Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Pulang


__ADS_3

Bulan madu yang direncanakan selama tujuh hari, telah selesai tanpa hambatan. Kini Leo dan Shasa bersiap pulang menuju ke rumah. Esok hari, mereka akan menjalani aktivitasnya seperti biasa. Shasa sebetulnya tidak rela mengakhiri liburannya. Namun, dia juga sudah merindukan kantor dan teman-temannya.


Jet pribadi Leo membawa keduanya pulang dengan selamat dan aman. Asisten Haris dan Lita mengantar Tuan dan Nyonya mudanya ini dengan mobil pribadi Leo. Sesampainya di rumah Keluarga Gusta, Pak Yo dan beberapa pelayan lainnya menyambut mereka di depan pintu.


"Pak Yo, sudah lama sekali tidak bertemu." Sapa Shasa pada Pak Yo.


"Selamat datang Nyonya muda. Selamat datang Tuan muda." Sambut Pak Yo sambil memberi hormat, diikuti pelayan-pelayan di belakangnya.


Leo membalas dengan sedikit anggukan. Sedangkan Shasa sudah memberikan senyum ramahnya pada Pak Yo dan pelayan yang menyambutnya.


Leo dan Shasa masuk ke dalam rumah. Koper-koper mereka diatur oleh asisten Haris dan Lita. Rumahnya cukup sepi.


"Pak Yo, mama dan papa kemana?" Tanya Leo.


"Tuan dan Nyonya besar sedang menghadari acara kolega bisnisnya sejak sebelum makan siang tadi." Jawab Pak Yo.


Karena tidak ada siapa-siapa di rumah, Leo dan Shasa memutuskan untuk istirahat di kamarnya. Leo meminta Pak Yo menyiapkan minuman segar dan buah potong untuk camilan di kamar.


Shasa tak ada lelahnya. Dia langsung meminta Lita mengeluarkan koper oleh-olehnya. Sewaktu di pulau, Shasa tak berhenti merengek untuk mampir ke tempat oleh-oleh. Meskipun Leo sudah menjanjikan kalau asisten Haris akan menyiapkan oleh-oleh untuknya, Shasa tetap bersikeras untuk membeli oleh-oleh sendiri. Shasa rasanya sudah mendapatkan senjata untuk membuat Leo menurutinya, hahahahaha.


"Sayang, kamu tidak capek? Istirahat dulu. Kau bisa mengatur oleh-olehmu nanti." Kata Leo sambil menikmati buah potong dingin di sebuah piring besar.


"Aku tidak capek, sayang. Tenang saja. Aku sedang memikirkan akan memberikan oleh-oleh ke siapa saja. Karena kau tidak memberiku waktu banyak untuk berbelanja, aku jadi beli saja tanpa memikirkannya. Aku takut oleh-olehnya kurang." Jawab Shasa yang masih fokus membereskan oleh-olehnya.


"Aku sudah memberimu waktu dua jam. Masih kurang juga? Bagiku itu sudah kelamaan."


"Sayang, perempuan itu memang membutuhkan waktu lebih lama saat berbelanja. Memangnya kau, yang memutuskan membeli sebuah pulau hanya dalam tiga detik." Protes Shasa.


"Aku bahkan bisa membelikanmu satu toko oleh-oleh seperti disana."


"Aku hanya ingin membeli oleh-oleh, bukan tokonya, sayang."


Setelah membereskan oleh-olehnya yang dibawa dalam satu koper besar, Shasa sedang bingung bagaimana catanya membawa oleh-oleh ini ke kantor. Dia pasti akan kerepotan sekali membawanya. Apakah lebih baik dia membawanya dalam kardus besar atau pakai koper?


"Kau pasti bingung kan bagaimana membawa oleh-oleh sebanyak itu besok?" Tebak Leo.


"Hem... Sepertinya aku harus mencicil bawa oleh-oleh ini ke sana." Jawab Shasa sambil berpikir.


"Besok aku akan meminta Lita membawanya ke tempatmu. Kau siapkan saja mana yang perlu dibawa."


