Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Jalan-Jalan


__ADS_3

Shasa sudah boleh kembali ke rumah. Kondisinya sudah berangsur-angsur membaik. Meskipun begitu, Leo meminta dokter Sam untuk mengirim salah seorang perawat untuk menjaga Shasa di rumah dan mengawasi pola makan Shasa beserta kandungan gizinya.


Leo memang menjadi lebih protektif dari sebelumnya. Shasa tidak boleh melakukan hal-hal yang membuatnya capek sehingga Shasa harus tetap istirahat di rumah. Leo tak henti memantau kondisi kesehatan Shasa melalui cctv ataupun perawat dan pelayan di rumahnya. Semua orang yang menjaga Shasa wajib memastikan bahwa Shasa tidak melakukan kegiatan yang menguras tenaga. Tak pernah sedetik pun, Shasa ditinggal sendirian. Dia selalu diawasi walau hanya di kamar sekalipun.


Shasa merasa sangat bosan di rumah. Dia juga dilarang Leo untuk berpergian ke luar rumah meskipun jaraknya dekat. Dia hanya bisa mondar-mandir antara kamarnya, ruang makan, dan taman belakang. Sisanya, perawat akan menceramahi Shasa atas nama Leo.


Shasa ingin menghirup udara segar. Dia main ke taman belakang, merasakan sejuknya udara dari pepohonan di sana. Rumah terasa sangat sepi saat Leo pergi bekerja. Meskipun setiap satu atau dua jam sekali Leo akan menelponnya, Shasa tetap saja kesepian di rumah sebesar ini.


Sebetulnya dia ingin sekali melihat keramaian di luar rumah. Jika kesepian begini, Shasa hanya akan mengingat kejadian saat dia kehilangan calon bayinya. Shasa melamun menatap bunga-bunga yang bermekaran di taman belakang. Jika dia tidak egois pada dirinya, pasti sekarang dia sedang menikmati masa-masa kehamilannya.


Komisaris Gusta melihat Shasa yang sedang melamun di kursi taman. Dia mencoba mendekati Shasa dan memecah lamunannya.


"Shafira." Panggil Komisaris Gusta.


Shasa otomatis menoleh ke sumber suara yang dia kenali. "Papa." Sapanya terkejut.


"Kau sedang apa? Kenapa ada di luar dan tidak beristirahat?" Komisaris Gusta duduk di salah satu kursi lainnya.


"Aku bosan di kamar, Pa. Aku ingin menghirup udara segar dan satu-satunya tempat yang bisa aku datangi, hanya taman ini."


"Kau ingin jalan-jalan bersamaku? Leo bekerja dan Sofia sedang pergi ke yayasan. Hanya aku yang bisa kau andalkan untuk mengajakmu jalan-jalan."


Shasa cukup antusias dengan tawaran Komisaris Gusta. Dia mencondongkan badannya ke arah Komisaris Gusta.


"Apa tidak apa-apa, Pa? Leo tidak akan memarahiku kan?"


"Tentu saja. Aku ini kunci yang bisa kau pakai untuk kemana saja. Bagaimana, mau tidak?"


Sudah pasti, Shasa menyetujui ajakan Komisaris Gusta. Dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Shasa langsung bersiap-siap untuk pergi ke luar bersama Komisaris Gusta.


Sebuah mobil sudah dipersiapkan Niko. Sudah diajak keluar rumah saja, sudah syukur. Shasa tidak bisa protes pada Komisaris Gusta yang membawa pengawal cukup banyak.


"Ada tempat yang ingin kau datangi?"


Shasa melirik Komisaris Gusta di sebelahnya. Dia memutar otak tempat apa yang sangat ingin dia datangi. "Ada, Pa. Tapi aku tidak yakin Papa akan menyukainya." Kata Shasa ragu.


"Katakanlah."


Shasa tersenyum lebar pada Komisaris Gusta. Shasa tidak menyangka kalau Komisaris Gusta akan sebaik ini padanya.


*****


Sekejap saja, pengawal Komisaris Gusta membuat taman hiburan yang ingin didatangi Shasa menjadi kosong tanpa satu pun pengunjung. Niko langsung menyewa satu taman hiburan ini. Tetapi, untuk menyamarkan pada Shasa kalau Komisaris Gusta menyewanya, Niko meminta para pengawal dan pelayan-pelayan di rumah untuk datang ke taman hiburan layaknya pengunjung biasa.


Shasa begitu senang karena Komisaris Gusta menuruti permintaannya. Shasa sudah membayangkan akan makan hotdog, gulali, soda, dan jajanan pinggir jalan lainnya.


