Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Kode


__ADS_3

Shasa menatap luas pemandangan dari rooftop. Dia melihat gedung-gedung tinggi yang kokoh. Semilir angin menggerakkan rambutnya yang panjang.


Shasa tidak pernah berpikir betapa bedanya level kehidupan dia dengan Leo. Dia ragu apakah dia pantas berada di sisi Leo. Sebagai putra konglomerat, orang tua Leo pasti mengharapkan anaknya memiliki pasangan yang setara. Itu yang dipikirkan Shasa.


'Aku tidak pernah malu dengan diriku sendiri. Sesederhana apapun itu, aku tetap menyukai diriku saat ini. Untuk orang biasa seperti aku, harga diri adalah satu-satunya yang aku punya. Tetapi aku lupa bahwa lelaki yang aku nikahi itu, begitu tinggi posisinya di atasku. Harusnya aku menyadari ini dari awal kalau aku hanya bermimpi untuk bisa bersamanya.' Shasa merenung sendirian di bawah awan yang cukup teduh memayunginya.


*****


Leo telah menyelesaikan seluruh meetingnya hari ini. Dia menuju ke hotel bersama asisten Haris untuk beristirahat. Setelah berganti pakaian, Leo bergegas menuju ruang makan yang sudah siapkan secara privat oleh asisten Haris.


"Haris, kau makanlah disini bersamaku." Perintah Leo sambil duduk di kursi meja makan.


"Ya? Bukankah Tuan lebih suka makan sendiri?" Asisten Haris bertanya, ragu.


Leo hanya melihatnya dengan tatapan tajam.


"Ah, baik Tuan. Saya akan makan bersama anda disini." Asisten Haris segera menarik kursi dan duduk di hadapan Leo.


'Sepertinya Nona membuat anda tidak suka lagi makan sendirian.' batin asisten Haris menahan tawanya.


Mereka mulai menikmati makan malamnya dalam diam. Asisten Haris tidak berani memecah keheningan. Setelah selesai makan, mereka kembali ke kamar masing-masing. Leo mengecek tabletnya yang berisi rekaman cctv di rumah. Dia tidak melihat Shasa di kamarnya. Di ruang tengah dan ruang makan juga tidak terlihat. Leo tidak bisa mengecek kamar Shasa karena tidak terpasang cctv disana. Dari awal, Leo memang tidak berencana memasang cctv untuk memantau seseorang seperti yang dia lakukan sekarang. Dia memasang cctv hanya untuk alasan keamanan.


Shasa sedang berada di kamarnya. Dia berbaring memiringkan badannya dan merenung. Dia masih memikirkan hubungannya dengan Leo. Tidak tidak tahu apa yang harus dilakukannya nanti saat Leo kembali. Apa dia perlu bersikap biasa saja atau dia harus mulai menjauhinya sebagai bentuk tahu diri.


Entah kenapa pilihan untuk menjauhi Leo, kini terasa berat bagi Shasa. Kedekatan yang terjalin di antara mereka berdua, sudah mulai menyentuh ke hati Shasa.


Tiba-tiba ponsel Shasa berdering. Dia melihat nama Leo tertera di layarnya. Shasa tentu ingat kalau Leo ingin dia mengangkat teleponnya di dering pertama. Namun Shasa hanya menatap nama itu dan tidak melakukan apapun. Dering ponsel berhenti. Sedetik kemudian, ponselnya berdering kembali. Shasa menarik napas dalam.


"Halo." Shasa menjawab teleponnya.


"Kemana saja kau? Kenapa tidak langsung mengangkat teleponku?" Suara Leo di seberang sana, langsung memaki Shasa.


"Maaf, aku sedang ke toilet tadi." Shasa berbohong.


"Kau sedang apa?" Suara Leo sudah terdengar tenang.


"Aku? Santai-santai di rumah."


"Kau tidak tidur di kamarku?"

__ADS_1


'Ah, pasti Pak Yo memberitahunya kalau aku tidur di kamarku.' batin Shasa


"Aku ingin tidur di kamarku saja." Shasa menjawab.


"Kenapa? Sudah ku bilang kan kamarku lebih nyaman."


Iya, iya, Shasa memang tahu kalau kamar Leo lebih nyaman dan luas. Tetapi, dia hanya akan mengingat Leo dengan tidur di kamarnya.


"Kenapa kau ribet sekali. Aku ingin tidur di kamarku. Aku akan lebih tenang disini." Shasa mulai menaikkan nada bicaranya.


"Kau marah karena aku tinggal? Kalau begitu Haris akan menjemputmu malam ini juga."


"Apa yang kau pikirkan sih? Aku cuma ingin tidur di kamarku. Itu saja. Jangan protes aku lagi."


Leo heran kenapa Shasa jadi galak begini. Mereka masih baik-baik saja saat Leo berpisah untuk pergi ke luar kota.


"Apa aku berbuat sesuatu yang salah padamu?" Leo bertanya heran.


"Aku lelah. Boleh aku beristirahat sekarang?"


