Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Malam Peluncuran


__ADS_3

Malam peluncuran produk telah tiba. Gedung pertemuan XY Group dihias begitu mewah dan meriah. Beberapa orang yang menjadi panitia acara sibuk memastikan semua kebutuhan acara telah siap dieksekusi. Suara musik telah terdengar dari pengeras suara di dalam ruangan.


Tim pengembangan yang menjadi tim belakang layar peluncuran produk ini, telah bernapas lega karena proses implementasi telah berjalan lancar. Malam ini adalah selebrasi bagi mereka karena produk akan diluncurkan ke masyarakat.


Shasa dan beberapa rekan lainnya sedang bersiap-siap. Tira sampai memanggil perias khusus ke kantor untuk mendandani wanita-wanita dari tim pengembangan yang akan ikut serta dalam acara peluncuran produk.


"Ya ampun, Sha!" Tira melihat Shasa dengan mata berbinar-binar. "Kamu cantik banget! Jarang merias wajah, sekalinya dirias bisa cantik luar biasa kayak gini."


Shasa memang tampil begitu cantik dan manis dengan gaun panjang berwarna ungu muda. Rambut coklat gelapdnya dibiarkan tergerai indah dengan aksesori kecil yang berkelip-kelip di rambutnya.


"Lebay ih!" Shasa malah terdengar tidak percaya diri. "Beneran gak apa-apa nih se-heboh ini cuma untuk ke acara kantor?"


"Ihh... Heboh apanya sih?! Lihat tuh yang lain." Tira menunjuk ke beberapa orang lainnya yang mengenakan pakaian lebih heboh dari pada Shasa.


Gaun yang dipakai Shasa memang terlihat sederhana tetapi sangat pas di tubuhnya.


Di saat orang-orang di dalam ruangan itu sibuk dengan penampilannya masing-masing, Leo datang memasuki ruangan diikuti asisten Haris di belakangnya. Leo terlihat begitu tampan seperti biasanya menggunakan jas hitam. Semua orang di ruangan itu membungkukkan badannya memberi hormat pada Leo. Dan seperti biasa juga, Leo hanya berjalan tanpa ekspresi ataupun senyum di wajahnya.


Pembawa acara memanggil Leo untuk naik ke podium. Leo memberikan pidato peluncuran produk. Matanya berkeliling menyapu semua orang di ruangan itu. Dan... 'Itu dia!' matanya menemukan Shasa yang berdiri cukup jauh dari tempat Leo berdiri.


Produk baru telah diluncurkan secara resmi oleh presdir XY Group. Semua orang bertepuk tangan menyambut produk baru ini. Leo turun dari podium dan diarahkan ke meja makan privat yang telah disiapkan asisten Haris.


"Haris, aku ingin semua tim inti peluncuran produk, makan bersamaku disini." Perintah Leo.


'Nah kan, sudah ku duga ini. Memindahkan 10 orang dari meja lain ke meja privat ini hanya demi perintah 1 orang. Sayangnya, 1 orang itu begitu berkuasa disini.' asisten berbisik dalam hati.


"Baik Tuan. Saya akan pindahkan semua tim inti kesini."


Tim inti berisi 10 orang dari tim pengembangan, produk, dan humas. Diantara sepuluh orang itu, tentu saja ada Shasa, Dion, dan Gia.


Asisten Haris sedemikian rupa mengatur tempat duduk sehingga Shasa duduk persis di sebelah Leo. Shasa sudah terlihat begitu gugup saat memasuki ruangan makan privat ini. Bukan karena gugup harus satu ruangan dengan Dion dan Gia, tetapi karena si pemilik ruangan ini.

__ADS_1


"Silahkan, nikmati makan malam kalian." Leo mempersilahkan orang-orang di meja itu memulai makan malamnya. Tetapi, tak satupun berani bergerak sebelum Leo bergerak.


Setelah Leo mengangkat sendok dan garpunya, barulah orang-orang di meja itu menyantap makanan di depannya. Sepertinya makan malam kali ini di luar dugaan tim inti. Makan malam nikmat yang sudah menggerayangi otak mereka hancur berkeping-keping menjadi makan malam penuh kecanggungan.


"Kenapa kalian gugup sekali? Santai saja... Nikmati makanan kalian. Makan malam bersamaku kali ini adalah hadiah untuk kerja keras kalian sebelum peluncuran produk." Leo menatap satu-satu orang di meja itu dengan senyumnya yang tetap saja masih terlihat dingin.


'Cih! Tidak ada satu pun yang minta dihadiahi makan bersamamu, Tuan!' gerutu Shasa dalam hati.