Sampai di depan taman hiburan, Shasa merasa seperti mimpi yang jadi nyata. Dia jadi teringat waktu pergi ke taman hiburan dengan Leo. Shasa jadi tertawa-tawa sendiri mengingatnya.


Pertama kali dalam sejarah perjalan Komisaris Gusta, dia mendatangi sebuah taman hiburan. Dia memerhatikan sekeliling taman hiburan ini. Baru saja Shasa berjalan beberapa langkah dari pintu masuk, dia sudah terlihat menikmati pemandangan di depannya.

__ADS_1


"Pa, aku ingin menaiki permainan itu!" Shasa menunjuk ke salah satu wahana bermain. Lita langsung membisikkan sesuatu di telinga Shasa.


"Nyonya, aku sarankan anda untuk tidak bermain di wahana ekstrim seperti itu. Kita bisa memilih wahana lain yang lebih tidak bahaya."


Shasa mendecak kecewa. Dia sangat ingin bermain di wahana ekstrim itu. Dia bisa berteriak sepuasnya melepaskan segala rasa di dalam hatinya. Tapi Shasa mengalah dan memilih wahana balapan mobil.


"Pa, ayo kita main itu saja. Permainan itu tidak bahaya sama sekali. Bahkan, anak balita saja menaiki permainan itu." Shasa mengajak Komisaris Gusta dengan percaya diri.


Komisaris Gusta akhirnya mengikuti keinginan Shasa. Setelah mencoba satu wahana, mereka berdua bisa begitu kompak bermain wahana lainnya. Komisaris Gusta tidak menyangka se-menyenangkan itu pergi ke taman hiburan. Sejenak, mereka melupakan semua perasaan yang mengganggu pikiran mereka.


Meskipun menikmati, Komisaris Gusta masih dengan wajah datar dan kakunya. Berbeda dengan Shasa yang berteriak-teriak histeris menikmati setiap permainan. Komisaris Gusta seolah menjaga harga dirinya yang terlalu mahal untuk tertawa sekeras mungkin di taman hiburan seperti ini.


Setelah lelah bermain, Shasa dan Komisaris Gusta beristirahat di sebuah kedai makanan. Seperti yang direncanakan Shasa, dia memesan berbagai makanan yang sudah dia bayangkan sejak tadi. Tetapi perawat yang dibawa Komisaris Gusta, melarang Shasa untuk meminum soda. Dia pun hanya dipesankan air mineral sebagai pengganti soda.


"Papa harus coba makanan ini." Shasa menyodorkan satu porsi hotdog kepada Komisaris Gusta.


"Kenapa sausnya terlihat mengerikan?" Komisaris Gusta menoleh ke perawat yang dibawanya. Dia berbisik kepada perawat itu. "Suster, apa saus ini tidak berbahaya untuknya?"


Perawat itu pun menjawab pertanyaan Komisaris Gusta. "Tidak perlu khawatir, Tuan. Saya sudah mengganti saus itu dengan saus buatan koki di rumah. Saya bisa pastikan saus itu aman untuk Nyonya Shafira."


Komisaris Gusta pun mencoba hotdognya. Dia sempat berpikir sejenak. "Enak juga."


Mereka tertawa-tawa bersama menikmati waktu sore yang cukup teduh.


"Shafira." Komisaris Gusta memanggil.


"Iya, Pa." Shasa menoleh ke arah Komisaris Gusta.


Shasa menundukkan kepalanya.


"Waktu Papa melepaskan Leo pergi bersama mamanya, di saat itulah Papa mulai kehilangannya. Papa sempat menyesali keputusan Papa untuk melepas mereka. Tapi, Papa tidak bisa memutar waktu. Papa berusaha mencari jalan untuk mendapatkannya kembali, apapun itu. Dan segala usaha Papa bertahun-tahun, terjawab sudah. Bahkan, kini Leo tinggal satu rumah lagi dengan Papa."


Shasa mendengarkan cerita Komisaris Gusta dengan serius.


"Papa ingin kamu dan Leo juga seperti itu. Banyak cara yang bisa kalian lakukan untuk mendapatkan anak kembali. Papa akan mendukung kalian."


Sudah cukup lama Shasa tidak mendengar nasehat dari seorang ayah seperti ini. Shasa merasakan kenyamanan mengobrol se-hangat ini dengan Komisaris Gusta.


"Aku seperti sedang mengobrol dengan ayahku." Shasa tersenyum pada Komisaris Gusta.


