
Lita mempersiapkan semua kebutuhan kerja Shasa di rumah. Mulai dari laptop, telepon kabel, printer serta alat tulis. Secepat kilat meja kerjanya sudah tertata rapi di sebuah ruangan di paviliunnya.
Shasa merasa tidak enak dengan manajer Lim dan juga timnya karena harus menghilang lagi setelah seminggu cuti. Namun, manajer Lim dan teman-temannya bisa mengerti kondisi Shasa. Tanpa bertemu lagi dengan mereka, Shasa pamit untuk bekerja dari rumah selama beberapa hari ke depan. Leo sendiri yang mengaturnya, meskipun Shasa tidak suka diperlalukan khusus seperti ini. Asisten Haris juga mengambil barang-barang Shasa di mejanya serta menyampaikan salam dari Shasa pada manajer Lim dan teman-temannya.
Shasa kembali bersama Leo ke rumah beberapa menit sebelum pegawai kantor itu berhamburan untuk pulang. Lobby yang tadi begitu ramai dengan wartawan, kini sudah bersih seperti tidak terjadi apa-apa.
Di dalam mobil, Shasa mengecek ponselnya. Banyak pesan masuk dari teman-temannya dan... Gaby! Dia menelpon Shasa berkali-kali. Shasa menoleh ke arah Leo yang masih sibuk dengan tabletnya. Shasa tidak berani menelepon Gaby di depan Leo. Dia takut mengganggu Leo yang sedang sibuk itu.
*****
Sesampainya di rumah, Shasa sudah disambut oleh Lita yang menunjukkan meja kerjanya yang begitu apik dengan kursi yang terlihat nyaman. Terlihat di atas standar meja kerja untuk pegawai seperti Shasa.
Lita juga memberikan Shasa sebuah ponsel baru. Seperti yang dikatakan Leo sebelumnya, Shasa akan menggunakan ponsel ini hanya untuk orang-orang terdekatnya. Lita ternyata sudah mengatur ponsel Shasa sedemikian rupa yang merupakan ponsel keluaran terbaru ini.
"Aku sudah memasukkan data-data anda serta beberapa nomor telepon yang wajib anda simpan. Aku sarankan, anda hanya menggunakan ponsel ini untuk orang-orang terdekat anda." Terang Lita pada Shasa.
"Baiklah, terima kasih Lita." Shasa menerima ponsel itu dengan senang hati.
Shasa pun beranjak masuk ke kamarnya, menyusul Leo yang sudah lebih dulu istirahat. Shasa mengotak-atik ponsel barunya. Dia menemukan beberapa nomor telepon telah terdaftar di ponselnya, termasuk nomor telepon keluarganya.
"Ish... Apa ini? Lita memasukkan namanya dengan tulisan: Suami Tersayang. Norak sekali!" Gerutu Shasa pada ponselnya melihat nomor telepon Leo disimpan dengan nama seperti itu.
Tak sadar, Shasa sudah di dalam kamar melihat Leo yang sedang melepas kemejanya. Dia terlonjak kaget, hampir saja menjatuhkan ponsel barunya.
"Astaga! Leo!"
"Kenapa kau berteriak seperti itu, sayang?"
"Kenapa buka baju disini sih?" Tanya Shasa kesal. Dia mengambil handuk dari lemari kecil di dekat pintu kamar mandi dan memakaikannya pada tubuh Leo.
Leo tertawa kecil melihat tingkah laku Shasa. "Memang salah kalau aku buka baju disini?"
Shasa memicingkan matanya. "Kau akan mencemari mataku, tahu!"
Leo tertawa geli. "Gimana? Suka ponsel barunya? Aku yang memilihkannya untukmu."
Shasa berpikir sejenak. "Bukannya Lita yang membelinya?"
__ADS_1
"Lita yang beli berdasarkan instruksiku." Leo tersenyum.
"Apa kau yang juga memasukkan namamu seperti ini?" Shasa menunjukkan nama yang tersimpan untuk Leo.
Leo mengangguk-angguk cepat.
"Ish... Norak sekali."
"Bagaimana bisa kau mengatakan suami tampanmu ini norak?"
"Sudah cepat mandi sana." Shasa meninggalkan Leo.
"Sayang, nanti malam kencan yuk!"
Shasa langsung berbalik badan menatap Leo dan melihatnya sinis. Leo sambil tertawa geli masuk ke dalam kamar mandi.
