
Tepat sehari sebelum Nyonya Sofia berangkat ke luar negeri, Shasa untuk pertama kalinya dibawa ke yayasan perusahaan. Nyonya Sofia akan memperkenalkan Shasa sebagai pengurus inti yang baru. Shasa sudah sangat penasaran seperti apa para pengurus yayasan itu. Waktu pesta pernikahan, dia memang bertemu dengan beberapa orang, tetapi dia tidak begitu mengingatnya.
Mobil yang membawa Nyonya Sofia dan Shasa sudah sampai di depan lobby yayasan. Keduanya turun dari mobil diikuti dengan asistennya masing-masing di belakang. Beberapa petugas keamanan yang berjaga di depan menyambut Nyonya Sofia dan Shasa dengan memberi hormat.
Para pengurus inti yayasan menyambut Nyonya Sofia dan Shasa di depan ruangan VIP. Mereka memberi hormat dan mempersilahkan keduanya untuk memasuki ruangan VIP itu. Shasa bisa melihat betapa antusiasnya mereka menyambut Nyonya Sofia.
Sejauh mata Shasa memandang, para pengurus yayasan yang juga merupakan istri para pejabat tinggi XY Group ini, memiliki penampilan yang berkelas mirip Nyonya Sofia. Tetapi menurut Shasa, mereka terlihat agak berlebihan dalam memakai perhiasan sehingga agak kurang pas untuk gaya seorang relawan sosial.
"Teman-teman semua, perkenalkan, ini menantuku, istri dari Leo, Shafira." Nyonya Sofia memperkenalkan Shasa pada ketujuh pengurus inti yayasan.
Wajah mereka menyambut Shasa dengan berbeda-beda. Ada yang menatapnya dingin, ada yang menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah menilai harga penampilan Shasa, dan ada juga yang senyum-senyum sendiri untuk menarik perhatian Shasa.
"Halo semuanya. Senang bertemu dengan tante-tante semua." Sapa Shasa dengan ramah.
Nyonya Sofia menahan tawanya karena mendengar Shasa memanggil teman-temannya dengan sebutan tante. Tapi, Shasa juga benar memanggil mereka dengan sebutan begitu.
"Mulai hari ini, Shasa akan menjadi ketua pengurus inti menggantikanku."
Sontak semua orang di ruangan itu kaget dan langsung menatap Nyonya Sofia, termasuk Shasa yang juga terkejut mendengarnya. Shasa pikir hari ini dia hanya akan diperkenalkan dengan para pengurus yayasan.
"Nyonya, bagaimana bisa secepat itu? Bahkan menantumu belum pernah sekalipun mengikuti acara yayasan." Tanya salah seorang dari pengurus yayasan.
"Tentu saja bisa. Shafira ini kan juga Nyonya di Keluarga Gusta. Cepat atau lambat, dia akan menjadi ketua yayasan. Aku pikir kesibukanku yang harus bolak-balik ke luar negeri akan membuat kegiatan di yayasan sedikit terganggu. Jadi, aku akan mengambil posisi sebagai penasehat yayasan dan Shafira yang akan jadi ketuanya."
"Selama ini pun anda bahkan tinggal di luar negeri dan menyerahkan urusan yayasan pada kami. Mengapa harus terburu-buru?"
Nyonya Sofia tersenyum. "Itu kan dulu. Sekarang sudah ada penerusku. Aku tidak ingin lagi mengabaikan posisi ketua yayasan. Gusta bahkan sudah menyetujuinya."
'Kalau Komisaris Gusta sudah tahu, apakah Leo juga tahu kalau mama akan memberiku posisi ketua yayasan secepat ini?' pikir Shasa dalam hati.
__ADS_1
"Kalian tidak perlu khawatir. Selama beberapa bulan ke depan, aku akan mendampingi Shasa. Aku juga minta dukungan kalian untuk memberitahu Shasa hal-hal penting di yayasan ini."
Ketujuh pengurus inti saling memandang satu sama lain. Mereka belum berani merespon satu patah kata pun. Nyonya Sofia memang memiliki kuasa penuh atas yayasan ini sehingga tidak ada yang berani menentangnya.
*****
Nyonya Sofia, Shasa dan para pengurus yayasan makan siang bersama. Mereka juga membicarakan beberapa hal tentang kegiatan yayasan sambil menikmati hidangan mewah di hadapan mereka.
Mendengar pembicaraan para wanita ini, Shasa mulai menangkap bahwa bahasan mereka hanya seputar materi, materi dan materi. Saat membicarakan penggalangan dana saja, mereka seolah berlomba menjadi penyumbang terbesar. Ketika ditanya bentuk penggalangan dananya, mereka hanya menjawab kalau suami-suami mereka yang akan menjadi donatur. Shasa pikir, para pengurus yayasan ini punya ide-ide kreatif untuk penggalangan dana tanpa harus mengandalkan uang suami mereka.
"Tante, kenapa kita tidak mencoba membuat acara penggalangan dana? Dengan begitu, kita juga mengajak masyarakat untuk berkontribusi pada acara-acara sosial yang dilakukan yayasan." Usul Shasa.
"Buat apa? Uang yang dikumpulkan dari donatur saja sudah lebih dari cukup." Sahut salah satu pengurus.