"Tentu saja. Aku papa mertuamu."


Keduanya tertawa lagi bersama, bersenang-senang menghirup udara kebebasan yang jarang sekali dirasakannya. Ketika rumahmu kecil, kau memimpikan rumah yang besar. Ketika rumahmu besar dan kau anggap nyaman, kau akan merindukan udara kebebasan dan langit biru seperti ini.


*****


"Sayang?" Shasa melihat Leo sudah berdiri di depan mobil tepat di pintu keluar taman hiburan.


Leo hanya menatapnya lekat. Shasa berjalan bersama Komisaris Gusta mendekati Leo.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau ingin ke luar?" Tanya Leo datar.


Shasa tersenyum. "Papa mengajakku jalan-jalan. Aku tidak mungkin mengganggumu bekerja. Jadi, aku pergi sama papa saja."


Komisaris Gusta menepuk bahu Leo dan meninggalkannya. Komisaris Gusta sempat melirik ke arah Shasa sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Kau tidak marah kan?" Tanya Shasa ragu.


"Kau pasti capek. Ayo pulang dan istirahat." Seketika itu juga Leo menggendong Shasa dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kemudian mereka melesat menuju rumah menyusul Komisaris Gusta yang sudah lebih dulu beranjak pulang.


*****


Shasa sudah bersandar di kasur dan bersantai sambil menonton tv. Leo baru saja masuk ke kamar dan langsung mengambil posisi di samping Shasa. Melihat Leo sudah di posisinya, Shasa pun mematikan tv dan meletakkan remote di meja.


"Sayang, selesai pemulihanmu, apa kau ingin langsung mengambil program kehamilan?" Leo bertanya dengan hati-hati.


'Dokter Sam mengatakan kalau Leo dan Papa sudah mengatur program kehamilan untukku. Tetapi, kenapa Leo masih bertanya pendapatku?' Shasa bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kita hanya akan melakukannya saat kau siap." Leo menambahkan penjelasannya.


"Tentu saja aku mau, sayang." Jawab Shasa sambil tersenyum.


Leo mengangguk. "Kalau begitu, aku akan mengaturnya. Ayo kita istirahat."


"Sayang, tadi aku dapat info kalau sebelum akhir pekan ini akan ada acara yayasan ke panti asuhan. Aku boleh ikut kan? Aku rasa sekarang aku sudah sehat, mungkin minggu depan akan lebih sehat lagi." Shasa meminta ijin Leo untuk berkegiatan lagi di yayasan.


"Aku akan tanya ke Sam apakah kau sudah benar-benar pulih. Kau hanya boleh pergi kalau Sam mengijinkannya."


"Sayang, acaranya hanya kunjungan saja dan tidak lama juga. Bukan acara besar seperti festival kemarin. Tante Nala bilang, mungkin acaranya hanya sekitar 1 sampai 2 jam saja."


"Sayang, aku tidak melarangmu. Tapi aku hanya ingin memastikan dokter memang sudah mengijinkanmu lagi untuk beraktivitas."


"Baiklah. Kalau dokter mengijinkanku, janji ya kau tidak akan melarang."


Leo mencium kening Shasa. Dia menatap wajahnya beberapa saat. "Sudah selesai bicaranya Tuan Putri? Ayo, kita istirahat."


Dokter Sam memang merekomendasikan Shasa untuk tidur lebih cepat dari biasanya. Shasa pun harus punya pola istirahat yang baik. Karena itulah, Leo mulai sensitif terhadap waktu istirahat Shasa. Dia pun jadi ikut-ikutan mengatur pola istirahatnya. Leo tidak lagi bekerja hingga larut malam dengan laptop di pangkuannya. Dia akan bergegas tidur juga saat jam tidur Shasa telah tiba.


*****


Epilog:


Niko meletakkan setumpuk surat kabar di meja Komisaris Gusta. Komisaris Gusta terlihat mengambil satu eksemplar surat kabar di antara tumpukan itu. Lalu, dia melemparkannya lagi ke atas meja.


"Musnahkan semua pemberitaan tentang ini. Aku tidak ingin Shasa ataupun Leo melihatnya."


"Baik, Tuan. Aku juga sudah menghentikan berita online yang tersebar ke publik. Aku tidak bisa menjamin kalau Tuan Leo tidak melihatnya. Tapi, aku bisa pastikan bahwa berita tentang keguguran Nyonya Shafira tidak akan lagi menjadi topik utama dalam pemberitaan manapun."


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2