
Ini adalah pengalaman pertama Leo naik bus umum, berdesakan dengan penumpang lain, bahkan berdiri di dalam bus karena tidak ada kursi lagi. Bus berhenti dari satu pemberhentian ke pemberhentian lainnya. Bus di akhir pekan cukup penuh karena banyak juga yang ingin jalan-jalan. Leo dan Shasa berdiri di dalam bus sambil berpegangan pada tiang yang disediakan.
Ciiittt. Bus itu berhenti tepat di salah satu halte. Beberapa penumpang turun dari bus. Di depan Leo dan Shasa terdapat satu kursi kosong.
"Tuan, silahkan anda duduk." Shasa menengadahkan tangannya ke arah kursi.
"Kau saja yang duduk." Leo memalingkan matanya dari kursi kosong itu. Tetapi kakinya bergantian menapak karena kelelahan berdiri. Maklum, ini pertama kalinya Leo berdiri di bus.
"Baiklah kalau anda tidak ingin duduk." Shasa menengok ke arah lain. "Nek, mari duduk disini." Shasa mempersilahkan nenek itu untuk duduk di kursi kosong di depannya.
"Terima kasih, nak." Nenek itu duduk dan melihat ke arah Leo yang diam saja sejak tadi. "Istrimu cantik dan hatinya baik." Menatap ke arah Leo tersenyum.
Leo kaget dengan pernyataan nenek itu. Apalagi Shasa yang udah mulai gugup mendengarnya.
"Hahaha... Nek, aku bukan istrinya." Shasa mengibas-ngibaskan tangannya.
"Begitukah? Kami belum menikah. Tapi kalau nenek bilang seperti itu, mungkin aku bisa mempertimbangkannya." Leo tersenyum ke nenek itu dan melingkarkan lengannya di bahu Shasa. Seketika itu juga, Shasa tersentak kaget dan berusaha melepaskan lengan Leo dari bahunya. Leo masih tersenyum menatap Shasa, sedangkan Shasa justru membalasnya dengan wajah sinis.
Setelah perjalanan satu jam, Shasa dan Leo turun dari bus. Kalau menggunakan kendaraan pribadi mungkin jarak tempuhnya hanya sekitar 20-30 menit.
"Tuan, selamat. Anda telah berhasil melewati tantangan pertama yaitu naik bus." Shasa mengatakan dengan begitu bahagia sambil jarinya menunjukkan angka satu.
"Apa? Hahahaha... Kau gila?" Leo kesal.
"Tuan, ingatlah apapun yang terjadi hari ini dan jangan lupakan seumur hidupmu." Shasa makin merasa menang. "Ayo Tuan, kita masuk!"
__ADS_1
Leo hanya mengikuti langkah Shasa dari belakang. Dia tak menyangka jalan-jalannya akan seperti ini.
Leo dan Shasa telah sampai di sebuah taman hiburan besar. Suara teriakan terdengar dari wahana-wahana permainan ekstrim.
"Kau yakin membawaku kesini?" Leo benar-benar tak percaya Shasa akan membawanya ke taman hiburan. Yang ada di dalam pikirannya, Shasa mungkin akan menunjukkan tempat-tempat seperti perpustakaan nasional, gedung pameran, museum atau sejenis tempat elit lainnya.
"Hemm" Shasa mengangguk-anggukan kepalanya.
"Pulang saja." Ucap Leo lugas tanpa ekspresi.
"Tuan, ayolah... Aku sudah lama sekali tidak kesini." Shasa merengek. "Kita akan sangat terhibur disini, ayolah."
'Jangan merengek seperti ini ke orang lain! Awas saja kau!' Leo mendengus dalam hatinya.
Shasa masih merengek manja.
Satu jam pertama, Leo masih terlihat datar. Dia hanya mengikuti kemana Shasa memasuki wahana satu per satu. Di jam berikutnya, Leo sudah terlihat menikmati. Apalagi setelah naik roller coaster besar. Dia terbahak-bahak menertawakan Shasa yang sedikit mabuk setelah menaikinya.
