
Leo mengajak Shasa ke sebuah taman yang luas dan cukup ramai. Banyak anak kecil bermain di sana, juga beberapa anak muda yang duduk-duduk bersama teman-temannya.
Shasa suduk di salah satu bangku taman, menunggu Leo yang pergi entah kemana. Dia menikmati suasana taman ini. Shasa juga ingin sekali menaiki ayunan seperti yang dinaiki anak kecil di taman itu, tapi dia malu. Lalu, Leo datang menghampiri Shasa dengan dua buah es krim di tangannya.
"Kau ingin rasa apa? Coklat atau stroberi?" Tanya Leo.
"Stroberi!" Jawab Shasa seperti anak kecil. Leo pun memberikan es krim rasa stroberi pada Shasa.
Leo duduk di samping Shasa. Mulai menikmati es krim coklat miliknya.
"Sayang, aku ingin sekali naik ayunan itu."
Leo sontak menoleh ke arah Shasa. "Aku akan membuatkannya yang seperti itu di rumah."
"Berarti aku harus menunggu sampai kita pulang ya. Oh iya, memangnya kita berapa lama di sini, sayang?"
"Karena pekerjaanku masih banyak sekali, kita akan berada di sini selama empat hari. Itu artinya dua hari lagi kita akan pulang."
"Sayang..." Shasa memanggil Leo.
"Iya?"
"Aku ingin es krim coklat milikmu. Apa kita bisa bertukar es krim?"
Leo berpikir sejenak. "Baiklah." Mereka pun bertukar es krim. Leo hanya tertawa kecil dengan tingkah laku Shasa. Leo menoleh ke arah jam di tangannya. "Sayang, coba kau hitung dari satu sampai lima."
"Untuk apa?"
"Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima..."
Byurrrrr. Setelah Leo menghitung, air mancur di hadapan mereka keluar dan menari dengan indahnya. Ada musik juga yang mengiringi air mancur bergoyang itu. Banyak anak kecil di dekat air mancur bermain-main. Baju mereka mulai basah karena terkena cipratan air.
Shasa terkejut melihat air mancur itu. Dia langsung berdiri. "Sayang, ayo kita kesana." Katanya dengan antusias.
Belum sampai Leo menjawabnya, Shasa sudah berlari ke arah air mancur. Leo langsung mengejarnya. Shasa sudah menikmati cipratan air itu sama seperti anak kecil di sana. Shasa menari-nari di dekat air mancur terbuka. Leo menatap Shasa yang sedang bahagia karena hal sesederhana itu.
Setelah puas bermain-main, Shasa kembali pada Leo yang berdiri tak jauh dari air mancur. Leo menepuk-nepuk mantel Shasa agar cipratan airnya luruh dan mengelus rambut Shasa yang sedikit basah.
"Kenapa kau seperti anak kecil sih?" Leo tertawa. "Ayo kita pulang. Kau bisa sakit kalau pakai baju basah seperti ini." Leo menggandeng tangan Shasa dan membawanya masuk ke mobil. Mereka segera melesat pulang ke rumah.
*****
Shasa sudah bersantai di kamarnya sambil menunggu makan malam. Dia menonton sebuah acara televisi yang membuatnya tak berhenti tertawa. Leo sedang ada di luar kamar dan berbicara dengan asisten Haris. Tak lama, koki mengatakan pada asisten Haris kalau makan malam sudah siap. Leo pun kembali ke kamar untuk memanggil Shasa.
"Sayang, ayo kita makan."
__ADS_1
Shasa pun bergegas mematikan televisi dan menghampiri Leo yang berada di depan pintu kamar. Leo menggenggam tangan Shasa dan membawanya ke meja makan.
Saat memasuki area meja makan, terdengar alunan musik piano yang begitu lembut seolah menyambut mereka. Benar saja. Di dekat meja makan yang sudah tertata rapi, ada sebuah piano klasik lengkap dengan pemainnya yang begitu mahir. Shasa tersenyum senang.
Leo memeluk Shasa dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu Shasa. "Malam ini, kita akan makan malam diiringi alunan musik itu." Leo berbisik di telinga Shasa.
Senyum manis mengembang dari wajah Shasa yang masih menikmati alunan nada indah dari piano di hadapannya.
Mereka mulai menyantap makan malamnya. Pelayan menghidangkan makanan satu per satu. Jantung Shasa begitu berdebar selama makan malam romantis ini. Alunan musiknya, makanan mewahnya, dan... Leo di hadapannya, sempurna.
Setelah semua makanan yang dihidangkan habis tak bersisa, mereka menikmati segelas jus segar. Mereka mengobrol dan sesekali tertawa.
"Sayang, kau ingin berdansa?" Leo bertanya sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiran Shasa.
Shasa mengangguk-angguk. Mereka bangkit dari kursinya dan bergerak ke tengah-tengah ruangan mendekati piano yang masih mengeluarkan melodi indah dari setiap tuts-nya. Leo dan Shasa mulai berdansa pelan.
