Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Kamar Nyaman


__ADS_3

Pagi ini, Shasa terbangun karena segaris sinar matahari sudah menyinari wajahnya. Dia menyadari kalau lengan Leo masih melingkar di perutnya. Shasa berusaha melihat jam dinding yang ada di hadapannya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Astaga! Leo! Sayang! Kamu terlambat ke kantor!" Shasa sudah histeris membangunkan Leo.


Yang dibangunkan hanya sedikit bergerak tanpa melepaskan pelukannya sedikit pun.


"Sayang! Ayo bangun! Aduh, kenapa bisa terlambat bangun sih?!" Shasa terus menggerakkan tubuh Leo.


"Sayang, hari ini aku tidak ke kantor." Jawab Leo dengan matanya yang masih terpejam.


Shasa bingung. "Kenapa? Hari ini bukan hari libur kan? Apa kau sakit?" Shasa menebak-nebak alasan Leo tidak ke kantor hari ini. "Sayang... Ayo bangun!" Shasa terus membangunkan Leo dengan frustasi.


"Sayang... Sebentar lagi. Aku masih ingin tidur sebentar lagi." Ucap Leo tanpa membuka matanya sama sekali. Lengannya pun masih berada di posisinya, tak berubah.


Shasa mendengus kesal. "Apa kau merasa sudah memiliki segalanya sehingga kau jadi malas-malasan ke kantor?"


Leo menggeleng. Shasa pun menyerah membangunkan Leo dan membiarkannya tidur beberapa saat lagi. Karena dia juga tidak bisa melepaskan diri dari Leo, Shasa akhirnya melanjutkan tidurnya lagi.


Setelah beberapa saat, Shasa merasa ada yang meletakkan jari di bulu matanya. Perlahan Shasa membuka matanya. Dia melihat Leo yang memandangi wajahnya entah sejak kapan. Sepertinya Leo yang memainkan bulu matanya sejak tadi.


"Kenapa kau tidak ke kantor?"


"Aku ingin bermalas-malasan denganmu hari ini." Jawab Leo yang melanjutkan aktivitasnya memainkan jari di wajah Shasa. Sekarang dia mengelus alis Shasa dengan lembut.


"Sayang!" Shasa mulai memanggil Leo dengan kesal.


"Kenapa kau marah-marah terus sih?" Goda Leo. "Kita akan pergi hari ini."


"Kemana?"


"Kenapa masih bertanya? Aku kan sudah bilang kita akan jalan-jalan dan berbulan madu lagi."


"Hari ini?"


Leo mengangguk-angguk


"Aaaaa... Aku belum menyiapkan apa-apa, sayang. Aku juga belum membereskan pakaianku. Kenapa kau tidak bilang sejak kemarin?"


"Kau tidak perlu menyiapkan apa-apa. Kau hanya perlu duduk manis saja di sampingku."


Shasa memicingkan matanya pada Leo dan beranjak dari kasur menuju kasar mandi. Dia melangkah kesal. Leo hanya menatapnya dan tertawa kecil pada Shasa.


Setelah selesai sarapan, Leo dan Shasa berpamitan dengan Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia. Beberapa pelayan juga terlihat keluar membawa beberapa koper milik Leo dan Shasa. Leo mengajak asisten Haris dan Lita untuk tetap mendampingi mereka selama jalan-jalan nanti.


Mobil Leo melesat cepat menuju bandara. Wajah antusias Shasa tidak dapat ditutupi. Dia tampak senang sepanjang perjalanan.


Sesampainya di bandara, Leo dan Shasa menuju ruang tunggu khusus sebelum penerbangan mereka menggunakan jet pribadi. Leo tak melepaskan genggaman tangannya pada Shasa selama di sana. Tak lama, jet pribadi Leo akhirnya lepas landas, membawa Leo dan Shasa terbang ke langit. Perjalanan kali ini, adalah perjalanan jauh Shasa untuk pertama kalinya. Yang biasanya pergi hanya di dalam negeri saja, kali ini Shasa akan menjelajah ke luar negeri.


"Sayang, aku tidak pandai bahasa asing. Kalau aku tersesat di sana, bagaimana?" tanya Shasa yang sedang menempel di dada Leo untuk mencari kehangatan.

__ADS_1


"Mana mungkin kita tersesat di sana. Aku tinggal sekitar 20 tahun di luar negeri. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan jadi penerjemahmu."


