
Shasa duduk di tepi ranjang Lita. Dia menyilangkan kedua lengannya di depan. Sorot matanya bergantian menatap Niko dan Lita yang berdiri menunduk di hadapannya. Ketiganya diam tanpa kata.
“Apa yang kalian lakukan di tengah malam begini?” Shasa memecah keheningan.
“Nyonya, apa yang…” belum selesai Lita berkata-kata, Shasa sudah bertanya kembali.
“Niko, apa yang kau lakukan di kamar Lita?” tanya Shasa dengan sorot mata heran ke arah Niko.
“Nyonya…” Lita mencoba mengalihkan lagi.
“Lita, sudah berapa kali Niko datang ke kamarmu malam-malam begini?” Shasa mengalihkan tatapannya ke Lita.
“Nyonya, kami sedang membicarakan pekerjaan untuk besok.” Jawab Niko.
“Malam-malam begini? Di dalam kamar?” Shasa bertambah heran.
“Nyonya, apa ada yang anda butuhkan?” Lita menyela.
“Hubungan apa yang kalian punya di belakangku? Aku kecewa.” Shasa cemberut. Niko dan Lita serentak menatap Shasa. “Setidaknya beritahu aku tentang hubungan kalian.” Shasa merengek.
“Nyonya, kami hanya membicarakan pekerjaan. Aku yang mengijinkan Niko masuk ke kamarku.” Lita menjelaskan.
“Nyonya, ini tidak seperti yang anda pikirkan. Kami hanya…” Niko tak sempat melanjutkan kalimatnya.
“Memang apa yang aku pikirkan?” Shasa langsung bertanya balik.
“Anda pasti mengerti apa yang aku maksud.” Niko menunduk sejenak. “Aku rasa aku sudah bisa kembali ke tempatku. Aku mohon pamit, Nyonya.”
“Kenapa susah sekali membuat mereka mengaku?” Shasa bergumam-gumam kecil. “Baiklah. Kau bisa kembali.”
Setelah mendapat ijin dari Shasa, Niko langsung meninggalkan kamar Lita.
“Nyonya, apa anda butuh sesuatu?” tanya Lita.
Shasa memicingkan matanya menatap Lita. Ingin sekali rasanya Shasa memaksa Lita untuk menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Niko.
“Aku tidak bisa tidur. Aku ingin menginap di sini saja.” Ucap Shasa.
“Nyonya, bagaimana bisa anda tidur di kamar sederhana ini? Jika anda ingin ditemani, aku akan menemani di kamar anda.”
“Aku jadi teringat terus pada Leo jika berada di kamarku. Aku akan menginap di sini saja. Jangan larang aku sekali ini.”
Kalau Shasa sudah merengek begini, Lita tidak sampai hati melarang lagi. “Baik, Nyonya. Segeralah beristirahat. Aku akan tidur di sofa.”
Shasa bangkit dari duduknya dan beranjak mengambil posisi tidur. “Terima kasih, Lita. Kalau kau ingin tidur di kamar Niko, aku akan mengijinkannya.” Shasa tertawa geli menggoda Lita. Dia langsung beringsut menenggelamkan tubuhnya dengan selimut, meninggalkan Lita yang masih tercengang dengan ucapan Shasa yang terucap tanpa dosa itu.
*****
Niko menyodorkan beberapa berkas ke meja Komisaris Gusta. Seperti biasa, Niko melaporkan setiap kejadian di rumah dan juga laporan perkembangan perusahaan.
__ADS_1
“Niko, kenapa dengan wajahmu? Apa kau tidak tidur semalam?” Komisaris Gusta bertanya tanpa mengalihkan matanya dari berkas-berkas di meja.
Niko terdiam sejenak. “Saya baik-baik saja, Tuan.”
“Kalau kau butuh bantuanku, katakan saja.” Komisaris Gusta mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti Niko.
Alis Niko berkerut. “Maksud Tuan, bantuan apa?”
“Kau memang mengawasi setiap kejadian di rumah ini. Tapi, aku tetaplah pemiliknya. Tak ada yang luput dari mataku bahkan setitik pun tentang segala isi dan kejadian di rumah ini.” Komisaris Gusta tersenyum tipis sambil masih fokus pada berkas-berkasnya.
‘Sial! Apa Tuan mengetahui tentangku dan Lita?’ tanya Niko dalam benaknya.
Setelah Niko menyelesaikan urusan pekerjaannya dengan Komisaris Gusta, dia berjalan menuju paviliun Leo dan Shasa. Otaknya masih berpikir keras mengenai kata-kata Komisaris Gusta tadi. Niko berniat mengecek kondisi sekitar luar kamar Lita. Dia ingin memastikan apakah ada cctv di sana. Namun, langkah terhenti ketika seseorang memanggilnya.
“Niko!” Dari bangku taman, Shasa memanggil Niko dan memintanya mendekat. Niko menghela napas sambil melangkah ke tempat Shasa duduk.
“Anda memanggilku, Nyonya?”
“Urusan kita belum selesai.”
Niko mengedipkan kedua matanya. ‘Nyonya, anda ingin apa lagi?’ gerutu Niko dalam hati.
“Aku tidak akan mempermasalahkan lagi kejadian kemarin. Tapi, aku ingin tahu sudah sejauh mana hubunganmu dengan Lita.”
“Nyonya, kenapa anda tertarik sekali dengan hubunganku dan Lita?”
“Itu karena kalian membuatku kesal. Yang satu lambat, yang satu keras. Kalian sama-sama cuek, tapi sebenarnya saling membutuhkan. Kau tahu, betapa Tuhan akan sangat bangga padaku kalau aku menyatukan kalian berdua lagi.”
