Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Waktu Untuknya


__ADS_3

Leo pulang larut malam. Begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Asisten Haris mengantarnya sampai ke lobby apartemen. Leo meminta Pak Yo untuk tidak pulang dulu sampai dia tiba.


"Selamat malam, Tuan." Pak Yo menyapa Leo yang baru saja tiba di rumah.


"Dia sudah tidur?" Leo melirik ke pintu kamar Shasa.


"Sudah Tuan. Setelah makan malam, nona sempat menonton tv kemudian masuk ke kamarnya."


"Padahal di kamarnya pun ada tv kan?" Leo bertanya heran.


"Nona bilang, di kamarnya terlalu sepi. Jadi nona menonton tv di ruang tengah saja."


Leo mengangguk. "Baiklah. Terima kasih sudah menemaninya. Kau menginap saja malam ini." Perintah Leo kepada Pak Yo. "Mulai besok, kau tinggal disini saja. Bawa satu orang pelayan wanita juga. Aku tidak ingin dia sendirian di rumah sebesar ini."


Mengingat kesibukan Leo yang kadang tidak bisa diduga, dia tidak ingin meninggalkan Shasa sendirian di rumah. Pak Yo sebetulnya heran karena tidak biasanya Leo meminta pelayannya untuk tinggal di rumah. Bahkan, setiap hari para pelayannya itu hanya melihat Leo saat pagi saja.


Pak Yo merasa ada perubahan di dalam diri Leo setelah Shasa tinggal bersamanya. Meskipun diawal dia sempat bingung kenapa pasangan suami-istri itu tidur di kamar terpisah, entah karena alasan apa yang dia pun tidak berani menanyakannya, tapi Pak Yo melihat betapa pedulinya Leo kepada Shasa.


*****


Niko memasuki ruang kerja Komisaris Gusta. Seperti biasa, dia akan melaporkan apa yang ditemukannya dari mengawasi Leo.


"Tuan, sejauh ini perusahaan berkembang dengan pesat. Saya sudah memastikan tidak akan ada orang yang berani melawan arus dari apa yang diputuskan Tuan Leo."


Komisaris Gusta terpihat begitu puas. "Ya, kau benar. Harga saham perusahaan semakin naik. Bahkan banyak rekan bisnis yang tidak bisa berkelit dari strategi bisnis Leo sehingga mereka pun hanya bisa menyetujui persyaratan bisnis yang dia ajukan."


"Sepertinya kehidupan pribadi Tuan Leo juga berkembang pesat."


Komisaris Gusta menatap Niko bingung. "Apa maksudmu?"


"Tuan Leo semakin dekat dengan teman wanita yang pernah ku sebutkan sebelumnya. Beberapa hari lalu, Tuan Leo melakukan perjalanan bisnis, namun sepertinya dia pergi dengan wanita itu."


"Apa hubungan keduanya?"

__ADS_1


"Karena anda tidak meminta saya untuk menyelidikinya, saya hanya mengawasi gerak-gerik mereka Tuan."


Komisaris Gusta mengganguk. "Selidiki latar belakang wanita itu. Cari tahu apa hubungan mereka." Perintah Komisaris Gusta.


"Baik, Tuan." Niko menundukkan kepalanya menunjukkan bahwa dia akan melakukan apa yang Komisaris inginkan.


"Sebetulnya aku sudah berjanji untuk tidak mencampuri kehidupan pribadinya. Tapi setidaknya aku ingin mengetahui wanita yang dekat dengannya dan memastikan bahwa wanita itu memang layak mendampingi Leo." Komisaris Gusta bebicara sambil berpikir. "Awasi saja mereka. Jangan menyentuhnya."


"Baik, Tuan." Niko pun undur diri dari ruangan itu.


Komisaris Gusta benar-benar memikirkan wanita yang disebut-sebut Niko tadi.