Shasa spontan menoleh ke arah Leo. Sejak tadi mereka mengobrol, tapi baru setelah mendengar kalimat terakhir Leo, Shasa melihat ke arahnya.


"Wah... Terima kasih, sayang!" Shasa melompati beberapa tumpukan oleh-oleh dan berlari ke arah Leo dengan cepat. Dia langsung memeluk Leo yang sedang duduk santai di sofa. Leo menggeleng-gelengkan kepalanya pada Shasa sambil menjauhkan garpu yang sejak tadi dia pakai untuk memakan buah potong agar tidak mengenai Shasa.


'Kalau kau sampai terjatuh, aku pasti akan menendang tumpukan oleh-oleh itu.' batin Leo menyeringai.


*****


Makan malam di Keluarga Gusta kini sudah lengkap lagi. Leo dan Shasa sudah bergabung lagi di meja makan setelah liburan panjang mereka.


"Besok kalian sudah langsung bekerja? Rumah pasti sepi lagi." Ucap Nyonya Sofia agak bersedih.


"Ma, banyak pekerjaan yang aku tinggalkan." Jawab Leo.


"Shasa juga?" Tanya Nyonya Sofia pada Shasa.


"Iya, ma. Tapi, akhir pekan nanti aku akan menemani mama seharian kok." Jawab Shasa dengan senyumnya pada Nyonya Sofia. Justru Leo yang langsung menoleh ke arah Shasa. 'Waktu akhir pekanmu untukku.' batin Leo melalui tatapannya.


"Akhir pekan ini rencananya mama akan pergi ke luar negeri. Mama harus mengecek butik. Kemungkinan mama baru kembali dua atau tiga minggu ke depan."


"Wah... Lama sekali, ma." Sahut Shasa.


"Tidak, itu tidak lama. Jadi nanti sebelum mama berangkat, mama akan mengajakmu ke yayasan dan mengenalkanmu pada para pengurusnya."


"Bagaimana bisa mama pergi saat Shasa pertama kali bergabung ke yayasan?" Tanya Leo.


"Apa yang kau khawatirkan, Leo? Shasa pasti lebih pandai daripada mama."


Shasa menutupi rasa penasarannya tentang pengurus yayasan dan sedikit kegugupannya lewat sebuah senyuman di bibir. Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta mungkin tidak menyadarinya, tetapi Leo di sampingnya bisa merasakan apa yang ditutupi Shasa.

__ADS_1


Selesai makan malam, Shasa membagikan oleh-olehnya untuk Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta. Shasa bernostalgia tentang cerita liburannya bersama Leo. Mereka juga melihat foto-foto liburan Leo dan Shasa. Tidak sedikit tawa yang muncul dari mereka. Apalagi saat menertawakan Shasa yang tidak bisa berenang ketika olahraga air di pulau.


Malam semakin larut, masing-masing dari mereka kembali ke kamar masing-masing. Leo masuk lebih dulu ke dalam kamar, sedangkan Shasa baru menyusul setelah beberapa saat.


"Sayang, dari mana?"


"Aku habis mengantar oleh-oleh untuk para pelayan."


Leo menepuk-nepuk kasur tepat di sampingnya, meminta Shasa untuk segera naik. Shasa pun segera menuju posisinya.


"Ah... Aku suka sekali melihatmu di kasurku." Leo memeluk Shasa yang baru saja berbaring.


Shasa merasakan kehangatan di dalam dekapan Leo. Dia sudah sangat terbiasa dipeluk Leo dalam tidurnya. Benar-benar kenyamanan yang luar biasa bagi Shasa.


*****


"Shasa!" Tira memanggil Shasa dengan cukup keras. Dia begitu merindukan Shasa yang sudah tidak dilihatnya selama hampir sebulan. Tira mendekati Shasa seperti ingin memeluknya. Tetapi, kemudian Tira terdiam dan mengurungkan pelukannya.


Shasa yang sudah ingin menyambut pelukan Tira menjadi heran kenapa Tira berhenti melangkah.


