
Sepanjang perjalanannya menuju kampung halaman, Shasa hanya terdiam sedih. Leo yang melihat kesedihan Shasa itu, hanya bisa menatapnya sambil sesekali menepuk bahu Shasa.
Berkat Leo, Shasa bisa menuju kampung halaman tanpa susah-susah mencari tiket pesawat. Dia juga tidak lama-lama meunggu hinga waktu terbangnya tiba. Jet pribadi milik Leo yang mengantarkan mereka ini, punya prioritas waktu terbang. Terlebih lagi, Leo sudah menetapkan status darurat sehingga segala sesuatunya dipersiapkan dengan begitu cepat.
Sesampainya mereka di kampung halaman, mobil khusus telah menjemput mereka di bandara. Tentu saja, asisten Haris yang mempersiapkan semuanya. Mereka bergegas menuju rumah sakit tempat ayahnya Shasa dirawat.
Shasa berjalan begitu cepat dirumah sakit. Akhirnya dia menemukan ruangan ICU yang di depannya telah berdiri ibu serta adik perempuannya.
"Ibu!" Shasa sedikit berlari ke arah ibunya. Mereka berpelukan menangis. Setelah melepaskan pelukan ibunya, Shasa melihat ayahnya yang terbaring di ruang ICU yang dibatasi jendela kaca besar.
"Kak Shasa, ayah gak apa-apa kan?" Shabila, adik Shasa tak dapat lagi membendung air matanya. Shasa pun memeluk adik tersayangnya ini. "Gak apa-apa, Bil. Sebentar lagi ayah sembuh." Shasa berusaha menahan tangis.
Ibu masih menatap suaminya dari depan kaca. Kemudian, teringat lelaki yang sejak tadi sudah bersama mereka. Lelaki yang datang bersama Shasa. Ibu membalikkan badannya ke arah Leo dan tersenyum.
Leo yang melihat arah tatapan Ibu, membalas senyum dan memberi salam hormat.
"Kamu temannya Shasa?" Ibu bertanya sopan. Ini pertama kalinya Ibu melihat Shasa dengan lelaki lain. Beberapa kali Shasa pulang, dia ditemani Dion.
"Iya Bu, saya Leo. Kami teman dekat." Jawaban Leo ini, kalau sampai terdengar Shasa pasti sudah dimaki habis-habisan.
"Terima kasih sudah jauh-jauh mengantar Shasa kemari." Ibu mengelus lengan Leo.
"Ibu jangan bilang seperti itu. Saya senang bisa menemani Shasa kesini dan bertemu keluarganya." Leo tersenyum. Sebenarnya dia kaget ketika Ibu mengelus lengan Leo. Terlihat sekali kalau Ibu adalah sosok yang hangat.
"Sha, kamu istirahat dulu ya. Kamu kan baru sampai. Ajak juga Leo ke rumah." Ibu mengelus punggung Shasa yang masih meratapi ayahnya. "Nak Leo, kamu juga bisa istirahat dulu di rumah sebelum kembali. Ada kamar tamu yang bisa kamu pakai."
__ADS_1
"Saya akan menemani Shasa selama disini, Bu." Jelas jelas ini bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Shasa tidak punya tenaga untuk berargumen dengan Leo kali ini.
"Baiklah kalau begitu. Kalian istirahatlah dulu."
Shasa dan Leo pun beranjak meninggalkan ruang ICU. Shasa mengingatkan Ibunya untuk mengabari setiap ada perkembangan atau informasi baru.
Di rumah Shasa, bibi menyambut kedatangan mereka. Ibu berpesan ke bibi untuk menyiapkan kamar tamu dan menyediakan makanan untuk Shasa dan Leo.
"Bi Imah." Shasa tersenyum melihat Bi Imah yang berdiri di depan pintu rumah.
"Non, sehat?"
"Sehat, Bi. Bi Imah kok keliatan makin muda aja sih." Shasa memuji tetapi sebenarnya menyindir.
"Aduh, bibi mah udah nenek-nenek, cucunya udah banyak." Bi Imah tertawa. Sejak pertama kali Shasa masuk ke rumah ini, Bi Imah sudah bekerja membantu Ibu. Itulah kenapa Shasa dekat dengan Bi Imah yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja untuk orang tuanya.
"Hei, aku akan menemanimu selama disini. Itu artinya aku akan menginap. Ibu juga sudah mengijinkan." Leo mulai memaki Shasa.
Shasa mengerutkan dahi. Belum menanggapi apapun dari perkataan Leo tadi.
Setelah perdebatan kecil di depan Bi Imah, sampai-sampai Bi Imah pun bingung bagaimana harus melerainya, akhirnya Shasa mengijinkan Leo untuk tinggal. Tetapi hanya boleh satu malam saja.
Leo masuk ke kamar tamu yang telah disiapkan. Dia teringat asisten Haris yang tertinggal di depan tadi. Dia segera mengambil ponselnya dan menelpon asisten Haris.
"Haris."
__ADS_1
"Iya Tuan. Saya akan mencari hotel sekitar sini untuk menginap." Belum sampai Leo memberikan perintah, asisten Haris sudah tahu apa yang harus dilakukan.
"Kau harus tetap standby kapan pun aku memanggilmu. Kemungkinan aku tidak akan bekerja besok. Bawakan aku laptop. Aku akan bekerja dari sini."
"Baik Tuan. Saya akan menyiapkan laptop untuk anda." Tentu saja asisten Haris tidak kepikiran harus membawa laptop karena penerbangan tadi begitu tergesa-gesa. Dia pun terpaksa membeli laptop baru untuk Leo.
*****
"Iya Mas Leo, dari dulu itu Non Shasa mainnya sama anak laki-laki terus. Gak kayak anak perempuan lainnya. Makanya Non Shasa itu pemberani banget anaknya." Bi Imah bercerita masa kecil Shasa ke Leo sambil masak, sedangkan Leo hanya duduk di meja makan asyik mendengarkan.
"Shasa sering gonta-ganti pacar ya, Bi?" Leo penasaran.
"Ah, enggak kok. Seingat Bibi, Non Shasa itu cuma pernah pacaran 2 kali pertama teman sekolahnya yang tinggal di daerah sini, satu lagi teman kantornya. Terakhir kali, Non Shasa masih diantar sama pacarnya kesini."
"Bibi tau nama pacarnya? Yang satu kantor sama Shasa."
"Em... Aduh, Bibi lupa ya, soalnya kalau kesini cuma nganter Non Shasa aja, gak lama pulang." Bi Imah sedikit berusaha mengingat. "Tapi, Bibi pernah dengar katanya mereka punya rencana ingin menikah."
'What?! Lelaki berengsek itu sudah melamar Shasa ternyata.' Leo membatin kesal.
"Tapi, gatau ya kelanjutannya gimana. Malahan sekarang pulang kesini bareng Mas Leo. Apa Mas Leo ini pacarnya Non Shasa yang baru?" Bi Imah bertanya menggoda.
Belum sampai Leo menjawab, ada yang tiba-tiba berdehem.
"Ehem, ehem..." Shasa yang tertidur pulas sejak tadi, ternyata sudah bangun dan memergoki Bi Imah dan Leo yang sedang membicarakan dirinya.
__ADS_1
*****
bersambung...