
Leo dan Shasa sudah terlelap dalam tidurnya. Lampu kamar sudah bercahaya temaram. Seisi rumah sudah sunyi dan masing-masing beristirahat di ruangan mereka.
Ada sepasang manusia yang masih berbincang di halaman belakang paviliun rumah Keluarga Gusta. Lampu taman cukup terang menyinari wajah kedua manusia yang duduk di sana. Bayangan gelap lelaki dan perempuan itu terpantul dari rerumputan taman belakang yang sedikit basah. Semilir angin begitu segar hingga keharuman rumput basah dapat tercium. Tak banyak bintang malam itu. Hanya ada beberapa titik cahaya terang dari langit dan satu titik yang paling terang di antara yang lainnya.
“Mengajakku mengobrol malam-malam begini, di luar pula, untung saja semuanya sudah tidur, kalau tidak, besok pagi para pelayan akan mulai menggosipkanmu, Niko.” Lita berbicara dengan tangannya disilangkan ke depan.
“Dari pada mengobrol di dalam kamarmu, lebih baik di luar seperti ini.” Sahut Niko. Niko tidak ingin lagi kejadian terpergoknya dia di kamar Lita seperti waktu lalu, terjadi untuk yang kedua kalinya. Dia pun memilih mengajak Lita berbicara di luar kamar.
Lita tersenyum tipis. “Lalu, apa inti pembicaraanmu malam ini? Sejak tadi kau masih saja berbasa-basi.”
“Lita, aku… aku…” Niko terbata-bata.
“Niko, kau bermain-main denganku? Aku tidak pernah melihatmu gugup seperti ini, kecuali saat kau melamarku dulu.” Lita menyela.
“Kau benar, Lita.” Niko menunduk.
“Apanya yang benar?” Lita heran.
“Kau benar. Aku segugup ini waktu melamarmu dulu. Malam ini pun sama, aku gugup saat aku ingin mengajakmu hidup kembali denganku.” Jawaban Niko ini otomatis membuat Lita terkejut.
“Apa?!” Tak sadar Lita justru bertanya dengan nada tinggi. Sebenarnya dia berusaha menutupi suara irama jantungnya yang sedang tak karuan itu.
“Aku selalu takut untuk mengucapkan pertanyaanku tadi. Melihatmu sedekat ini, aku sudah bersyukur. Aku takut kau akan pergi lagi jika aku memintamu kembali.” Jelas Niko lagi.
Lita hanya menatap Niko di depannya. Dia hampir tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Kau tidak perlu berpikir terlalu luas tentang kebahagiaanku. Karena, kebahagiaanku sedekat ini. Kau tidak perlu mengira terlalu jauh, Lita.” Niko menatap Lita dengan dalam. “Melihatmu sedekat ini saja, aku sudah bahagia. Kalau kau pergi, hilang semua kebahagiaanku. Aku hanya ingin hidup sesederhana itu bersamamu. Seseorang mengatakan padaku kalau aku harus memiliki tujuan yang jelas. Saat ini, aku memberanikan diri mengatakannya.”
__ADS_1
Mata Lita berkaca-kaca. “Niko, aku selalu berpikir jika aku memulai lagi sesuatu yang sudah lama, aku hanya akan menemukan akhir yang sama. Tapi ternyata aku juga tidak sanggup memulai sesuatu yang baru karena takut menemukan akhir yang sama.” Lita menjelaskan sambil menunduk. Kemudian, dia menegakkan kepalanya kembali, menatap mata Niko tepat di depannya. “Aku sempat bingung saat ingin memutuskan untuk melupakanmu atau tidak. Sulit sekali memilih di antara kedua pilihan itu. Lalu, aku menjalani hidupku tanpa memilih apapun. Sampai suatu hari, aku bertemu denganmu lagi. Aku tidak bisa membohongi akhir perjalananku ada di mana. Niko, aku akan…”
Belum sampai Lita mengatakan secara lengkap kalimatnya itu, tiba-tiba ponsel Niko berdering kencang. ‘Tuan Leo?! Malam-malam begini?!’ Niko bertanya-tanya dalam hati. 'Kenapa meneleponku di jam segini?'