"Hahahahaha... Sudah ku bilang, kau tidak akan sanggup jungkir balik menaiki permainan itu." Leo menertawakan wajah Shasa yang pucat pasi begitu turun dari roller coaster.
Leo menarik Shasa ke sebuah kedai minuman. Shasa berjalan sudah seperti terseret-seret.
"Minum ini." Leo menyodorkan sebotol soda dingin. "Soda bisa menghilangkan rasa pusingmu." Leo masih belum bisa berhenti menertawakan Shasa. Sedangkan yang ditertawakan, hanya bisa duduk lemas di kursi.
"Tuan, berhentilah tertawa." Shasa masih tak bertenaga. Dia meneguk soda yang diberikan Leo. Setelah setengah jam beristirahat sambil makan camilan, mereka melanjutkan petualangannya bermain wahana yang lain.
__ADS_1
Kali ini Shasa mengajak Leo main arung jeram. Dia sudah tidak sabar menunggu antrian masuk ke wahana yang begitu panjang.
"Kalau kau katakan kepadaku akan ke taman hiburan seperti ini, aku bisa menyewa seluruh taman ini seharian. Kau tidak perlu repot-repot antri begini." Leo berkomentar.
"Tuan, hiduplah sesekali seperti orang normal. Mungkin anda tidak pernah menunggu seumur hidup anda. Tapi, cobalah sekarang bagaimana rasanya menunggu." Shasa menceramahi Leo.
Setelah antri susah payah, akhirnya mereka menaiki perahu arung jeram. Di dalam satu perahu tidak hanya ada Leo dan Shasa, tetapi juga ada 4 orang lainnya. Leo sudah tidak lagi menyembunyikan teriakannya, dia terlihat sangat menikmati permainan di taman hiburan ini. Leo mulai bisa mencair dengan sekelilingnya. Begitupun di permainan sebelum ini. Dia mulai bisa berinteraksi dengan santai ke orang sekelilingnya. Bahkan, dia sempat mengobrol kecil saat antri arung jeram.
'Tuan, tertawalah seperti itu. Jangan malah kau menyembunyikannya. Aku akhirnya tahu kenapa kau tidak menyukai keramaian. Itu karena kau selalu sendirian di antara keramaian itu. Kau seharusnya seperti ini, Tuan. Jangan pernah merasa sendiri lagi.' Shasa tersenyum dan berkata dalam hatinya. Matanya masih belum lepas dari senyum riang yang terpancar dari wajah Leo.
Selepas bermain arung jeram, baju Shasa dan Leo basah kuyup. Mereka memutuskan ke toko kaos dan membeli pakaian ganti. Shasa memilihkan kaos untuk Leo. Sama persis dengan kaos yang dipilih untuknya, hanya beda ukuran saja.
"Tuan, pakai ini. Mari kita bangun kekompakan dengan memakai kaos yang sama." Shasa menyodorkan kaos berwarna navy kepada Leo.
"Cih, kekompakan macam apa?" Leo mendengus.
"Sudahlah, pakai saja. Kita harus punya kenang-kenangan yang sama dari jalan-jalan kita hari ini."
Mereka keluar dari toko kaos dengan mengenakan kaos warna dan gambar yang sama. Leo bisa melihat senyum bahagia Shasa. Apalagi Shasa makin terlihat menggemaskan dengan mengenakan bando karakter kartun di kepalanya.
'Bahagialah seperti itu, Sha. Kau harus bahagia mulai sekarang.' batin Leo tersenyum meilhat tingkah laku Shasa yang seperti anak kecil lenggak-lenggok memamerkan bandonya.
Di kejauhan, asisten Haris ikut tertawa melihat Tuannya yang sedikit berbeda hari ini. Shasa memang mengusir asisten Haris tadi, tapi ternyata Leo tidak menyuruh asisten Haris pulang, melainkan memintanya mengikuti kemana mereka pergi. Leo khawatirkan kalau mereka membutuhkan sesuatu nantinya.
'Tuan, anda bahagia sekali hari ini. Apakah es di hati anda itu sudah cair? Hahahaha' asisten Haris tertawa sambil memakan popcorn yang dia beli.
__ADS_1
*****
bersambung...