"Apa di sana ada salju?"


"Em... Sekarang ini bukan musim salju. Mungkin kalau beberapa bulan ke depan kita pergi lagi, baru kau bisa lihat salju."


"Kalau udara di sana, bagaimana?"


"Udaranya sangat dingin. Mungkin kau tidak akan melepaskan pelukanku saking dinginnya di sana"


"Ish..." Shasa tertawa kecil sambil memukul dada Leo pelan.


Mereka terus mengobrol dengan asyik di atas awan yang bergumpal-gumpal indah. Asisten Haris dan Lita hanya duduk di belakang sebagai penonton drama manja-manjaan Shasa ke Leo. Mereka berdua sampai tidak tahu mana yang waras dan mana yang tidak.


*****


Pesawat telah mendarat dengan aman di kota tempat Leo dibesarkan. Tempat yang terletak sangat jauh, membentangkan jarak antara dirinya dan ayahnya dulu.


Sebelum keluar dari pesawat, Leo mengambil sebuah mantel dari kabin pesawat dan memakaikannya ke Shasa. Dia juga menarik sebuah syal dan melingkarkannya ke leher Shasa.


Shasa mengerutkan dahinya. "Jika dari tadi kau memberitahuku kalau kau menyimpan mantel, aku tidak akan memelukmu sepanjang perjalanan." Protes Shasa.


Leo hanya tersenyum tipis sambil merapikan rambut Shasa. "Aku memang sengaja tidak memberitahumu agar kau tidak melepaskan pelukanku." Leo tersenyum puas, meninggalkan Shasa yang sedang menahan kesal.


Sebuah mobil menjemput Leo dan Shasa, sedangkan asisten Haris dan Lita menggunakan mobil yang lainnya. Mereka langsung menuju rumah Leo untuk beristirahat setelah penerbangannya. Shasa tak henti mengagumi sepanjang jalan yang tak biasa dilihatnya. Situasi yang benar-benar berbeda dengan kota tempat tinggalnya. Meskipun udara sedikit menusuk di tubuh Shasa, tetapi senyumnya tak henti mengembang dari wajahnya. Dia tak sabar berkeliling di kota ini, berjalan kaki atau mencoba naik sepeda.


Mereka sampai di sebuah rumah klasik yang cukup luas. Leo turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Shasa. Alih-alih mengulurkan tangannya untuk Shasa, Leo malah menggendong Shasa dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Leo membawa Shasa masuk ke dalam kamarnya dan mendudukkan Shasa di atas kasur. Ruangan itu cukup hangat karena mesin penghangat ruangan yang sepertinya sudah disiapkan sejak tadi. Aroma kamar ini sungguh berbeda. Benar-benar membuat nyaman.


Leo sudah membuka mantelnya dan meletakkan di tiang gantungan. Dia melangkah ke arah Shasa, membuatnya berdiri, dan membuka mantel dan syal Shasa. Dia melemparkannya ke sofa kamar yang terletak tidak jauh dari kasur. Shasa mengerjapkan matanya berkali-kali, mencerna apa yang akan dilakukan Leo.


Leo langsung memeluk Shasa erat. "Kau tahu, di sini aku menghabiskan rasa kesepianku. Aku selalu sendiri. Melihatmu di sini, semua lukaku hilang." Leo makin mempererat pelukannya.


Hati Shasa bergertar. Dia bisa merasakan betapa kesepiannya Leo dulu. "Sayang..." Ucap Shasa lembut.


Mereka melepaskan pelukannya dan saling menatap berhadapan. "Kalau kau pergi, mungkin aku tidak akan hidup lagi." Mendengar Leo berkata seperti itu, Shasa menggeleng pelan.


Leo mencium Shasa. Dia melanjutkan semua ciumannya ke bagian tubuh Shasa yang lain. Tangan Leo sudah menggerayangi tubuh Shasa dengan sentuhan lembutnya di mana-mana. Satu per satu Leo membuka baju Shasa, begitu pun Shasa yang perlahan membuka semua baju Leo.


Leo mendorong pelan Shasa ke tempat tidur. Dia melepaskan semua yang ingin dia lakukan pada Shasa. Dia begitu tergila-gila dengan tubuh mungil Shasa. Sore itu hingga malam mereka saling memuaskan satu sama lain. Tenggelam dalam kebahagiaan yang bertubi-tubi karena cinta mereka.


