kalian ingin jus juga, buat saja sendiri. Kenapa harus merepotkan orang lain untuk membuatkannya?' batin Niko sedikit kesal.


Lita mulai membuat jus. Dia memotong beberapa buah yang masih segar. Tak sengaja, Lita menyenggol ujung pisau dengan tangannya. Dia mengaduh seketika. Sontak orang-orang kaget dan penasaran apakah tangan Lita baik-baik saja. Namun, berbeda dengan Niko yang tanpa sadar, dia sudah berdiri dari duduknya menatap Lita yang serius memeriksa tangannya. Shasa pun menoleh pada Niko.

__ADS_1


"Niko, kenapa kau berdiri?" Tanya Shasa bingung. Orang-orang pun jadi mengalihkan pandangannya ke Niko, begitu juga dengan Lita yang menatap balik Niko dengan heran.


Niko gugup. Dia melirik sekeliling orang-orang yang menatapnya sekarang. "Em... Aku akan mengambil bagian dalam penampilan Lita." Niko pun berjalan ke arah pentas. Semua orang bingung dengan apa yang dilakukannya. Apalagi Lita, yang tidak merencanakan kalau Niko akan bergabung dalam penampilannya.


Niko berdiri di atas pentas, menghadap penonton di depannya. Niko melirik Lita yang ada sedikit di belakangnya. "Lita, kenapa kau berhenti? Lanjutkan apa yang sedang kau buat itu." Bisik Niko, berharap penontonnya tidak mendengar.


Lita pun melanjutkan kegiatannya sambil mengumpat tanpa suara. ''Dia ini apa-apaan sih?! Kebanyakan ide, huh!' gerutu Lita dalam hati.


"Halo, semuanya. Sambil Lita membuat jus, aku akan membacakan sebuah cerita." Niko mulai berbicara.


"Apa kalian memang sudah merencanakan penampilan kolaborasi seperti ini?" Tanya Shasa antusias.


Niko berpikir sejenak. "Betul, Nyonya."


Shasa bersorak kegirangan dalam hati. Tetapi, Lita justru kaget dengan jawaban Niko. Jelas-jelas, ini diluar rencana mereka.


Shasa antusias. Malam ini, Niko pasti akan membacakan sebuah lelucon, bukan hanya untuk Shasa, tetapi untuk semua orang di hadapannya. Tampak Niko gugup saat ingin memulainya. Niko mulai membacakan sebuah cerita lelucon. Meskipun masih terdengar kaku, bagi Shasa kali ini Niko ada kemajuan. Dia mulai memakai intonasi di dalam bacaannya.


Sebuah cerita lelucon jadi terdengar serius karena Niko yang membacakannya sehingga hanya sedikit bumbu-bumbu humor terdengar dalam cerita Niko. Tepat di akhir ceritanya, orang-orang memberi tepuk tangan pada Niko. Beberapa dari mereka terlihat memaksakan tawanya agar terkesan terhibur dengan cerita Niko.


Saat itu juga, Lita telah selesai membuat jus dan menyediakannya dalam sebuah nampan. Dia pun mengantarkan jus itu pada Leo dan Shasa, juga Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia. Orang-orang di sekitarnya juga dapat mencicipi jus buatan Lita di gelas-gelas kecil. Semua orang memberikan tepuk tangan puas pada Lita.


Lega sudah Niko yang telah menyelesaikan tampilannya. Sedikit terbantu karena dia tampil bersama Lita di atas pentas, yang setidaknya bisa mengurangi rasa gugupnya.


'Huh... Lagian kenapa bawa-bawa pisau hanya untuk sebuah pentas sih! Untung saja otakku cepat mengeluarkan ide bagus. Kalau tidak, aku akan ketahuan karena mencemaskanmu.' batin Niko.


*****

__ADS_1


Epilog:


Selesai pesta piyama, Lita berhadapan dengan Niko. Tatapannya begitu serius.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Niko bingung.


"Apa yang kau lakukan sih?" Lita sebal.


"Memang apa yang aku lakukan?" tanya Niko polos.


"Kau mengacaukan penampilanku."


"Mengacaukan? Kau harusnya berterima kasih padaku karena berkat bantuanku, penampilanmu jadi berkesan untuk orang lain."


"Hahahaha... aku tidak salah dengar?" Lita menghela napasnya. "Besok-besok, jangan libatkan aku lagi dalam urusanmu."


"Kenapa tidak boleh?"


"Aku saja tidak pernah melibatkanmu dalam urusanku."


"Kalau begitu, mulai sekarang kau boleh melibatkanku dalam urusanmu. Aku tidak akan keberatan."


"Huh! Percuma saja aku capek-capek menjelaskannya padamu. Aku hanya akan membuang-buang waktuku. Terserah kau! Lakukan apapun yang kau mau!" Lita membanting pintu kamarnya, membuat pintu itu tertutup dengan keras.


'Wanita benar-benar rumit.' Niko mendecak sambil berjalan ke arah kamarnya.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2