Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Sesi Foto


__ADS_3

Leo dan Shasa pulang kantor bersama. Leo memaksa Shasa untuk pulang tepat waktu. Padahal masih ada beberapa pekerjaan yang ingin diselesaikannya.


Sesampainya di lobby apartemen, keduanya turun dari mobil dan segera naik lift VIP. Seperti biasa, Pak Yo menyambut mereka di depan pintu. Tetapi terlihat juga ada beberapa orang di ruang tengah yang sepertinya juga menunggu kedatangan mereka.


"Leo, mereka siapa?" Tanya Shasa sambil menunjuk ke arah ruang tengah.


Leo menoleh ke arah yang ditunjuk Shasa. "Ah, mereka tim fotografer dan tim perias. Hari ini kita akan mengambil foto. Kita belum punya foto pernikahan kita kan."


"Kau tidak memberitahuku sebelumnya?" Shasa memukul bahu Leo. "Kau harusnya berdiskusi dulu denganku. Lagian kenapa tiba-tiba kepingin foto pernikahan sih?" Shasa agak memaki Leo.


"Sudahlah ikuti saja. Aku ingin memajang foto pernikahan kita besar-besar di rumah ini."


Shasa makin cemberut mendengarnya. Bagi Shasa, kalau pun mereka ingin mengambil foto khusus begini, apalagi foto pernikahan, pasti butuh persiapan lebih. Dia harus menyiapkan baju, konsep foto, lokasi, dan lain-lainnya. Dia juga ingin menyiapkan sesi foto ini sesuai selera dan keinginannya. Tapi, semuanya justru sudah dipersiapkan tanpa sepengetahuannya.


"Sini ikut aku." Leo menarik tangan Shasa dan membawanya ke ruang tengah.


"Selamat sore, Tuan dan Nona." Orang-orang itu menyadari kedatangan Leo dan Shasa, kemudian semuanya berdiri dan memberi hormat. "Kami sudah persiapkan semuanya sesuai instruksi dari asisten Haris." Kata salah satu orang di tim itu.


'Apa?! Bahkan ini diatur oleh asisten Haris? Aku tidak menyangka foto pernikahanku diatur oleh orang lain!' Shasa menggerutu dalam hati.


"Baiklah." Leo mengangguk-angguk sedangkan Shasa masih diam dan belum berkomentar apa-apa.


Akhirnya Leo dan Shasa bersiap untuk sesi foto. Tim perias sudah menyiapkan jas dan gaun untuk keduanya. Shasa pun mulai dirias wajahnya dan ditata rambutnya secara profesional. Ketiga orang yang membantunya, terlihat sangat ahli.


Dan... Ini dia gaun yang dipilih asisten Haris. Shasa tidak menyangka asisten berwajah datar yang bisanya hanya menuruti perintah Leo, mampu juga memilih gaun cantik ini. Gaun ini terlihat berpuluh-puluh kali lipat lebih cantik dan mewah daripada gaun yang dipakai sangat pernikahannya di rumah sakit. Setelah dipakai pun, gaun ini terlihat begitu pas di tubuh Shasa. Dia bercermin melihat wajahnya yang sudah dipoles cantik tetapi tetap natural dengan balutan gaun menjuntai hingga kakinya dan dipenuhi kerlap-kerlip menyilaukan.


"Kau cantik sekali." Leo mengagetkan Shasa yang sedang asyik bercermin. Leo memberikan isyarat pada tim perias untuk meninggalkan kamar Shasa.


"Sepertinya asisten Haris punya selera yang bagus juga." Shasa masih senyum-senyum sendiri melihat dirinya di cermin.

__ADS_1


"Apa kau bilang?" Leo mengernyitkan dahi. Kemudian, dia pun mendekati Shasa yang masih bercermin. Dia memeluk Shasa dari belakang, melingkarkan lengannya ke pinggang Shasa. Leo meletakkan kepalanya di bahu Shasa. Mereka bercermin bersama.


"Aku yang memilih gaun ini. Aku juga yang menentukan tipe riasanmu." Leo berbisik di telinga Shasa.


"Oh ya? Hahaha... Sepertinya aku salah mengira. Meskipun ini tidak sama dengan ekspektasiku, tapi aku menyukainya."


"Memang kau ingin yang seperti apa?"