*****


Lita sudah gelisah menunggu Shasa yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Jadwal makan malam Shasa sudah lewat. Vitamin-vitamin yang harus diminum Shasa juga belum disentuh sama sekali.


"Tidak usah gusar begitu, Lita. Mereka sedang bersenang-senang." Sahut asisten Haris tiba-tiba yang sedang duduk bersamanya di meja kecil dekat ruang makan.


"Entah ini yang hebat Presdir Leo atau Nyonya, sudah berapa jam mereka tak keluar. Menurutmu apa mereka baik-baik saja?" Lita jadi terdengar khawatir.

__ADS_1


"Kenapa kau jadi seperti ini, Lita? Seperti belum pernah menikah saja." Ledek asisten Haris.


"Makan dan minum vitamin juga bagian dari usaha untuk membuat Nyonya hamil. Mereka harusnya juga beristirahat kan?" Lita menggeleng-geleng sambil menyilangkan kedua tangannya.


Tak lama, terdengar suara pintu terbuka. Leo keluar dari kamar mengenakan mantel tidurnya. Namun, Shasa tidak terlihat batang hidungnya. Lita dan asisten Haris langsung berdiri menyambut Leo yang berjalan ke arah mereka.


"Makan malam sudah siap?" Tanya Leo.


"Sudah, Tuan." jawab asisten Haris.


"Berikan padaku. Kami akan makan malam di kamar."


'Astaga! Apa Presdir bahkan tidak mengijinkan Nyonya memakai sehelai baju pun sampai-sampai Nyonya tidak keluar.' pikir Lita dalam hati.


Asisten Haris segera memanggil pelayan untuk merapikan makanan dalam sebuah nampan.


"Tuan, saya menitipkan vitamin untuk Nyonya." Lita meletakkan sebuah botol kecil di atas nampan.


"Kenapa kau tidak memberitahu dari tadi kalau Shasa harus minum vitamin?" Leo malah mencecarnya.


"Dokter menganjurkan untuk meminum vitamin setelah makan, Tuan. Karena Nyonya belum makan, saya tidak berani memberikannya lebih cepat." Lita menjelaskan dengan hati-hati. Dalam hatinya dia menggerutukan Leo dan Shasa yang betah sekali di kamar.


"Baiklah." Leo pun mengangkat nampan yang sudah berisi makanan dan vitamin. Dia berjalan menuju kamarnya lagi.


Asisten Haris dan Lita hanya menonton seseorang yang setiap gerakannya adalah uang, membawa senampan makanan layaknya seorang pelayan.


"Sayang... Ayo kita makan dulu." Leo berbicara dengan sedikit riang agar Shasa terbangun. Dia sedang malas-malasan di kasur karena masih merasa nyaman dengan kamar ini.


"Sayang, ambilkan bajuku dong." Ucap Shasa manja.


Leo mengambilkan mantel tidur dengan warna senada seperti yang dipakainya. Kemudian, dia berjalan ke arah Shasa dan membangun tubuhnya yang tidak memakai apa-apa. Leo memakaikan mantel itu pada Shasa.


"Kenapa hanya mantel?" Tanya Shasa bingung.


"Tak perlu repot-repot memakai pakaian lengkap. Seperti ini akan mudah bagiku." Leo mengikat tali mantel itu.


Shasa sudah menunjukkan wajah sinisnya. Dia menghilang dari hadapan Leo dan berjalan ke arah meja kecil yang di atasnya terdapat nampan makanan. Leo tersenyum puas karena sudah menggoda Shasa berkali-kali sejak tadi. Lagian, sudah sering digoda masih saja kesal. Makin kesal, makin Shasa terlihat menggemaskan.


Mereka menikmati makan malamnya dengan lahap.


"Sayang, itu vitamin dari Lita."


"Em... Iya. Aku sudah hapal." Jawab Shasa. "Sayang, aku nyaman sekali berada di kamar ini. Entah kenapa."


Shasa menyadari kalau rumah Keluarga Gusta jauh lebih mewah daripada rumah ini. Tetapi, rumah ini terasa lebih nyaman bagi Shasa.


"Bahkan kamar ini saja menyukaimu."


Mereka tertawa bersama. Malam indah untuk yang kesekian kalinya. Cinta mereka terus bertumbuh dan menjalar kemana-mana.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2