
Leo dan Shasa akan jalan-jalan berkeliling kota seharian ini. Keduanya sudah bersiap dengan pakaian dan sepatu yang nyaman dipakai. Asisten Haris dan Lita juga sudah menyiapkan mobil yang akan membawa Tuan dan Nyonyanya itu menikmati kota ini.
Saat Leo dan Shasa menuju ke pintu depan rumah, Shasa langsung menghentikan langkahnya saat melihat mobil-mobil terparkir.
"Sayang, kita gak perlu pakai mobil ya jalan-jalannya. Aku mau jalan kaki saja. Aku mau menikmati setiap suasana jalanan di kota ini."
"Jalan kaki? Kau akan capek, sayang. Kita akan pergi ke beberapa tempat hari ini. Jaraknya juga tidak dekat."
"Tapi aku ingin berjalan kaki dulu. Yang dekat-dekat saja di daerah sini."
Leo menatap Shasa. Dia berpikir sejenak mencari cara bagaimana merespon permintaan istrinya ini.
"Oke, kita jalan kaki. Kita akan pergi ke area pertokoan dekat sini." Leo menunjuk ke salah satu arah. "Tapi habis itu, kita pergi pakai mobil ya." Leo mencoba bernegosiasi.
Shasa mengangguk-angguk riang. Mereka pun pergi berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Asisten Haris dan Lita mengikuti mereka dari belakang dengan jarak yang cukup jauh namun masih bisa dipantau.
Mereka berjalan di sepanjang trotoar jalan yang tampak bersih. Tak terlalu ramai orang berlalu lalang. Bangunannya tertata rapi dengan rumput hijau yang masih dapat ditemui di sana-sini. Terlihat beberapa orang berjalan dengan hewan peliharaannya dan ada beberapa juga yang duduk di kursi-kursi panjang di bawah pohon yang rindang.
Shasa terlihat sangat senang. Dia mengedarkan matanya ke sekeliling jalan itu. Leo melingkarkan lengannya di pinggang Shasa dan membuatnya tak berjarak, mencegah Shasa berkeliaran ke sana-sini.
Mereka sampai juga di sebuah kompleks pertokoan. Shasa sudah terperangah kagum dengan tempat yang dia datangi.
"Kau mau beli apa, sayang? Ada baju, tas, sepatu, perhiasan, coklat." Leo menunjuk satu per satu toko yang dia sebutkan tadi.
"Aku ingin ke toko itu." Shasa menunjuk sebuah toko kerajinan tangan.
Mereka pun memasuki toko itu. Di dalamnya banyak sekali pernak-pernik yang dibuat langsung oleh tangan pengrajin. Shasa mengamati setiap barang di toko itu dengan antusias.
"Ada yang bisa dibantu, Tuan?" Seorang penjaga toko menyapa Leo menggunakan bahasa asing.
"Istriku mungkin saja ingin membeli sesuatu." Jawab Leo tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari Shasa.
__ADS_1
Penjaga toko itupun menghampiri Shasa dan menyapanya. Shasa menunjuk-nunjuk ke arah sebuah topi berwarna jingga. Leo menghampiri Shasa.
"Kamu mau ini, sayang?" Tanya Leo.
"Iya, yang ini. Apa harganya mahal?"
"Saya ambil topi ini." Tanpa menjawab pertanyaan Shasa, Leo langsung mengambil topi itu dan menyerahkannya pada penjaga toko. Kemudian penjaga toko itu bertanya beberapa hal pada Leo yang tidak Shasa mengerti.
Leo membayar topi Shasa dan memakaikan topi itu pada Shasa.
"Tunggu sebentar." Shasa melepaskan topi yang dipakaikan Leo tadi dan melihat ke sebuah tulisan di topi itu. "Kau yang menambahkannya?" Tanya Shasa tersenyum.
Leo menaikkan kedua alisnya mengisyaratkan kalau dia yang meminta penjaga toko tadi menambahkan sebuah tulisan sulam di topi itu.
"Mrs. Gusta." Shasa membaca tulisannya. "Kau kreatif sekali." Ucap Shasa riang sambil memakai topinya kembali. Dia langsung menggandeng tangan Leo dan berjalan ke luar toko.
"Kau ingin membeli apa lagi?" Tanya Leo.
