
"Shasa!" Tiba-tiba suara Leo menggelegar di seisi vila itu. "Shasa! Sayang kamu tidak apa-apa? Kakimu terkilir. Apa ada luka lainnya? Aku sudah memanggil Sam kesini." Wajah Leo begitu cemas. Dia memeriksa semua bagian tubuh Shasa. Bahkan, dia tidak memberi kesempatan bagi Shasa untuk berkata-kata karena dia terus bertanya apakah Shasa baik-baik saja.
Shasa mencuri-curi melirik Lita yang ada di kamar itu juga. Dia juga melihat asisten Haris di dekat pintu. 'Sial! Dari tadi dia tidak menjawab pertanyaanku ternyata karena dia sudah memberitahu Leo kalau aku terjatuh.' batin Shasa kesal.
"Leo." Shasa entah sudah berapa kali memanggilnya, tetapi yang dipanggil masih saja mencemaskan Shasa dan memeriksa bagian tubuh lain yang terluka. "Sayang!" Shasa berteriak kesal, membuat Leo kaget dan menatapnya. Entah dia benar-benar kaget karena Shasa teriak atau karena dia terperangah dengan panggilan sayang Shasa. "Leo... Aku tidak apa-apa. Cuma sedikit terkilir. Dokternya saja yang berlebihan sampai memasangkan perban di kakiku." Shasa mencoba menenangkan.
"Apa kau lebih pintar dari dokter?" Leo sedikit menghina. "Aku sudah memanggil Sam kesini. Tidak usah berasumsi kalau kau baik-baik saja. Istirahatlah."
Kalau sudah ada Leo disini, harapan Shasa untuk bersenang-senang bersama teman-temannya akan hancur berkeping-keping. Padahal tadi dia berharap Lita tidak memberitahu Leo tentang kejadian ini.
Lita dan asisten Haris meninggalkan Leo dan Shasa di kamar. Mereka sudah membuat reservasi vila lainnya di sisi kanan dan kiri dari vila yang ditempati Leo dan Shasa.
Leo duduk di pinggir ranjang di samping Shasa. Tangannya menggenggam tangan Shasa. Dia menatap wajah Shasa begitu lekat.
"Kalau tahu begini, aku tidak akan mengijinkanmu pergi." Leo masih terlihat cemas.
Shasa tersenyum melihatnya. "Kenapa kau suka sekali mencemaskanku?"
"Inilah yang aku takutkan. Kau pergi sendirian dan aku tidak bisa melihatmu. Sudah ku kirim Lita pun, masih saja ada kejadian ini."
"Justru Lita membantuku. Dia sangat cepat mengurusku tadi."
__ADS_1
"Setelah Sam memeriksamu nanti, kita pulang saja."
"Apa? Aku bahkan belum menikmati acara apapun disini. Tidak mau."
"Lagian kau mau ngapain dengan kakimu yang seperti ini?" Leo menunjuk perban di kaki Shasa.
"Setidaknya aku masih bisa duduk dan melihat acara malam nanti. Lagian aku bisa jalan kok. Hanya satu kakiku saja yang terkilir, bukan dua-duanya." Shasa membela diri.
"Kau pikir aku akan mengijinkanmu keluar dari kamar ini?"
Shasa mulai berpikir cara menghasut Leo. Dia benar-benar ingin melihat acara pentas malam nanti. Shasa memberanikan diri melingkarkan lengannya di leher Leo dan meletakkan di bahunya. Mata Leo mengikuti gerakan tangan Shasa.
"Sayang... Aku boleh kan memanggilmu begitu?" Shasa sedikit menggoda. Leo masih menatapnya curiga. "Aku ingin melihat pentas malam nanti. Setidaknya aku harus mendukung penampilan tim-ku kan? Kau cobalah sekali-sekali melihat acara itu. Kau bisa melihat sisi lain pegawaimu."
Shasa dengan cepat mengecup bibir Leo. Sebenarnya dia malu melakukannya, tapi mau bagaimana lagi. Leo masih menatapnya diam. Shasa mencium bibir Leo lagi, lebih lama dari sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya Shasa berciuman. Leo pun seperti itu. Keduanya berciuman agak lama dan mulai menikmatinya. Shasa melepaskan ciuman itu karena sudah kesulitan mengatur napasnya.
Leo tertawa melihat Shasa yang berjuang keras merayunya. "Hahahaha... Kau mulai mengagumkan. Awas kalau kau merayu orang lain dengan cara begitu. Lakukan padaku saja." Leo tersenyum tipis. "Baiklah, kau boleh menginap. Tetapi kau akan tidur disini, bersamaku."
'Cih. Ini pertama kalinya aku melakukan hal memalukan seperti ini.' batin Shasa menahan malu.
"Terima kasih sayang." Shasa langsung riang gembira mendapat kemenangan di tangannya.
__ADS_1
'Aku belum gila kan? Hahahahaha.' batin Shasa.
*****
Epilog:
Dokter Sam memeriksa pergelangan kaki Shasa yang terkilir. Kini dia ditemani seorang wanita. Shasa melihatnya penasaran, bertanya-tanya apakah wanita ini adalah istri dokter Sam. Ini pertama kalinya Shasa melihat wanita itu.
Dokter Sam terlihat menginstruksikan sesuatu pada wanita itu. Kemudian, dia melepas perban Shasa, mengoles sesuatu ke pergelangan kakinya yang sakit, dan mengganti perbannya dengan yang baru.
Shasa memberanikan diri bertanya. "Aku baru melihatmu. Apa kau istri dokter Sam?"
Wanita itu tersenyum. "Bukan, Nona. Saya perawat yang dipekerjakan Tuan Leo untuk mendampingi dokter Sam. Kalau Nona sakit, mungkin Nona akan sering bertemu saya."
'Apa? Ishhh... Kenapa dia norak banget sih.' batin Shasa kesal sambil melirik Leo yang sedang berbicara dengan dokter Sam.
"Mulai sekarang saya akan membantu dokter Sam mengawasi kesehatan anda, Nona. Riwayat penyakit sampai pengaturan gizi anda, sudah menjadi bahan pengawasan kami saat ini." Perawat itu memberikan senyumnya kepada Shasa yang sedari tadi menatap Leo kesal.
Shasa kesal karena Leo sering melebih-lebihkan sesuatu, padahal Shasa berharap yang normal-normal saja. Shasa belum tahu saja, seberapa ketat pengawasan Komisaris Gusta terhadap keluarganya. Sudah pasti berkali-kali lipat daripada yang dilakukan Leo sekarang.
*****
__ADS_1
bersambung...