*****


Bebeapa hari ini Leo selalu pulang larut malam. Tetapi karena Pak Yo dan satu pelayan wanita tinggal di apartemennya, Shasa tidak merasa kesepian. Meskipun masih bisa bertemu di pagi hari, tapi Shasa mulai kecewa dengan Leo yang hanya punya sedikit waktu untuknya. Shasa bisa mengerti dengan kondisi pekerjaan Leo yang pasti jauh lebih padat daripada pekerjaan Shasa. Karena itulah, Shasa lebih memilih mendekatkan diri dengan Pak Yo dan pelayan wanita di rumahnya.


Beberapa hari setelahnya, Shasa mulai sibuk karena ada proyek darurat yang perlu di kerjakan. Di saat dia sedang fokus dengan pekerjaan di komputernya, satu pesan masuk muncul di ponsel Shasa.


'Huh, giliran aku yang mesti lembur, dia malah pulang cepat.' Shasa mengeluh mengutuki ponselnya.


Shasa: Maaf, sepertinya aku akan lembur. Ada proyek darurat yang harus ku urus. Makan malamlah dengan Pak Yo dan Vina. Semangat!!!


"Apa? Kenapa dia menyemangatiku?" Sekarang gantian, Leo yang mengutuki ponselnya. "Siapa Vina?" Leo bertanya ke asisten Haris di depannya.


"Dia adalah pelayan wanita di rumah anda, Tuan. Menurut informasi dari Pak Yo, nona ditemani makan malam oleh Vina. Pak Yo selalu menolak makan malam bersama nona."


"Itu karena aku melarangnya." Leo menanggapi cepat. Asisten Haris menatap Leo dan menyembunyikan senyumnya. "Baiklah, karena dia pelayan wanita, maka akan aku biarkan."


'Anda sedang cemburu, Tuan? Bagaimana bisa anda cemburu dengan pelayan yang sudah paruh baya.' asisten Haris tertawa dalam hatinya.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Shasa belum juga pulang. Leo yang sedang membaca di kamarnya, kepikiran terus dengan Shasa. Di luar, rintik hujan mulai berjatuhan. Sesekali bunyi petir terdengar keras.

__ADS_1


Leo mencoba tenang dan meneruskan baca bukunya. Setengah jam berlalu, hatinya kembali tidak tenang. Leo mengambil ponsel dan menelpon asisten Haris.


"Haris, kirimkan aku cctv terkini di lantai tim pengembangan. Shasa belum juga pulang."


"Baik, Tuan. Akan saya kirimkan ke hp anda "


Leo mulai menatapi ponselnya yang mengeluarkan video cctv di lantai tempat Shasa bekerja. Sudah sepi. Tidak ada satupun orang di lantai itu.


'Artinya dia sudah pulang kan? Kenapa belum sampai?' Leo bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Leo pun bergegas menarik mantelnya dan mengambil kunci mobil. Leo tak bisa lagi menahan rasa khawatirnya untuk mencari Shasa.


Epilog:


Leo pulang larut lagi hari ini. Pak Yo setia menyambutnya di depan pintu.


"Dia sudah tidur?" Leo menunjuk ke kamar Shasa.


"Sudah, Tuan."


"Ada sesuatu yang dia lakukan hari ini?"


"Tidak ada Tuan. Nona hanya sempat mengeluh karena anda selalu pulang larut dan tidak bisa makan malam bersamanya."


'Dia sudah berani mengeluh sekarang.' Leo tersenyum kecil.


"Baiklah. Kau sudah bekerja keras. Istirahatlah Pak Yo." Leo meninggalkan Pak Yo dan berjalan ke arah kamarnya. Dia mengambil ponsel di saku jas dan menelpon asisten Haris.


"Haris, mulai besok aku tidak akan lembur. Pindahkan jadwalku ke hari berikutnya. Aku akan pulang tepat waktu." Leo menutup teleponnya, meninggalkan asisten Haris yang pusing kepala mengatur jadwal Leo yang padat itu.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2