Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
CCTV


__ADS_3

Pagi hari, Leo dan Shasa menyantap sarapannya di meja makan.


"Kau benar tidak apa-apa sendirian di rumah?" Leo bertanya ke Shasa. Leo melarang Shasa untuk pergi ke kantor hari ini dan memintanya untuk beristirahat satu hari lagi agar kondisinya benar-benar pulih.


"Tidak apa-apa. Aku tidak sendirian disini. Ada Pak Yo, Vina, dan juga pelayan lainnya. Kau fokus bekerja saja." Shasa menenangkan.


"Telpon aku kalau kau butuh apa-apa. Jangan melakukan kegiatan aneh dan tetaplah beristirahat."


"Iya, iya. Kamu ini memang lelaki berisik edisi terbatas ya." ledek Shasa.


"Jangan sampai lupa mengisi baterai ponselmu dan jawab aku di dering pertama setiap aku telpon."


"Memang apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak menjawabnya di dering pertama?"


"Kau menantangku?" Leo memicingkan matanya. "Aku akan berlari pulang."


Shasa tertawa geli. Shasa benar-benar berhadapan dengan lelaki berisik edisi terbatas.


Leo melirik jam tangannya. "Aku harus berangkat sekarang. Haris sudah menunggu di lobby." Leo pamit kepada Shasa.


"Baiklah, hati-hati dijalan." Shasa memberikan senyumnya kepada Leo.


Leo bangkit dari kursinya dan mendekat ke arah Shasa. Dia mencium kening Shasa membuat yang dicium terkejut tak karuan. Leo menatap wajah Shasa yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya.


"Nikmati waktumu, Nyonya Gusta." Leo tersenyum kepada Shasa yang kini terdiam menatap Leo dengan lekat. "Aku akan pulang tepat waktu."


Leo melangkah meninggalkan Shasa di meja makan. Shasa masih belum bisa mengendalikan detak jantungnya yang kini berdebar dengan cepat, sedangkan Leo sudah melesat menuju lobby dengan lift.


Di lobby, asisten Haris membukakan pintu mobil untuk Leo. Kemudian dia menyusul masuk ke belakang kemudi mobil.


"Haris, kau sudah siapkan tablet yang aku minta?"


"Sudah, Tuan." Asisten Haris menyerahkan sebuah tablet baru ke tangan Leo.


"Aku akan pakai ini untuk memantau cctv di rumah." Leo sudah mengotak-atik tablet barunya itu.


'Hah? Tengah malam ribut minta dibelikan tablet baru. Ternyata hanya untuk memantau cctv di rumahnya. Aku semakin tidak mengenali bosku ini.' asisten Haris menggerutu dalam hati mengintip Leo dari spion yang sudah sibuk dengan tabletnya.


*****


Shasa asyik nonton tv sambil memakan camilan. Sesekali dia memanggil Vina atau pelayan lainnya untuk menemaninya menonton. Shasa juga sempat iseng masuk ke ruang olahraga Leo. Dia ingin mencoba, tapi tidak tahu cara menggunakan alat-alat olahraga di ruangan itu. Saking tidak ada kerjaannya, Shasa sibuk menata tanaman di teras dibantu dengan beberapa pelayan.


Sedangkan di tempat lainnya, Leo yang sedang di kantor tak berhenti memantau pergerakan Shasa di rumah. Dia membawa tabletnya kemanapun dia pergi. Leo tak habis pikir betapa Shasa orang yang sangat tidak bisa diam di rumah.


Leo tertawa melihat Shasa yang sudah berganti-ganti posisi di sofa ruang tengah. Tiba-tiba keningnya berkerut. Shasa mendekatkan ponselnya ke telinga. Sepertinya ada seseorang yang menelpon Shasa.


"Halo, Ti."

__ADS_1


"Sha, kamu udah sehat? Jangan sakit-sakit dong."


"Ahh... Aku udah sehat kok, Ti. Palingan besok juga udah bisa ke kantor."


"Oh, baguslah. Nanti sore aku sama Dika main ke apartemen kamu ya, Sha."


'Hah? Ngapain?' Shasa panik tak bersuara. "Mau ngapain, Ti?"


"Yaa jenguk kamu lah, Sha. Masa masih nanya sih."


"Hahahaha... Kayak sakit apa aja, gak usah lah Ti. Aku udah baik-baik aja."


"Udah lama juga Sha aku gak main ke apartemen kamu. Mampir sebentar kok."


'Mati aku!' Shasa membatin. "Ti, sebenarnya dokter menyuruh aku untuk banyak istirahat. Jadi, kayaknya aku mau istirahat dulu deh. Gak enak kan nanti kalo kamu sama Dika datang, terus aku cuma tidur doang. Lain kali ya kita atur waktu main di apartemenku." Shasa berusaha mencari alasan. Tidak mungkin kan Shasa memberitahu Tira kalau sekarang dia tidak lagi tinggal di apartemennya, tetapi di apartemen Leo.