*****
Shasa yang sedang terlelap, sekejap terbangun karena ingin buang air kecil. Perlahan, Shasa menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Dia bergerak sangat lambat agar Leo tidak terbangun. Shasa berjalan ke arah kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya. Tiba-tiba saja, dia berhenti tepat di depan pintu kamar mandi. Dia menoleh ke bawah. Tanpa sadar, air dari dalam tubuhnya mengalir begitu saja.
‘Bagaimana bisa aku buang air kecil sembarangan seperti ini?’ batin Shasa. Dia sedikit berjongkok, ingin mengelap air itu dengan keset di depan kamar mandi. Dahi Shasa berkerut. ‘Ini bukan air, ini lendir.’ Shasa bingung. Tiba-tiba muncul rasa sakit bergejolak di perutnya.
“Sayang! Sayang!” Shasa berteriak sekuat tenaga. “Leo! Sayang!” Shasa berteriak memanggil Leo.
Leo yang tertidur, kaget terbangun mendengar suara Shasa yang begitu keras memanggilnya. “Sayang!” Melihat Shasa memegangi perutnya, Leo langsung melompat dari kasur dan berlari ke arah Shasa. “Sayang!” Leo menangkap tubuh Shasa yang terduduk di lantai.
“Sayang, perutku sakit. Sakit sekali.” Shasa meringis.
Sekejap saja, rumah Keluarga Gusta mendadak heboh. Semua pelayan di rumah itu terbangun. Sederet mobil dipersiapkan dengan cepat untuk membawa Shasa, Leo, Komisaris Gusta, dan Nyonya Sofia.
Leo memegangi tangan Shasa dengan erat. Dia masih meringis kesakitan. Niko dan Lita sudah siap membawa Leo dan Shasa dalam satu mobil yang sama.
“Ibu… Ah, sakit sekali.” Shasa mengurai air mata tanpa sadar. Dia masih memegangi perutnya.
“Lita, bawa Ibunya Shasa ke sini segera! Jemput ibunya dengan jet pribadi!” perintah Leo.
Lita sempat ragu. Bagaimana caranya menjemput seseorang di tengah malam begini. Tapi, Lita langsung mengetikkan perintah Leo di ponselnya dan mengirim instruksi tersebut ke seseorang.
“Sayang, aku di sini bersamamu. Tahan sedikit lagi.” Leo berusaha menenangkan Shasa padahal dia sendiri pun jauh lebih butuh ditenangkan. ‘Sial! Ini yang tidak ingin aku lihat. Aku benci Shasa kesakitan seperti ini!’ batin Leo memaki.
__ADS_1
*****
Epilog:
Flashback saat Shasa memanggil Niko di taman belakang sehari setelah Shasa memergoki Niko di kamar Lita.
Niko terdiam. Dia merasa seperti diceramahi oleh seorang wanita yang umurnya lebih muda darinya. Meskipun begitu, kata-kata Shasa ini sedikit menyadarkan Niko.
“Nyonya, kau tahu, aku sangat takut pada Lita.” Niko mulai membuka suara tentang perasaan pribadinya kepada Shasa.
“Kenapa begitu?” tanya Shasa heran.
“Aku takut dia menjauh saat aku mendekat.” Jawab Niko singkat.
Shasa menghela napasnya. “Niko, aku ingin tanya tujuanmu. Apa tujuanmu untuk Lita? Apa yang kau inginkan darinya?”
Niko terdiam. Otaknya berputar-putar memikirkan pertanyaan Shasa barusan.
“Tanya pada dirimu, apa yang kau butuhkan. Yakinkan dia, kenapa dia penting di hidupmu. Apa yang kau pikirkan belum tentu sama dengan yang Lita pikirkan. Kau harus jujur dulu.” Jelas Shasa.
Niko masih terdiam mencerna kata-kata Shasa.
“Pada dasarnya, kau harus jujur dengan perasaanmu. Setelah itu, kau harus berani. Lelaki terlahir lebih kuat dan berani dari pada perempuan. Kalau hanya ada ketakutan dalam dirimu, bagaimana Lita bisa mengandalkanmu di saat dia takut?”
*****
Bersambung…
__ADS_1