"Kalau hanya kita berdua, aku ingin berfoto di luar ruangan saja. Hanya memakai pakaian santai, dan di foto saat kita berjalan-jalan. Bukan foto formal dengan gaun begini."


"Huh, seleramu aneh." Leo malah menggelitik telinga Shasa dengan bibirnya hingga membuat Shasa tertawa geli.


"Aku tampan tidak?" Leo bertanya lagi.


"Em... Tampan seperti biasanya. Karena kau sering memakai jas, jadi ketampananmu saat ini ada di taraf biasa saja." Leo cemberut mendengarnya. "Kau lebih tampan saat mengenakan pakaian santai." Ledek Shasa.


Leo tersenyum. "Mungkin saja nanti kau akan lebih suka saat aku tidak memakai pakaian." Keduanya tertawa karena kalimat terakhir Leo. Dua orang yang yang sedang bahagia ini, semakin terlihat sempurna di pantulan cermin besar di hadapan keduanya.


*****


"Oh iya, akhir pekan ini aku akan pergi outing. Hanya satu malam saja. Berkemah bersama dan mengadakan acara pentas malam." Shasa sudah bisa membayangkan betapa serunya outing nanti. Namun Shasa teringat kalau dia harus meinta ijin pada Leo dulu.


Leo meletakkan sendoknya. "Outing?" Leo bertanya memastikan. 'Ternyata ini outing yang disebut Haris di kantor tadi?' Leo mendengus dalam hati.


"Tidak bisa. Kau tidak perlu ikut-ikutan acara itu." Leo menolak.


"Kenapa? Itu acara bersenang-senang yang hanya ada satu kali dalam setahun. Aku tidak pernah melewatkan acara itu."


"Kalau kau ingin bersenang-senang, aku akan mengajakmu berlibur."

__ADS_1


Shasa meletakkan sendoknya. "Bukan seperti itu. Berbeda rasanya kalau pergi sama teman-teman. Tidak hanya liburan, tetapi acara ini juga bisa mempererat hubungan dan kekompakan tim." Shasa menghela napas. "Memang apa yang kau khawatirkan?"


"Aku tidak bisa melihatmu seharian. Aku tidak tahu kau akan makan apa, tidur dengan siapa, seperti apa lokasi liburanmu. Aku mengkhawatirkan semuanya."


Shasa tertawa. "Kau mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu. Perusahaan selalu memberikan kualitas liburan yang baik selama ini. Tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Kau ini terlalu berlebihan memikirkannya." Shasa meneguk air putih di gelasnya.


Leo berpikir sejenak. "Baiklah, kau boleh pergi. Tapi, Lita akan ikut bersamamu."


"Apa? Lita? Bagaimana bisa aku membawanya? Bahkan dia pun bukan pegawai perusahaan."


"Kau tidak tahu ya? Lita itu adalah kepala sekretaris VIP. Bisa dibilang, satu level di bawah Haris untuk urutan pejabat di sekretariat VIP."


"Kau serius? Bagaimana bisa kau mempekerjakannya sebagai supirku?" Shasa bertanya dengan sangat heran dan tidak percaya.


"Aku tidak mempekerjakan sembarang orang." Leo meneguk minumnya. "Lagipula aku tidak memberinya tugas receh. Seharusnya dia senang, dia menjadi supir seorang Nyonya Gusta. Dan sekarang, aku akan menjadikannya sebagai asistenmu."


Shasa mendecak sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menyangka kau sekejam itu padanya."


"Pokoknya kau pergi dengan Lita. Aku akan kirim Lita sebagai perwakilan tim VIP."


"Kau tidak pergi?" Shasa bertanya penasaran.


"Tidak. Aku tidak pergi ke acara-acara seperti itu." Jawab Leo dengan nada menghina. Leo belum terbiasa dengan acara ramai semacam itu. Dulu pun, waktu masih menjabat sebagai direktur anak perusahaan, Leo tidak pernah sekali pun ikut acara outing.


Shasa hanya memicingkan matanya menatap Leo. 'Benar-benar lelaki ajaib.' gerutu Shasa dalam hati.


Leo menjadi ragu apakah dia harus mengubah keputusannya yang telah membatalkan untuk ikut outing demi bisa melihat Shasa sepanjang hari. Namun, melihat Shasa yang se-antusias ini dan berulang kali meyakinkannya, bahkan merengek pada Leo, dia pun memberi ijin Shasa untuk ikut outing perusahaan.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2