"Mencari donatur memang hal yang perlu. Tetapi, kalau kita hanya mengandalkan uang dari donatur-donatur tertentu, acara sosial yang diadakan yayasan hanya akan terlihat seperti acara penyaluran sumbangan yang didapatkan dari para pejabat tinggi XY Group yang juga suami-suami dari tante-tante sekalian. Itu sih sama saja seperti tante dan suami mengadakan acara sumbangan dari uang pribadi."
Semua orang di ruang makan itu menatap Shasa tak berkutik, sedangkan Nyonya Sofia sudah mulai mengeluarkan senyum tipis dari wajahnya.
Panjang lebar Shasa menjelaskan, tetapi para wanita-wanita ini hanya menatap Shasa dengan heran seolah ide dan pendapat Shasa ini adalah terobosan yang aneh.
"Kita sudah terbiasa mengumpulkan dana dari donatur tetap. Dan sejauh ini, acara-acara yayasan berjalan lancar-lancar saja." Sahut Nyonya Renee yang sedari awal kedatangan Shasa, sudah menyambutnya dingin.
"Acaranya mungkin berjalan lancar, tetapi apakah orang-orang di luar sana akan mengakui keberadaan yayasan kita? Karena acara itu selalu diadakan dengan cara kita, dengan gaya kita, yayasan ini hanya diakui oleh kita-kita saja. Jika aku punya kesempatan, aku akan membuat yayasan ini diakui oleh banyak orang. Aku tidak akan menutup pintu untuk relawan-relawan kecil. Mungkin kontribusinya tidak seberapa, tapi keterlibatan mereka itulah yang membuat nama yayasa kita bertumbuh."
"Aku mengerti yang Shasa maksud." Ucap Nyonya Sofia. "Yayasan kita menjadi besar hanya di dalam lingkungan kita, tetapi tidak di lingkungan orang lain. Skalanya bisa dibilang sangat kecil. Kalau kita mencoba melebarkan kontribusi banyak orang, mungkin skalanya akan berkembang. Yayasan kita ini terlihat seperti yayasan berkelas yang tidak biaa dimasuki banyak orang. Padahal, aku rasa cita-cita awalnya bukan seperti itu."
Sebagian dari pengurus yayasan inti, belum bisa menerima pendapat Shasa. Mereka malah berpikir apa yang diutarakan Shasa hanya akan membuat segalanya menjadi lebih rumit. Tentu saja, itu yang mereka hindari.
Nyonya Sofia terlihat puas dengan keberanian Shasa. Dia sangat percaya diri bahwa Shasa akan membawa perubahan di dalam yayasan ini, terutama untuk para pengurusnya. Yayasan ini bukanlah ajang untuk pamer kekayaan. Yayasan ini adalah tempat dimana mereka berkontribusi untuk masyarakat dan berbagi kepedulian.
__ADS_1
*****
Shasa sudah berada di kamarnya. Dia bersandar di kasur sambil berkirim oesan dengan Tira yang seharian ini dititipi pekerjaan olehnya.
Leo baru saja masuk ke dalam kamar. Dia melihat Shasa masih sibuk dengan ponselnya. Dari jauh, Leo sudah tersenyum melihat Shasa. Dia baru saja mendengar Nyonya Sofia menceritakan kejadian tadi siang di yayasan. Sejak awal, Leo memang melihat Shasa ini sebagai gadis yang pemberani, tidak memiliki rasa takut sama sekali. Dia jadi merasa cukup lega membiarkan Shasa terlibat di yayasan.
"Sayang, sudah selesai ngobrolnya?" Tanya Shasa yang menyadari kehadiran Leo tetapi matanya masih menatap layar ponsel dengan serius.
"Kamu sibuk apa sih?" Tanya Leo yang sudah mengambil posisi di samping Shasa.
"Tadi kan aku ninggalin pekerjaanku ke Tira. Ini aku lagi tanyain ada kendala atau tidak." Jawab Shasa. Dia menyudahi kesibukan dengan ponselnya dan meletakkan ponsel itu di dalam laci di meja kecil samping kasur. Shasa menatap Leo tersenyum.
"Istriku sibuk sekali. Aku jadi tidak bisa bersenang-senang dengannya." Kata Leo dengan nada sedih.
"Sayang, apa kau tahu kalau mama menunjukku untuk jadi ketua yayasan?" tanya Shasa penasaran.
Leo menganggukkan kepalanya mengisyaratkan kalau dia mengetahuinya.
"Kenapa kau tidak bilang padaku?"
"Aku tidak tahu pasti kapan mama akan mengumumkannya. Aku tidak menyangka akan secepat itu. Kau pasti akan sibuk sekali."
"Aku hanya akan sibuk dari pagi sampai sore. Sekarang, waktuku untukmu."
Mendengar ucapan Shasa, Leo tidak menahan dirinya lagi. Dia langsung menindih Shasa di atas kasurnya.
"Akhirnya aku tahu kenapa mama membelikanmu baju tidur seperti ini." Leo menarik ujung baju tidur Shasa yang seksi itu. Secepat kilat dia menggerayangi tubuh Shasa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Leo sudah hapal setiap lekukannya. Malam panjang untuk melepas rindu seharian pun dimulai.
*****
__ADS_1
bersambung...