"Kenapa, Ti?" Tanya Shasa.


"Apa aku harus memberimu hormat dulu?" Tira agak ragu.


"Hah? Hahahahaha... Apa sih, Ti?! Aneh deh kamu."


"Apa aku boleh memelukmu, Sha?" Tanya Tira ragu.


"Tentu saja, Titiiiii." Tanpa panjang lebar, Shasa yang lebih dulu memeluk Tira.


Sebetulnya Tira agak sungkan pada Shasa yang sekarang sudah menjadi istri seorang Presdir di tempatnya bekerja. Tapi Shasa berkali-kali mengingatkan untuk memperlakukannya seperti biasa, sama seperti sebelumnya yang saling leluasa bersikap satu sama lain.


Lita datang dengan seorang petugas laki-laki yang membawa sebuah dus besar. Lita berhenti di depan meja Shasa dan memberikan hormat. Shasa agak gelagapan melihat tingkah laku Lita yang jadi sorotan teman-teman sekelilingnya.


"Nyonya, ini barang yang anda tinggalkan di bagasi. Tuan bilang ini harus diantar ke meja anda."


"Kalau begitu, saya undur diri, Nyonya. Anda bisa menghubungi saya ketika anda membutuhkan sesuatu." Lita pun memberi hormat dan beranjak keluar ruangan. Teman-teman sekeliling Shasa tak henti memandanginya.


Shasa melihat sekelilingnya. Lalu, dia memanggil Tira agak berbisik.


"Ti... Mulai sekarang kau harus membantuku mencairkan suasana di sini. Aku risih sekali melihat orang-orang memandangiku."


"Hei, kau ini. Justru kau yang membuat kita di sini jadi gugup. Bagaimana bisa kepala sekretaris VIP perusahaan ini, tiba-tiba muncul dan memberi hormat padamu? Kita semua pasti terkejut." Jawab Tira masih berbisik.


"Lita itu sekarang jadi asistenku. Pasti dia akan sering menemuiku."


"Hah? Seorang Ibu Lita jadi asistenmu? Luar biasa." Tira menggeleng tak percaya.


"Bantulah aku untuk membuat situasi ini mencair. Aku tidak suka sekali." Shasa agak beteriak dalam bisiknya.


"Akan sulit sepertinya. Tapi akan ku coba." Tira menghentikan bisikannya dan berdiri dari kursi. "Wah... Apa ini, Sha? Ini pasti oleh-oleh ya? Banyak sekali." Tira berpura-pura antusias melihat dus yang baru saja diletakkan di atas meja. Padahal, dia memang penasaran dan antusias sejak tadi.


"Tolong dibagi-bagi ya, Ti. Yang penting kebagian semua." Mendengar instruksi Shasa, Tira sekejap membuat teman-teman lainnya mendekat memilih oleh-oleh yang dibawa Shasa. Situasi canggung mulai mencair.


Setelah prosesi bagi-bagi oleh-oleh, semuanya kembali bekerja dengan tenang.


'Ya, aku lebih suka situasi tenang seperti ini. Huh.' batin Shasa sambil menghela napas lega.


*****


Setelah makan siang, Shasa bersama teman-temannya kembali lagi ke kantor. Di lobby, tiba-tiba saja Dion muncul di hadapan mereka.


"Hai, Sha. Bisa bicara sebentar." Ucapan Dion ini seketika membuat Shasa dan teman-temannya menghentikan langkahnya. Mereka saling memandang satu sama lain, kecuali Shasa yang sepertinya tidak tertarik dengan kehadiran Dion.


"Kalian duluan saja ya." Shasa berbicara pada teman-temannya. Mereka pun beranjak meninggalkan Shasa.


"Kau mau ditemani, Sha?" Tira berbisik di telinga Shasa.


"Tidak perlu, Ti." Balas Shasa berbisik.

__ADS_1


Setelah teman-temannya pergi, Shasa menoleh ke arah Dion yang ada di hadapannya.