"Aku tidak bisa berdansa." Shasa mengatakannya sambil tertawa.
"Tidak apa-apa. Aku akan memelukmu. Kita hanya akan bergerak ke kanan dan ke kiri. Ikuti saja aku." Leo melingkarkan tangannya di tubuh Shasa, sedangkan Shasa melingkarkan tangannya ke leher Leo. Shasa mendekatkan kepalanya ke dada Leo dan menyandarkannya. Leo mulai membawa Shasa menari pelan. Mereka menikmati alunan musik itu dengan jantung mereka yang bersahutan berdetak.
"Sayang." Shasa memanggil Leo pelan.
"Hem..."
"Aku tidak ingin melepaskan pelukanmu."
"Sayang."
"Hem..."
"Sejak kapan kau menyukaiku?"
"Sejak kau muncul di hidupku."
"Bohong." Shasa tersenyum tipis.
"Kenapa kau memilihku di antara banyaknya wanita cantik di dunia ini?"
"Karena kau yang paling cantik."
"Kau berbohong lagi."
"Aku tidak berbohong. Kau saja yang tidak pernah percaya padaku."
"Sayang."
__ADS_1
"Sudah, jangan bicara lagi. Jangan pikirkan orang lain lagi. Saat ini hanya ada kita. Pikirkan kita saja." Leo mengecup kepala Shasa dalam pelukannya.
*****
Dansa romantis telah usai. Shasa sedang mengganti bajunya dengan pakaian tidur.
"Sayang." Leo mengagetkan Shasa yang sudah membuka seluruh bajunya, tetapi belum memakai pakaian tidur. Shasa menutupi beberapa bagian tubuhnya agar Leo tidak melihat.
"Sayang! Bisa tidak biarkan aku ganti baju dulu?" Shasa terdengar memaki.
"Kenapa malu sih? Aku sudah lihat semua bagian tubuhmu juga kan? Aku cuma mau bilang, tidak perlu repot-repot pakai baju. Pakai mantel tidur itu saja, biar gampang." Goda Leo.
Shasa langsung berbalik menatap Leo sinis.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Leo mendekat ke arah Shasa. "Malam ini sampai besok aku tidak akan mengijinkanmu keluar satu langkah pun dari kamar ini." Kini wajah mereka sudah dekat sekali. Leo mengangkat tangannya dan membelai pipi Shasa lembut.
Shasa sudah ingin mundur dan bersandar pada lemari yang terbuka, tetapi Leo menarik pinggang Shasa dan membuat tubuhnya menempel pada Leo.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Kau hampir terbentur lemari." Leo tidak melepaskan pandangan matanya dari Shasa. Perlahan, Leo mendekatkan wajahnya dan mencium Shasa habis-habisan. Shasa juga tidak mengenakan sehelai bahan pun di tubuhnya, membuat Leo lebih mudah melakukan apa yang dia inginkan.
*****
Matahari sudah tinggi. Leo dan Shasa benar-benar belum keluar dari kamarnya. Sarapan tadi pagi pun hanya diantar ke kamar mereka. Entah sudah berapa kali mereka mengulangi percintaannya, yang jelas Shasa sedang terlelap dalam tidurnya seperti tidak tidur semalaman.
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar. Leo menarik dan mengenakan mantel tidurnya, kemudian membuka pintu kamar.
"Kau ingin ku pecat jadi asistenku?" Ketika melihat aissten Haris yang mengetuk pintunya, kata-kata itu yang otomatis keluar dari mulut Leo.
"Tidak, Tuan. Maaf."
"Kau bisa membangunkan istriku dengan mengetuk seperti itu." Leo mengomel. "Ada apa?"
"Tuan, ada sesuatu yang penting tentang bisnis yang harus anda putuskan sekarang. Ada panggilan video dari anak perusahaan pagi ini. Saya sudah mencoba mengulur waktu, tapi rasanya tidak bisa lagi."
"Baiklah. Selesaikan di luar saja. Aku tidak ingin Shasa bangun."
Leo dan asisten Haris pun menuju ke sebuah meja yang sudah tersedia laptop di atasnya. Setelah berbicara panjang lebar, Leo mematikan panggilan video itu.
"Haris, percepat kepulangan kita. Siapkan semua. Setelah Shasa bangun nanti, kita langsung pulang."
Asisten Haris mengiyakan, tetapi dia bingung satu hal. "Tuan, kira-kira kapan Nyonya akan bangun?" Asisten Haris perlu tahu jam pastinya agar bisa mempersiapkan lebih cepat.
"Kau pikir aku tahu? Pokoknya aku tidak akan membangunkannya. Tunggu sampai dia benar-benar bangun sendiri." Leo pun meninggalkan asisten Haris yang makin bertambah bingung.
'Kalau tidak bangun sampai besok pagi, bagaimana?' batin asisten Haris, tak tahu lagi menghadapi bosnya yang tiba-tiba jadi bodoh karena satu wanita.
__ADS_1
*****
bersambung...