Shasa duduk di balkon kamar. Dia mengambil ponsel lamanya dan mengetikkan sesuatu pada ponsel barunya. Tak lama, dia mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Gab... Ini Shasa."
"Shasa! Sha kamu ini bagaimana sih?! Kenapa tidak memberitahuku? Kau ingin aku terlihat bodoh? Bla bla bla." Gaby langsung menyerocos tanpa jeda pada Shasa. Dia tetap diam mendengarkan Gaby menyelesaikan makiannya.
"Kau ini! Aku ini sahabatmu atau bukan sih?"
"Tentu saja... Kalau kau bukan sahabatku, kau tidak akan mengetahui nomor ini."
Gaby mengecek nomor telepon yang digunakan Shasa. Nomor asing, jelas-jelas bukan nomor yang biasa digunakan Shasa untuk meneleponnya.
"Ini nomor siapa, Sha?"
"Ini nomor baruku. Jangan sembarangan memberitahu orang lain tentang nomor ini. Hanya orang terdekatku saja yang mengetahuinya. Em... Omong-omong, kau tahu darimana berita pertunanganku?"
"Ya ampun Sha... Siapa sih yang gak tahu XY Group? Berita kalau pewarisnya sebentar lagi menikah dan ternyata si pewaris konglomerat itu menikahi sahabatku, sudah tersebar sampai ke negeri seberang, Shaaa."
"Serius?"
"Iya lah... Makanya aku udah kayak orang bodoh yang tahunya paling belakangan." Gaby terdengar kesal karena Shasa tidak memberitahunya dulu tentang pertunangannya.
__ADS_1
"Iya, iya. Maaf ya, Gab. Makanya sekarang aku kasih tahu kamu."
Dua orang sahabat itu pun mengobrol panjang lebar membahas tentang hubungan Shasa dan Leo. Saking asyiknya, Shasa tidak menyadari kalau Leo sedang menonton dirinya yang tertawa sendirian dari pintu balkon kamar.
Shasa menyudahi obrolannya dengan Gaby. Ketika dia membalikkan badan, Leo sudah tersenyum memandangi wajah Shasa.
"Kau sudah lama disitu? Kenapa tidak memanggilku?"
Leo berjalan mendekat ke arah Shasa. Dia memeluk badan Shasa dan mendekatkan wajahnya satu sama lain.
"Kenapa kau bisa mengobrol sepanjang itu pada sahabatmu, tetapi tidak bisa melakukannya seperti itu padaku?"
"Em... Mungkin aku takut kalau kau melihat sisi anehku." Jawab Shasa polos.
"Hahahaha... Aku sudah melihat semua sisi dalam dirimu."
"Oh ya?" Shasa melingkarkan lengannya ke leher Leo. "Pernah lihat aku marah?" Leo mengangguk. "Pernah lihat aku menangis?" Leo mengangguk. "Pernah lihat aku norak?" Leo mengangguk. "Pernah lihat aku aneh?" Leo mengangguk. "Aaaaa... Jadi apa yang belum pernah kau lihat dariku?"
"Aku belum pernah melihatmu beraksi di tempat tidurku." Ledek Leo pada Shasa.
Sontak Shasa memukul bahu Leo. Pukulannya cukup keras sampai membuat Leo mengaduh. Tapi kemudian Shasa mengelus bahu yang dipukulnya tadi.
"Aku ingin menghabiskan hari-hariku membicarakan tentang kita. Tentang perjalanan cinta kita. Tentang keluarga kecil kita. Aku ingin menghabiskannya bersamamu."
Shasa tersenyum mendengar kata-kata Leo yang manis ini.
"Aku ingin menjadi tempatmu menceritakan segala sesuatu. Kesenanganmu, kesedihanmu, kemarahanmu, ketakutanmu, kegalauanmu. Semuanya. Aku ingin dengar semuanya. Jangan lagi menutupi apapun dariku." Ucap Leo dengan lembut.
"Aku juga ingin kau begitu. Bisakah kau tidak menyimpan perasaanmu sendirian?"
Leo tersenyum. Kemudian, dia mencium bibir Shasa dengan lembut dan dalam. Leo menopang tubuh Shasa yang semakin lemas dibuatnya. Mereka berdua menikmati ciuman mesra itu.
"Aku mencintaimu."
Kata-kata Leo menggema seisi langit yang berwarna kemerahan. Senja indah menemani Leo dan Shasa kala itu. Kicauan burung adalah latar musik yang mengiringi keduanya. Hembusan angin membawa cinta mereka sampai ke langit.
*****
__ADS_1
bersambung...