"Oh gitu ya? Yaudah deh, kamu banyak-banyak istirahat ya Sha."


Setelah menutup pembicaraan di telepon, Shasa bernapas lega dan mengelus-elus dadanya. Shasa belum siap memberitahu teman-teman kantornya kalau dia menikah dengan presdir di tempat dia bekerja. Tiba-tiba ponsel Shasa berdering lagi. Kini Leo menelponnya.


"Halo." Shasa memulai pembicaraan.


"Kau sedang apa?"


"Aku? Menonton tv."


"Benarrr... Ini aku di depan tv. Telpon Pak Yo kalau gak percaya."


Leo memang tahu kalau Shasa sedang menonton tv di ruang tengah dari cctv-nya. Tapi yang dia mau tahu bukan itu.


"Istirahatlah. Jangan banyak bicara dengan orang lain." Leo menegur Shasa. "Jangan telat makan siang."


'Astaga! Dia ini benar-benar seperti ibu-ibu yang bawel ke anaknya!' batin Shasa kesal. "Iya, iya baiklah." Jawab Shasa singkat.


Telepon itu pun berakhir. Shasa heran kenapa orang yang dia kenal dingin dan tak banyak bicara itu, justru sangat cerewet kepada dirinya. 'Apa aku dikutuk?' Shasa mengacak-acak rambutnya. 'Astaga! Aku tidak boleh bicara begitu. Dia itu suamiku.' Shasa menahan kesal menghadapi kenyataan kalau lelaki berisik itu adalah suaminya.


*****


Setelah pekerjaan dan meetingnya selesai, Leo bergegas pulang ke rumahnya. Di perjalanan, Leo seperti memikirkan sesuatu.


"Tuan, apakah ada sesuatu yang sedang anda khawatirkan?" Asisten Haris bertanya karena Leo terlihat berpikir sangat dalam. Dia khawatir ada urusan pekerjaan yang mengganggunya.


"Haris, apa kau bisa bantu aku menyadap ponsel seseorang?"


"Menyadap?"


"Ahhh... Tidak, tidak. Aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu hanya untuk mengetahui siapa dia."

__ADS_1


"Maksud Tuan? Apa saya perlu mencari tahu seseorang?"


"Aku lihat dia mengangkat telepon dari seseorang di cctv. Siapa ya yang menelponnya?"


'Ya Tuhan! Ternyata Tuan membicarakan nona Shasa. Wajahnya saja tidak sebingung itu waktu bernegosiasi bisnis.' asisten Haris mendengus di dalam hatinya tak mengerti lagi cara menghadapi bosnya ini.


Leo pulang tepat waktu. Sesampainya dia di rumah, Pak Yo menyambutnya di depan pintu.


"Dimana dia?" Bahkan Leo tidak membalas sapaan Pak Yo sebelumnya.


"Ada di kamar Tuan."


Mendengar jawaban itu, Leo langsung bergegas ke kamar. Ketika membuka pintu, dia melihat Shasa yang sedang terlelap di bawah selimut. Leo mendekat ke Shasa dan duduk di sisi ranjang. Leo tersenyum kecil melihat Shasa yang cukup pulas tertidur. Setelah puas memandangi Shasa, Leo segera mandi dan berganti pakaian.


*****


"Kenapa kau tidak membangunkanku saat kau pulang tadi?" Shasa bertanya ke Leo. Saat ini Shasa dan Leo sedang menyantap makan malamnya.


"Kau tidur seperti kerbau. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara membangunkanmu."


Shasa mendecak tak percaya dengan kata-kata Leo. Dia menatap Leo dengan sinis.


"Hahahaha... Jangan lihat aku seperti itu. Kamu tadi tertidur pulas sekali. Aku takut membangunkan macan tidur." Shasa secepat kilat memukul bahu Leo.


"Hei, apa-apaan kau memukulku!"


Shasa tidak menggubris omelan Leo.


"Kamu tahu? Tadi aku hampir mati." Shasa mulai curhat apa yang dialaminya tadi siang.


"Apa? Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit lagi?" Leo khawatir.


"Bukan itu. Tadi teman kantorku menelpon. Dia bilang ingin menjengukku. Aku panik karena tidak mungkin kan aku menyuruhnya kesini." Leo menghela napas lega.


'Oh, jadi teman kantornya yang menelpon.' batin Leo. "Siapa?" Karena Shasa sudah membuka obrolan, Leo jadi berani bertanya.


"Tira. Ah, kau tidak akan mengenalnya."


"Kenapa kau bingung? Suruh saja dia kemari."


"Kau ini bagaimana? Bisa-bisa dia pingsan, kalau tahu aku satu rumah denganmu."


"Kau tidak hanya satu rumah denganku, sayang. Kamu juga satu kamar denganku." Leo menggoda Shasa.


'Apa aku tidak salah dengar? Dia panggil aku apa tadi?' Shasa bertanya dalam hati, mulai kesal karena Leo tidak menanggapi curhatannya dan malah meledeknya.


*****

__ADS_1


beraambung...


__ADS_2