
Leo dan Shasa telah kembali ke apartemen. Keduanya kini sudah beristirahat di kamar. Leo menyandarkan punggungnya di kepala kasur, melihat Shasa yang bolak-balik sambil menelepon seseorang melalui ponselnya. Mata Leo mengikuti setiap gerakan Shasa. Dia terlihat serius sekali berbicara di telepon. Setelah selesai, Shasa meletakkan ponselnya di laci meja samping kasur.
"Sayang, sini." Leo mengulurkan lengannya menyiapkan sandaran untuk Shasa. Sebuah senyum mengembang dari bibir Shasa. Dia pun beranjak naik ke kasur dan menyandarkan tubuhnya di lengan Leo. Sentuhan Leo begitu hangat di tubuhnya.
Leo menatap Shasa. "Siapa yang kau telepon?"
"Manajer Lim." Jawab Shasa cepat.
Leo mengerutkan dahi. "Apa ada pekerjaan yang penting sampai harus telepon malam-malam?"
"Tidak. Tadi aku hanya ijin untuk mengambil cuti sampai minggu depan. Dan tentu saja dia memarahiku." Shasa tertawa girang, tapi tidak dengan Leo yang makin mengerutkan dahinya.
"Beraninya dia memarahi istriku!" Leo kesal.
"Ish... Wajar kalo dia memarahiku. Aku mengambil cuti dadakan, pasti banyak pekerjaan yang harus dialihkan juga. Dia pasti akan kerepotan." Shasa mencoba menjelaskan.
"Memang kau mau kemana mengambil cuti?"
"Mama bilang, banyak hal yang perlu dipersiapkan. Jadi mama memintaku untuk mengambil cuti beberapa hari kedepan."
Leo menghela napas. "Menurutmu kapan kita harus mengurus kepindahan kita ke rumah?"
"Em... Terserah kau saja."
"Baiklah kalau begitu besok aku akan meminta Haris mengurusnya."
__ADS_1
"Hei, kenapa secepat itu?" Shasa protes.
"Tadi kau bilang terserah saja."
"Tapi kan gak besok juga, sayang. Besok kita pindahkan barang-barang saja dulu. Lusa baru kita mulai tidur disana."
"Kalau gitu harusnya tadi kamu gak perlu bilang terserah." Leo protes. "Buat apa bawa barang-barang? Papa pasti sudah menyiapkan barang-barang baru disana. Kita tinggal membawa koper pakaian saja. Oh, atau bahkan kau ingin membeli pakaian baru saja? Jadi kita tidak perlu membawa apa-apa kesana?"
"Apa kau terlahir boros begini?" Shasa mencibir. "Baiklah, besok kita rapikan pakaian-pakaian kita." Leo tersenyum melihat Shasa yang pasrah tapi kesal.
"Ah, Leo." Tiba-tiba Shasa memanggilnya. "Aku penasaran, sebenarnya kau menyukaiku atau tidak?"
Leo menatap Shasa. "Kalau aku tidak menyukaimu, kau pasti tidak ada disini sekarang."
"Apa yang kau sukai dariku?" Tanya Shasa lagi.
Leo melepaskan pelukannya dan menatap Shasa. "Impian kedua orang tuaku telah menghancurkan mimpiku. Sejak itu, aku tidak berani lagi menginginkan apa-apa. Lalu, aku bertemu denganmu. Orang yang begitu cepat melupakan lukanya dan memilih untuk selalu bahagia. Aku melihat besarnya keberanianmu yang selalu punya mimpi lain saat mimpi pertamamu tidak berhasil. Darimu aku menyadari bahwa bahagia itu kita sendiri yang menjemputnya."
"Sekarang malah aku yang jadi takut. Latar belakangku sangat berbeda darimu. Aku tidak tahu apakah aku mampu jadi pendamping yang baik bagimu."