"Sha, aku mau ucapin selamat atas pernikahanmu dan Presdir Leo."


Shasa hanya membalasnya dengan anggukan.


"Aku harap kamu bahagia dengan suamimu. Dan... Aku berencana menikahi Gia karena aku sudah melihatmu menikah. Jujur, aku masih merasa bersalah padamu."


"Terus?" Tanya Shasa tidak peduli.


"Aku harap kamu juga bisa berteman baik lagi dengan Gia."


Belum sampai Shasa membalas kata-kata Dion, Leo sudah ada di antara mereka.


"Sayang." Panggil Leo pada Shasa. Dia langsung mengambil posisi di samping Shasa dan melingkarkan lengannya di pinggang Shasa menunjukkan kepemilikannya. "Kalian sedang apa?"


Dion yang cukup kaget melihat Leo di hadapannya, segera memberi hormat pada Leo.


"Tidak apa-apa, sayang. Ini temanku. Dia hanya sedang memberitahuku kalau sebentar lagi dia akan menikah." Jawab Shasa tenang.


Leo mengangguk. "Kalau begitu, kau bisa langsung mengirim undangannya pada asisten Shasa. Kau kenal Lita dari tim sekretaris VIP kan? Kau bisa memberikan undangannya pada Lita." Jelas Leo yang kemudian membuat Dion menjadi kehabisan kata-kata.


"Ba, baik, Tuan. Kalau begitu, saya undur diri." Dion berpikir lebih baik segera mengakhiri situasi ini daripada Leo terus menatapnya dengan tatapan mengusir.


Setelah Dion pergi, Leo menoleh ke arah Shasa di sampingnya.


"Sayang, bisakah kau tidak bertemu lelaki lain tanpa ada aku?"


"Aku juga tidak sengaja bertemu dengannya." Jawab Shasa.


"Entah itu sengaja atau tidak sengaja, kau bisa menolak untuk berbicara dengan lelaki lain."


"Apa itu artinya aku juga tidak boleh berbicara dengan manajer Lim?" Tanya Shasa polos.


"Sayang... Kamu pasti mengerti maksudku. Aku jadi ingin menciummu kalau kau lagi bodoh begini."


Shasa buru-buru melepaskan dirinya dari Leo dengan kesal. Tetapi Leo malah tertawa kecil.


"Ayo kita kembali saja." ajak Shasa.


Dari kejauhan, Lita memantau mereka berdua.


'Nyonya muda, hampir saja anda meledakkan berita murahan ke publik. Huh...' batin Lita menghela napasnya yang tertahan sejak tadi.


*****


Epilog:


"Lita, Nyonya muda sedang di lobby sekarang. Dia berbicara dengan seorang pria. Bisakah kau lakukan sesuatu?" Niko berbicara lewat ponselnya.


Lita langsung berlari ke arah lobby. Dia melihat Shasa sedang berbicara dengan Dion. Lita mencoba melihat ke situasi sekitar lobby. Tidak nampak ada wartawan atau semacamnya di sana.


Baru saja Lita ingin berjalan ke arah Shasa, Leo yang baru selesai makan siang bersama asisten Haris mendekati Shasa. Lita hanya sedikit minggir ke sisi lobby. Dia mengambil ponsel dari sakunya.


"Niko, situasinya aman kan?" Tanya Lita.


"Sejauh ini aman. Beberapa pengawal mengelilingi Nyonya di sana."


Lita memicingkan matanya. "Apa kau mengikuti Nyonya kemanapun dia pergi?" Tanya Lita curiga.


"Buat apa? Aku hanya perlu memantau dari cctv di setiap sudut kantor. Satu objek pemantauan yang membuatku harus memiliki ruangan sendiri untuk mengamati cctv kantor yang tersebar cukup banyak."


Lita mendengus. "Komisaris Gusta sangat luar biasa."


"Aku rasa kau perlu memantau cctv juga mulai sekarang. Atau mungkin saja suatu saat Komisaris Gusta akan mencari penggantimu sebagai asisten Nyonya."


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2