Belum sampai Leo menjawab, Shasa sudah menutup teleponnya.


'Huh! Kenapa aku kesal begini sih.' batin Shasa. Sepanjang malam itu, dia hanya memikirkan apa yang harus dia lakukan ke depannya. Apakah dia harus memberitahu Leo kalau dia bertemu dengan Komisaris Gusta? Shasa benar-benar lelah memikirkannya.


"Haris." Leo menelpon asisten Haris yang sudah bersiap ingin tidur.


"Iya, Tuan. Apakah anda memerlukan sesuatu?"


"Sepertinya Shasa sedang marah padaku. Tapi aku tidak tahu kenapa. Apa karena dia sedang memberi kode sesuatu padaku?" Leo mengernyitkan matanya.


"Maksud Tuan, kode apa?"


"Wanita begitu kan. Aku belakangan ini baca buku tentang wanita. Katanya, wanita cenderung jarang mengungkapkan langsung apa yang dia inginkan. Justru wanita akan memberikan kode." Leo begitu serius menjelaskannya. "Apa Shasa sedang memberi kode padaku bahwa dia marah karena aku meninggalkannya atau dia memintaku untuk membelikannya hadiah sepulang ku nanti?"


Gubrak! Asisten Haris sudah seperti mendengar curhatan bocah yang sedang jatuh cinta. Dia menggaruk-garukkan kepalanya, tak percaya kalau yang sedang berbicara ini adalah seorang presdir di perusahaan besar.


"Apakah Tuan ingin aku menyiapkan paket oleh-oleh untuk Nona seperti waktu itu?"


"Tidak. Aku akan memikirkan hadiah yang lebih pas untuknya."

__ADS_1


'Iya, iya, terus saja Tuan berasumsi tentang Nona. Saya akan menyiapkan diri mendengar curhatan anda yang seperti ini kedepannya.' batin asisten Haris frustasi.


*****


Pekerjaan Leo ternyata selesai lebih cepat dari yang dijadwalkan. Dia tidak mau membuang waktu lagi dan segera bergegas pulang. Dia berencana memberi kejutan untuk Shasa atas kepulangannya yang lebih cepat ini.


Setelah mendarat dengan jet pribadinya, Leo memutuskan untuk ke kantor saja. Dia akan menjemput Shasa pulang kantor hari ini. Namun, karena jam pulang kantor masih 4 jam lagi, Leo akan ke ruangannya dulu.


Sampai di lantai VIP, seluruh staf memberi hormat pada Leo. Yang biasanya Leo menunjukkan wajah dingin, saat ini dia memberi senyum tipis di wajahnya.


Di depan meja sekretaris VIP, salah satu staf sekretaris baru saja berjalan dari arah ruangan komisaris. Dia membawa sebuah topi.


"Bu, sepertinya topi Komisaris Gusta tertinggal kemarin." Kata salah satu staf sambil menyodorkan topi yang dipegangnya. Leo yang sedang melintas di depannya, tidak sengaja mendengar percakapan itu. Dia berhenti tepat di depan meja staf sekretaris.


Staf sekretaris yang sedang berbincang seketika kaget melihat Leo yang sudah di hadapan mereka. Dan yang lebih menakutkan, Leo sudah mengerutkan dahinya seperti mencurigai sesuatu. Kedua staf itu langsung memberi hormat. Leo mendekati kedua staf itu.


"Apa yang kau bawa itu?" Tanya Leo ingin memastikan apa yang dia dengar tadi.


"Ini topi Komisaris Gusta, Tuan. Sepertinya kemarin tertinggal di ruangan beliau."


"Kemarin? Apakah komisaris kesini kemarin?"


"Benar Tuan." Staf yang menjawab pertanyaan itu masih tertunduk takut.


"Apa yang dia lakukan disini? Dia tidak mengabariku juga kalau ingin datang."


"Maaf Tuan. Komisaris memang tidak mengabari kalau ingin datang. Sepertinya ada tamu yang perlu beliau temui."


"Tamu? Siapa?"


"Maaf Tuan, saya kurang tahu wanita itu siapa."


'Wanita? Papa mengundang wanita kesini?' batin Leo penasaran.


"Haris. Kirimkan rekaman cctv kemarin di lantai ini." Leo memerintah asisten Haris dengan Tegas. Kemudian, Leo masuk ke dalam ruangannya.


Setelah data rekaman cctv dikirimkan kepada Leo. Asisten Haris hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Dia menebak akan ada perang antara ayah dan anak sebentar lagi.


Benar saja. Leo menggebrak mejanya dengan begitu keras. Rekaman cctv itu memperlihatkan Shasa yang berjalan memasuki ruangan Komisaris. Leo menahan kemarahan pada dua orang. Pertama, dia marah karena tiba-tiba saja ayahnya menemui Shasa, yang dia pun belum pernah mengenalkannya. Kedua, dia marah karena Shasa tidak menceritakan apapun tentang pertemuan dengan ayahnya.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2