Leo menggelengkan kepalanya. "Mimpi pertamaku adalah menjadi bahagia dengan kedua orang tuaku karena hanya mereka yang aku miliki. Aku kehilangannya saat harus berpisah jauh dari papaku. Aku tidak mau memiliki keinginan apa-apa lagi karena itu hanya akan menjadi luka untukku." Leo menyibakkan rambut Shasa ke belakang telinganya. "Tapi kau membuatku berani bermimpi lagi. Impianku saat ini adalah untuk bahagia bersamamu. Aku tidak butuh yang lainnya, aku hanya membutuhkanmu."
"Jangan pernah merasa sendiri lagi." Shasa mengusap pipi Leo dengan kedua tangannya. "Kau tidak akan bahagia jika kau kesepian."
"Jangan pernah tinggalkan aku. Aku hanya memilikimu." Leo menatap Shasa dengan penuh harap.
__ADS_1
Kini giliran Shasa yang memeluk Leo. 'Bagaimana bisa kau menyimpan lukamu sendirian seperti itu? Kau ini bodoh atau apa, kau memiliki segalanya, tapi kau mengatakan hanya memilikiku.' batin Shasa.
*****
"Gusta, aku rasa aku mengerti kenapa Leo mencintainya." Nyonya Sofia sudah ada di kamarnya bersama Komisaris Gusta.
"Memangnya kenapa?" Komisaris Gusta bertanya sambil membaca buku di pangkuannya.
"Shafira itu gadis yang selalu punya kebahagiaan di wajahnya. Itu yang tidak dimiliki Leo sejak dulu kan? Shafira itu lucu dan polos, hahaha... Menurutmu, apakah dia bisa beradaptasi dengan para pengurus yayasan nanti ya?" Nyonya Sofia jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Waktu yang akan menjawabnya." Komisaris Gusta menjawab pertanyaan Nyonya Sofia.
"Ish... Kau ini! Jawab pertanyaanku dengan jelas." Nyonya Sofia mendecak.
"Kalau dia memang punya mental seorang anggota Keluarga Gusta, dia pasti akan melewatinya dengan mudah. Kenapa kau begitu takut? Saat dia menjadi Nyonya Gusta nanti, dia akan memegang kuasa di dalam yayasan."
"Gusta, apa yang membuatmu menyetujui Leo menikah dengannya?"
"Kalau kau bertanya dari perspektifku sebagai pemilik Keluarga Gusta, aku menyetujuinya karena dia memiliki prinsip yang kuat. Kau ingat waktu dia membicarakan tentang harga dirinya di depanku? Menurutku harga diri itulah yang menjadi modal seorang wanita di Keluarga Gusta." Nyonya Sofia masih terdiam mendengar kata-kata Komisaris Gusta.
"Kalau kau bertanya dari perspektifku sebagai seorang ayah, aku menyetujui karena ini adalah pertama kalinya Leo meminta padaku. Seumur hidupnya, dia tidak pernah meminta apapun dariku. Semua yang aku beri padanya hanya seperti angin lewat, yang berhembus begitu saja lalu hilang tanpa makna. Aku merasa tidak pernah menjadi ayah yang baik untuknya." Komisaris Gusta tersenyum getir. "Aku pikir, saham perusahaan, kekuasaan, kekayaan, itu yang akan dia minta dariku. Tetapi dia meminta kebahagiaan untuk dirinya. Tidak mungkin aku menolak permintaannya kan?"
"Kau sudah menjadi ayah yang baik, Gusta. Terima kasih kau sudah bisa mengerti jalan pikiran anakku. Ayo kita nikmati waktu kita sebagai nenek-kakek setelah ini. Aku akan meminta cucu yang banyak dari mereka."
"Sofia, sudah berapa lama mereka menikah? Apa dia belum ada tanda-tanda hamil juga?" Pertanyaan Komisaris Gusta ini membuat Nyonya Sofia juga penasaran. Kedua orang ini sudah berharap segera mendapat cucu rupanya.
__ADS_1
*****
bersambung...