“Ish… Kalian sudah seperti keluarga bagiku. Karena itu, kebahagian kalian adalah kebahagiaanku juga.” Shasa mulai berceramah. “Apa kau ingin saranku?” Shasa bertanya kesal. “Jangan hanya menunggu dan pasrah seperti itu. Yakinkan dia. Tidak perlu menunggu lagi. Wanita tidak suka menunggu.”
Niko terdiam. Dia merasa seperti diceramahi oleh seorang wanita yang umurnya lebih muda darinya. Meskipun begitu, kata-kata Shasa ini sedikit menyadarkan Niko.
*****
“Sayaaaaanggg… Bagaimana ini?” Shasa sedikit berteriak.
“Kenapa sayang? Ada sesuatu yang terjadi?” suara Leo terdengar dari telepon genggam di telinga Shasa.
“Aku tidak yakin apa aku boleh mengatakannya.”
“Katakan sekarang!”
“Aku merindukanmu.” Nada suara Shasa agak sedih tetapi manja.
Leo mengelus dadanya. “Aku pikir kau kenapa.” Balas Leo.
“Memang kau tidak merindukanku?” tanya Shasa.
“Tentu saja. Sudah kubilang kan, sejak langkah kaki pertamaku ke luar rumah, aku sudah merindukanmu. Apa aku pulang saja sekarang?”
__ADS_1
“Hihihihihi… 1 detik yang lalu, aku tidak merindukanmu lagi.” Shasa sengaja mengatakannya agar Leo tidak merasa gelisah. Shasa tidak ingin jadi alasan Leo meninggalkan pekerjaannya.
“Secepat itu?” Leo heran.
“Sayang, aku harus ke dapur sebentar. Tiba-tiba aku ingin minum. Nanti aku telepon lagi ya.” Shasa merasa harus segera mengakhiri obrolannya dengan Leo untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sudah 5 hari mereka saling berkomunikasi lewat telepon, sudah 5 kali juga Leo mengatakan ingin segera pulang. Shasa tahu kalau Leo adalah orang yang selalu menepati kata-katanya. Oleh karena itu, lebih baik dia mengakhiri pembicaraan kalau sudah membahas ke arah sana.
Setelah menutup teleponnya, Shasa menolehkan pandangan pada sebuah bingkai foto besar di kamarnya. Dia tersenyum melihat foto kedua orang di bingkai itu.
“Huh… aku jadi merindukan apartemen dulu, tempat pertama kali kita tinggal bersama. Aku rasa, tempat itulah yang menjadi tempat bermulanya semua perjalanan cinta kita.” Ucap Shasa sambil memandangi foto pernikahannya dengan Leo yang diambil di apartemen lama mereka.
Shasa bangkit dari ranjang. Dia berjalan ke luar kamar, melewati ruang tengah. Matanya berkeliling mencari Lita.
“Nyonya, anda sedang mencari apa?” Suara Lita mengagetkan Shasa dari belakang. Shasa pun berbalik badan menghadapnya.
“Ah, Lita. Aku mencarimu.”
“Apa anda butuh sesuatu, Nyonya?”
“Lita, apa kau bisa mengantarku ke apartemen Leo? Tiba-tiba saja aku ingin ke sana.”
“Nyonya, Presdir Leo tidak akan mengijinkan anda ke luar rumah.”
“Ah… aku baru ingat. Leo berjanji mengajakku berbelanja di akhir pekan ini. Aku tidak akan menagih janji itu padanya. Aku akan ke apartemen saja sebagai gantinya.”
“Tapi Nyonya…”
“Kau bisa meminta Niko untuk mengawalku juga.” Shasa mendesak Lita. “Akan merepotkan kalau aku menagih janji Leo sekarang. Bisa-bisa dia langsung terbang pulang hari ini juga.”
“Aku akan melaporkannya dulu pada Komisaris Gusta.” Lita menyerah. “Sepertinya anda sangat merindukan presdir, Nyonya.” Goda Lita sambil memicingkan matanya.
“Tidak… aku hanya ingin sedikit bernostalgia.” Shasa menyanggah. “Aku akan segera bersiap.” Shasa berjalan kembali menuju kamarnya.
Lita tersenyum tipis. 'Nyonya, anda merindukan presdir. Anda merindukannya dengan cara anda sendiri. Anda melakukannya dengan mengingat semua yang pernah anda lewati dengan presdir. Presdir bisa memberikan dunianya padamu jika mengetahui ini. Ah, tidak. Sekarang pun, dunianya sudah menjadi milikmu, Nyonya.’ Gumam Lita sambil melebarkan senyumnya.
*****
Epilog:
“Niko, kau jadi sering sekali ke kamarku malam-malam begini. Harusnya kau tahu, ini bisa jadi berbahaya untukmu.” Lita duduk di sofa kamarnya sambil memandang Niko di hadapannya.
“Aku bahkan tidak pernah menyangka kalau kau selalu mengijinkanku masuk.” Balas Niko.
Lita menghentikan tatapannya tepat di mata Niko. Dia baru menyadari semua ini terjadi karena dia pun memberi Niko kesempatan untuk melakukannya.
“Kelihatannya kau suka aku mengunjungimu.” Tambah Niko dengan senyum kecilnya.
“Apa yang akan kau lakukan jika ada yang mngetahui ini?” tanya Lita sinis.
“Aku hanya perlu mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada jalan untuk mundur kan? Aku hanya perlu melangkah terus ke depan.” Niko berjalan mendekati Lita dan sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya pada Lita. “Aku harap kau pun begitu, Lita. Jangan menyerah lagi terhadapku.”
__ADS_1
*****
Bersambung…