Selagi menyantap makanan penutup, suasana di meja makan privat itu sudah mulai mencair. Leo bahkan sudah berbincang-bincang kecil ataupun tertawa mengobrol dengan orang-orang di mejanya. Yang lain pun sudah begitu santai mengobrol dengan sekelilingnya.


"Hei, apa-apaan kau dandan seperti itu?" Leo berbisik pelan, meledek Shasa di sampingnya. Keduanya hanya memandang ke arah depan mereka yang masih asyik mengobrol satu sama lain.


"Kalau anda tidak suka, tidak usah melihatku Tuan." Balas Shasa sinis.


"Balsam darimu, sudah ku pakai. Kenapa tidak langsung memberikannya padaku?" Leo masih berbisik pelan. Shasa hanya bergeming tidak menjawab.


"Aku sudah melarang Haris menerima apapun darimu. Kalau kau ingin memberikan apapun padaku, berikan langsung!" Leo melanjutkan ucapannya karena tidak ada respon dari Shasa.


Setelah makan malam selesai, semua orang di ruangan privat keluar. Presdir telah mengijinkan tim inti untuk menikmati acara di luar ruangan. Shasa juga ikut keluar dari ruangan dan mulai bisa menghembuskan napas lega. Dia membaur dengan orang-orang lainnya di acara itu.


Waktu berlalu begitu cepat. Shasa sudah capek bersenang-senang hingga bergosip dengan Tira dan teman-teman lainnya. Shasa memutuskan untuk pulang.


"Ti, aku pulang duluan ya. Takut kemalaman, soalnya aku naik taksi." Shasa pamit ke Tira.


"Gak bareng aku aja, Sha? Dika bawa mobil tuh, kita nebeng aja." Ajak Tira.


"Gak apa-apa, aku duluan aja. Udah sakit banget kakiku pakai hak tinggi ini" Shasa menunjuk-nunjuk sepatu yang dipakainya.


"Okedeh... Hati-hati ya, Sha!" Tira melambaikan tangannya.


Shasa berjalan keluar menuju lobby. Kakinya memang begitu sakit memakai hak tinggi yang tidak biasa. Maklum, Shasa hanya sering pakai sepatu datar ataupun kets. Di pintu lobby, Shasa seperti merasakan dejavu. Dia melihat asisten Haris berdiri di depan pintu mobil, yang tidak lain tidak bukan, adalah mobil Leo.

__ADS_1


"Tuan telah menunggu anda, Nona." Asisten Haris mengatakan pada Shasa yang masih dengan wajah bingungnya mendekat.


"Kau mau berdiri saja disitu?!" Leo membuka kaca mobilnya dan hanya menatap Shasa tanpa ekspresi. Shasa mendesah dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


'Mengapa aku harus mengalami ini 2 kali, sih?!' Shasa menggerutu pelan sambil masuk ke dalam mobil.


Setelah masuk ke dalam mobil, Leo mulai memerintah lagi.


"Buka sepatumu!"


Shasa kaget mendengarnya. Apa-apaan menyuruhnya membuka sepatu.


"Kau mau menunggu sampai kakimu lecet dan baru membukanya. Ganti dengan sandal ini." Leo menyodorkan sepasang sandal hotel ke Shasa.


"Terima kasih, Tuan." Shasa masih bingung dengan sikap perhatian Leo padanya.


"Berhenti menggunakan sepatu yang tidak membuatmu nyaman. Memangnya kau ingin menunjukkan ke siapa kaki jenjangmu itu?" Leo masih saja ceramah tetapi begitu perhatian terhadap Shasa.


Shasa menatap Leo datar, kemudian tersenyum tipis.


Mobil Leo sampai di depan apartemen Shasa. Dia pun keluar dari mobil sambil menenteng sepatu hak-nya.


"Aku telah mengantarmu hari ini. Besok, temani aku jalan-jalan. Kau tidak perlu mengatur rencana, aku yang akan mengaturnya." Lagi-lagi Leo seenaknya memerintah Shasa.


"Tuan, kenapa anda senang sekali membuat sikap baikmu jadi utang bagi orang lain." Shasa menumpahkan kekesalannya. "Besok aku tidak bisa!" Tegas Shasa.


"Memang apa yang kau lakukan sendirian di akhir pekan?" Leo menyindir.


"Besok pagi, aku akan pergi ke tempat favoritku. Ah... Buat apa juga aku memberitahumu ya?" Shasa tersenyum menyeringai. "Terima kasih Tuan!" Shasa melambaikan tangan dan masuk ke dalam apartemennya, meninggalkan Leo yang masih menebak-nebak kemana Shasa akan pergi besok.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2