Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Pingsan


__ADS_3

"Buka pintunya! Cepat! Kau mau mati?" Niko sudah berteriak gusar kepada petugas hotel. Dia meminta petugas itu membuka pintu sebuah lorong yang bisa menembus ke ruang privat. Saat hotel ini dibangun, Niko selalu memantau perkembangannya karena perintah Komisaris Gusta. Itulah kenapa Niko tahu seluk beluk setiap ruangan di hotel ini.


Petugas hotel dengan gemetar membuka pintu. Niko langsung berlari saat pintu terbuka. Beberapa pengawal ikut berlari di belakangnya. Sambil berlari, Niko memerintahkan anak buahnya untuk menutup semua akses keluar hotel.


Sementara itu di dalam ruangan, penyemprot air otomatis telah bekerja. Semua orang itu mulai kebasahan. Lita membuka jasnya dan menggunakan jas itu untuk menutup kepala Shasa agar tidak terkena air. Asap semakin mengepul memenuhi ruangan. Para pengurus inti yang ada di ruangan itu berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri, berbeda dengan Lita yang berusaha sebisa mungkin menyelamatkan Shasa.


Brakkk! Pintu dari sisi belakang ruangan terbuka. Samar-samar terlihat banyak pengawal masuk ke dalam ruangan, menyelamatkan semua yang ada di sana. Dengan mudah Niko menemukan Lita yang sedang melindungi Shasa.


Niko langsung membawa Shasa dan Lita keluar ruangan. Setelah sedikit terbebas dari ruangan yang penuh asap itu, Lita terbatuk-batuk karena kekurangan oksigen, sedangkan Shasa gemetar ketakutan sambil mengelus-elus perutnya mencoba menenangkan sang bayi yang ada di kandungannya. Tiba-tiba beban berat tubuh seseorang menimpa Niko yang seketika itu juga langsung menahan tubuh lemas itu dengan lengannya.


*****


Mobil ambulan berdatangan di lobby hotel. Salah satu dari mobil itu, langsung menancap gas menuju rumah sakit terdekat. Mobil Niko dan pengawal-pengawal yang dibawanya mengikuti ambulan itu dari belakang. Semua orang panik dan tegang menghadapi situasi yang tidak pernah diduga-duga akan terjadi pada istri-istri pejabat tinggi XY Group siang itu.


Mendengar berita mengejutkan dari Niko, Leo langsung berlari ke rumah sakit, begitu pun dengan Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia. Leo tampak gusar, tak bisa berpikir jernih. Dia hanya ingin melihat keadaan Shasa sekarang.


Sampai di rumah sakit, Leo langsung bergegas masuk dan membuka pintu salah satu kamar inap di rumah sakit dengan putus asa. Dia semakin kaget melihat siapa yang berbaring di kasur rumah sakit.


'Dimana Shasa?!' pikir Leo tak tenang.


"Sayang..." Shasa bangkit dari sofa di kamar inap.


Leo langsung berlari ke arah Shasa dan memeluknya. Leo memeriksa semua bagian tubuh Shasa tanpa melewatinya setitik pun. Selain badannya yang basah, Leo tidak menemukan segores pun luka di tubuhnya. Leo menggenggam tangan Shasa yang masih sedikit gemetar.


"Kau baik-baik saja? Dimana Sam? Haris, cepat panggil Sam ke sini!"


"Dokter Sam sedang menuju ke sini, Tuan."

__ADS_1


"Sayang, aku baik-baik saja. Aku justru mengkhawatirkan Lita."


Leo menoleh ke arah Lita yang terbaring lemas menggunakan selang oksigen di hidungnya. Lita banyak menghirup asap yang mengepul di hotel tadi sehingga dia menjadi sesak. Setelah pingsan di tubuh Niko, Lita langsung dilarikan ke rumah sakit. Sampai saat ini, dia masih belum sadarkan diri.


Shasa bersikeras meminta dokter dan perawat untuk memeriksa Lita lebih dulu. Dia tidak mau beranjak sebelum melihat Lita mendapat perawatan. Shasa merasa bersalah karena Lita memilih menyelamatkan Shasa dulu sampai-sampai dia melupakan keselamatan dirinya sendiri.


Tak berapa lama, dokter Sam tiba di rumah sakit bersamaan dengan dokter kandungan Shasa. Shasa langsung dibawa ke kamar khusus untuk digantikan pakaiannya dan diperiksa kondisi tubuhnya. Leo terlihat khawatir, sedangkan Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia, yang baru saja tiba, hanya bisa menyaksikannya dengan penuh cemas.


"Apa ada keluhan, Nyonya?" Tanya dokter sambil memeriksa Shasa.


"Tadi perutku sedikit sakit, tapi sekarang sudah tidak lagi." Jawab Shasa. Leo semakin berkerut alisnya mendengar pernyataan Shasa barusan.


