Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Kesal


__ADS_3

"Niko. Bisa bantu aku sebentar?" Leo mendekati Niko yang baru saja keluar dari ruangannya.


Niko memberi hormat pada Leo. "Ada apa, Tuan? Apa yang bisa aku bantu?"


"Shasa ingin kau membacakan sebuah buku untuknya."


'Hah? Nyonya mulai lagi.' batin Niko.


"Sebentar saja." Leo mulai berjalan menuju kamarnya. Niko mengikuti langkah Leo dari belakang. Sepanjang jalan menuju kamar Leo, Niko tidak berhenti bergumam-gumam kecil.


"Hai, Niko." Melihat Niko yang masuk ke kamar bersama Leo, Shasa langsung menyapanya dengan senyum sumringah.


Niko memberi hormat pada Shasa. "Ada yang bisa ku bantu, Nyonya?" Tanya Niko dengan wajah datar.


"Kau bisa bacakan buku ini untukku?" Shasa menyodorkan sebuah buku ke Niko.


Niko berjalan mendekati Shasa yang duduk di sofa, mengambil buku yang disodorkannya. 'Apa ini?! Buku lelucon???' gerutu Niko dalam hati.


Leo duduk di sofa samping Shasa. Dia melebarkan lengannya agar Shasa bersandar. Keduanya kini duduk menghadap Niko yang masih menatap buku di tangannya.


"Niko, duduklah." Leo mempersilahkan Niko untuk duduk.


Dengan tatapan dingin, Niko melirik ke Leo dan Shasa yang seolah sedang menunggu sebuah pentas sirkus. Niko pun tak punya pilihan selain duduk di sofa dan mulai membuka lembar per lembar buku itu. Dia membacakan dengan gayanya yang kaku dan datar.


"Niko, jika kau membaca seperti itu, kau tidak seperti sedang membaca buku lelucon, tetapi terdengar seperti sedang berpidato. Kau seharusnya menggunakan intonasi yang pas sehingga unsur humornya terasa." Shasa menceramahi Niko.


"Aku tidak pernah membaca buku seperti ini, Nyonya."


"Itu artinya kau mulai harus belajar, Niko. Kau harus membangun selera humor di dalam dirimu sedikit saja. Keponakanmu pasti akan menyukainya." Shasa ceramah lagi. "Sayang, coba kau gantian baca buku itu." Shasa melirik Leo di sampingnya.


Niko memberikan buku di tangannya pada Leo. Leo terlihat gugup membacanya karena sama seperti Niko, ini pertama kalinya Leo membaca buku lelucon. Leo berusaha membaca buku itu sesuai ekspektasi Shasa.


"Nah... Ternyata suamiku lebih bagus membacanya." Ucap Shasa sambil tersenyum senang pada Leo. "Kalau begitu, kau saja yang melanjutkan bacanya." Leo tersenyum puas.


'Lagian kenapa susah-susah sih menyasar minta ke orang lain untuk melakukannya. Kenapa tidak coba dulu dari suami di sampingmu itu, Nyonya?' protes Niko tanpa suara.


*****


Niko keluar dari kamar Leo dan Shasa sambil geleng-geleng kepala dan menahan kesal. Dia mencoba menarik napas panjang untuk meredam kekesalannya. Niko pun berjalan keluar dari paviliun Leo.


Di rumah utama, seorang pelayan mendekati Niko.

__ADS_1


"Tuan, tadi Tuan Gusta mencari anda." Kata pelayan itu.


"Dimana Tuan sekarang?"


"Tuan ada di ruang tengah bersama Nyonya besar."


Niko mengangguk dan segera meninggalkan pelayan itu menuju ruang tengah. Komisaris Gusta sedang berbincang-bincang santai dengan Nyonya Sofia. Niko mendekat ke arah mereka yang sedang duduk di sofa.


"Tuan, anda memanggilku?"


"Dari mana saja kau, Niko? Sepertinya aku melihat belakangan ini kau menjadi sibuk sekali." Kata Komisaris Gusta.


'Kenapa anda masih bertanya, Tuan? Bukankah anda yang memintaku untuk memastikan menantu anda terpenuhi segala sesuatunya? Aku menjadi sibuk karena itu.' gerutu Niko dalam hati.


Niko tersenyum tipis. "Nyonya Shasa habis meminta bantuanku tadi."


"Apa yang kau lakukan untuknya?" Tanya Komisaris Gusta penasaran.


"Nyonya memintaku untuk membacakan sebuah buku lelucon. Tapi kemudian, Nyonya meminta Tuan Leo saja yang melanjutkannya."