Shasa memaksa Leo untuk mengambil foto bersama menggunakan pakaian khas negara tersebut. Berpuluh-puluh tahun Leo tinggal di sana, tidak sekali pun terbesit niat untuk foto dengan konsep itu.
"Sayang, kita foto pakai baju normal saja." Leo menggerutu tetapi Shasa tetap memakaikan aksesoris untuk melengkapi pakaian Leo.
"Sayang, aku juga akan mengenakan pakaian yang sepasang denganmu. Aku tahu kau pasti tidak pernah melakukan ini kan? Ayo lakukan ini sekali saja." Shasa memohon dengan sedikit memaksa.
Leo mendengus pasrah. Mereka pun mengambil foto beberapa kali dengan gaya berbeda-beda. Setelah selesai, Shasa berbicara pada petugas di studio tersebut dengan mengerahkan semua bahasa tubuhnya agar petugas itu bisa mengerti apa yang Shasa inginkan. Leo hanya menggeleng-geleng menyaksikan Shasa yang repot sekali menyampaikan keinginannya, namun tetap menolak saat Leo ingin membantu.
"Sayang, kita mau menunggu apa lagi?" Tanya Leo yang bingung karena sudah menunggu setengah jam di studio itu. Padahal, foto-foto tadi sudah tercetak semua.
"Sebentar, sayang. Ada satu lagi yang belum jadi."
Tak lama, petugas di studio menghampiri Shasa dan memberikan sebuah kotak. Shasa terlihat berterima kasih pada tugas itu dan segera berjalan ke arah Leo yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
"Ini untukmu." Shasa menyodorkan kotak itu pada Leo.
Leo menatap Shasa tak henti, tetapi tangannya mengambil kotak di hadapannya itu. Ta-da! Sebuah mug yang tercetak gambar Leo dan Shasa saat sesi foto tadi. Di ujung kanan bawah mug itu juga tertulis tanggal hari ini dan nama Shasa dengan ikon hati. Seketika Leo tersenyum memandangi mug itu.
"Pastikan kau hanya menggunakan mug itu untuk minum di kantor, oke?" Ucap Shasa sambil mengedipkan matanya. Leo pun otomatis memeluk Shasa yang sangat menggemaskan itu.
Mereka melanjutkan perjalannya. Kini, Leo akan membawa Shasa ke tempat favoritnya. Asisten Haris dan Lita terlihat menunggu keduanya bersama dengan mobil yang siap membawa Leo dan Shasa pergi. Tiba-tiba Shasa menhentikan langkahnya.
"Sayang, apakah tempat favoritmu dapat dijangkau dengan naik itu?" Shasa menunjuk ke sebuah bus tingkat yang sedang berjalan dan bertanya dengan nada manja.
"Sayang, kau kan sudah janji, setelah berjalan kaki tadi, kita akan melanjutkan jalan-jalannya menggunakan mobil. Jika naik bus itu, kita harus berpindah bus karena rutenya berbeda." Leo agak sedikit mengomel.
"Tapi, aku belum pernah naik bus tingkat. Aku sangat ingin menaikinya." Kata Shasa dengan nada sedih, berharap Leo akan iba padanya.
"Tidak. Kita pakai mobil saja." Tegas Leo. Shasa cemberut seketika. Leo benar-benar tak tahu lagi bagaimana menghadapi istrinya ini. Leo pun memanggil asisten Haris dengan isyarat tangannya. Asisten Haris segera berlari menghampiri Leo.
"Aku akan lanjut ke tempat berikutnya naik bus tingkat. Kau ikuti saja kami dari belakang menggunakan mobil itu." Perintah Leo.
"Baik, Tuan."
Sorak kemenangan Shasa bergemuruh di dalam hatinya. Leo pun mau tidak mau mengikuti keinginan Shasa lagi. Mereka pun berjalan menuju halte bus.
Asisten Haris kembali ke tempat Lita berdiri.
"Kenapa Presdir dan Nyonya berjalan ke arah sana?" Lita bertanya bingung.
"Ketika tipu daya wanita mengalahkan seorang konglomerat yang baru pertama kali jatuh cinta, seperti ini jadinya." Asisten Haris menaikkan kedua bahunya. Lagi-lagi, Lita hanya menggeleng-geleng melihat bos bersama istri tercintanya berkerumun dengan orang lain di halte bus.
*****
bersambung...
__ADS_1