"Itu kontraksi ringan, Nyonya. Anda hanya sedikit kaget, tapi bisa aku pastikan kondisi bayi anda baik-baik saja." Kata dokter kandungan Shasa. "Apa anda merasa sesak?"


"Tidak, dokter. Tadi Lita memakaikan penutup hidung untukku sehingga aku merasa pernapasanku aman-aman saja. Tapi, aku sangat mengkhawatirkan Lita." Kata Shasa yang masih belum bisa melepaskan rasa khawatirnya pada Lita.


"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Sebaiknya pikiran anda jangan terbebani oleh apapun dulu. Aku sarankan anda beristirahat saja beberapa jam ke depan."


Nyonya Sofia pun mengangguk. Dia bergerak meninggalkan Leo dan Komisaris Gusta berdua.


"Pa, dimana Niko?" Tanya Leo penasaran.


"Aku rasa dia sedang membunuh seseorang." Jawab Komisaris Gusta dengan tatapan dingin melihat lurus ke depan.


*****


Niko menendang kursi dan meja di hadapannya. Dia telah memeriksa semua rekaman cctv dan kecurigaannya tak terbantahkan. Ketika Shasa dan para pengurus inti berada di dalam ruangan privat, para pengawal menjaga dari luar ruangan. Tak sengaja, Niko melihat Tuan Tandi, salah satu direktur anak perusahaan yang belum lama ini dipecat oleh Leo. Niko sempat berasumsi buruk, tetapi saat itu kondisinya cukup aman. Dia tidak menyangka bahwa kondisi yang tidak aman justru ada di dalam ruangan.

__ADS_1


Ruangan privat memiliki sistem pendingin ruangan khusus. Kebakaran di ruangan itu, berasal dari api pada sistem pendingin ruangan di sana. Ruangan privat tanpa terduga dikunci dari luar. Berdasarkan pengamatan cctv, Tuan Tandi dan beberapa orang tak dikenal berkeliaran di sekitar ruangan itu dan diduga merencanakan kejadian kebakaran di ruangan privat tersebut.


Karena Niko meminta pengawal untuk menutup semua akses keluar hotel, Tuan Tandi diamankan oleh pengawalnya. Dia dibawa ke sebuah ruangan dan dijaga ketat oleh anak buah Niko. Selepas mengantar Lita ke rumah sakit dan melihatnya terkulai lemas, Niko langsung bergegas lagi menuju hotel.


Amarah Niko tak terbantahkan. Di hadapannya kini, ada Tuan Tandi yang tertangkap basah di tangan Niko. Tuan Tandi tak bisa mengelak apapun karena Niko memiliki bukti kuat. Niko menginterogasi dengan penuh kesal.


"Kau tahu kau mengacungkan pedang pada siapa?" Tanya Niko dengan marah.


Yang ditanya tidak menjawab dan hanya menatap sinis ke arah Niko.


"Kalau kau mengacungkan pedangmu untuk Presdir Leo, maka hidupmu dan keluargamu akan tersiksa tanpa ampun sepanjang kalian bernapas. Kalau kau mengacungkan pedangmu padaku, maka jangan harap kau keluar dari ruangan ini dengan membawa nyawamu."


"Kalian telah menghancurkan hidupku. Aku juga ingin kalian mengetahui bagaimana rasanya kehancuran itu."


"Bagus! Kau memiliki keberanian melebihi nyawamu. Itu artinya nyawamu tidak penting lagi. Kau ingin mati dengan cara apa?"


Sebelum pertanyaan itu terjawab, pintu ruangan terbuka. Leo menampakkan dirinya di ruangan itu. Leo melihat Niko berapi-api, yang dia tahu sendiri api di dalam diri Niko cukup sulit dipadamkan. Leo berjalan masuk ke dalam ruangan. Dia menatap Tuan Tandi dengan dingin.


Leo tersenyum sinis. "Sepertinya kau sangat tidak tahu berterima kasih ya? Aku sudah membantumu untuk tidak melibatkan polisi, tetapi kau malah mendatangkan polisi itu sendiri."


Satu rombongan polisi datang dan langsung menangkap Tuan Tandi. Orang suruhan yang dibayar olehnya, telah diringkus polisi lebih dulu. Tentu saja, otak dibalik tragedi hari ini harus menerima hukuman beratnya mulai sekarang.


Di dalam ruangan hanya tersisa Leo dan Niko. Leo melihat amarah Niko belum kunjung usai.


"Kalau orang itu sampai melukai Shasa satu gores saja, aku tidak akan membiarkan tubuhnya utuh. Aku tahu, kau juga sudah ingin membunuhnya karena membuat Lita terbaring si rumah sakit kan? Maka biarkan lelaki itu merasakan dulu sakit yang dirasakan Lita. Dia harus tahu rasanya sakit sebelum mati." Ucap Leo.


'Kalau sampai sesuatu terjadi pada Lita, aku tidak akan menahan lagi untuk menghabisinya.' batin Niko.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2