"Oh ya?" Nyonya Sofia terlihat antusias. "Itu pasti keinginan bayinya. Wajar kalau wanita yang sedang hamil itu mengidam. Mungkin keinginannya sedikit aneh, tapi harus dituruti. Kalau tidak, nanti bisa berdampak ke bayinya." Jelas Nyonya Sofia.


"Hei, apa kau lupa? Waktu aku hamil dulu, aku juga banyak meminta ini-itu. Kau saja yang tidak mengingatnya. Ibumu yang selalu meminta semua pelayan untuk menuruti keinginanku. Itulah kenapa aku melahirkan anak yang sempurna seperti Leo."


"Ah... Niko, jika dia menginginkan sesuatu lagi darimu, lakukanlah seperti yang dia katakan. Aku tidak mau ada satu hal pun yang berdampak pada bayinya."


"Aku akan mengatakannya pada Leo. Suami harus lebih peka saat istrinya hamil. Mungkin akan sedikit merepotkan. Tetapi, seperti berbuat dosa kalau tidak menurutinya." Ucap Nyonya Sofia sambil berpikir.


'Satu orang yang hamil, tetapi sudah seperti seisi rumah ini yang mengidam.' batin Niko protes.


*****


Leo sedang bekerja dengan laptopnya di kamar. Hari ini dia tidak berangkat ke kantor dan meminta asisten Haris membawa semua pekerjaannya ke rumah. Shasa hanya memerhatikan Leo yang sedang serius bekerja sambil memakan camilan.


"Sayang." Panggil Shasa.


"Hem..."


"Kapan aku boleh keluar kamar?"


"Setelah trimester pertamamu lewat."

__ADS_1


"Hah? Menunggu sampai kandunganku 3 bulan?" Tanya Shasa tak percaya.


"Iya. Dokter mengatakan usia kandungan di trimester pertama adalah kondisi yang rentan. Jadi, kau tidak boleh capek dan harus menjaga kesehatanmu dengan baik."


Shasa terlihat lemas. Dia tidak membayangkan berlama-lama di kamar.


"Sayang, setidaknya biarkan aku berjalan-jalan di sekitar paviliun kita. Aku bisa bosan kalau di kamar terus. Aku butuh udara segar." Protes Shasa.


"Apa aku merasa tidak segar di sini? Aku akan meminta petugas untuk mengecek kondisi udara di kamar ini." Kata Leo tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari laptop.


"Sayang, maksudku itu adalah udara segar dari pepohonan, tumbuh-tumbuhan hijau, dan aku juga ingin melihat matahari. Aku hanya akan main ke taman belakang, santai-santai di ruang tengah, ataupun melihat para koki bekerja di dapur."


"Kenapa aku harus mengijinkanmu?" Tanya Leo menantang.


"Karena aku adalah satu-satunya istrimu yang saat ini sedang mengandung anakmu dan anakmu ini ingin melihat dunia luar."


Leo menggeser sedikit laptopnya. "Rayu aku sampai aku berubah pikiran." Leo tersenyum nakal.


Shasa bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Leo. Dia menggeser laptop Leo sedikit menjauh dan duduk di pangkuan Leo.


"Kenapa kau suka sekali menantangku, sayang?"


Leo hanya tersenyum pada Shasa yang kini duduk menghadapnya.


Tak pakai aba-aba, Shasa mencium bibir Leo dan bagian lainnya yang dia sukai. Leo menyambut ciuman Shasa dengan ******* bibir lembutnya. Entah kenapa, Leo merasa tubuh Shasa lebih menarik daripada sebelumnya. Dia sudah ingin melucuti pakaian Shasa satu per satu, tapi dia mengingat kalau Shasa sedang hamil. Leo pun berhenti melakukan aktivitasnya.


"Apa tidak apa-apa melakukannya saat kau hamil begini?" Tanya Leo.


Shasa juga berpikir sejenak. "Aku juga tidak tahu sih. Apa kita perlu bertanya pada dokter dulu?"


Keduanya tertawa bersamaan. Pengalaman pertama berada di fase menjadi calon orang tua, ternyata ada cukup banyak hal yang tidak mereka ketahui. Mereka pun memilih berhenti melanjutkan serangan-serangan rayuannya.


"Kau ijinkan aku keluar kamar kan?" Shasa mengedipkan sebelah matanya. Leo pun merapikan rambut Shasa yang menjadi agak berantakan karena aktivitas mereka tadi.


"Kamar, taman belakang, ruang tengah, dan dapur, aku mengijinkannya. Tidak dengan tempat-tempat yang tidak kau sebutkan."


'Hah! Tadi saja aku sebut seisi rumah ini!' batin Shasa kesal.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2